NovelToon NovelToon
DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.

Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH YANG MENJADI RAHASIA

Aku masih berdiri di tengah ruang utama mansion dengan kalung di tanganku.

Tulisan yang terukir di bagian dalamnya terus terbayang dalam pikiranku.

PROYEK IMANUEL — DUA BAYI, SATU KEMATIAN.

Aku menatap Dominic yang berdiri beberapa langkah dariku.

“Jelaskan semuanya,” kataku pelan.

Dominic mengusap wajahnya. Ada luka kecil di sudut bibirnya akibat perkelahian dengan salah satu penyusup tadi.

“Aku sendiri tidak memahami semuanya, Isabella.”

“Jangan berbohong kepadaku!”

Suaraku meninggi.

“Kau mengatakan akan melindungiku. Kau mengatakan tidak akan menyembunyikan apa pun dariku. Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu siapa diriku sebenarnya!”

Dominic terdiam.

Aku mengangkat kalung itu.

“Apa maksud tulisan ini? Mengapa Adrian mengatakan bahwa kau bukan ayahku? Dan mengapa Richard menunjuk ke arahmu sebelum meninggal?”

Dominic mendekat, tetapi aku langsung mundur.

“Jangan mendekat.”

Ia menghentikan langkahnya.

“Baik. Aku tidak akan memaksamu.”

Untuk pertama kalinya, Dominic terlihat tidak berdaya.

Beberapa menit kemudian, Marco datang membawa sebuah koper kecil yang ditemukan di kamar Richard.

“Tuan, kami menemukan ini di bawah tempat tidurnya.”

Dominic membuka koper tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen, foto lama, dan sebuah kaset rekaman.

Aku mengambil salah satu foto.

Foto itu memperlihatkan Clara, ibu Dominic, sedang menggendong seorang bayi laki-laki.

Di belakangnya berdiri Elena yang sedang menggendong bayi perempuan.

Namun, ada seseorang di antara mereka.

Seorang pria yang wajahnya sengaja dicoret menggunakan tinta hitam.

“Siapa pria ini?” tanyaku.

Marco menggeleng.

“Identitasnya belum diketahui.”

Dominic mengambil foto tersebut.

“Ini pasti diambil sebelum aku berusia satu tahun.”

Aku menatapnya.

“Apakah kau tahu sesuatu tentang proyek Imanuel?”

Dominic menggeleng.

“Tidak. Tapi aku pernah mendengar ayahku menyebut nama itu ketika aku masih kecil.”

“Apa yang dia katakan?”

Dominic terdiam sejenak.

“Dia pernah mengatakan bahwa keluarga Imanuel membangun kekayaan mereka melalui sebuah eksperimen yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Aku merasakan tengkukku meremang.

“Eksperimen apa?”

“Aku tidak tahu.”

Marco kemudian memasukkan kaset ke dalam alat pemutar yang ditemukan di koper.

Suara berdesis terdengar sebelum sebuah rekaman mulai diputar.

Suara Clara terdengar.

“Jika suatu hari Dominic menemukan rekaman ini, katakan kepadanya bahwa ibunya tidak pernah meninggalkannya.”

Dominic langsung membeku.

“Aku terpaksa menyerahkan sesuatu yang paling berharga demi menyelamatkan dua anak yang tidak bersalah. Namun, aku tidak pernah membayangkan bahwa pengorbananku justru akan menjadi awal dari kehancuran keluarga ini.”

Rekaman berhenti sejenak.

Kemudian terdengar suara Elena.

“Clara, bagaimana jika mereka mengetahui bahwa kedua bayi itu sebenarnya...”

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras.

Rekaman terputus.

Dominic menatap alat pemutar tersebut.

“Putar lagi.”

Marco mencoba beberapa kali, tetapi bagian tersebut sudah rusak.

Aku menatap foto di tanganku.

Dua perempuan.

Dua bayi.

Dan sebuah rahasia yang menghubungkan kami semua.

Keesokan paginya, aku memutuskan pergi ke kamar Richard.

Aku ingin menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan perkataannya sebelum meninggal.

Dominic sebenarnya melarangku pergi sendirian, tetapi kali ini aku tidak ingin bergantung kepadanya.

Aku membuka laci meja kerja Richard satu per satu.

Di laci paling bawah, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu terkunci.

Aku mencoba menggunakan kunci yang tergantung pada gantungan di samping meja.

Klik.

Kotak tersebut terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang bayi berwarna putih dengan tulisan:

BABY A — 00.15

Di bawah gelang itu terdapat gelang lainnya.

BABY B — 00.17

Aku mengambil keduanya.

Ada sebuah surat kecil yang dilipat rapi.

Untuk anak yang suatu hari menemukan kedua gelang ini.

Jangan pernah percaya pada catatan kelahiran yang diberikan rumah sakit. Kedua bayi tersebut telah ditukar identitasnya sebelum matahari terbit.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Bayi ditukar?

Berarti selama ini identitas kami memang sengaja dipalsukan.

Namun, siapa yang melakukan penukaran tersebut?

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka.

“Sedang mencari sesuatu?”

Aku berbalik.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.

Wajahnya membuatku terkejut.

Victoria.

Namun, kali ini ia tidak tersenyum.

“Aku datang untuk memberitahumu sesuatu, Isabella.”

Aku segera menyembunyikan gelang bayi di belakang tubuhku.

“Bagaimana kau bisa masuk?”

Victoria mengabaikan pertanyaanku.

“Richard sudah meninggal, bukan?”

Aku menatapnya tajam.

“Dari mana kau tahu?”

“Karena orang yang membunuhnya adalah orang yang sama yang selama ini memburuku.”

Aku melangkah mendekat.

“Siapa?”

Victoria mengeluarkan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan Marco sedang berbicara dengan seorang pria di tempat parkir rumah sakit.

Aku membeku.

Marco?

Orang kepercayaan Dominic?

“Tidak mungkin,” gumamku.

Victoria mengangguk.

“Dia bukan sekadar pengawal Dominic. Dia sudah bekerja untuk Adrian sejak bertahun-tahun lalu.”

Aku menggeleng.

“Kau berbohong.”

“Kalau tidak percaya, periksa rekaman kamera keamanan malam Richard ditembak.”

Aku menatap foto itu sekali lagi.

Victoria kemudian mendekat dan berbisik.

“Isabella, ada alasan mengapa Adrian selalu selangkah lebih maju dari kalian. Dia memiliki seseorang di dalam mansion.”

Aku segera menemui Dominic.

Ia sedang berada di ruang kerja bersama Marco.

Begitu melihatku masuk dengan wajah tegang, ia langsung berdiri.

“Ada apa?”

Aku meletakkan foto di atas meja.

Dominic mengambilnya.

Wajahnya berubah ketika melihat Marco di dalam foto.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

“Victoria.”

Dominic menoleh ke arah Marco.

“Jelaskan.”

Marco terlihat kebingungan.

“Tuan, foto itu diambil ketika saya sedang menyelidiki seseorang di rumah sakit.”

“Siapa orang itu?”

Marco terdiam.

Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman.

“Orang yang saya temui adalah salah satu anak buah Adrian. Saya sedang mencoba mencari tahu lokasi persembunyiannya.”

Dominic memperhatikan rekaman tersebut.

Namun, aku belum merasa tenang.

“Bagaimana kita tahu rekaman itu tidak dibuat untuk menutupi sesuatu?”

Marco menatapku.

“Nona Isabella, saya sudah mengabdi kepada Tuan Dominic selama lima belas tahun.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dan berapa lama kau bekerja untuk Adrian?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Marco tidak menjawab.

Dominic mengarahkan pandangannya kepadanya.

“Marco?”

Akhirnya, pria itu menghela napas.

“Sejak lima belas tahun lalu.”

Dominic terlihat terkejut.

“Jelaskan.”

Marco menundukkan kepala.

“Saya memang pernah menerima perintah dari Adrian. Tetapi saya tidak pernah bermaksud menyakiti Anda.”

“Perintah apa?”

Marco mengangkat wajahnya.

“Mengawasi Nona Isabella.”

Aku merasakan jantungku berdegup semakin cepat.

Dominic langsung mengepalkan tangan.

“Jadi, selama ini kau memata-matai kami?”

Marco mengangguk pelan.

“Maafkan saya, Tuan.”

Sebelum Dominic sempat memberikan tanggapan, ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengaktifkan pengeras suara.

Suara Adrian terdengar.

“Bagaimana keadaan keluarga kecil kita pagi ini?”

Dominic langsung membentak.

“Berhenti bersembunyi, Adrian!”

Adrian tertawa.

“Tenanglah. Aku hanya ingin memastikan bahwa kalian sudah menemukan gelang bayi itu.”

Aku langsung menatap gelang yang masih berada di tanganku.

“Kau tahu tentang gelang ini?” tanyaku.

“Tentu saja, Isabella. Karena gelang itu adalah bukti bahwa kalian berdua bukanlah anak yang selama ini kalian kira.”

Aku menggenggam gelang tersebut.

“Siapa aku sebenarnya?”

Adrian terdiam sesaat.

Kemudian ia menjawab dengan suara pelan.

“Kau adalah anak dari perempuan yang selama ini dianggap telah meninggal.”

Aku membeku.

“Siapa?”

“Clara Imanuel.”

Dominic langsung menatapku.

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin. Clara adalah ibu Dominic.”

Adrian tertawa kecil.

“Begitulah yang selama ini kalian percayai.”

Aku merasakan seluruh tubuhku dingin.

Adrian melanjutkan.

“Clara melahirkan dua bayi perempuan. Salah satunya kemudian diberikan kepada Elena untuk dibesarkan. Sementara bayi lainnya dibawa pergi oleh seseorang yang tidak pernah kalian curigai.”

“Siapa orang itu?” teriak Dominic.

Adrian menjawab singkat.

“Richard.”

Aku menutup mulut.

Berarti Richard selama ini mengetahui semuanya.

“Dan bagaimana dengan Isabella?” tanya Dominic.

Adrian tertawa.

“Isabella adalah anak yang dibesarkan oleh Elena. Sedangkan perempuan yang kalian temui kemarin adalah anak yang dibawa Richard.”

Aku menatap Dominic dengan bingung.

Namun, Adrian belum selesai.

“Dan sekarang, dengarkan baik-baik. Salah satu dari kedua perempuan itu bukanlah anak kandung Clara.”

Sambungan mendadak terputus.

Aku menatap layar ponsel dengan napas tertahan.

Dua bayi.

Dua gelang.

Dua identitas.

Namun, hanya satu yang memiliki hubungan darah dengan Clara.

Dominic mendekat dan menggenggam tanganku.

“Isabella, apa pun kebenarannya, kita akan menemukannya.”

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku bahkan tidak tahu siapa ibuku sekarang.”

Tiba-tiba Marco berlari masuk.

“Tuan! Ada kabar dari rumah sakit.”

“Apa lagi?”

“Kami menemukan arsip asli kelahiran dua bayi perempuan itu. Tetapi ada satu kejanggalan.”

Dominic mengerutkan kening.

“Apa?”

Marco meletakkan sebuah dokumen di atas meja.

“Menurut hasil pemeriksaan DNA yang tercatat, kedua bayi tersebut memiliki ayah biologis yang berbeda.”

Aku membeku.

Dominic mengambil dokumen itu.

Di bagian bawah terdapat dua nama.

BAYI A — AYAH BIOLOGIS: ADRIAN IMANUEL.

BAYI B — AYAH BIOLOGIS: RICHARD LAURENT.

Aku menatap tulisan tersebut berkali-kali.

Jika dokumen itu benar, berarti selama ini Adrian dan Richard telah menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertukaran identitas.

Ponselku kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Kali ini dari Victoria.

“Jangan percaya dokumen itu. Aku sudah menemukan hasil tes DNA yang asli.”

Pesan kedua menyusul.

“Isabella, kita bukan saudara kembar.”

Aku perlahan mengangkat wajah.

Dominic menatapku.

Dan tepat ketika aku hendak membalas pesan tersebut, sebuah foto masuk.

Foto Elena sedang berdiri di depan sebuah rumah sakit sambil menggendong bayi.

Di belakangnya terdapat tulisan:

IBU KANDUNG ISABELLA MASIH HIDUP.

Aku menjatuhkan ponsel.

Karena jika Elena bukan ibu kandungku, lalu siapa perempuan yang selama ini kupanggil Ibu?

BERSAMBUNG...

1
Mia Camelia
lanjut thor😊
A.A.Pusung
Sedang membaca....
Zendyaa4
bagus kak,semangat teus.. .💪
jangan lupa mampir kakk..🤭
RSS: ko ada bhsa inggrisnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!