Warning! 21+
Evellyn seorang gadis muda berusia 17 tahun terpaksa melarikan diri dari rumah. Gadis yang bahkan belum lulus sekolah itu terpaksa melepaskan diri dari jerat sang ibu tiri yang ingin menjual dirinya, karena terlilit hutang judi disebuah pusat perjudian kasino.
Namun kesialan terjadi saat dirinya dalam misi pelarian diri. Gadis itu terjebak dalam situasi yang tidak kalah rumit dan menegangkan. Evelly terjebak diantara orang-orang yang menguasai dunia bawah tanah.
Akankah Evelly berhasil lolos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kamu Siapa?
"Kalian cari orang yang bernama ini, alamatnya semua ada disini, juga nama istri dan anaknya. Cari sampai dapat!" ujar Yansen.
"Baik Bos,"
""Ingat! harus bermain rapi, jangan jadi pusat perhatian,"
"Baik Bos,"
"Hindari penggunaan senjata, terutama senajata api yang akan menakuti warga sipil."
"Baik Bos,"
"Pergilah!"
Orang suruhan Yansen pergi dari ruang kerja pria itu, untuk melakukan tugasnya mencari seseorang.
"Kamu mau kemana?" tanya Ivanka.
"Rumah sakit."
"Lagi?"
Yansen membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Ivanka. Pria itu merasa akhir-akhir ini Ivanka seolah ingin mengatur dirinya, dan dia sama sekali tidak menyukai hal itu.
"Sebenarnya siapa yang tidak kamu senangi diantara Owen dan Evellyn?"
"Semuanya. Semua orang disekitarmu terasa menyebalkan bagiku."
"Kalau begitu otakmu sudah bermasalah. Ivanka, mulai hari ini aku tidak melarangmu jika kamu ingin pergi dan memutuskan hudup masing-masing."
"Kamu mengusirku?"
"Aku tidak mengusirmu. Hanya saja aku merasa makin kesini, kecocokkan kita kian terkikis. Sebaiknya kamu mulai cari saja orang yang bisa mewujudkan impianmu untuk berkomitmen dan memiliki anak."
"Tidak bisa. Aku hanya menginginkanmu, dan kamu sudah berjanji akan memberikan aku kesempatan untuk meluluhkan hatimu. Yansen pikirkanlah, usia kita tidak lagi muda. Apa kamu sungguh-sungguh tidak menginginkan anak?"
"Kalaupun aku menginginkannya, tidak harus dengan cara menikah. Aku bisa memiliki anak dengan cara lain."
"Dengan cara apa? cari rahim pengganti? aku rela mengandung dan melahirkan anakmu, kenapa harus mencari lagi?"
"Jangan mengambil keputusan sendiri. Sebelum aku menyuruhmu melepaskan alat kontrasepsi itu, jangan pernah berpikir untuk melepasnya secara diam-diam. Kalau sampai aku tahu kamu hamil secara diam-diam, aku tidak segan-segan melenyapkanmu bersama anak itu."
Ivanka terdiam, gadis itu begitu ketakutan saat melihat sorot mata Yansen yang sangat mengerikan dan penuh intimidasi.
"Satu lagi, jangan pernah mengaturku untuk bertemu siapapun yang ingin aku temui. Sebelum bertemu denganmu, aku lebih dulu berteman dengan para sahabatku. Sedangkan Evellyn, dia orang yang bisa membuat perutku kenyang. Jadi jangan terlalu berpikir berlebihan."
Yansen meninggalkan Ivankan yang diam mematung setelah mendengarkan semua ucapannya.
Kriekkkkk
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Yansen.
"Aku baik. Apa yang kau bawa?" tanya Owen.
"Camilan kesukaanmu, cakwe."
"Sudah lama nggak makan itu, kemarinkan! nah itu apa?"
"Ini buat Evellyn. Aku menjengukmu lebih dulu,"
"Bagaimana luka si bocil? apa sudah lebih baik?"
"Ya. Kemungkinan dia akan pulang berbarengan denganmu lusa."
""Baguslah, pada akhirnya semuanya baik-baik saja,"
"Nah...makan yang banyak, aku mau menjenguk Eve dulu,"
"Oke. Salam untuk si bocil,"
"Emm." Yansen mengangguk.
Yansen kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Owen, karena akan menjenguk Evellyn.
Krieekkk
Evellyn yang tengah melamun menoleh, saat mendengar seseorang membuka pintu.
"Tuan," sapa Evellyn.
"Apa sudah makan siang dan minum obat?"
"Sudah."
"Bagus. Ini aku bawakan kue untukmu,"
"Terima kasih tuan, maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah. Diperkirakan lusa kamu akan pulang bersamaan dengan Owen."
"Sungguh? ah...kenapa tidak hari ini saja, aku sungguh tidak betah lagi disini. Apa tuan tahu? aku selalu merasa diruangan ini ada hantunya," ujar Evellyn.
Mendengar itu Yansen terkekeh. Evellyn yang baru pertama kali melihat Yansen tertawa, begitu terpanah dengan tingkat ketampanan pria itu.
"Kamu jangan mengada-ada, jangan sampai terdengar oleh pihak rumah sakit ini. Kamu bisa kena tuntut milyaran,"
"Eh? ah...aku hanya bercanda," Evellyn tersenyum kaku.
"Lagipula hantunya tidak suka mengganggu anak kecil sepertimu, terlalu banyak maunya."
Bibir Evellyn mengerucut saat mendengar perkataan Yansen.
"Tuan. Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita waktu itu? kapan anda akan mengeluarkan ayah saya dari sana?"
"Kamu diam saja, itu urusanku. Sebelum aku membahas hal itu, kamu dilarang bertanya. Apa kamu mengerti?"
"Eh? ya...Eve mengerti." Jawab Evellyn.
"Makanlah! aku ingin mengecek sesuatu," ujar Yansen.
"Emm." Evellyn mengangguk.
Evellyn mulai menikmati kue yang Yansen belikan, sementara Yansen tampak sibuk dengan ponselnya karena ingin mengecek sesuatu.
Sesekali Evellyn mencuri pandang ke arah Yansen. Namun pria itu sama sekali tidak perduli meski daritadi dirinya diperhatikan.
"Cukup nikamati saja kuenya, apa kamu ingin memakanku juga?" tanya Yansen tanpa menoleh kearah Evellyn.
"Seharusnya kamu tidak usah ada disini, kalau tidak mau jadi objek penglihatanku, dasar pelit! untung aja ganteng, kalau nggak udah ku pites kayak kutu rambut," batin Evellyn.
"Apa kamu sedang mengumpatku?"
"Tidak. Jangan-Jangan sebentar lagi tuan akan segera punya anak,"
"Anak apaan?"
"Soalnya tuan sensitif sekali kayak pantat bayi."
"Ckk...cepat habiskan kuenya, berhenti omong kosong."
"Kuenya buat nanti lagi, kenyang kalau dimakan sekaligus."
Tring
Tring
Ponsel Yansen berdering.
"Ada apa?" tanya Yansen.
"Tuan. Target sudah pindah,"
"Cari sampai dapat. Cari informasi dari warga sekitar, siapa tahu mereka meninggalkan petunjuk."
"Baiklah."
Yansen mengakhiri panggilan itu dan kembali sibuk dengan ponselnya. Sementara itu Evellyn sama sekali tidak berani bertanya apapun, karena merasa itu sama sekali bukan urusannya.
*****
Dua hari kemudian...
"Ah...senangnya, akhirnya kita pulang juga ya Cil?" tanya Owen.
"Iya kak. Rasanya mau balik ke surga. Benar-Benar nggak betah deh tinggal dirumah sakit. Kalau bisa itu kejadian terakhir, dan nggak akan nyicip lagi pergi kesana."
"Iya. Sebenarnya kita dilayani seperti raja, tapi tetap saja nggak betah kalau terlalu lama."
"Ya?" tanya Yansen yang baru saja menerima panggilan telpon.
Owen meletakkan jari telunjuknya dibibir, agar Evellyn tidak bersuara dulu.
"Aku akan kesana sebentar lagi, urus saja administrasinya lebih dulu."
"Baik tuan."
Yansen mengakhiri panggilan telpon itu secara sepihak.
"Turunkan aku disini," ujar Yansen.
"Ada apa? bukankah kita mau makan-makan dirumahmu, untuk merayakan kepulangan Owen dan Evellyn?" tanya Zavier.
"Aku ada urusan penting. Kalian duluan saja, aku tidak akan lama. Paling lama satu jam, aku sudah kembali kerumah."
"Urusan apa? apa itu berbahaya?" tanya Owen.
"Tidak. ini hanya urusan ringan,"
"Baiklah, berhati-hatilah," ujar Zavier.
Ingin rasanya Evellyn juga ikut bertanya, setelah melewati bahaya bersama, Evellyn jadi sedikit khawatir dengan kepergian Yansen.
Setelah Yansen turun, pria itu terlihat sedang menyetop sebuah taksi dan pergi berlawanan arah dengan Evellyn.
"Dimanapun kamu berada, aku berharap.kamu baik-baik saja tuan," batin Evellyn.
Drapp
Drapp
Drapp
Kriekkkk
Yansen perlahan memasuki ruangan seseorang yang tengah terbaring lemah diranjang pasien. Sebuah alat bantu pernafasan tampak terpasang di hidung pria itu, dengan ritme pernafasan yang tidak teratur. Tidak lupa juga ada infus yang terpasang di punggung tangan sebelah kiri, untuk membantu menambah asupan cairan pada pria itu.
Perlahan pria itu membuka matanya, karena merasa ada orang asing yang berada disekitarnya.
"Siapa kamu? apa kamu orang yang memerintahkan orang-orang itu untuk menolongku?" tanya Andre.
"Ya. Saya harap anda mau bekerjasama agar mau dirawat hingga sembuh. Sebab saya akan mempertemukan anda dengan orang penting."
"Orang penting? siapa?"
"Anda akan tahu setelah sembuh, jadi bersemangatlah."
"Bagiku tidak ada orang penting selain putriku. Jadi sebenarnya apa tujuan anda menolongku?"
"Anda akan menemukan jawabannya setelah anda sembuh, jadi anda diwajibkan untuk sembuh disini."
Andre terdiam, terlebih pria yang mengajaknya bicara langsung pergi begitu saja. Tapi pria itu cukup lega, dengan dirinya dirawat dan sembuh, kesempatan untuk bertemu putrinya akan terbuka lebar.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
klw Ivanka bukan perawan tua tp kek gadis rasa janda udah bolong semua