Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Pagi itu, ruang kerja bagian personalia pabrik garmen terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Serina duduk di sebuah kursi dengan kedua tangannya yang saling menggenggam. Di hadapannya duduk seorang kepala personalia dan seorang supervisor.
"Serina," ujar kepala personalia dengan nada hati-hati, "kami ingin membicarakan mengenai pemberitaan yang sedang beredar tentang kamu."
Serina menunduk sebentar. "Saya mengerti, Bu."
"Kamu tahu bahwa sejak berita itu tersebar, beberapa karyawan mulai membicarakanmu."
Serina mengangguk. "Saya tahu."
"Kami tidak ingin ikut campur mengenai kehidupan pribadi kamu. Namun, kami juga harus menjaga kenyamanan seluruh karyawan."
Serina mengangkat wajahnya. "Apakah saya akan diberhentikan?"
Kepala personalia segera menggeleng.
"Tidak."
Serina tampak sedikit lega.
"Kami hanya ingin memastikan bahwa masalah ini tidak mengganggu pekerjaanmu."
"Saya bisa memastikan itu, Bu."
"Kamu tetap bekerja seperti biasa."
"Terima kasih."
Serina berdiri. Namun sebelum keluar, kepala personalia berkata,
"Serina."
"Iya?"
"Jangan terlalu memikirkan omongan orang. Kami tahu kamu bekerja dengan baik."
Serina tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu."
Ia kemudian keluar dari ruangan.Begitu pintu tertutup, napas yang sejak tadi ditahannya akhirnya keluar.
"Syukurlah..."
Serina kembali ke ruang produksi. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara beberapa karyawan.
"Katanya hampir dipecat."
"Serius?"
"Iya, gara-gara berita itu."
Serina menghentikan langkahnya. Reni yang berada tidak jauh darinya langsung menoleh.
"Jangan dengarkan mereka."
Serina mengangguk. "Aku tidak akan."
Ia kembali ke meja kerjanya. Namun di dalam hati, ia mulai lelah. Ia hanya ingin bekerja. Membayar kontrakan, membeli makanan untuk Farel, dan memastikan putranya tetap bisa tersenyum. Mengapa semua itu terasa begitu sulit?
*
*
Di tempat lain, Darren baru saja tiba di kediaman keluarga Narendra. Wajahnya serius. Ia membawa sebuah map tipis di tangannya. Begitu memasuki ruang keluarga, ia melihat Marcella sedang duduk menikmati secangkir teh. Marcella menoleh.
"Darren? Tumben pagi-pagi sudah pulang."
Darren tidak menjawab. Ia berdiri beberapa langkah dari ibunya.
"Mom."
Marcella mengangkat alis. "Kenapa?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
Darren meletakkan map di atas meja. "Apakah Mom mengenal seorang wartawan bernama Rendra?"
Gerakan tangan Marcella berhenti. Hanya sesaat. Tetapi Darren melihatnya.
"Rendra?" ulang Marcella.
"Iya."
"Siapa dia?"
"Seorang wartawan hiburan yang selama ini mengikuti Jovan."
Marcella meletakkan cangkirnya. "Aku tidak tahu."
Darren membuka map. Ia mengeluarkan sebuah lembar bukti transaksi.
"Kalau begitu, mungkin Mom bisa menjelaskan ini."
Marcella melihat kertas tersebut. Wajahnya berubah. Darren menatap ibunya dengan penuh kesedihan.
"Ini bukti transfer dari rekening Mom ke rekening Rendra."
Ruangan mendadak hening. Marcella tidak langsung menjawab. Dan Darren kembali berbicara.
"Uangnya dikirim beberapa waktu sebelum foto Jovan, Farel, dan Serina mulai tersebar."
Marcella menyandarkan tubuhnya. "Kau menyelidiki rekening ibumu sendiri?"
"Aku menyelidiki sumber masalah yang menyeret seorang wanita dan anak kecil yang tidak bersalah."
Marcella menatap Darren tajam. "Jadi sekarang kau lebih membela Jovan daripada ibumu?"
"Ini bukan soal membela Jovan." Darren menggeleng. "Ini soal kebenaran."
Marcella tertawa kecil. "Kebenaran?"
"Iya."
"Kau pikir wanita itu tidak memanfaatkan Jovan?"
Darren terdiam dan Marcella berdiri.
"Sejak kapan kau begitu mempercayai orang lain dibandingkan ibumu sendiri?"
"Sejak aku melihat bukti."
Marcella terdiam. Darren menarik napas panjang.
"Mom, kenapa?"
"Aku hanya ingin Jovan pergi dari keluarga ini."
"Caranya dengan menghancurkan namanya?"
Marcella menatap Darren.
"Dia memang bukan bagian dari keluarga ini."
Darren menggeleng.
"Jangan katakan itu lagi."
Marcella terkejut mendengar ketegasan putranya.
"Jovan adalah anak Daddy."
"Dia anak dari wanita lain!"
"Tapi tetap anak Daddy."
Darren menahan emosinya.
"Mom boleh membenci Tante Diva. Mom boleh marah kepada Daddy karena semua kebohongan masa lalu."
"Tapi Jovan tidak pernah meminta dilahirkan."
Marcella terdiam.
"Dia tidak pernah memilih menjadi anak di luar pernikahan Daddy."
Darren menatap ibunya. "Dan dia juga tidak pernah memilih kehilangan masa kecilnya."
Marcella mengalihkan wajah.Darren melanjutkan dengan suara lebih lembut.
"Mom, aku tahu betapa sakitnya mengetahui Daddy mencintai wanita lain."
Mata Marcella mulai berkaca-kaca.
"Tapi Jovan bukan penyebabnya."
Marcella mengepalkan tangannya. "Kalau aku tidak membencinya, lalu aku harus membenci siapa?"
"Daddy." Jawaban Darren membuat Marcella terdiam.
"Karena Daddy yang berbohong." Darren menghela napas. "Daddy yang menikahi Mommy tanpa pernah benar-benar memberikan seluruh hatinya."
"Jangan!" Marcella membentak
Darren pun terdiam
Marcella mengusap air mata yang hampir jatuh. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang setiap hari tahu bahwa suaminya mencintai wanita lain."
"Aku tahu aku tidak akan pernah benar-benar memahami lukamu Mom."
Darren menatap ibunya.
"Tapi luka itu tidak boleh diwariskan kepada Jovan."
Marcella menatapnya dengan mata merah.
"Jadi sekarang kau akan menyerahkan ibumu sendiri kepada polisi?"
Darren terdiam cukup lama.
"Aku tidak ingin melakukan itu."
"Lalu?"
"Aku ingin Mom berhenti."
Marcella tidak menjawab.
"Berhenti mengirim uang kepada wartawan."
"Berhenti menyebarkan cerita tentang Jovan."
"Dan berhenti menyeret Serina serta Farel."
Marcella memalingkan wajahnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa kepada anak itu."
"Tapi akibat perbuatanmu Mom, Farel ikut menjadi sasaran."
Marcella terdiam.
Darren mengambil map tersebut.
"Kalau Mommy berhenti sekarang, aku masih bisa memastikan prosesnya berjalan sesuai bukti yang ada."
Marcella menatapnya.
"Dan kalau aku tidak berhenti?"
Darren menelan ludah.Matanya berkaca-kaca.
"Kalau bukti menunjukkan adanya tindak pidana, aku harus menjalankan tugasku."
Marcella menatap putranya lama.
"Kau benar-benar akan memilih hukum daripada ibumu?"
Darren menunduk.
"Aku memilih kebenaran."
Ia kemudian berjalan meninggalkan ruang keluarga. Namun sebelum mencapai pintu, Marcella memanggilnya.
"Darren."
Darren berhenti.
"Apakah Jovan tahu?"
Darren menoleh.
"Belum."
Marcella menghela napas.
"Jangan beri tahu dia."
Darren terdiam.
"Kenapa?"
Marcella menundukkan wajahnya. "Aku tidak ingin dia semakin membenciku."
Darren menatap ibunya dengan sedih.
"Mom..."
Ia tidak melanjutkan.
Kemudian pergi meninggalkan ruangan.
*
*
Sementara itu, di Australia, Jovan baru saja selesai melakukan sesi wawancara. Seorang wartawan mengangkat tangan.
"Jovan!"
Jovan menoleh.
"Ya?"
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai berita bahwa Anda memiliki seorang anak dan seorang wanita yang diduga sebagai pasangan Anda di Indonesia?"
Suasana langsung hening. Jovan menarik napasnya, Ia tahu pertanyaan itu akan muncul.
"Saya akan menjawabnya." Jovan menatap kamera. "Farel bukan anak saya."
Beberapa wartawan mulai berbisik.
"Dia adalah anak mendiang Riki Sanjaya." Jovan melanjutkan. "Saya mengenal Farel karena sebuah kecelakaan tragis yang terjadi di Indonesia." Wajahnya berubah serius. "Saya sangat menyayangi anak itu. Tetapi bukan berarti saya adalah ayahnya."
"Bagaimana dengan Serina?"
Jovan terdiam sesaat. "Serina adalah seorang wanita yang kehilangan suaminya."
Ia menghela napas. "Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan dia hanya karena sebuah foto."
Salah seorang wartawan bertanya lagi.
"Apakah Anda memiliki hubungan khusus dengan Serina?"
Jovan tersenyum tipis. "Saya menghormatinya."
Jawaban itu membuat para wartawan semakin penasaran.
"Apakah Anda berniat menikahinya?"
Jovan terdiam. Pertanyaan tersebut membuat pikirannya melayang kepada Serina, kepada Farel. Dan kepada kehidupan mereka yang sederhana. Namun ia tidak ingin membuat keputusan hanya karena tekanan media.
"Itu adalah urusan pribadi." kemudian Jovan berdiri. "Yang jelas, saya tidak akan menggunakan keadaan Serina dan Farel untuk kepentingan publikasi."
Ia kemudian meninggalkan ruangan.
Leo yang menunggunya di luar langsung menyambut.
"Jawaban lo aman."
Jovan menghela napas. "Gue cuma ingin mereka berhenti mengganggu Serina."
"Kalau berita ini terus berlanjut?"
Jovan menatap Leo.
"Gue akan pulang."
Leo mengangkat alis.
"Lo serius?"
"Iya."
Jovan memasukkan tangannya ke saku. "Karier bisa gue urus nanti." Ia menatap jauh ke depan. "Tapi Farel dan Serina tidak boleh terus-terusan menjadi sasaran hanya karena mereka mengenal gue."
*
*
Sore hari, Serina pulang dari pabrik. Ia berjalan menuju kontrakan sambil membawa tas kerjanya. Namun dari kejauhan, ia melihat seseorang berdiri di dekat pagar. Serina memperlambat langkahnya.
Seorang pria mengenakan jaket hitam dan topi. Pria itu menatap ke arahnya.Begitu mata mereka bertemu, pria tersebut langsung berbalik dan berjalan pergi.
Serina mengerutkan keningnya.
"Siapa dia?"
Ia mempercepat langkahnya. Namun pria itu sudah menghilang di ujung jalan.
Serina merasa tidak nyaman.Ia segera masuk ke dalam kontrakan.Farel langsung berlari menghampirinya.
"Bunda!"
Serina tersenyum dan memeluk putranya.
"Farel."
"Bunda capek?"
"Sedikit."
Farel kemudian mengambil segelas air.
"Ini buat Bunda."
Serina tersenyum haru. "Terima kasih, Sayang."
Namun setelah meminum air, Serina kembali teringat pria asing tadi.Ia menatap keluar jendela. Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa gosip yang menimpanya bukan sekadar masalah media.
Ada seseorang yang sengaja mengawasi mereka. Dan tanpa Serina ketahui, Darren juga sedang menemukan potongan-potongan bukti yang perlahan mengarah pada satu nama, yakni Marcella Narendra.
*
*
Sementara di Australia, Jovan telah mengambil keputusan. Begitu jadwalnya memungkinkan, ia akan kembali ke Indonesia.
Bukan untuk menjawab gosip.Bukan untuk mengejar popularitas. Tetapi karena ada dua orang yang kini mulai ia anggap sangat berarti dalam hidupnya, yakni Serina dan Farel.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭