Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 PONDOK DI PADANG BUNGA
Bab 19 Pondok di padang bunga
Di bawah guyuran lembut air terjun yang tersembunyi, Beifeng Yao masih tenggelam dalam meditasi yang mendalam. Matanya terpejam rapat, menyatu dengan keheningan alam di sekitarnya.
Seluruh tubuhnya ditenggelamkan di dalam air danau yang hangat, menyisakan batas bahu dan wajahnya yang tenang di permukaan.
Seiring dengan berjalannya sirkulasi qi di dalam meridian tubuhnya, perlahan-lahan seberkas cahaya mistis mulai berpendar dari balik kulitnya.
Sinar itu memang tidak begitu terang, samar-samar menembus kabut tipis yang menggantung di atas danau. Namun, di tengah kegelapan hutan yang lebat, pendaran itu sudah lebih dari cukup untuk menangkap perhatian sepasang mata tajam milik Xiong Yan.
"Wughhh!" Salah satu siluman anjing tiba-tiba menyalak rendah, cakarnya menggaruk tanah sambil mengarahkan moncongnya ke arah sumber cahaya.
"Ayo kita ke sana. Target sudah ditemukan," ucap Xiong Yan dengan suara berat yang tertahan. Ia mengusap kepala salah satu siluman anjing di dekatnya, memberi isyarat agar mereka tetap tenang. "Kita lihat siapa dia sebenarnya."
Dengan langkah yang sengaja diperlambat agar tidak menimbulkan suara, Xiong Yan memimpin anak buahnya menyelinap di antara celah batu dan pepohonan tua.
Begitu kakinya menginjak batas tepian air terjun, langkah pria kekar itu mendadak terkunci.
Tubuhnya seketika kaku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
Xiong Yan refleks mengucek kedua matanya dengan kasar, seakan-akan tidak memercayai apa yang sedang ditangkap oleh indra penglihatannya saat ini.
Di tengah danau yang berasap tipis, tubuh yang sedang berendam itu tampak begitu anggun dan memesona, dikelilingi oleh cahaya spiritual yang lembut.
"Siapa dia...?" bisik Xiong Yan parau, tenggorokannya mendadak terasa kering. Tatapannya terpaku, sama sekali tidak bisa dialihkan. "Cantik sekali. Sebenarnya... dia itu siluman apa?
Setelah beberapa saat lamanya, Feng Yao perlahan membuka matanya.
Cahaya yang menyelimuti tubuhnya pun berangsur-angsur menghilang, kembali masuk ke dalam tubuhnya.
Ia menggerakkan bahunya dan menarik napas panjang.
Tubuhnya terasa jauh lebih segar.
Feng Yao kemudian mulai berenang mengitari bagian kecil danau itu. Sesekali ia mengibaskan rambut panjangnya yang basah ke belakang.
"Wah... enak sekali."
Ia kembali berenang dengan santai, menikmati hangatnya air dan ketenangan tempat itu.
Sementara di sudut lain
Xiong Yan masih bersembunyi di balik semak.
Entah kenapa, dadanya justru terasa semakin tidak tenang.
Deg.Deg.Deg.
Ia bahkan tanpa sadar menekan dadanya sendiri.
"Apa-apaan ini..." gumamnya pelan.
Salah satu siluman anjing di sampingnya menoleh.
"Wuh?"
Xiong Yan langsung melirik tajam."Ssstt!"
Ia kembali mengintip ke arah danau.
Semakin lama melihat Feng Yao, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan.
"Cantik sekali..."
Untuk sesaat, Xiong Yan bahkan lupa kalau tujuan awalnya datang ke tempat itu adalah untuk mencari tahu identitas siluman misterius yang memasuki wilayahnya.
Beberapa saat kemudian, Feng Yao akhirnya naik dari danau.
Ia berjalan menuju batu besar tempat pakaiannya diletakkan.
Xiong Yan yang menyadari hal itu langsung tersadar.
"Ah..."
Ia perlahan mundur setapak demi setapak.
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk ikut mundur.
Namun baru beberapa langkah
Cklekkk...
Kaki Xiong Yan menginjak sebuah ranting kering.
Ia langsung membeku.
Dengan cepat, ia bersembunyi di balik sebuah batu besar.
Para siluman anjing di belakangnya ikut merunduk.
Feng Yao menoleh.
Matanya mengarah ke semak-semak dan batu besar di sekitarnya.
"Hm?"
Ia memperhatikan beberapa saat.
Namun tidak melihat apa pun.
Feng Yao akhirnya mengangkat bahu.
"Mungkin ranting jatuh."
Ia kemudian mengenakan pakaiannya dengan santai.
Setelah rapi, Feng Yao berjalan menuju sebuah lahan kosong di tengah padang bunga.
Ia memandang sekeliling.
"Wah... sepertinya di sini cocok."
Feng Yao mengangkat tangannya.
Qi spiritual perlahan mengalir dari tubuhnya.
Beberapa batang kayu di sekitar mulai bergerak mengikuti kendalinya.
Tak lama kemudian, sebuah pondok kecil berdiri di tengah padang bunga.
Tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk tempat beristirahat.
Feng Yao memandang pondok itu dengan puas."Mulai sekarang, ini rumahku."
Di balik batu besar, Xiong Yan masih mengintip.
Matanya kembali tertuju pada Feng Yao.
Kali ini bukan hanya rasa penasaran yang muncul
Ia semakin yakin bahwa siluman wanita ini sama sekali bukan siluman biasa.