Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Satu minggu kemudian Fiona berhasil melewati hukumannya dengan berdiam diri dirumah tanpa melanggar peraturan Bara.
Jika dia ingin pergi menjenguk mamanya Fiona harus diantar Bara atau diantar Rezza sebagai perwakilan.
Didikan Bara berhasil membuat Fiona berhenti membantai banyak orang dan dia mau melakukan apa yang diperintahkan Bara
"Ini," Bara menyodorkan kunci mobil.
"Apa ini?" Tanya Fiona.
"Hadiah karena kau sudah melewati masa hukuman mu dengan sukses tanpa hambatan,"
"Jangan bercanda," Fiona mengembalikan kunci tersebut lalu kembali menonton televisi.
"Aku tidak bercanda Fiona ini memang hadiah untuk mu ambillah,"
"Tidak tidak aku tidak terlalu membutuhkan mobil," tolak Fiona secara halus.
"Tapi.."
Tring..tring..tring
Fiona mengambil ponselnya lalu mengangkat sambungan.
"Ya Dicky kenapa?" Tanya Fiona setelah mengetahui siapa yang menghubungi nya.
"Fiona nama orang yang disebut mama mu adalah Reka,"
Fiona menjauh dari Bara agar pria itu tidak mendengar percakapan mereka.
"Namanya Reka?" Tanya Fiona.
"Iya pagi ini aku meletakkan perekam diruangan nyonya Delvina dan dia menyebut nama Reka dengan cukup jelas," jawab Dicky.
"Baiklah terimakasih Dicky hari ini aku tidak kerumah sakit,"
"Aku akan menjaga mama mu,"
"Terimakasih,"
Fiona memutuskan sambungan sembari menghela nafas.
"Bagaimana bisa aku mencari orang yang bernama Reka, Reka bukan hanya satu tapi beribu-ribu," gumam Fiona sedikit frustasi.
"Kenapa?" Tanya Bara.
"Mm?" Fiona melihat kebelakang dan Bara sedang menyusul ketempat nya.
"Tidak tadi teman ku hanya menanyakan kabar kenapa tidak masuk kuliah," jawab Fiona diiringi senyum tipis.
"Oh,"
"Kau tidak pergi bekerja?" Tanya Fiona segera mengalihkan pembicaraan.
"Tidak hari ini aku harus pergi menemui seseorang,"
"Menemui siapa?"
"Kau mau ikut?"
"Boleh? Aaa aku ingin keluar!!" Teriak Fiona sembari memeluk Bara.
"Kau terlihat seperti orang baru dikeluarkan dari neraka,"
"Tidak masalah kau ingin mengajak ku kemana? Menonton film, makan ditempat terbuka, jalan jalan mengelilingi kota, atau pergi ke lokasi shooting," ujar Fiona panjang lebar saking antusiasnya.
"Pergilah aku akan mengajakmu ke tempat rahasia ku,"
Fiona mengangguk lalu berlari masuk kedalam kamar sedangkan Bara memegang pakaiannya yang sempat dipeluk oleh Fiona tanpa sadar.
Beberapa saat kemudian Fiona keluar dengan pakaian santai karena mereka akan pergi ke suatu tempat.
"Sudah?"
Fiona mengangguk, Bara menggenggam lengan Fiona keluar dari rumahnya dan masuk kedalam mobil. Rezza menjalankan mobil keluar dari rumah menuju suatu tempat.
Fiona sangat senang melihat jalanan jalanan yang dipenuhi orang-orang tapi semakin kesini Fiona semakin bingung kenapa mobilnya masuk ke sebuah rumah sakit.
"Kau sakit?" Tanya Fiona.
"Ayo keluar,"
Fiona mengangguk walau ia masih heran, Rezza membukakan pintu untuk Bara sedangkan Fiona keluar sendiri.
"Anda yakin tuan?" Tanya Rezza.
"Dia tidak jahat biarkan saja" jawab Bara dengan berbisik.
Bara mengajak Fiona masuk ke sebuah ruangan yang cukup dalam dan sepi, letak ruangan itu sedikit berbeda dari para pasien lainnya.
Bara berhenti di suatu tempat dimana hanya ada ruangan itu yang memiliki pintu, dibalik kaca pintu rumah sakit tersebut ada orang yang sedang terbaring lemah disana.
"Siapa dia?" Tanya Fiona.
"Papa ku," jawab Bara.
Fiona mengerutkan dahi, dia tidak tau jika papanya Bara berada dirumah sakit pasalnya pria itu tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya bahkan media tidak tau bara masih memiliki keluarga.
"Orang tua mu masih hidup?"
"Mama ku sudah meninggal dan sejak itulah papa ku koma tanpa ada kepastian dia kapan papa akan sadar," jawab Bara.
Baru kali ini Fiona melihat wajah sendu Bara didepan matanya sendiri, mungkin karena orang tua sangat berharga seperti apa yang dirasakan Fiona.
"Fiona ini salah satu alasan ku untuk melarang mu membunuh orang lagi, nyawa seseorang sangat berharga bagi keluarganya dan kita tidak tau orang yang kau bunuh itu memiliki pengaruh yang besar bagi keluarganya sendiri,"
"Kau tau Siera? Iya orang yang sempat menjadi target mu, dia satu satunya putri dari keluarga kecil yang memiliki harapan penuh pada anaknya untuk melanjutkan pendidikan dan kebetulan Siera ini memiliki prestasi yang cukup banyak dikampus kalian, bisa kau bayangkan bagaimana keluarganya jika saat itu kau membunuh Siera?" Tutur Bara.
Fiona tidak pernah berpikir sampai kesana, dia hanya melihat seseorang dari satu sisi dan itu membuatnya buta dengan sisi yang lain.
"Dan kau kenapa membunuh orang juga?" Tanya Fiona balik.
"Aku membunuh orang orang tidak berguna seperti koruptor, pengedar narkoba, dan hal hal sampah lainnya. Aku memberikan nasehat padamu agar kau tidak menjadi seperti aku,"
Fiona menatap ruangan sepi didalam kamar papanya Bara.
"Dimana mama mu aku tidak pernah melihatnya,"
"Mama ku sudah meninggal,"
"Maaf,"
"Tidak masalah, hanya kau yang tau masalah ini jadi itu merupakan rahasia,"
Fiona mengangguk diiringi senyum tipis.
"Mama mu sakit?"
"Bunuh diri bersama kekasihnya," jawab Bara.
Fiona menghilangkan senyumnya menatap Bara, dia mengira Bara akan berbohong tapi dari wajahnya tidak mungkin.
"Be-bersama kekasihnya?"
"Ceritanya panjang intinya sama seperti mu aku juga memiliki satu misi membunuh keluarga dari kekasih mama ku, gara gara orang itu papa ku harus menanggung semua ini selama belasan tahun,"
Fiona menepuk punggung Bara untuk menguatkannya, ternyata bukan hanya Fiona yang memiliki nasib buruk seorang pembesar bahkan terkenal pun memiliki nasib serupa.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔