Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Dua jam berlalu seperti neraka bagi Antonio. Setiap denting sendok dan tawa dari rombongan ibunya
Ia harus bersiap-siap kartu kreditnya akan habis. Malam anniversary, malah menjadi malam petaka baginya.
Ketika piring-piring akhirnya kosong, pelayan datang membawa map kulit hitam berisi tagihan.
Antonio menerima map itu dengan tangan yang gemetar hebat.
Begitu membukanya, matanya hampir melompat keluar melihat angka total di kertas tersebut: Rp 24.500.000.
"G-gila..." bisik Antonio lirih, wajahnya mendadak pucat.
"Gimana, Mas? Pas, kan, sama bonusnya?" sindir Grizla yang berdiri di sampingnya, sengaja berbicara dengan volume yang cukup terdengar oleh yang lain.
"Nio, ayo buruan dibayar. Ibu-ibu sudah pada mau pulang ini, katanya gerah," sahut Widya tanpa beban, sibuk membetulkan letak selendang bulu-bulunya yang norak.
Dengan berat hati, Antonio mengeluarkan kartu kredit utamanya. Kartu pun digesek. Beruntung transaksi berhasil, meski ia tahu besok pagi ia harus memutar otak setengah mati untuk menutupi limit yang jebol.
Rombongan ibu-ibu sosialita itu pun mulai berjalan keluar restoran menuju lobi dengan heboh.
"Duh, Jeng Widya, makasih banyak ya! Kenyang banget deh malam ini," ujar Jeng Lastri sambil mengusap perutnya yang membuncit.
"Iya, Jeng. Sering-sering, ya! Sampaikan salam kami buat anakmu yang sukses luar biasa itu," timpal yang lain, memuji Widya setinggi langit.
Widya berjalan paling depan dengan dagu terangkat tinggi. "Ah, biasa saja, Jeng-Jeng sekalian. Uang segitu mah enggak seberapa buat anakku. Nanti kalau dia dapat bonus lagi, kita ke restoran yang lebih mahal dari ini, ya!"
Antonio yang berjalan beberapa langkah di belakang ibunya hampir saja tersandung kakinya sendiri mendengar ucapan ibunya yang tidak tahu posisinya itu.
Ia mengepalkan tangan di dalam saku celana, menahan dongkol yang luar biasa.
Sesampainya di area drop-off lobi restoran, teman-teman Grizla berpamitan terlebih dahulu.
"Griz, kami duluan, ya. Makasih banyak traktirannya. Suamimu beneran keren banget malam ini," ucap salah satu teman Grizla dengan tulus.
"Sama-sama, hati-hati di jalan ya," jawab Grizla tersenyum manis, lalu melirik Antonio yang hanya bisa membalas dengan senyuman kecut yang dipaksakan.
Setelah teman-teman Grizla pergi, tersisa Antonio, Grizla, Widya, Tina dan rombongan ibu-ibu yang sedang menunggu taksi daring mereka datang.
Sementara Tiara sudah pulang tadi saat rombongan ibu-ibu datang tadi.
"Nio, Ibu pulang bareng Jeng Lastri saja, ya. Mau lanjut gosip di rumahnya," kata Widya acuh tak acuh, bahkan tidak mengucapkan terima kasih kepada anaknya yang baru saja merugi puluhan juta.
"I-iya, Bu. Hati-hati," jawab Antonio lemas. Widya dan Tina pun masuk ke dalam taksi untuk pergi ke
Begitu taksi rombongan ibunya pergi dan suasana lobi mulai sepi, Antonio langsung berbalik menghadap Grizla.
Wajah topeng ramahnya seketika luntur, digantikan oleh tatapan penuh kebencian.
"Puas kamu, Grizla?! Dua puluh empat juta, Grizla! Dua puluh empat juta melayang dalam semalam! Uang tabunganku habis, kartu kreditku jebol! Kamu puas?!" bentak Antonio tertahan, menuding wajah istrinya.
Grizla tidak mundur selangkah pun. Ia justru menatap balik Antonio dengan pandangan yang begitu dingin
"Kenapa kamu bentak aku, Antonio? Yang menghabiskan dua puluh empat juta itu ibumu dan rombongan sirkusnya, bukan temanku. Temanku cuma habis delapan ratus ribu. Sisanya? Ibumu yang pamer pakai uangmu!" jawab Grizla tenang namun tegas
"Tapi kalau kamu gak mancing-mancing Ibu mengundang temanmu, Ibu gak akan seberani itu, Grizla! Kamu sengaja menjebakku!" Antonio mencengkeram rambutnya sendiri, frustrasi.
"Selama ini kamu selalu mencaci aku, bilang aku boros, bilang aku mau memiskinkan kamu setiap kali aku membeli kebutuhan rumah. Tapi giliran ibumu yang merampok uangmu demi gengsi sialan itu, kamu malah mengkerut seperti tikus!" kata Grizla menatap suaminya tajam.
Antonio bungkam. Napasnya memburu, namun ia tidak bisa membantah satu patah kata pun karena semua yang dikatakan Grizla adalah kebenaran yang menyakitkan.
Grizla berjalan melewati Antonio begitu saja, membuka pintu penumpang depan, dan masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi.
Antonio berdiri mematung di lobi restoran yang mewah itu selama beberapa detik.
Angin malam berembus dingin, sedingin kenyataan bahwa besok pagi, ia harus menghadapi tagihan cicilan rumah dan mobil.
Dengan langkah lunglai dan hati yang hancur, ia berjalan menuju kursi kemudi dengan perasaan kesal.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..