Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
"Maaf ya...yang Aku tahu kemarin sore Mas Jaka mencari Bimo karena istrinya melahirkan dirumah. Tapi yang datang malah Bimo bersama keluarganya tanpa Mas Jaka. Sampai mereka sekeluarga pulang pun tidak terlihat kedatangan mas Jaka sama sekali . Aku pikir memang kesini."
"Semalam kan tidak pulang. Kamu tidak khawatir sama sekali? Bukankah seharusnya Kamu mencarinya," kata Bu Siti dengan agak tidak puas.
"Aku pikir kan memang ada disini. Kalau Aku susul pun kesannya tidak memperbolehkan Mas Jaka tidur disini. Nanti yang disalahin Aku juga. Lagi pula dirumah juga sedang sibuk."
"Sudahlah...tidak perlu diperpanjang lagi. Yang perlu Kita fikirkan sekarang, bagaimana caranya agar Jaka segera sadar. Nanti Kita tanyakan apa yang menyebabkan dia sampai pingsan dimakam," putus Pak Budi menghentikan pembicaraan itu makin panjang.
"Panggil Pak Temon," lanjutnya. Pak Temon merupakan seorang dukun yang sering dimintai tolong oleh para warga untuk menyembuhkan penyakit.
"Biar Aku saja," kata Ramli . Namun belum juga ia keluar dari rumah, orang yang dibicarakan sudah masuk kedalam rumah. Ternyata tanpa disuruh sudah ada yang memangilnya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Pak Temon sembari mendekati Jaka yang tengah berbaring di atas ranjang.
Bu Siti dan Dewi menyingkir untukmemberikan tempatnya . Sedangkan Vina masih berdiri di posisinya. Ia menatap Pak Temon dengan rasa penasaran.
Baru pertama kali ini ia melihat orang sakit diperiksa oleh seorang dukun. Aneh sih menurutnya. Namun Ia tidak tak mengatakan apa-apa.
Sebagai orang lahir dan tinggal di perkotaan dan masa itu rumah sakit dan fasilitas kesehatan berdiri dimana-mana, Ia merasa asing dengan pemandangan di depannya.
Suasana menjadi hening. Semua menatap ke arah Mbah Temon yang sedang melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana Mbah?"tanya Pak Budi dengan cemas saat Mbah Temon selesai melakukan pemeriksaan.
Ekspresi Mbah Temon yang nampak serius membuat orang yang melihatnya menjadi was-was.
"Jaka baik-baik saja kan Mbah?"
"... Ada sesuatu yang menempelinya. Tapi tenang saja, setelah diobati ia akan kembali seperti biasanya."
"Syukurlah kalau begitu. Katakan saja apa yang bisa Kami siapkan agar ia bisa sembuh."
"Siapakan saja bunga tuju rupa , garam, air .... "
Mbah Temon menjelaskan apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum ia melakukan ritual penyembuhan.
Setelah Mbah Temon membertahukan semuanya, Pak Budi dan Ramli berbagi tugas untuk menumpulkannya. Bu Siti meminta Dewi dan juga Vina untuk menyiapkan makanan di dapur.
Sebenarnya Vina masih penasaran dengan metode yang akan dilakukan oleh Mbah Temon. Namun ia juga merasa sungkan jika berada di depan .
"Jadi kemarin Abangmu tidak pulang kesini?" tanya Vina dengan lirih saat Ia dan Dewi berada di dapur.
"Tidak. Apa ada sesuatu yang terjadi sebelum Abang pergi?"
"Aku tidak tahu,"jawab Vina dengan pandangan menerawang. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum Jaka keluar dari rumah untuk mencari Bimo.
"Aku ingat!"
"Apa?"
"Kami bercerita tentang kondisi Ratih sebelum melahirkan. Setelah itu wajahnya nampak murung. Namun saat aku tanya katanya tidak ada apa-apa . Jadi aku tidak membahasnya lebih lanjut. Aku pikir dia hanya lelah. Tapi setelah Aku pikir-pikir itu pasti ada hubungannya."
"Pasti Bang Jaka kembali memikirkan Lestari. Bukankah tadi ia juga ditemukan di makam Lestari," kata Dewi dengan lesu. Vina tersenyum getir saat mendengarnya. Apa yang dikatakan Dewi ada benarnya.
Vina tidak membahas lebih lanjut. Rasanya sakit saat mengetahui cinta suaminya ternyata masih menancap erat pada masa lalunya.
Rasa cemburu tiba-tiba datang tanpa permisi. Rasanya sangat menyesakkan dada. Tapi mau bagaimana lagi , inilah resiko yang harus ia tanggung setelah memutuskan untuk menikah dengan Jaka.
Setelah Mbah temon melakukan ritual, Jaka langsung bangun. Ia agak bingung saat menyadari dirinya berbaring diranjang yang sering ia gunakan sebelum pindah ke rumah Kakek Darma.
"Kenapa Aku bisa ada disini?" tanyanya dengan bingung.
"Kamu maunya ada dimana?" sentak Bu Siti dengan galak. Padahal tadi beliau yang paling khawatir melihat kondisinya. Namun saat mengingat tingkah bodohnya, beliau kesal sendiri.
"....."
Deg!
Jaka teringat bahwa semalam ia masih berada di makam mendiang sang istri. Tanpa memberitahu siapapun. Sampai-sampai ia pingsan.
"Siapa yang membawaku kemari? "
"Tadi pagi Pak Agus melihatmu saat hendak pergi ke ladang. Beliau langsung mencari bantuan dan membawamu kemari."
"Apakah istriku _"
"Masih ingat punya istri?"
"Sudahlah... biarkan Jaka istirahat dulu. Tubuhnya baru saja pulih. Jangan bicara hal lainnnya."
"Benar."
Semuanya merasa lega melihat Jaka telah sadar. Dewi yang mendengar sang Kakak telah sadar, bergegas lari ke depan.
Vina termenung sendiri di depan tungku. Entah kenapa ia merasa enggan bertatap muka dengan Jaka. Sampai makanan siap semua ia tidak beranjak sama sekali dari dapur. Setelah itu ia menyelinap pulang melewati samping rumah. Kebetulan ada Ramli disana.
"Ram.... Aku pulang dulu ya. "
"Kok pulang? nggak sekalian bareng Bang Jaka? "
"Abangmu biar istirahat dulu disini. Aku masih ada urusan sebentar. "
"Nanti kesini lagi kan? "
"Hmmmm.*
semangat thor 💪💪💪💪