NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Pertemuan Keira dan Ian

"Baru berapa jam di sini, udah tahu cara mainin perasaan anak kecil."

Ian menunduk sedikit, menyamakan tinggi wajahnya dengan Keira. Aroma parfum kayu manis yang dipakainya samar-samar tercium di antara mereka.

"Pura-pura ramah, bikin origami, sok-sokan lucu... Teknik standar buat bikin seisi rumah ini luluh sama kamu, kan?"

Keira terdiam sesaat. Rasa jengkel yang sempat mereda kini kembali muncul. Tangannya bahkan tanpa sadar meremas bola plastik yang masih dipegangnya.

"Mas Ian," ucapnya berusaha tetap tenang. "Saya di sini digaji buat jaga Mika. Kalau saya bercanda sama dia, itu karena dia masih anak-anak dan butuh dihibur. Bukan karena saya lagi audisi teater."

"Oh ya?"

Ian mengangkat sebelah alis. Tatapannya menyapu wajah Keira, seolah sedang mencari celah untuk membuktikan sesuatu.

"Kita lihat aja berapa lama topeng ini bisa bertahan. Orang-orang kayak kamu biasanya cuma butuh waktu sebentar sebelum mulai minta bonus, uang lembur, atau mengarang alasan kasihan buat nguras dompet Papi."

Keira langsung mengangkat wajahnya.

"Saya nggak pernah minta uang yang bukan hak saya!" potongnya cepat.

Matanya menatap Ian dengan kesal. Ia memang datang dari keluarga sederhana, bahkan harus bekerja jauh dari rumah demi membantu melunasi utang orang tuanya. Namun, bukan berarti dirinya bisa seenaknya dituduh sebagai orang yang suka memanfaatkan orang lain.

"Bagus kalau gitu."

Ian mundur selangkah, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

"Ingat kata-kataku, Keira. Jangan pernah coba-coba manfaatin Mika. Sekali aja aku lihat kamu kelewatan, aku sendiri yang bakal lempar kamu ke luar gerbang."

Keira hampir membuka mulut untuk membalas. Namun, sebelum sempat mengeluarkan sepatah kata pun, terdengar suara langkah kaki kecil dari arah kamar mandi.

"Mbak Keira! Tangan Mika udah bersih! Mana burungnya?"

Mika muncul dengan wajah ceria. Kedua tangannya yang masih agak basah diangkat tinggi-tinggi, seolah sedang memamerkan hasil kerja kerasnya mencuci tangan.

Namun, begitu melihat Ian berdiri di depan pintu, perhatian anak itu langsung beralih.

"Mas Ian!"

Wajah Mika berbinar. Ia berlari kecil menghampiri kakaknya sambil membawa kodok kertas yang tadi dibuat Keira.

"Lihat nih, Mika punya kodok dari sawah!"

Perubahan sikap Ian terlihat begitu cepat. Tatapan dingin yang sejak tadi diarahkan kepada Keira seolah menghilang begitu saja. Pria itu langsung berlutut agar sejajar dengan adiknya.

"Kodok dari sawah?" tanyanya dengan suara jauh lebih lembut.

Tangannya mengusap kepala Mika pelan. Sulit dipercaya kalau pria yang beberapa detik lalu berbicara begitu tajam kepada Keira ternyata bisa bersikap selembut itu.

"Kok kodoknya terbuat dari kertas?"

"Dibuatin sama Mbak Keira!" jawab Mika antusias. Ia mengangkat kodok kertas itu lebih tinggi. "Katanya kodoknya naik bus!"

Ian tersenyum tipis mendengar penjelasan polos adiknya.

"Naik bus?"

"Iya! Busnya AC-nya bocor!"

Mika tertawa kecil, seolah cerita tentang kodok yang naik bus dengan AC bocor adalah sesuatu yang sangat lucu.

Ian sempat melirik Keira dari sudut matanya. Tatapan itu hanya berlangsung sebentar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa rasa curiganya belum benar-benar hilang.

Setelah itu, ia kembali menatap Mika.

"Jangan main kertas terus, nanti tanganmu kena sabetan kertas. Ayo, makan buahnya dulu. Nanti Mas temenin main Lego."

"Asyik! Mas Ian ikut main!"

Mika langsung bersemangat. Ia bahkan melompat kecil sambil memeluk kodok kertasnya.

Ian berdiri, kemudian mengusap bahu adiknya dengan lembut.

"Ayo, jangan lupa makan buahnya."

Setelah mengatakan itu, Ian melangkah pergi menyusuri lorong. Ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada Keira. Langkah kakinya terdengar menjauh sebelum akhirnya menghilang di belokan.

Keira hanya bisa berdiri mematung.

Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang. Rasanya ingin sekali membalas semua tuduhan Ian tadi. Sayangnya, ia masih ingat bahwa dirinya sedang berada di tempat kerja. Membuat keributan pada hari pertama tentu bukan keputusan yang bijak.

Belum lagi, ada Mika yang sejak tadi menunggunya.

"Mbak Keira..."

Keira menunduk.

"Burung kuningnya mana?"

Mika menarik ujung kausnya berulang kali. Wajah kecil itu tampak begitu antusias, sama sekali tidak tahu kalau beberapa saat sebelumnya kakaknya baru saja membuat pengasuh barunya hampir kehilangan kesabaran.

Keira akhirnya tersenyum. Ia berlutut di hadapan Mika, lalu mengambil selembar kertas origami berwarna kuning dari sakunya.

"Ini lagi mau dibikin, Cantik."

"Burungnya bisa terbang?"

"Kalau ditiup, sayapnya bisa bergerak. Tapi kalau mau terbang jauh, burungnya harus naik pesawat."

Mika terkikik.

"Burung kok naik pesawat?"

"Memangnya kodok boleh naik bus, burung nggak boleh naik pesawat?"

Mika kembali tertawa. Keira ikut tersenyum sambil mulai melipat kertas kuning itu mengikuti pola yang sudah diingatnya.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia masih membayangkan wajah Ian Xavier yang tadi menatapnya penuh kecurigaan.

Kalau saja wajah menyebalkan itu bisa dilipat seperti kertas origami, mungkin sudah ia bentuk jadi pesawat lalu diterbangkan sampai ke luar pagar rumah ini.

Sialan tuh cowok.

Keira mendengus dalam hati.

Dikira semua orang miskin itu pengemis yang suka memanfaatkan orang lain, apa? Memangnya kalau seseorang punya banyak uang, semua orang yang bekerja di rumahnya otomatis punya niat buruk?

Ia kembali melipat bagian sayap burung dengan sedikit lebih kuat.

Lihat aja, Ian Xavier. Gua bakal bertahan di rumah ini sampai utang Bapak gua lunas. Gua nggak bakal membiarkan mulut lu itu bikin gua mundur!

"Mbak, kok burungnya belum jadi?"

Pertanyaan Mika membuat Keira tersadar. Ia langsung menoleh kepada anak kecil itu.

"Sebentar, dong. Burungnya lagi proses jadi cantik."

"Kayak Mika?"

Keira tertawa kecil.

"Iya, kayak Mika."

Tak lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Bik Yani masuk sambil membawa mangkuk berisi potongan buah naga dan apel.

"Nah, ini buahnya sudah siap," katanya sambil meletakkan mangkuk di atas meja kecil.

Perempuan itu tersenyum melihat Keira yang mulai cekatan melipat kertas kuning di tangannya.

"Wah, sudah bisa bikin burung juga, Mbak Keira?"

"Sedang belajar ini, Bik," jawab Keira sambil tersenyum tipis.

Bik Yani terkekeh mendengar jawabannya.

Sementara itu, Mika sudah sibuk mengintip bentuk kertas yang sedang dibuat Keira. Anak kecil itu tampak tidak sabar menunggu burung kuningnya selesai.

Keira kembali berkonsentrasi melipat kertas. Setidaknya, selama Mika masih tersenyum seperti sekarang, ia merasa pekerjaannya tidak sia-sia.

Meski harus menghadapi kakak yang mulutnya lebih tajam daripada gunting, Keira sudah bertekad untuk bertahan.

Toh, ia datang ke rumah itu bukan untuk mencari teman, apalagi menyenangkan hati Ian Xavier.

Ia datang untuk bekerja. Dan yang paling penting, untuk membawa pulang uang demi keluarganya.

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!