kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Citta hatiku yang sunyi kini mulai bergetar saat bayangmu hadir. Bhaha perasaan ini tumbuh ranum, membawa Damai laksana sinar fajar. Mamaya kasihmu mendekat lembut mengubah sepi menjadi melodi indah.
...----------------...
"Cukup!" bentak Kiara. Ia membalikkan badannya dengan cepat, tidak ingin mendengar satu patah kata pun lagi dari mulut beracun Kairo. Tangannya yang gemetar mendorong pintu kamar rawat dengan kasar.
Marcus yang berdiri di luar langsung menegakkan tubuhnya saat melihat ekspresi wajah Kiara yang pucat pasi dan dipenuhi oleh kemarahan serta kebingungan. "Nyonya? Apakah ada masalah di dalam?"
"Kita pulang sekarang, Marcus," jawab Kiara dengan suara yang dingin dan bergetar. "Urusanku disini sudah selesai."
Marcus tidak banyak bertanya. Ia segera memberi isyarat kepada para pengawal untuk mempersiapkan jalur keluar. Namun, baru saja mereka melangkah sejauh sepuluh meter menyusuri koridor menuju lift, seluruh lampu di lantai empat tiba-tiba padam total.
Bzzzt... Jleg!
Suasana koridor seketika berubah menjadi gelap gulita. Hanya lampu indikator darurat berwarna merah di langit-langit yang menyala samar, memberikan atmosfer yang mencekam.
"Formasi perlindungan! Amankan Nyonya sekarang!" teriak Marcus dengan suara yang menggelegar penuh otoritas.
Dalam hitungan detik, empat pengawal berjas hitam langsung mengelilingi Kiara, menarik senjata api jenis glock dari balik jas mereka dengan gerakan taktis yang sangat terlatih, Marcus sendiri berdiri paling depan, memegang senjata dengan kedua tangannya, matanya bergerak liar memindai kegelapan koridor.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan beruntun terdengar dari arah tangga darurat di ujung lorong, disusul oleh suara erangan salah satu pengawal Belmont yang berjaga di luar.
"Mereka menyerang dari sektor barat! Musuh menggunakan peredam suara dan kacamata night vision!" seru salah satu pengawal melalui alat komunikasi nirkabel di telinganya.
Kiara merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari dadanya. Rasa takut sempat menyergapnya, namun ingatan tentang kematian tragisnya di kehidupan masa lalu seketika memicu adrenalinnya. Ia tidak boleh mati konyol di tempat ini. Ia harus bertahan hidup demi mencari tahu kebenaran dari apa yang baru saja dikatakan oleh Kairo.
"Nyonya Kiara, tetap berada di belakang saya dan jangan melepaskan pegangan Anda pada jaket saya!" perintah Marcus dengan tegas sembari mulai bergerak mundur secara perlahan menuju pintu keluar alternatif.
Suara langkah kaki taktis yang cepat terdengar mendekat dari dua arah berlawanan. Musuh tampaknya telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat matang, memanfaatkan momen ketika Dante sedang berada di distrik timur untuk menyerang titik terlemah dari pertahanan Belmont: Kiara.
DOR! DOR!
Pertempuran jarak dekat pecah di koridor yang remang-remang. Kilatan cahaya dari moncong senjata api menerangi kegelapan secara intermiten, menampilkan bayangan-bayangan pria bertopeng hitam yang merangsek maju dengan agresif. Pengawal-pengawal Belmont bertarung dengan gigih, menembak jatuh dua penyerang pertama yang mencoba mendekati Kiara.
Marcus bergerak dengan kecepatan dan akurasi yang luar biasa sebagai tangan kanan seorang bos mafia. Dengan dua tembakan presisi, ia berhasil merobohkan seorang penyerang yang mencoba membidik Kiara dari balik pilar beton.
"Pintu lift tidak bisa digunakan karena sistem listrik diputus dari pusat!" teriak Marcus sembari menembak ke arah lorong belakang. "Kita harus menuju helipad di atap gedung! Mobil evakuasi udara sedang menuju ke sini!"
Di bawah perlindungan ketat dari Marcus dan sisa pengawal yang masih hidup, Kiara berlari secepat yang ia bisa menaiki anak tangga darurat menuju atap rumah sakit. Napasnya tersengal-sengal, kakinya terasa lemas, namun ia terus memaksa dirinya untuk bergerak maju di tengah desingan peluru yang sesekali menghantam dinding beton di sekitarnya.
Begitu mereka berhasil mendobrak pintu menuju atap gedung, angin kencang dan rintik hujan malam langsung menerpa wajah Kiara. Sinar lampu helikopter dengan lambang keluarga Belmont tampak mendekat dari kejauhan, mencoba mendarat di tengah cuaca buruk.
Namun, sebelum helikopter itu sempat menyentuh landasan, pintu akses atap yang baru saja mereka lewati kembali didobrak paksa dari dalam. Tiga orang pria bertopeng dengan senapan serbu otomatis melangkah keluar, langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Kiara dan Marcus yang posisinya sangat terbuka di tengah landasan helipad.
"Sialan!" umpat Marcus sembari mencoba menembak, namun peluru senjatanya telah habis. Ia bergerak cepat untuk mengisi ulang peluru, namun waktu tampaknya tidak berpihak pada mereka. Salah satu musuh telah siap menarik pelatuk senapan serbunya ke arah Kiara.
Kiara memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menghadapi rasa sakit yang mungkin akan mengakhiri kehidupan keduanya ini dengan begitu cepat.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan yang jauh lebih menggelegar dan berat tiba-tiba terdengar dari arah belakang musuh. Ketiga penyerang bertopeng itu seketika tersungkur ke lantai beton helipad dengan lubang peluru besar di kepala mereka masing-masing, darah segar mengalir bercampur dengan air hujan yang menggenang.
Kiara membuka matanya dengan terkejut. Dari balik bayang-bayang pintu darurat yang hancur, muncul sebuah sosok tegap yang sangat ia kenali.
Dante Belmont berdiri di sana dengan kemeja hitam yang kini telah basah oleh air hujan, memegang sebuah senjata laras panjang kaliber besar dengan asap yang masih mengepul dari ujung larasnya. Wajah pria itu tampak begitu mengerikan, dipenuhi oleh amarah yang dingin dan aura haus darah yang sangat pekat, seolah-olah dia adalah dewa kematian yang baru saja bangkit dari neraka.
Dante melempar senjata kosongnya ke lantai, lalu melangkah lebar menerobos hujan deras menghampiri Kiara. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung menarik tubuh ramping Kiara ke dalam pelukan dadanya yang bidang dan hangat, mendekap wanita itu dengan begitu erat seolah takut jika Kiara akan menghilang jika ia melepaskannya sedikit saja.
"Kau aman sekarang, Istriku," bisik Dante dengan suara baritonnya yang rendah, kasar, dan sedikit bergetar—sebuah nada langka yang menunjukkan secercah rasa panik yang sangat jarang diperlihatkan oleh sang mafia dingin. "Siapa pun yang merencanakan semua ini... aku akan memastikan mereka membayar setiap tetes ketakutan yang kau rasakan malam ini dengan nyawa mereka."
Kiara menyandarkan kepalanya di dada tegap Dante, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang seirama dengan detak jantungnya sendiri. Namun, di tengah rasa aman yang ditawarkan oleh pelukan hangat itu, ucapan Marcus tentang rahasia masa lalu ibunya kembali terngiang dengan sangat jelas di dalam benaknya.
Siapa kau sebenarnya, Dante Belmont? Dan apa yang sebenarnya kau cari dariku?
Helikopter milik keluarga Belmont membelah langit malam yang pekat, membawa Dante Belmont dan Kiara Belmont menjauh dari rumah sakit distrik barat yang baru saja menjadi medan pertempuran berdarah. Di dalam kabin helikopter yang bising, keheningan yang tegang justru terasa begitu pekat di antara sepasang suami istri tersebut.