18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Dua orang anak Adam sedang berjalan beriringan memasuki sebuah super market yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Karena permintaan dari sang wanita yang kini berjalan dengan bersanding bersamanya, Gandhi terpaksa menuruti permintaan tersebut. Keduanya nampak serasi bagi siapapun yang melihatnya. Seorang pria dewasa yang tampan dan mempesona bersanding dengan wanita yang memiliki aura kecantikan yang luar biasa.
Somalia serta Gandhi tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi serta menyayangi satu sama lain. Namun itu terlihat dari sudut pandang orang lain. Bukan dari yang mereka berdua rasakan.
Gandhi berjalan mengekor Somi sambil mendorong sebuah Trolly belanja. Orang lain pasti berpikir keduanya merupakan sepasang suami istri yang baru saja menikah. Saat ini Somi sedang memilah-milah barang keperluan yang ia butuhkan di konter peralatan mandi.
Bahkan Gandhi menyarankan agar Somi memilih beberapa peralatan makan nantinya.
Apa lelaki ini tak memiliki piring di rumahnya?
gumam Somi dalam hati ketika ia sedang mengambil salah satu handuk yang ia pilih sesuai merek dan seleranya.
"Haruskah kamu membeli juga?" tegur Somi ketika ia melihat sang kekasih abal-abal memasukan handuk yang sama ke dalam Trolly belanjaan mereka.
"Lumayan ini diskon bila beli dua," tak ingin berdebat dengan sang wanita. Gandhi menjawab sekenanya. Pasalnya kapan lagi bisa membeli barang dengan harga murah karena brand tersebut menawarkan promo pada produk pasangannya.
"Aku tak menyangka bila sekelas pengacara dengan bayaran mahal berburu diskon hal sepele!" cibir Somi pada Gandhi. Mulut wanita itu tak henti-hentinya menggerutu karena masih tak terima Gandhi memilih handuk dengan model yang sama meski berbeda warna. Lagi-lagi orang akan berpikiran bahwa mereka adalah sepasang pengantin yang akan menempati rumah baru mereka.
"Boleh dilihat-lihat dulu Pak, kami sedang menawarkan produk terbaru dari kami!" ucap salah satu Sales Promotion Girl pada Gandhi.
Somi membuka lebar-lebar kedua matanya ketika wanita itu mendekati Gandhi dengan menawarkan barang dagangannya. Somi sedikit murka bukan karena wanita itu masih muda ataupun seksi yang beresiko membuat sang lelaki berpaling darinya. Namun barang yang dijual oleh SPG tersebut lah yang menyebabkan Somi makin marah.
"Kami memberikan penawaran untuk Anda Pak, produk terbaru dari kami ini terbuat dari bahan khusus yang kami rancang untuk kenyamanan Anda." tawar SPG tersebut dengan nada suara mendesah.
Melihat wanita yang datang dengannya kini bersedekap dan membulatkan matanya menatap Gandhi, lelaki itu dilema antara kasihan pada sang penjual ataukah drama yang akan terjadi bila ia bersedia memberi barang tersebut.
"Urus saja barang itu sendiri!" Somi berlalu meninggalkan Gandhi yang masih dirayu oleh SPG.
"Sayang ...!" Suara lelaki itu dengar menderita karena kekesalan dari sang wanita yang memilih meninggalkan dirinya. Tak mau kalah setelah ia menerima beberapa barang tersebut ia lalu menyusul Somi ke kasir guna membayar barang yang mereka pilih.
"Ya Tuhan ... kamu benar-benar membelinya?" kedua bola mata Somi membulat sempurna ketika Gandhi kedapatan mengikuti kemauan sang SPG untuk membeli barang yang ia tawarkan.
*
"Masih marah padaku?"
"Kenapa aku harus marah? Kamu terpikat oleh wanita itu sehingga membeli barang tak menjijikan seperti ini!" maki Somi sambil menunjuk satu kantong eksklusif berisikan 10 box pengaman untuk menunda kehamilan.
"Aku mana tahu, mungkin dia mengira kita pasangan yang baru saja menikah," Gandhi masih mengelak atas kesalahan yang bukan ia sebabkan.
"Aku tak mau tahu, jauhkan benda menjijikan itu dari jangkauanku!"
"Jangan percaya diri dulu, kau pikir aku tertarik padamu?" balas Gandhi, pria itu merasa kurang suka dengan sikap Somi yang masih kesal pada dirinya.
Bukan makin mereda, Somi makin kesal dengan lelaki yang kini satu mobil dengannya. Mobil itu membawanya ke rumah lelaki sialan karena permintaan sang mama.
Kini tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Keduanya sama-sama saling memendam rasa kesal karena egonya masing-masing. Hingga mobil yang Gandhi kemudikan berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang Somi yakini rumah Gandhi.
"Mau tetap di sini atau ikut masuk bersama dengan ku?" Gandhi melirik ke arah Somi yang masih menampakan muka masamnya.
Bibir Gandhi kini membentuk sebuah senyuman ketika ia mendengar suara Somi menutup pintu mobilnya dengan kesal. Ia berhasil membuat wanita itu ikut dengannya.
Seorang pria seumuran papanya datang menyambut Gandhi dan sang wanita. Lelaki itu merupakan satpam di rumahnya. Dan lelaki itu pula lah yang membawakan barang-barang Somi yang ada di bagasi mobilnya.
Somi mengikuti langkah kaki Gandhi masuk ke dalam rumah sang pria yang saat ini berstatus menjadi pacarnya. Meski tak seberapa besar seperti rumahnya, namun rumah milik Gandhi ini cukup mewah dan terkesan elegan. Rumah bernuansa Mediterrania tersebut memang cocok untuk gaya maskulin Gandhi.
"Semoga betah ... meski hanya satu bulan!" Gandhi mengucapkan kata selamat datang untuk calonnya. Ia berharap Somi mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Setelah itu Gandhi terlihat gusar, ia mengamati setiap sudut di rumahnya dan memanggil beberapa pekerja yang bertugas mengurus rumahnya.
"Siapa yang baru saja masuk ke rumah ini?" tegur Gandhi pada salah satu pekerja. Somi menyadari bahwa sang kekasih tersebut sedang menahan emosi.
Para pekerja tak ada yang berani menjawab pertanyaan darinya. Mereka hanya menundukkan kepala mereka di hadapan Gandhi yang sedang murka.
Melihat hal itu, Somi tak kuasa pada karyawan Gandhi. Rasa simpatinya membuat Somi ingin memukul kepala lelaki yang seenaknya saja memarahi pegawainya.
"Bisa tidak tak usah teriak-teriak?" Sambil melipat kedua tangannya ke dalam, Somi mendekati Gandhi yang sedang memarahi pegawainya.
"Kau lihat saja, mereka memasang ini semua!" ucap Gandhi sambil menunjuk salah satu kamera pengawas atau CCTV yang berada di ruang keluarga ini.
"Tante Linda ... ?" Somi tak percaya dengan apa yang ia pikirkan. Namun Gandhi juga membenarkan kecurigaan Somi. Ini pasti ulah mamanya.
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi