NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - MONSTER BERKEPALA JAMUR

Malam merambat makin pekat di atas Kota Mati. Di dalam ruang studio berlantai dua milik Luna, tidak ada satu pun lampu yang menyala. Hanya secercah sinar bulan redup yang menerobos masuk lewat celah tirai kain tebal, membiaskan bayangan panjang di atas lantai kayu. Rian tertidur lelap di atas busa tipis di sudut ruangan, napasnya terdengar teratur meski sesekali tubuhnya tersentak oleh mimpi buruk yang membayangi tidurnya.

Sementara itu, Luna tetap terjaga penuh di dekat sudut tangga. Ia duduk bersila dengan busur recurve bersandar di pangkuan, matanya tidak pernah benar-benar terpejam. Bagi seorang mantan taruna militer, malam hari di tengah krisis seperti ini adalah waktu paling rawan bagi keselamatan diri. Indra pendengarannya diasah sangat tajam, memilah setiap getaran suara yang memantul di dinding bata ruko.

Sekitar pukul dua dini hari, suara aneh mulai terdengar dari arah lantai bawah.

Kriet... sreet...

Suara itu bukan desis angin yang mengoyak lembaran seng di atap. Suara itu berasal dari area pintu besi samping ruko yang tadi sempat dikunci rapat oleh Luna. Gesekan berulang yang terdengar basah dan berat, seperti sesuatu yang membenturkan dan menyeret tubuhnya di atas semen kasar.

Luna membuka matanya seketika. Gerakannya sangat halus saat berdiri dari posisi duduk, tanpa menimbulkan kerikil kecil berbunyi. Ia melangkah tanpa suara mendekati Rian, lalu menepuk pelan pundak pemuda itu.

"Rian, bangun." bisik Luna seraya menekan dada Rian agar tidak langsung berteriak saat terkejut.

"Ada apa, Luna?" tanya Rian kaget dengan mata menyipit kebingungan dalam kegelapan malam.

"Jangan bersuara." peringat Luna sambil menunjuk ke arah lantai bawah dengan dagunya.

Rian serta-merta menahan napasnya. Dalam hening yang mencekam, suara dari lantai bawah kini terdengar semakin jelas dan dekat. Suara gesekan kayu yang patah terdesak, disusul rintihan parau berkepanjangan yang tidak terdengar seperti suara manusia normal lagi. Suaranya kaku, serak, dan bergetar ritmis seperti derik serangga raksasa.

"Ada yang jebol di bawah?" bisik Rian gemetar.

"Pintu ventilasi atau jendela samping. Tetap di belakangku dan jangan pernah melangkah kalau aku tidak memberi isyarat." perintah Luna seraya membetulkan cengkeraman jarinya pada tali busur.

Luna mengambil satu anak panah karbon dari tabung di pinggangnya, memasang ekor panah pada tali busur dengan cengkeraman tiga jari yang sangat terlatih. Ia menyelinap turun menyusuri anak tangga kayu satu per satu. Rian mengekor di belakangnya dengan tubuh gemetaran, menggenggam erat pisau dapur di tangannya yang basah oleh keringat dingin.

Semakin bawah mereka melangkah, bau udara di dalam ruko semakin berubah tajam. Bau sangit karet yang tadi siang tercium kini tertutup total oleh aroma busuk yang sangat pekat—gabungan antara bau tanah basah yang membusuk, jamur liar, dan amis darah segar. Udara terasa jauh lebih berat dan lembap di paru-paru.

Di dasar tangga yang remang-remang, Luna menghentikan langkahnya seketika. Matanya dengan cepat menyesuaikan diri dengan kegelapan di dalam lorong penyimpanan ruko.

Sesosok tubuh berdiri meliuk kaku di dekat pintu belakang yang engselnya telah jebol. Makhluk itu mengenakan sisa-sisa pakaian jaket tipis yang sudah robek-robek. Namun, yang membuat tenggorokan Rian tercekat ketakutan adalah bentuk kepala makhluk tersebut.

Itu bukan lagi sekadar manusia yang memiliki bentolan di leher. Kepala makhluk itu telah mengalami mutasi tahap lanjut yang mengerikan. Seluruh bagian wajah atasnya—mulai dari dahi hingga hidung—telah hancur terbelah, digantikan oleh gumpalan kerak jamur Cordyceps yang mekar tebal seperti mahkota mahoni bercabang. Kelopak matanya sudah tertutup sepenuhnya oleh lapisan spora keras berwarna cokelat kehitaman, membuat monster itu berdiri kaku tanpa indra penglihatan sama sekali.

"Tuhan..." bisik Rian tanpa sengaja dengan suara sangat pelan.

Plak!

Meskipun bisikan Rian sangat halus, monster berkepala jamur itu mendadak menghentikan rintihannya. Kepalanya yang dipenuhi kelopak jamur berputar patah-patah sembilan puluh derajat ke arah tangga. Kerak jamur di dahinya bergetar pelan, mengeluarkan suara klak-klak-klak halus seperti gesekan ranting kering yang rapuh.

"Dia tidak bisa melihat, tapi sangat peka pada gelombang suara." bisik Luna sangat perlahan, hampir tanpa mengeluarkan napas dari bibirnya.

Monster itu melangkah kaku, menyapu udara di sekitarnya dengan jemari yang memanjang akibat infeksi gumpalan jamur. Dari celah mulutnya yang dipenuhi kerak spora kuning, keluar uap halus setiap kali ia mengembuskan napas. Ia berjalan menyeret kakinya, mendekati dasar tangga dengan gerak patah-patah yang menyeramkan.

Krak!

Rian yang panik tanpa sengaja menggeser tumit kakinya, menapak pada ujung paku kayu tangga yang agak melengkung. Suara getaran kayu yang patah mendengung pelan di dalam lorong yang sunyi.

GROAAR!

Makhluk berkepala jamur itu meraung nyaring. Raungannya tidak lagi seperti manusia, melainkan lengkingan buas yang menggetarkan gendang telinga. Tanpa ragu sedikit pun, monster itu menerjang maju ke arah tangga dengan kecepatan yang sangat mengejutkan. Tubuhnya yang kaku melompat menerobos kegelapan seperti binatang buruan yang terdesak hebat.

"Mundur sekarang juga!" teriak Luna seraya mendorong pundak Rian ke belakang.

Dalam hitungan detik yang sangat kritis, Luna menarik tali busurnya hingga batas maksimal di sudut bibir. Ia membidik tepat di tengah leher monster itu—satu-satunya area bawah kepala yang tidak tertutup oleh kerak jamur tebal.

STAS!

Anak panah karbon membelah udara kegelapan dengan siulan tajam. Ujung paku berlapis baja menancap telak menembus tenggorokan sang monster hingga tembus ke belakang lehernya.

Dampak tembakan jarak dekat itu membuat tubuh monster tersebut terpental ke belakang, menghantam tumpukan kardus kosong di lantai bawah. Namun, yang membuat Luna terperanjat adalah makhluk itu belum mati total. Meski lehernya tertancap anak panah, tubuhnya masih menghentak-hentak liar di lantai, jemarinya mencakar-cakar semen dengan kekuatan ekstrem. Kerak jamur di kepalanya mekar semakin lebar, menyemprotkan uap spora segar ke udara.

"Kerak jamur di otaknya mengambil alih sistem saraf sepenuhnya. Tembakan di leher tidak langsung mematikan pusat motoriknya." analisis Luna cepat di dalam kepalanya.

Tanpa membuang waktu, Luna mencabut anak panah kedua dari tabung di pinggangnya. Ia melangkah turun dua anak tangga, berdiri tepat di atas tubuh monster yang masih berontak itu. Ia menarik tali busur, mengarahkan mata panahnya tepat ke celah retakan kerak jamur di bagian pelipis kanan—titik lembek di mana pusat otak berada.

STAS!

Anak panah kedua menancap dalam menembus tempurung kepala di balik kerak jamur. Tubuh monster itu seketika kejang ekstrem selama dua detik, lalu perlahan meluruh layu dan tak bergerak lagi di atas lantai ruko.

Suasana ruangan kembali hening dan sunyi. Hanya ada suara napas Rian yang memburu di belakang tangga dan aroma spora yang kian menyengat di udara.

Luna mendekati mayat makhluk itu, berlutut pelan seraya menggunakan ujung busurnya untuk memeriksa struktur kerak jamur di kepala sang zombie. Permukaan jamur itu sangat keras, menyerupai kayu lapuk bertekstur kasar. Virus Cordyceps ini ternyata tidak sekadar menginfeksi darah, tetapi benar-benar bertumbuh dan mengubah anatomi fisik inangnya menjadi monster spesies baru yang mengerikan.

"Ini... ini bentuk mutasi lanjutannya?" tanya Rian seraya melangkah turun ragu-ragu, wajahnya pucat pasi menatap mayat di bawahnya.

"Ya. Kalau spora ini dibiarkan berkembang di tubuh manusia lebih dari beberapa jam, jaringan otaknya bakal hancur digantikan jaringan jamur keras ini." Luna menjawab datar seraya mencabut kembali kedua anak panahnya dan menyapu bersih noda darah hitam pada kain terdekat.

"Berarti... mereka tidak butuh mata lagi untuk memburu kita?" Rian menelan ludah kaku dengan tenggorokan kering.

"Mereka mengandalkan pendengaran dan indra penciuman. Gerakan kita selanjutnya harus jauh lebih senyap dari ini." Luna berdiri tegak, membetulkan posisi tabung anak panah di pinggangnya.

Luna menoleh ke arah pintu belakang yang sudah jebol sepenuhnya. Bau busuk dari luar mulai membumbung masuk, menandakan bahwa suara raungan monster tadi mungkin telah memancing keberadaan zombie lain di sekitar gang pemukiman.

Ruko ini sudah tidak aman lagi untuk dijadikan tempat bersembunyi.

"Kembali ke atas, ambil ranselmu sekarang. Kita meninggalkan tempat ini sebelum fajar menyingsing." perintah Luna tegas.

"Baik, Luna!" Rian mengangguk cepat tanpa bantahan lagi.

Pengalaman berhadapan langsung dengan monster berkepala jamur itu telah membakar habis sisa-sisa rasa santai mereka. Luna tahu, ancaman di luar sana telah berevolusi menjadi jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkannya. Namun, dengan naluri taruna dan pengetahuan taktis yang baru saja diperolehnya tentang kelemahan monster tersebut, ia siap melangkah lebih jauh menembus kegelapan Kota Mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!