Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masih flashback...
Samuel memutuskan untuk menemui adiknya itu, setidaknya dia harus mengucapkan selamat, bagaimana pun mereka tak bisa melupakan tali persaudaraan mereka.
"apa aku boleh masuk Ben?" tanya Samuel dengan suara pelan.
"masuk kak, maafkan aku," kata Ben yang langsung memeluk tubuh pria itu.
"tidak ada yang perlu di maafkan Ben, ini juga kesalahan ku, seharusnya aku yang meminta maaf padamu," kata Samuel melepaskan pelukan Ben.
keduanya pun duduk saling berhadapan, "Ben jangan sedih, Elna akan baik-baik saja, aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan wanita Pilihan mu, jangan terpengaruh dengan kondisi Elna, karena gadis itu akan segera membaik aku jamin itu," kata Samuel meyakinkan adiknya itu.
"kak Samuel jangan bohong, aku tadi tak sengaja mendengar semuanya, saat kalian berdua bicara, maaf...." lirih Ben.
Samuel hanya tersenyum dan menepuk bahu adiknya, "ha-ha-ha maafkan aku, aku hanya sedikit cemas makannya aku bicara seperti itu pada papa, dan jangan lupa kamu sudah berjanji untuk hidup bersama Maria, jadi lakukan meski aku dan keluarga ku tak di sini, tapi doa kami selalu bersama mu untuk kebahagiaan kalian," jawab Samuel.
"kakak..."
keduanya pun berpelukan kembali sebelum Samuel pergi, bahkan mama Mei terharu melihat itu.
acara pun segera di lakukan, Ben sudah siap di altar pernikahan, dan menunggu pengantin wanita.
papa David pun harus terlihat bahagia, meski perasaan dan hatinya sedang begitu sedih, bagaimana pun ini acara sakral.
bahkan dua keluarga dari adik Ben yang lain datang yaitu Sabrina dan Davin, kecuali Devan yang memang tak di izinkan oleh papa David.
karena pria itu masih takut jika Devan ingin membunuh Elna dan Ben, setelah apa di alami pria itu.
EO sudah kebingungan karena pengantin wanita tak datang meski MC sudah memanggilnya, tapi tiba-tiba asisten Mike datang dan berlari kearah Ben.
"tuan gawat Maria kabur, dia hanya meninggalkan surat ini," kata asisten Mike.
Ben pun mengambil surat itu dari tangan asisten Mike, dan ada seseorang yang senang akan gak itu.
'maafkan aku yang pergi...
aku tak ingin menjadi bagian dari keluargamu yang buruk itu, aku tau ini memalukan, tapi setidaknya aku tak akan pernah jadi bagian dari kalian, dan yang perlu kau ingat, sebenarnya aku tak sepenuhnya mencintaimu, aku hanya ingin menguasai hartamu, tapi setelah aku tau jika kmu tak sekaya yang terlihat, aku jadi menyesal, jadi aku pergi, dan jangan mencariku... salam cinta Maria,' kata Ben yang mengejutkan semua tamu undangan.
"cari dia dimana pun berada, aku tak bisa di permalukan seperti ini," marah Ben.
"baik tuan," jawab asisten Mike dan asisten Diana.
Diana pergi membawa beberapa orang kepercayaannya untuk mencari gadis itu.
dan keberuntungan berpihak padanya, dia yang menemukan Maria terlebih dahulu.
gadis itu di seret masuk, tapi bukan di bawa kepada Ben, tapi dia langsung di bius.
Diana merusak wajah wanita itu, tak hanya itu, dia juga merusak pendengaran dan mencekokkan sesuatu yang bisa merusak organ dalam gadis itu.
setelah itu tubuh Maria di tabrak mobil hingga terlihat seperti korban kecelakaan.
Ben pun melihat rekaman CCTV, sebelum maria pergi, ruangan itu kedatangan tamu yang mengejutkan yaitu Naura.
Ben yang tau langsung menghampiri kakak iparnya itu, dia butuh penjelasan dari wanita itu.
kenapa membuat Maria harus meninggalkan dirinya di altar. bahkan menulis surat yang begitu menyakitkan.
mereka pun menuju ke rumah sakit, tapi saat sampai di sana, Ben melihat rombongan dokter masuk ke ruang ICU. tempat Elna di rawat intensif.
Samuel dan Naura menangis saling berpelukan, bahkan kondisi keduanya begitu buruk.
"ada apa kak?" tanya Ben yang melihat suster saling bergiliran keluar dengan sibuk.
"denyut jantung Elna melemah, dan om Dito masih berusaha menyelamatkan dia," kata Naura.
Ben pun langsung mendekat dan melihat semua dari kaca ruangan itu, bahkan dokter terlihat melakukan segala cara untuk membuat gadis itu bangun.
"Elna... mama mohon kuatlah nak,demi mama dan papa, mama tak bisa hidup jika harus kehilangan diri mu..." tangis Naura dengan suara bergetar.
"ya tuhan, ambil saja nyawaku untuk menyembuhkan gadis tercintaku itu, aku tak bisa melihatnya tertidur dan sakit seperti ini ..." doa Ben sambil meneteskan air mata.
"Ben, bukankah kamu harusnya menikah," tanya Samuel pada adiknya itu.
"tidak kak, Semuanya hancur dia pergi meninggalkan aku di detik terakhir, dan dia mengatakan jika tak mau hidup susah dengan ku, yang hanya anak angkat keluarga ini," jawab Ben sedih.
"ah maafkan aku... seharusnya aku tak memintanya pergi, aku yang salah, aku hanya memohon untuk putriku agar dia bisa sadar," kata Naura jujur.
mendengar itu Samuel marah besar, kenapa istrinya begitu bodoh hingga meminta wanita lain pergi demi putri mereka.
"kenapa kamu lakukan itu, kenapa Naura, kita bukan pengemis yang harus meminta-minta seperti ini," kata Samuel marah.
"maafkan aku mas, aku tak bisa melihat putriku terus terbaring seperti ini, aku sakit melihat ini... sebab itu aku memintanya untuk membunuhku jika tak ingin pergi," kata Naura.
"sudah kakak ipar, ini sudah terjadi, dia juga sepertinya tak sepenuhnya mencintaiku, terlihat dia dengan mudah melepaskan aku, padahal aku sudah percaya jika kami bisa melalui ini, sekarang kita fokus pada kesembuhan Elna," jawab Ben pasrah.
samuel pun mengangguk, dan kini ketiganya mulai berdoa bersama untuk kesembuhan Elna.
melihat Ben memejamkan mata, asisten Mike memunggut buku yang di buang pria itu ke lantai oleh Ben.
"aku tetap mencintaimu, dan berharap bisa mengarungi hidup bersama, i love you Bentley," kata asisten Mike membaca kutipan di buku terakhir itu.
"aku muak, dia ingin kembali setelah aku memiliki hidup baru, bulsyit dan sepertinya aku harus menyadarkan dia jika dia sudah tak memiliki tempat di hidupku," kata Ben marah.
"jadi kita akan melakukan apa tuan," tanya asisten Mike.
"kita ke sekolah menjemput Elna dulu, dan kemudian ke panti asuhan untuk mengembalikan buku itu, dan menyadarkan dia jika aku sudah memiliki gadis ku, aku tak memerlukan gadis seperti dia lagi," jawab Ben.
asisten Mike pun mengangguk, kebetulan ini juga jam pulang sekolah dari Elna.
keempat gadis itu sedang di halte untuk menunggu jemputan dari rumah Lila.
karena gadis itu ingin mengajak mereka main ke rumah keluarga Sugriwa. terlebih Chan juga sudah mengizinkan Lila.
bahkan mereka sudah sengaja berganti baju agar tak mengenakan pakaian sekolah.
tapi tak terduga, malah mobil mewah milik Ben yang sampai terlebih dahulu.
"loh om menjemput ku, bukankah om mengatakan sibuk, toh dua bocah tadi sudah di jemput pak Hary," kata Elna.
"aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jadi naiklah," kata Ben merangkul keponakannya itu.
"ya maaf ya gaes, lain kali saja kita main ke rumah Lila," kata Elna lirih.
"tak masalah, kalau begitu kita makan siang saja, dan bisa lain kali ke rumah Lila, gak papa kan Lila?"
"tentu, semoga urusan kalian beres, dan hati-hati di jalan," kata mereka bertiga.
Elna pun duduk dan bersandar pada Ben, bahkan genggaman tangan Ben dan Elna begitu erat seperti tak akan terpisah.
"om honey, ini kita mau kemana sih?" tanya Elna penasaran.
"kita akan bertemu Maria, dan mengakhiri semuanya, karena om tak ingin punya urusan dengan wanita itu," jawab Ben.
Elna pun terdiam saat nama itu di sebut, dia tau jika wanita itu adalah calon istri Ben, yang melukai Ben di saat terakhir.
Elna pun tiba-tiba menyentuh belakang kepalanya, "maafkan aku, seharusnya kita tak melakukan ini," gumam Ben yang melihat reaksi Elna.
"tidak om,ini benar, aku tak mau wanita itu terus menghantui kehidupan om," jawab Elna.
mobil mewah Ben sampai di panti asuhan itu, terlihat ketua yayasan kaget, tapi tidak dengan Maria yang begitu senang melihat Ben.
dia mengira jika Ben akan menerimanya kembali, tapi senyum itu lenyap saat Ben membukakan pintu mobil untuk seorang gadis muda yang begitu cantik.
bahkan keduanya begitu mesra terlihat, dan tanpa sungkan keduanya bergandengan tangan.
bahkan gadis itu terlihat beberapa kali membuat Ben tersipu malu sendiri, ketua yayasan pun menyapa keduanya dengan sopan.
"selamat datang tuan dan nona, ada apa tuan Ben kemari lagi," tanya ibu yayasan itu.
"ah itu saya yang meminta papsky menunjukkan tempat yang beberapa hari ini membuatnya sibuk, dan membuatnya lembur hingga lupa waktu, maaf apa aku merepotkan kalian dengan kedatangan kami," kata Elna dengan begitu sopan.
"tentu tidak, kalau boleh tau anda ini," tanya ibu yayasan pada Elna.
"oh perkenalkan, saya Alexandra calon istri dari pria tampan di sampingku, nanti kalau kami menikah pasti aku akan undang, benar kan papsky," kata Elna.
"tentu sayang, apapun untuk kebahagiaan mu, maaf ya Bu, calon istri saya penasaran dengan panti asuhan ini, terlebih beberapa hari ini dia merasa saya cuek padanya," kata Ben dengan senyum mengembang.
"iya pak tak masalah," jawab ibu panti.
"oh ya aku ingin mengembalikan ini, sepertinya kamu meninggalkannya di ruang kerja calon suamiku, dan untuk kisah di dalamnya begitu menyentuh hati, tapi itu hanya kisah masa lalu, dan dia sudah bahagia dengan ku, jadi saya garap anda tak ada niat untuk merebutnya dari saya bukan," kata Elna menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
"tidak, aku sadar itu hanya kisah lama, aku hanya ingin minta maaf," jawab maria dengan bahasa isyarat.
"dia bilang apa?" tanya Elna tak mengerti.
"dia mengatakan jika ingin minta maaf," kata ibu yayasan itu.
"itu tak masalah, tapi papsky tak boleh kesini sendirian atau hanya dengan asisten Mike, karena aku harus tau dan ikut, jika perlu," kata Elna posesif.
"tidak perlu, Mike sudah mencari orang untuk menangani proyek panti asuhan ini, toh aku beberapa hari lagi harus ke new Zealand, apa kamu lupa?" kata Ben.
"tentu tidak papsky," jawab Elna tersenyum.
Maria mengerakkan tangannya, dan membuat ibu yayasan kaget, karena Maria bertanya hal pribadi.
"ibu apa yang dia katakan?" tanya Elna melihat Maria.
"ah tidak ada, jangan di perhatikan nona," jawab ibu yayasan.
tapi Maria menuliskan di buku apa yang ingin dia katakan, Elna pun membaca tulisan itu.
"kenapa kamu takut dia jatuh cinta padaku, hingga kamu melarangnya?.
ha-ha-ha, maaf kan aku, kenapa harus takut, aku lebih sempurna dari mu, aku cantik, masih muda dan yang pasti aku tak akan membiarkan siapapun wanita berani mendekati kekasihku, karena kamu tak akan sadar apa yang bisa aku lakukan, karena aku juga bukan gadis biasa," jawab Elna tegas.
"sudah-sudah, aku hanya ingin mengatakan ini saja, ibu mulai besok ada anak buahku yang akan bertanggung jawab atas proyek ini, sedang untuk mu Maria, aku sudah tak memiliki perasaan apapun padamu, karena aku hanya mencintai Alexandra, dan dulu itu hanya sebuah ketertarikan saja, jadi tak usah terlalu berharap banyak, karena kita tak akan bertemu lagi," kata Ben sebelum pergi.
ibu yayasan pun merasa malu, pasalnya Maria begitu berharap padahal pria seperti Ben yang sempurna, akan dengan mudah menemukan gadis cantik yang sempurna untuk jadi istrinya.
"sudah ayo masuk, kamu sudah lihat jika dia bahagia sekarang, jadi kamu harus mulai menata hidupmu lagi," kata ibu yayasan saat mengajak maria masuk kedalam panti.
sedang si dalam mobil, perut Elna berbunyi cukup keras, dan langsung membuatnya malu sekali.
"kamu lapar honey?" tanya Ben pada keponakannya itu.
"iya om, tapi aku ingin makan mie ayam di pinggir jalan," kata Elna memohon.
"baiklah asisten Mike, tolong cari tempat makan yang enak ya," perintah Ben.
asisten Mike pun membelokkan mobil kesebuah minimarket yang memiliki parkiran mobil yang luas.
"hei kita mau makan, kenapa malah ke minimarket," tanya Ben.
"ah... aku tau ini, ini rumah makan yang pernah di maksud oleh Lila,meski tempatnya terpencil,tapi rasanya sangat enak, kata Lila," jawab Elna.
"ya nona, tempat makan ini sangat enak meski kita harus masuk kedalam gang sedikit," jawab asisten Mike.
"ayo om, biar tidak di kafe mulai," tarik Elna.
mereka pun berjalan menyusuri gang kecil, tapi saat sampai tercium aroma yang cukup enak.
bahkan ada berbagai jenis dimsum juga tersedia, ben pun duduk bersebelahan dengan Elna.
sedang asisten Mike di depan mereka, asisten Mike juga membungkus makanan untuk kedua keponakan dari Ben di rumah.
saat mie ayam itu datang, mereka terkejut melihat porsinya yang begitu besar, tapi itu tak masalah toh mereka bertiga doyan makan.