'Ternyata mencintaimu, bagai duri dalam daging'
Saat keperawanan menjadi penghalang terbesar untuk kelanjutan hubungan Mega dan Damar. Mega yang memiliki masalalu yang kelam karena kebodohannya sendiri terlalu mempercayai seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak memiliki rasa cinta terhadapnya.
Mega yang selalu berusaha merahasiakannya dari Damar, hingga akhirnya Damar mengetahui tentang keadaan dan masalalu Mega melalui laki-laki yang telah merusak Mega 2 tahun silam.
"Aku cinta kamu, tapi.... aku tidak bisa," ucap Damar.
Bagaimanakah kehidupan Mega selanjutnya setelah ditinggalkan oleh Damar? Akankah Mega menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELIHATNYA SELINGKUH
Mega terus mendengarkannya dengan seksama. Kemudian ia membuka pintu dengan perlahan, hanya menyisakan sedikit celah.
Betapa terkejutnya saat ia melihat Damar bersama dengan seorang wanita di butik miliknya sambil merangkul pinggang wanita itu dengan posesifnya. Sakit, itu sudah pasti.
Kini aku tahu, kenapa selama satu tahun terakhir ini kamu seakan menghindariku? karena kamu telah memiliki wanita lain yang selalu ada untukmu. Lalu apa artinya aku untuk dirimu?
Mega menyeka air matanya yang sejak tadi luruh bersamaan saat ia melihat Damar bersama wanita itu. Lagi-lagi ia merasakan kembali cintanya di khianati oleh kekasihnya sendiri.
Kekasih yang sejak lama ia damba untuk menjadi pasangannya kelak di masa depan. Namun, ia justru telah berpaling dari dirinya.
Apa salahku Damar? sehingga kau tega melakukan perselingkuhan ini?
Mega menutup rapat pintu ruang kerjanya kembali. Langkahnya seketika menjadi gontai saat ia menuju kursi kebesarannya.
Dihempaskannya bokong itu ke atas kursi, lalu dipijatnya kening yang terasa pening. Hidungnya semakin memerah karena isakan tangisnya itu.
Mega kemudian menyambar tas, kunci mobil dan juga ponselnya lalu keluar dari ruang kerjanya itu.
"Mbak, aku pulang duluan ya. Aku titip butik," ucap Mega pada kepala butiknya.
"Baik Miss."
Dengan rasa penasarannya, akhirnya dirinya pergi menyusul Damar. Ia benar-benar ingin memastikannya.
Saat Mega keluar dari butiknya, seseorang menemuinya di persimpangan jalan.
"Apa kau melihat kemana dia pergi?" tanya Mega sambil memakai kacamata hitamnya.
"Dia pergi ke arah perumahan Bugenfill, Non. Partner saya sedang mengikutinya sekarang."
Bugenfill? bukankah itu kediaman kedua orangtua Damar?
"Okey, kamu tetap di sini. Segera share location alamatnya ke ponsel saya."
"Baik, Nona."
Mega pergi dari hadapan orang itu. Ia segera menuju lobby. Di sana sudah ada Madih yang sedang menunggu kedatangannya.
Sesampainya di depan lobby, Mega pun masuk ke dalam mobilnya. Kemudian Madih melajukan mobil itu sesaat setelah Mega menutup pintu.
Sepanjang jalan hati Mega begitu cemas, ia masih tidak menyangka kalau Damar bisa selingkuh darinya. Apa yang perempuan itu miliki sehingga dia berani berpaling dari dirinya yang memiliki segalanya.
Akan tetapi rupanya Mega hampir merupakan satu hal tentang dirinya. Sakit pada hatinya membuat Mega merasa ini tidak adil baginya.
Tiga puluh menit sudah Mega berada dalam perjalanan menuju lokasi yang sempat di share loc oleh orang suruhannya Nina. Kini, Mega telah sampai disana.
"Pak, berhentinya disini saja ya!" pinta Mega sambil bersiap mengganti heelsnya dengan sneaker yang ada di dalam mobil.
"Tapi Non, ini masih jauh ke tempat yang dituju," sanggah Madih sambil memberhentikan mobilnya. Madih pun akhirnya menurut dan menunggu Mega di tempat pemberhentiannya.
Mega turun dari mobil tanpa membawa apapun. Ia berjalan dengan hati-hati menuju sebuah rumah.
Kok rumahnya sepi sekali. Seperti tidak ada penghuninya.
Keadaan rumah memang sangatlah sepi. Tentunya, rumah itu bukanlah rumah kediaman kedua orangtua Damar, melainkan rumah yang kini April tinggali pemberian dari Damar.
Kediaman orangtua Damar sendiri berada beberapa rumah dari rumah itu. Tanpa Mega tahu, diam-diam Damar telah melamar April enam bulan terakhir ini.
Mega melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Pintu rumah itu tidak tertutup dengan benar. Mega melihat dari celah pintu rumah itu.
"Hahahaha ... Sayang stop aku tidak bisa digelitiki! nanti aku bisa buang air kecil di celana," ucap wanita yang bersama Damar.
"Biarkan saja! biar kamu ngompol! hahahha."
DEG!
Mega merasa lemas seketika. Air matanya pun ikut luruh bersama hati yang seolah-olah tersayat sebuah samurai yang sangat tajam.
Mereka tampak bahagia sekali. Apa salahku Tuhan? Apa aku salah mengganggap hubungan ini serius?
Mega menyandarkan punggungnya didinding itu kemudian pergi dari sana. Melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobil. Madih yang melihat Mega keluar dari rumah itu sambil menyeka air matanya langsung melajukan mobilnya dan menghampiri Mega.
Mega terus berlari yang kemudian masuk ke dalam mobil. Sementara di rumah itu, Damar menghentikan tawanya lalu melihat ke arah jendela. Ia melihat sebuah mobil mewah melintasi rumah tempat kini ia berada.
Mobil siapa itu? mewah sekali ... apa jangan-jangan ... Mega?
"Kenapa Sayang?"
"Ah, tidak. Sayang, aku pamit dulu ya. Besokkan kita akan berangkat ke Solo jadi aku juga harus bersiap-siap, begitupun. dengan dirimu."
"Okay, Sayang."
Damar keluar dari rumah itu kemudian berjalan ke rumahnya. Damar memang tidak membawa mobil ke tempat tinggal April. Karena sebelum mereka ke rumah itu, Damar membawa April ke rumahnya dulu.
Setibanya di kamar Damar, dirinya berusaha menghubungi Mega. Ia sedikit merasa bersalah karena keputusannya perlahan menjauhi Mega karena sesuatu hal yang ia ketahui tentang Mega saat ini.
Mega! angkahlah!
******
Di dalam mobil, ponsel Mega terus berdering. Ia terlalu malas untuk mengangkatnya saat ia tahu kalau Damar menghubunginya. Hatinya sakit, benar-benar sakit.
Mega kira, selama ini tulus mencintainya. Ternyata Mega keliru. Ia juga tidak mengerti apa yang dibutuhkan untuk menjalin cinta yang tetap harmonis selain cinta itu sendiri? Ia juga merasa ini tak adil, semu dan tabu.
Mega memilih untuk pulang ke rumah. Sesampainya di depan rumah, Mega langsung turun dari mobil dan berlari menuju kamarnya. Surti dan Madih saling bertukar pandang.
****
Pagi pun tiba, semalaman Mega terjaga. Bahkan kepalanya masih terasa pusing. Mengingat hari ini ia harus pergi ke Solo. Mega memutuskan untuk pergi ke butik lebih awal untuk memberitahukan kepada semua pegawainya terutama kepala butik itu sendiri.
Pukul tujuh pagi, Mega baru saja selesai bersiap. Ia kemudian keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper besar dan juga tas untuk menyimpan barang-barang berharganya.
"Pagi Non, mau berangkat sekarang Non?"
"Iya Bi."
"Yowis, monggo sarapan disit Non."
"Terima kasih, Bi."
Mega menyantap sarapannya dengan lahap. Bagaimanapun ia harus kuat sebagai perempuan, tidak boleh terlalu terbawa perasaan sesakit apapun perasaan itu sendiri. Banyak yang membutuhkannya sekarang, semuanya telah berada dalam genggamannya.
Setelah selesai sarapan, Mega berpamitan dengan orang-orang yang ada di rumahnya. Semuanya telah berkumpul di teras rumah.
"Semuanya, aku berangkat dulu ya. Titip rumah, sehat-sehat selalu kalian. Kalau merasa badan tidak enak, istirahat saja jangan dipaksakan untuk bekerja."
Semuanya tersenyum dan bersyukur karena merasa beruntung memiliki majikan seperti Mega dan keluarganya yang sangat pengertian.
"Terima kasih banyak, Non. Hati-hati dijalan ya salam buat Nyonya besar. Non juga sehat-sehat selalu," ujar Surti dan Mega pun tersenyum seraya mengangguk.
"Bye, semuanya."
Mega masuk ke dalam mobil, dan mereka melambaikan tangannya kepada Mega. Mobil pun kemudian melaju menuju butik lalu setelah itu ke bandara.
****
Kini, Mega baru saja tiba di Bandara Internasional Adi Sumarmo Solo. Ia pun segera mengambil kopernya, setelah itu Mega keluar dari Bandara. Mega melihat name tag yang tertulis 'Meles'. Mega pun mengernyit sambil menghampiri seorang wanita yang usianya sebaya dengannya.