Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Mahardika mengaktifkan penglihatan tembus pandangnya kembali.
Dalam penglihatannya, pembuluh darah utama menuju otak pria ini menyempit drastis akibat serangan jantung mendadak, sementara pembuluh darah di sekitar dadanya menegang hebat.
"Sumbatan darah di meridian dada dan otak harus segera dilepaskan sebelum otaknya kekurangan oksigen secara permanen!" batin Mahardika.
Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan wadah kain berisi jarum-jarum perak tipisnya.
"Mas! Mas mau diapain orang itu?! Jangan sembarangan nancapin jarum, kalau dia meninggal Mas yang ditangkap polisi!" teriak salah seorang warga menahan lengan Mahardika.
Mahardika mengibaskan tangannya pelan, memancarkan gelombang energi chi lembut yang membuat genggaman warga itu terlepas.
"Kalau kita tunggu ambulans datang, dalam dua menit pria ini akan mati. Saya penanggung jawabnya," kata Mahardika dingin dan penuh penekanan.
Aura dingin Mahardika mebuat para warga itu terdiam dan tidak berani menahan Mahardika lagi.
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Dengan cepat, empat jarum perak menancap sangat tepat di titik vital di tubuh pria tersebut.
Mahardika kemudian menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas dada pria itu.
Cahaya keemasan yang sangat tipis mengalir hangat dari telapak tangannya menembus masuk ke dalam tubuh sang pengemudi.
Uhuk!
Uhukkk!
Hanya dalam hitungan belasan detik, dada pria paruh baya itu terangkat tinggi.
Ia terbatuk keras, menyemburkan sedikit cairan dari mulutnya, lalu menarik napas panjang seraya memegang dadanya yang mendadak terasa lega.
Bibirnya yang tadinya biru perlahan-lahan hilang.
Kelopak mata pria itu perlahan terbuka, menatap bingung ke arah langit malam dan kerumunan warga di sekitarnya, sebelum matanya tertuju pada Mahardika yang sedang mencabut jarum-jarum perak dari tubuhnya.
"S-saya... di mana...?" gumam pria itu dengan suara serak, namun sudah kembali ada tenaga dari pada tadi.
Kerumunan warga seketika berdecak kagum dan riuh oleh rasa takjub.
"Hebat! Hanya dipasang jarum langsung sadar!"
"Padahal tadi sudah seperti mayat!"
"Pria muda ini dokter sakti dari mana?!"
Penjual sate yang tadinya ketakutan sampai mengelus dada lega. "Alhamdulillah... hidup lagi..."
Mahardika membantu pria paruh baya itu untuk duduk bersandar di bodi mobil.
"Bapak baru saja terkena serangan jantung dan penyumbatan darah mendadak saat menyetir. Jangan langsung berdiri dulu, biarkan aliran darah Bapak stabil," kata Mahardika mengingatkan.
Pria paruh baya itu memegang dadanya. Ia menyadari rasa nyeri hebat yang tadi mencekik dadanya kini telah hilang sepenuhnya dan sekarang terasa nyaman.
Ia langsung menyadari bahwa pria muda di hadapannya ini baru saja menyelamatkan nyawanya.
"T-terima kasih, Anak Muda..." ucap pria paruh baya itu penuh rasa haru dan hormat.
"Nama saya Baskoro... Kamu baru saja menyelamatkan nyawaku," ucapnya dengan haru.
Mahardika yang sedang merapikan jarum peraknya mendadak tertegun. Matanya menyipit menatap tajam pria paruh baya di depannya.
"Baskoro?" batin Mahardika terkejut. "Tuan Baskoro... pemilik Perusahaan Properti Perkasa?!"
Mahardika menatap pria paruh baya di hadapannya dengan cermat.
Tak disangkanya, pria yang namanya disebut-sebut oleh Haryo dan Siska, berada tepat di depannya dalam kondisi pasca-kritis.
Ia tidak menunjukkan amarah sedikit pun, Mahardika menguasai emosinya dengan sangat tenang.
"Nama saya Mahardika. Pak Baskoro sebaiknya tidak banyak bergerak dulu. Serangan jantung tadi cukup hebat. Jika terlambat satu menit saja, dampaknya akan permanen," jawab Mahardika datar.