NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPERGIAN SORA

"Ikut aku sekarang, Sora... Jangan biarkan dirimu dihancurkan lebih jauh lagi oleh pria yang nggak pernah menghargaimu."

Bisikan Aris terdengar begitu dalam dan memikat di tengah samar suara musik instrumental cafe. Tangan tegapnya menggenggam jemari Sora yang dingin dan gemetar, memberikan kehangatan yang kontras dengan kehancuran di dalam dada wanita itu.

Sora menatap tumpukan foto di atas meja dengan mata yang buram oleh air mata. Sosok Rian—suami yang selama ini selalu beralasan sibuk kerja dan menuduhnya kekanak-kanakan—tampak begitu bahagia merangkul wanita lain di lorong hotel mewah. Rasa bersalah yang selama ini mengutuk jiwa Sora atas sentuhan Aris mendadak sirna, berganti menjadi amarah dan kepedihan yang luar biasa.

"Bawa aku pergi dari sini, Aris... Bawa aku ke mana saja, asal bukan ke rumah itu."

Aris tidak membuang waktu. Senyuman tipis dan sarat kepuasan terukir halus di bibirnya. Ia berdiri, merapikan amplop cokelat itu masuk ke dalam tasnya, lalu merengkuh pinggang Sora dengan lembut namun posesif untuk membimbingnya keluar dari cafe.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen milik Aris di kawasan pusat kota, tak ada kata yang terucap. Sora menyandarkan kepalanya pada kaca mobil Aris yang dingin, membiarkan air matanya menetes satu per satu. Di sampingnya, satu tangan Aris tetap berada di atas paha Sora, mengusap lututnya lembut dengan jemarinya, seolah memberikan kepastian bahwa Sora kini berada dalam perlindungannya.

Mobil mewah Aris berhenti di area parkir privat sebuah penthouse apartemen eksklusif.

Pintu lift berdenting lembut saat membawa mereka naik langsung menuju lantai teratas. Ketika pintu lift terbuka, sebuah hunian luas bernuansa modern dengan pemandangan lanskap pencakar langit Jakarta langsung menyambut pandangan Sora. Pencahayaan di dalam apartemen itu redup dan hangat, menciptakan atmosfer yang sangat intim.

Aris melepas jaketnya dan meletakkannya sembarangan di sofa kulit hitam. Ia berjalan mendekati Sora yang berdiri mematung di tengah ruangan, menatap bayangan lampu-lampu kota di balik jendela kaca besar.

"Di sini kamu aman, Sora," bisik Aris pelan dari balik punggungnya.

Aroma maskulin kayu cendana dan sitrus yang menguar dari tubuh Aris kembali menyelimuti indra penciuman Sora. Kehadiran Aris yang begitu dekat membuat dada Sora bergemuruh hebat—campuran antara amarah atas pengkhianatan Rian dan gairah terlarang yang makin membara.

Sora membalikkan badannya. Matanya beradu lurus dengan manik mata cokelat gelap Aris yang menatapnya penuh hasrat dan kehangatan yang jujur.

"Kenapa kamu melakukan ini semua untukku, Aris?" tanya Sora dengan suara bergetar. "Kenapa kamu terus ada di dekatku saat aku hancur?"

Aris mengikis sisa jarak di antara mereka. Kedua tangannya terulur naik, membingkai wajah cantik Sora dengan lembut. Ibu jarinya menghapus sisa jejak air mata di pipi halus wanita itu.

"Karena aku nggak sanggup lagi melihat wanita yang aku cintai disia-siakan, Sora," jawab Aris jujur tanpa ada keraguan. "Aku sudah memendam perasaan ini selama lima tahun. Dan hari ini, aku nggak akan membiarkan kamu kembali ke neraka itu."

Kata-kata Aris memotong sisa akal sehat Sora. Tanpa memikirkan norma dan status pernikahan yang mengikatnya, Sora membiarkan dirinya pasrah saat Aris menundukkan kepala dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Sora.

Ciuman kali ini tidak lagi lembut seperti sebelumnya. Ada rasa haus yang menuntut, kehangatan yang membakar, serta kepasrahan yang pekat. Aris menyesap bibir manis Sora dengan intens, merengkuh tubuh molek wanita itu makin rapat ke dalam dada tegapnya.

Sora melenguh pelan, merangkulkan kedua tangannya di leher Aris, membalas ciuman terlarang itu dengan kepasrahan penuh. Gelombang gairah yang sudah bertahun-tahun terpendam di dalam tubuh Sora mendadak meledak, memadamkan setiap logika di kepalanya.

Tangan Aris merayap turun ke punggung Sora, menelusuri lekuk tubuhnya dengan usapan halus yang membuat bulu kuduk Sora merinding hebat. Aris mengangkat tubuh Sora dengan mudah, membawa wanita itu ke dalam pelukannya menuju kamar utama yang bernuansa redup.

Di atas ranjang luas yang empuk, Aris merebahkan Sora secara perlahan. Lampu kamar yang remang-remang memantulkan bayangan gairah yang begitu kentara di antara mereka.

Aris menindih tubuh Sora secara lembut, menatap wajah Sora yang memerah dengan helaan napas yang memburu. Jemari Aris membelai helai rambut Sora yang tersebar di atas bantal, lalu mengusap perpotongan lehernya yang mulus.

"Kamu milikku malam ini, Sora..." bisik Aris dengan suara bariton yang berat dan sarat akan dominasi.

Sora memejamkan mata rapat-rapat saat bibir Aris mulai menyusuri garis rahangnya, turun memberikan ciuman-ciuman hangat di sepanjang leher jenjangnya. Setiap usapan tangan dan kehangatan tubuh Aris menghapus setiap bayangan pahit tentang Rian, menggantikannya dengan kenikmatan terlarang yang memabukkan.

Sentuhan demi sentuhan, belaian yang kian intens, dan desahan halus yang tertahan membuai mereka berdua dalam malam yang penuh dosa namun begitu mereka inginkan. Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Sora menyerahkan seluruh kehangatan dan tubuhnya ke dalam belaian sahabat suaminya sendiri.

Pukul sepuluh malam.

Suasana kamar tidur penthouse itu begitu tenang. Sora berbaring bersandar di dada tegap Aris, berselimutkan kain satin putih hingga batas dada. Napas Aris terasa teratur dan hangat di puncak kepalanya, sementara lengan kokoh pria itu melingkar erat di pinggang Sora, memeluknya seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.

Sora menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang campur aduk. Rasa puas, hangat, namun juga kecemasan mendalam akan konsekuensi esok hari mulai merayap pelan.

Tiba-tiba, suara dering ponsel Sora yang berada di dalam tasnya di luar kamar terdengar samar-samar. Deringan itu terus berulang berulang kali, menandakan panggilan yang sangat mendesak.

Dengan pelan, Sora melepaskan dekapan Aris agar tidak membangunkan pria yang sedang tertidur pulas itu. Ia mengenakan gaunnya kembali, lalu berjalan keluar menuju ruang tamu.

Sora merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Layar ponsel menunjukkan 14 Panggilan Tak Terjawab dari Rian, disusul sebuah pesan singkat yang baru saja masuk.

Dengan jantung yang mendadak berdegup kencang menembus dada, Sora membuka pesan dari suaminya tersebut.

"Sora, kamu di mana?! Aku sudah di rumah dan barang-barangmu nggak ada! Bi Ijah bilang kamu pergi dijemput seseorang bawa tas!"

Belum sempat Sora menetralkan napasnya dari gertakan pesan itu, sebuah notifikasi pesan kedua dari Rian mendadak muncul di layar. Pesan yang membuat seluruh darah di tubuh Sora mendadak membeku seketika.

"Jangan coba-coba bohong sama aku, Ra. Satpam kompleks dan resepsionis apartemen Aris baru saja konfirmasi kalau kamu masuk ke gedung itu bareng Aris..."

Sora menahan napasnya, tangannya gemetar hebat hingga ponsel di genggamannya hampir terjatuh ke lantai.

"Aku sudah di lobby apartemen Aris sekarang. Buka pintunya atau aku hancurkan tempat ini!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!