Dia cinta pertama mu, kamu mencintai nya sepenuh hati tapi dia tidak mencintai mu? Selama 2 tahun kamu menjadi istrinya demi membayar hutang dan tidak dianggap? Lagi-lagi menikah karena kontrak?
Cukup! Aku ingin menyudahi semuanya. Begitulah kata Latisha Anindita seorang asisten manager di sebuah perusahaan Fashion ternama di ibu kota yang menikah dengan Raymond Argantara Presdir Argantara grup. Pria dingin yang pernah dia temui.
"Kak, aku mau cerai!"
"Cerai?Jangan mimpi! Bisa apa kamu tanpaku?"
Ketika meminta cerai, pria itu malah tak mau melepaskan nya dan mengikatnya dengan berbagai cara seolah ia adalah tahanan. Lalu kenapa dulu dia mengabaikan nya?
Apakah mereka akan bercerai? Ataukah cinta malah mereka malah semakin kuat?
Temukan jawaban nya di novel ini!
Area 18+
sumber gambar : pinterest
Update setiap hari,bila tidak ada halangan ❤️🙏 pukul 09.00 kalau ada chapter lebih, up sore pukul 2 siang
Mohon maaf bila ada typo dalam penulisan ataupun bahasa yang kurang tertata🙏😊 author juga manusia yang punya banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Minta cium
Ray dan Tisha sampai di depan gedung pusat Argantara grup. Merasa canggung jalan bersama, Tisha meminta suaminya berjalan lebih dulu darinya.
"Mengapa? kamu kan asisten pribadi ku, kita jalan bersama saja"
"Tapi..aku..."
"Bukankah saat kita makan siang bersama, kita sudah jadi bahan pembicaraan. Hari ini aku akan mengumumkan sesuatu yang penting"
"Apa itu?"
"Pokoknya, kencangkan saja syal mu itu" Ray tersenyum tipis melihat syal yang dipakai istrinya
"Ka.. kamu.." Tisha semakin malu dengan godaan suaminya itu.
Ray berjalan masuk ke area kantor ditemani oleh Tisha dan Gerry disampingnya. Seperti biasanya, semua orang yang ada disana memberikan hormat dan sapaan selamat pagi pada Ray.
"Selamat pagi pak" sapa para karyawan ramah dengan tubuh setengah membungkuk
"Ya selamat pagi juga, semoga hari kalian menyenangkan" Ray tersenyum ramah pada orang-orang yang menyapanya.
Para karyawan itu terpana melihat sikap Presdir nya yang tidak seperti biasanya. Senyuman ramah, sapaan hangat, tidak seperti Ray. Mereka semua menarik kesimpulan bahwa suasana hati Ray sedang dalam keadaan yang baik.
Ray, Gerry dan Tisha segera menaiki lift menuju ke lantai tempat ruangan Presdir berada.
"Bu Tisha, apa Bu Tisha tidak merasa kepanasan?" tanya Gerry setengah berbisik, ia keheranan melihat Tisha yang memakai syal di lehernya.
"Ti..tidak kok, aku kedinginan. Di ruang presdir kan AC nya selalu menyala" jawab Tisha mencari alasan
"Ruangan Presdir kan selalu panas, makanya AC selalu dinyalakan, Bu.." kata Gerry
"Ya.. pokoknya aku kedinginan" jawab Tisha sebal. Ray tersenyum penuh kemenangan dan melihat ke arah Tisha.
Kenapa aku jadi berbohong begini? sepertinya hanya aku yang malu sendiri, dan si es batu ini terlihat biasa saja. Huhh.. menyebalkan. Gerutunya dalam hati
"Semalam sangat menyenangkan ya, Bu Tisha. Seharusnya kamu tidak perlu menutupi nya " goda nya pada Tisha dengan lirikan yang tajam
"A-Apa?" Tisha terpana
Semalam? Apa maksudnya? apa akhirnya Presdir dan bu Tisha melakukan malam pertama?
Gerry juga ikut kaget mendengar kata kata Presdir nya itu, ia berusaha menerka apa yang terjadi semalam. Dan apa yang dimaksud dengan malam menyenangkan? akhirnya Gerry sampai pada satu kesimpulan! bahwa Presdir nya sudah tidak perjaka lagi.
Gerry senyum-senyum melihat ke arah Tisha, seperti nya ia sudah mengerti maksud Ray berkata begitu dan kenapa Tisha menutupi lehernya dengan syal.
"Hem Hem.. "
TING!
Lift pun terbuka, mereka bertiga keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruang presdir. Melakukan rutinitas mereka seperti biasanya.
"Gerry, jam berapa pertemuan dengan artis dan Presdir agensi itu?" tanya Ray sambil menandatangani dokumen di mejanya.
"Jam 11.15 pak " jawab Gerry
Ray sempat melirik istrinya yang sedang duduk di meja nya, fokus mengetik sesuatu di komputer. 2 hari tidak bekerja, membuat pekerjaan nya sedikit menumpuk.
Sadar Ray sedang melihatnya, Tisha langsung merasa terancam, kemudian memalingkan wajahnya.
Kenapa dia melihatku seperti itu? dia seperti ingin menerkam ku saja?
"Hm.. pesankan makan siang juga, karena seperti nya obrolan ini akan panjang"
Dia pasti akan datang kan? kalau begitu, aku harus buat tanda lagi.
"Sudah pak" jawab Gerry sambil mengetik sesuatu di tab yang selalu ia bawa kemana-mana itu.
"Ya sudah, kamu boleh keluar"
"Baik pak hehe" jawab Gerry
Gerry nyengir melihat ke arah Presdir dan istrinya. Presdir pasti ingin berduaan dengan Bu Tisha.
"Ngapain kamu cengengesan begitu? keluar!" ujar Ray kesal
"Baik pak, maaf" jawab Gerry patuh
Sekretaris yang selalu peka terhadap perasaan Presdir nya itu, segera keluar dari ruangan. Menutup pintunya rapat-rapat.
Mendadak suasana menjadi canggung saat hanya ada Ray dan Tisha yang ada di dalam ruangan itu. Tisha mulai kepanasan saat Ray dengan sengaja mematikan AC yang ada di ruangan itu.
"Kenapa nyonya Argantara? apa kamu kepanasan?" tanya Ray sambil melirik ke arah istrinya yang masih memakai syal dan baju ketat nya itu.
"Tidak sama sekali pak"
Apa apaan dia? memanggilku nyonya Argantara dan
"Tapi wajahmu merah? aku sengaja matikan AC nya karena kamu bilang kalau kamu kedinginan" kata Ray sambil memegang remot kecil ditangannya.
Kekanakan sekali? jangan kira kamu bersikap seperti ini aku akan melepaskan syal ku! tidak akan!
"Tidak pak, saya baik-baik saja" jawab Tisha yang berusaha santai sebenarnya ia kepanasan.
"Oh baiklah kalau begitu" Ray kembali menyimpan remote control AC itu di lacinya. Ray tersenyum puas sudah mengerjai istrinya.
Ternyata, mengerjai istrinya bisa seseru ini. Begitulah pikirnya.
3 jam berlalu, Tisha sudah tak tahan lagi dengan panas nya hari itu yang mencapai suhu 36 derajat.
"Pak.."
"Hmm.. ya?" jawab Ray yang matanya sedang melihat-lihat dokumen di mejanya
"Bisa tolong nyalakan AC nya?" tanya Tisha
Haa.. akhirnya.
"Kalau kamu mau menyala AC nya, ambil saja sendiri remot nya disini"
"Sebentar saja, tolong nyalakan AC nya. Remotnya kan ada di dekat sana"
"Kamu tidak lihat kedua tanganku sedang sibuk? ambil saja sendiri di laci meja ku"
Huh, padahal tinggal ambil dan pencet saja! dia sangat perhitungan. Tapi,..aku sudah tidak tahan lagi dengan panasnya.
"Kalau kamu kepanasan, kenapa tidak buka saja syal nya?" tanya Ray
"Ti-tidak akan ku buka!"
Ray tersenyum tipis mendengar nya.
Bekas ciuman nya masih ada, mana bisa aku membuka syal ku. Orang-orang akan melihatnya.
Dengan terpaksa, Tisha melangkahkan kaki nya ke dekat meja Presdir. Ia membuka laci meja itu, lalu tiba-tiba Ray menangkap tubuhnya. Mendudukkan Tisha dipangkuan nya.
"Ah! apa yang kamu lakukan?" tanya Tisha kaget
"Kamu mau remote nya kan?" tanya Ray sambil mengambil remot itu dari lacinya.
"Sebenarnya kamu mau apa sih kak? lepaskan aku! bagaimana jika ada yang melihat?" tanya Tisha sambil berusaha berdiri, tapi Ray terus memeganginya. "Kak Ray!!"
"Kamu mau remotnya kan? kamu mau ku lepaskan, kan? kalau begitu cium aku" Kata Ray manja
"A-Apa? perkataan mesum macam apa itu?" tanya Tisha tercengang
Tisha tak percaya kalau pria berdarah dingin yang sering disebut es batu, bisa mengatakan hal hal diluar dugaan nya. Minta dicium? apa dia sudah gila? Ray sangat manja!
"Cium aku, lalu akan ku lepaskan dan kuberikan remotnya juga" goda Ray sambil menyentuh paha Tisha dengan wajah mesumnya.
"Kenapa kakak seperti ini? tolong.. jangan" Tisha bingung dan heran dengan kelakuan suaminya yang berubah dalam waktu satu hari.
Tok, tok, tok
"Pak, ini saya" suara tidak asing berada tepat di luar ruangan itu.
"Lepaskan saya pak! itu ada pak Gerry mau masuk!"
"Kamu belum mencium ku, mana bisa aku melepaskan mu?" tanya Ray
"Kakak.. kamu.."
Kenapa dia jadikan seperti ini? dia sangat berani.
"Cepatlah! atau ku suruh Gerry untuk masuk sekarang juga dan melihat kita seperti ini" ancaman nya
"Ja..jangan begitu.."
"Kalau begitu cium" Ray tersenyum, bersiap menerima ciuman inisiatif dari Tisha.
Pelan-pelan Tisha mendekatkan wajahnya ke wajah Ray. Tisha mendaratkan bibirnya di pipi Ray. CUP.. Satu kecupan.
"Sudah kan? sekarang berikan remotnya dan lepaskan aku ya?" Tisha memohon
"Tidak mau, itu kan cuma kecupan, aku mau ciuman" Ray sebal
"Aku.. aku tidak bisa ciuman" jawab Tisha polos
"Aku akan mengajarimu"
Ray mencium bibir Tisha dengan penuh gairah, tangannya melepas syal yang terpasang di leher Tisha. Bibirnya beralih pada leher Tisha, dan memberikan gigitan gigitan kecil disana.
"Haaahh.. Haaahh.. Sudah! cukup!" Tisha mengatur napasnya, lalu mendorong Ray menjauh darinya.
Jantungku! berdebar debar! rasanya mau copot, tidak!. Ucap Tisha panik di dalam hatinya.
"Kamu harus banyak belajar lagi, terutama mengatur napas saat berciuman" Ray meraih pinggul Tisha,mendekapnya.
"Aku tidak perlu belajar semua itu, tidak perlu!" Tisha kesal dan malu
"Kamu harus belajar, karena mulai sekarang dan seterusnya kamu harus melayaniku. Pelayanan mu nanti harus memuaskan" goda Ray pada istrinya.
"Me-melayani? pelayanan??!" Tisha kaget mendengar nya.
Belajar ciuman? melayani? Pelayanan?
Tisha pun berdiri dengan cepat, ia mengambil remot yang ada ditangan Ray. Memasang syal nya kembali ke leher, Tisha sangat malu dan kesal pada Ray. Tak lama setelah itu Ray menyuruh Gerry untuk masuk.
"Pak, Presdir AZ entertainment, manager dan artis nya sudah datang menunggu di ruangan sebelah" Gerry melapor
Seperti nya pak Presdir lama di dalam sini karena sedang bercinta dengan Bu Tisha. Hihihi... akhirnya Presdir menjadi manusia juga.
"Baiklah, Latisha.. ayo" ajak nya
"Kenapa aku juga ikut? aku masih banyak pekerjaan dan bukankah bapak biasanya ditemani oleh Pak Gerry?" tanya Tisha heran
"Kali ini kamu harus ikut" jawab Ray tegas
"Baiklah pak" jawab Tisha patuh
Siapa ya artis yang akan tandatangan kontrak dengan Argantara grup itu? aku belum sempat mengecek datanya?
...---***--...
hanya karena authornya wanita jadi semua kelakuan menjijikan tisha mereka bela dan benarkan
lihat saat tisha melakukan kesalahan2 bahkan kesalahan paling menjijikan sekalipun semudah itu dimaafkan dan kalian buat ray karakter bodoh dan tidak tegas semudah itu menerima semua kelakuan tisha
bandingkan
saat kalian buat ray yang melakukan kesalahan, kalian buat dia menderita, menyesal, mengemis maaf, berjuang kayak orang bodoh, dan kalian buat karakter tisha tegas pergi dan tidak mudah memaafkan
ini yang kalian anggap adil, ini adalah hasil pemikiran egois kalian sebagai wanita dan kalian tuangkan kedalam novel maka jadi lah novel munafik
dan satu lagi kemunafikan wanita yang tidak pernah hilang
*kalian melaknat pelakor tapi kalian begitu memuja pebinor bahkan begitu spesialnya sosok ini hingga bisa merasakan tubuh iatri orang
renungkanlah