NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL28

PAGI YANG SALAH WAKTU

Malam sebelumnya, Jelita tidur dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Balasan singkat dari Romi terus ia baca berulang kali.

Kamu juga.

Hanya dua kata, tetapi bagi Jelita, balasan sesederhana itu terasa seperti langkah kecil yang selama ini ia tunggu. Untuk pertama kalinya, Romi tidak membiarkan pesannya berlalu tanpa jawaban.

Pagi harinya, bahkan sebelum matahari benar-benar meninggi, Jelita sudah sibuk di dapur.

Tangannya bergerak lincah menyiapkan sarapan. Sesekali ia tersenyum sendiri sambil bersenandung pelan mengikuti lagu dari ponselnya.

"Aneh," gumamnya sambil terkekeh. "Cuma dibalas dua kata aja bisa sebahagia ini.”

Beberapa saat kemudian, aroma nasi goreng kampung memenuhi dapur. Jelita memindahkannya ke dalam rantang, menambahkan telur dadar dan beberapa potong buah, lalu menutupnya rapi.

"Nggak boleh telat sarapan," gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar lebih seperti pengingat untuk Romi daripada untuk dirinya sendiri.

Tanpa berpikir panjang, ia membawa rantang tersebut keluar rumah.

Kompleks perumahan mulai hidup. Beberapa tetangga menyapu halaman, mobil-mobil keluar dari garasi, sementara anak-anak berseragam sekolah berjalan menuju gerbang kompleks bersama orang tua mereka.

Tok. Tok. Tok.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Romi muncul dengan kemeja kerja yang belum sepenuhnya dikancingkan. Rambutnya masih sedikit basah, pertanda pria itu baru selesai mandi. Begitu melihat siapa yang datang, wajahnya langsung berubah.

"Kamu?"

"Pagi, Mas."

Jelita mengangkat rantang di tangannya sambil tersenyum lebar.

"Aku bikin sarapan."

Belum sempat Romi menjawab, matanya justru bergerak ke kanan dan kiri jalan. Seorang ibu baru saja lewat sambil menggandeng anaknya. Di kejauhan, dua orang tetangga tampak sedang berbincang di depan rumah.

Jantung Romi seketika berdegup lebih cepat.

"Kamu ngapain ke sini pagi-pagi?" Nada suaranya berubah tegas.

Jelita yang semula tersenyum langsung berkedip bingung.

"Lho... aku cuma mau nganter sarapan."

"Iya, tapi kenapa harus sekarang?"

"Ya karena ini jam sarapan."

"Bukan itu maksudku, Jelita."

Romi menurunkan volume suaranya, tetapi nada kesalnya tetap terdengar jelas.

"Kamu lihat sekitar nggak?"

Jelita spontan menoleh.

"Kenapa memangnya?"

"Orang-orang udah pada keluar rumah."

"..."

"Kalau ada yang lihat kamu sering datang ke rumahku gimana?"

Senyum di wajah Jelita perlahan memudar.

"Oh..."

Baru kali itu ia menyadari keadaan sekitar. Beberapa pasang mata memang sesekali melirik ke arah mereka, meski hanya sekilas.

"Aku... aku nggak kepikiran sampai situ."

"Lain kali jangan datang jam segini lagi."

Suasana mendadak hening. Jelita menundukkan pandangan beberapa saat sebelum kembali mengangkat wajahnya.

"Aku minta maaf."

"..."

"Aku cuma..."

Kalimatnya menggantung.

Ia menarik napas pelan, lalu tersenyum kecil meski senyum itu tampak dipaksakan.

"Aku cuma takut kamu lupa sarapan. Aku tahu kamu bisa jaga diri sendiri. Tapi kalau sampai berangkat kerja tanpa makan, aku tetap kepikiran."

Romi terdiam.

"Kemarin kamu bilang Hannah udah nyiapin makanan di kulkas. Tapi itu kan buat nanti. Aku pikir pagi ini kamu belum sempat makan.”

Nada suaranya pelan. Tidak membela diri. Tidak juga memaksa. Justru ketulusan itu membuat kemarahan Romi perlahan mereda.

Jelita mengulurkan rantang yang sejak tadi masih digenggamnya.

"Ini, aku harap kamu tetap terima."

Romi refleks menerimanya.

"Aku masak kebanyakan."

Lalu, sambil menatap pria itu, Jelita tersenyum tipis.

"Maaf ya... aku terlalu senang semalam."

Romi mengernyit.

"Maksudnya?"

"Aku senang karena akhirnya kamu bales pesanku."

Jantung Romi seperti dihantam sesuatu.

Jelita tertawa pelan, meski terdengar lebih getir daripada bahagia.

"Padahal cuma dua kata."

"..."

"Ternyata aku segampang itu buat bahagia."

Jelita mundur selangkah.

"Tenang aja."

Ia mengangkat kedua tangannya pelan.

"Aku janji nggak bakal datang pagi-pagi lagi."

Setelah mengucapkan itu, ia berbalik dan berjalan pulang. Tidak ada rengekan ataupun rayuan seperti biasanya. Justru karena itulah langkahnya terlihat jauh lebih berat.

Romi masih berdiri di ambang pintu sambil memegang rantang di tangannya. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak mengenal wanita itu, ia merasa kata-katanya barusan mungkin memang terlalu keras.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Romi tidak benar-benar berada di balik kemudi. Lampu lalu lintas yang berubah hijau beberapa detik lalu bahkan baru disadarinya setelah mobil di belakang membunyikan klakson pendek. Ia buru-buru menginjak pedal gas.

"Fokus, Rom."

Namun suara itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali dikalahkan oleh bayangan wajah Jelita pagi tadi.

Maaf ya... aku terlalu senang semalam.

Romi mengembuskan napas panjang. Ia tidak pernah menyangka dua kata sesederhana itu bisa berarti sebesar itu bagi Jelita.

Suasana kantor sudah ramai ketika Romi tiba. Beberapa karyawan menyapanya seperti biasa, tetapi ia hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum langsung masuk ke ruang kerja. Belum lima belas menit duduk, pintunya diketuk.

"Masuk."

Lala membuka pintu sambil membawa beberapa berkas.

"Pak, ini dokumen yang Bapak minta semalam."

"Taruh saja."

Lala mengangguk, tetapi bukannya langsung keluar, ia justru memperhatikan atasannya beberapa saat.

"Bapak nggak apa-apa?"

Romi mengangkat wajah.

"Kenapa memang?"

"Kelihatannya lagi banyak pikiran."

"Nggak."

"Yakin?"

Romi tersenyum tipis.

"Kalau saya kelihatan banyak pikiran, berarti pekerjaan kamu kurang."

Lala terkekeh pelan.

"Siap, Pak."

Setelah pintu kembali tertutup, ruang kerja itu kembali sunyi. Romi mencoba membuka berkas di hadapannya, tetapi isi dokumen itu tak benar-benar masuk ke kepalanya.

Menjelang siang, perut Romi mulai terasa lapar. Ia membuka tas kerjanya untuk mengambil dompet, tetapi pandangannya justru jatuh pada rantang stainless yang sejak pagi ia bawa. Tangannya terhenti di udara. Selama beberapa detik ia hanya menatap benda itu, sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan dan membuka pengaitnya perlahan.

Aroma nasi goreng hangat langsung menyeruak. Meski sudah tidak sepanas pagi tadi, aromanya masih menggugah selera. Di bagian paling atas, terselip secarik kertas kecil yang dilipat rapi.

Romi membukanya perlahan.

Jangan sampai sakit gara-gara lupa makan. Soalnya nggak ada yang bisa aku omelin kalau kamu tumbang. — J

Tanpa sadar sudut bibir Romi terangkat tipis.

"Gila..."

Wanita itu bahkan masih sempat bercanda setelah dimarahi. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Bayangan wajah Jelita yang tadi pagi memaksakan senyum kembali muncul.

Aku terlalu senang semalam.

Romi menutup kedua matanya sejenak.

Apa tadi aku memang sekasar itu?

Romi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Baru sekarang ia sadar, yang membuatnya marah sejak pagi bukanlah Jelita. Wanita itu hanya datang membawakan sarapan. Yang sebenarnya membuatnya kesal adalah ketakutannya sendiri. Takut ada tetangga yang mulai curiga. Takut batas yang selama ini ia jaga perlahan menghilang sejak Hannah pergi.

Romi kembali melirik secarik kertas di tangannya. Ia mengembuskan napas pelan.

"Mungkin..." gumamnya lirih. "...aku memang harus minta maaf."

Kalimat itu nyaris tak terdengar, tetapi untuk pertama kalinya sejak pagi, Romi mengakuinya pada dirinya sendiri.

Romi melipat kembali secarik kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam rantang. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jelita, muncul keinginan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia ingin meminta maaf.

Ponselnya segera diraih. Jemarinya sudah berada di atas layar, tetapi berhenti sebelum sempat mengetik apa pun.

"Datang aja langsung..." gumamnya pelan.

Sore nanti, sepulang kerja, ia memutuskan akan mengetuk pintu rumah di seberang jalan.

Hanya untuk meminta maaf.

Setidaknya... itulah yang ingin ia yakini saat ini.

1
Eneng Farida
cari sana romi s jelitamu itu kalian sma mandul jd cocok banget jgn nanti nyesel hanna kalau sdh pergi
Susi Yanti
jalan untk selingkuh memang lebih mulus dan terasa indah,untk mempertahankan kesetiaan butuh pengorbanan yg tdk semua org bisa
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
Nick: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!