"Tidak ada yang boleh menyentuhnya barang sedikitpun tanpa seijinku. Karena dia adalah mate-ku. Ingat itu baik-baik." dengan tegas presdir mengucapakannya didepan para musuh.
Missa Elif Kumara. Sekertaris cantik di perusahaan Unilever. Tak disangka oleh Elif bahwa presdir yang memimpin perusahaan dengan segala ketegasan dan kewibawaannya adalah seorang vampire. Dan yang lebih mengejutkan lagi Elif adalah mate dari sang presdir yang sudah ribuan tahun ditunggu-tunggu.
Segala rintangan dan ujian agar bisa bersama dengan dipenuhi kebahagiaan ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Apakah Elif dan presdir akan terus bersama dengan segala rintangan dan ujian? Dan apakah Elif akan percaya jika dirinya adalah keturunan penyihir yang seharusnya musnah?
Yuk baca kisahnya. Jangan sampai telat ya.
Jangan lupa like, vote dan follow.
Ig : ZulfaZul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Presdir melangkah menghampiri Elif yang masih berdiri didepan kaca cermin yang selalu ia gunakan untuk bersiap sebelum bekerja. Tangannya merengkuh pinggang ramping bergaun putih itu. Tentu membuat jarak antara presdir dengan Elif terkikis.
Elif terkejut dengan tindakan presdir yang tidak pernah ia temui saat di kantor. Hembusan napas presdir kini dapat ia rasakan, menerpa wajah yang semakin bertambah cantik dengan beberapa untai rambut teurai disamping dua pipi mulus itu. Terpantul di kaca cermin dua makhluk beda bangsa itu seperti sedang berpelukan dan lebih mendekati berciuman.
"Apapun bangsa kamu, tetapi kamu tetap orang yang selalu aku tunggu." presdir menatap lekat manik mata abu-abu milik sang MATE.
Elif menatap manik mata presdir dengan lekat pula. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Begitu pun jantung milik presdir.
Untuk mengucapkan sepatah kata pun, kini bibir merah itu terasa kaku seketika. Bagai terkena sihir pesona sang presdir, mata keduanya makhluk beda bangsa itu terkunci dalam satu garis lurus.
Cup!
"Presdir." ucapnya lirih setelah benda kenyal tadi menempel dalam hitungan detik. Namun rasa dingin masih tersisa sempurna dilapis kulit paling atas.
"Untuk kedua kalinya. Tanda agar kamu ingat, kalau kamu adalah milikku." balas presdir dengan nada penuh kelembutan, tidak seperti biasanya yang selalu saja datar tak ada rasa pedas atau manis sekalipun, lebih tepatnya terselip ketegasan di setiap ucapannya.
***
"Tuan, anda dipanggil oleh nyonya besar." seorang pelayan menghentikan langkah presdir yang sedang berjalan beriringan dengan Elif di lorong lantai dua.
"Untuk apa?" tanya presdir, kembali datar seperti biasanya.
"Tidak tahu, tuan. Nyonya besar cuma mengatakan agar anda cepat ke kamarnya. Itu saja." jawab pelayan ber-rompi hitam yang membalut baju putih panjang. Kepalanya tertunduk, tak menunjukkan wajahnya sedikitpun.
Presdir melirik ke arah Elif. "Baiklah, aku akan kesana. Dan tolong, bawakan minum untuk nona. Bawa dia ke ruang kerjaku." setelah itu pelayan tadi segera menuturi perintah presdir.
Sedangkan presdir melangkahkan kakinya menuju kamar sobo. Tetapi sebelum itu, presdir memerintahkan Elif agar menunggunya di ruang kerjanya. Dan jangan keluar sebelum presdir menjemput.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuklah, cucuku." dari dalam terdengar suara sobo setelah presdir mengetuk pintu kamar bercat cokelat dengan ukiran unik.
Presdir masuk ke dalam kamar sobo yang luasnya tak kalah dengan kamar milik presdir. Semua kamar sama besarnya, termasuk kamar pelayan. Namun, tentu tak semewah kamar keluarga Kandou. Hanya kamarnya yang besar saja. Perabotan dan seluruh isinya hanya beberapa barang yang dibutuhkan, tak lebih dari itu. Tetapi, semua itu sudah begitu menjadi sebuah anugrah dan kenikmatan bagi para pelayan yang bekerja di Kedimana Kandou.
Gaji fantastis yang tidak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah itulah yang membuat para pelayan betah dan senang bekerja di Kediaman Kandou.
Elif yang duduk di sofa empuk di ruang kerja presdir yang tak kalah mewahnya seperti di kantor itu, nampak bosan dengan segelas jus ber es batu kotak mengapung si atas minuman. Dilihatnya minuman yang hanya diteguk dua kali itu untuk meredakan tenggorokannya yang kering. Airnya tenang dengan es batu yang mulai mengecil lalu mencair dan menjadi air yang bercampur dengan jus jeruk.
"Aku tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku ingat, tiba-tiba aku lupa. Kepalaku juga masih sedikit berdenyut seperti terantuk sesuatu yang keras. Tetapi, aku tidak ingat apa sebab dari semua itu." Elif menghembuskan napas beratnya. Menempelkan kedua tangannya dibawah dagu dan memandang ruang kerja presdir yang sepi.
Pelayan yang tadi mengantar minuman itu berdiri di pintu ruang kerja presdir. Tak berani masuk. Karena, tak ada perintah baik dari Elif ataupun presdir untuk menemani wanita bergaun putih bak manekin itu.
Elif yang merasa jenuh dan bosan itu memilih bangkit dari sofa. Berniat berkeliling kediaman megah yang kini sedang ia tempati untuk semantara waktu. Dibukanya pintu ruang kerja perlahan.
"Ya ampun?" Elif terkejut melihat pelayan tadi masih berdiri di depan pintu. Entah sedang apa dia disana. Pikir Elif.
"Maaf, nona. Sudah mengagetkan anda." ucapnya menunduk.
Elif celingukan melihat sekitar ruang kerja yang sepi. "Tidak apa-apa." setelah itu Elif keluar dari ruang kerja.
"Nona, nona mau kemana? Apakah ada yang nona butuhkan? Biar saya saja yang mengambilkannya nona. Nona biarlah tetap didalam ruang kerja dan menunggu tuan kembali untuk menjemput." pelayan menghampiri Elif dengan wajah khawatir.
Takut lalai dalam menjalankan tugasnya.
"Aku hanya bosan berada didalam. Dan aku sedang tidak membutuhkan apapun. Sebaiknya kamu melayani para tamu pesta saja. Aku hanya ingin berkeliling, tidak akan pergi jauh." Elif kembali melangkahkan kakinya dengan tangan memegang segelas jus jeruk ditangannya.
Pelayan tersebut bingung harus bagaimana. Dan akhirnya memilih menuruti ucapan Elif untuk melayani para tamu pesta.
Elif terus berjalan dengan sepatu berlian yang berkilau itu dengan anggun. Sepatu khas zaman kerajaan yang sangat langka untuk ditemui dizaman serba canggih ini. Layaknya seorang model yang sudah profesional. Padahal Elif jarang dan bahkan tidak pernah menggunakan sepatu ber-high tinggi seperti sekarang. Apa semua itu karena kekuatan yang ada didalam tubuhnya? Sehingga Elif berubah drastis?
"Rumah ini ternyata seperti istana saja. Mewah, megah dan cantik dengan ukirannya." Elif menuruni anak tangga kecil menuju ke sebuah ruangan yang sedikit gelap, remang-remang.
Dengan anggun dan santai, Elif terus turun melewati tangga kecil yang berada di pojok lantai dua. Sesampainya di tangga terakhir, gelas yang dipegang erat oleh Elif itu jatuh seketika. Setelah melihat pemandangan yang membuat Elif gemetar takut.
"Kalian..." ucapnya dengan bibir gemetar takut, lalu limbung dengan tubuh yang kini terkulai lemas di tangga kecil paling bawah.
*
*
*
Yuk, jangan lupa untuk like, hadiah dan koment yaa. Selamat membaca Semoga terhibur.