NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Ujian Kualitas dan Kemanusiaan

Bau oli pelumas dan hawa panas dari mesin presisi baja menyelimuti area produksi lini A sejak pukul tujuh pagi. Suara dentuman mesin stempel logam berirama teratur, menandakan proses pembuatan komponen poros roda suku cadang kendaraan berjalan sesuai jadwal.

Memasuki minggu kedua uji coba kolaborasi, suasana persaingan antara lini A milikku dan lini C milik Dion makin terasa memuncak. Dion terus menekan timnya untuk memproduksi komponen dalam jumlah berlipat ganda, mengejar angka kaku demi menarik perhatian manajemen.

"Mas Reno," panggil Doni sambil membawa lembar kontrol kualitas di tangannya. Wajahnya tampak sedikit cemas saat menunjuk ke arah lini C di sudut ruangan. "Pagi ini lini Pak Dion sudah menyelesaikan delapan ratus unit poros roda. Mereka ngebut banget, Mas. Anak-anak tim kita jadi agak kepikiran."

Aku menghentikan pulpenku di atas kertas laporan, lalu menatap Doni dan beberapa operator di sekitarku dengan tenang.

"Doni, presisi komponen suku cadang itu tidak bisa ditawar dengan kecepatan melanggar prosedur," kataku meyakinkan. "Kalau ukuran milimeter poros roda itu selisih sedikit saja karena mesin terlalu panas, barang itu tidak akan lolos uji kelayakan di gudang utama. Tetap fokus pada standar keselamatan dan ketelitian."

Doni mengangguk pelan, rasa percaya dirinya kembali pulih. "Baik, Mas Reno!"

Namun, sekitar pukul dua siang, sebuah kejutan terjadi di area lini C. Suara benturan keras terdengar melengking dari arah mesin pemotong baja utama mereka, disusul kepulan asap tipis dan jeritan kaget dari beberapa pekerja.

Seluruh kegiatan produksi di ruangan itu terhenti seketika. Aku bergegas berlari menuju lokasi kejadian bersama Pak Bambang.

Di depan mesin pemotong lini C, tampak seorang operator muda terkulai lemas di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang lecet dan memar. Alat pemotong baja otomatis di depannya macet total, menyangkut di tengah lempengan logam tebal.

Dion berdiri di samping mesin dengan wajah merah padam, bukan karena cemas pada kondisi rekannya yang cedera, melainkan karena marah melihat target produksinya terhenti.

"Kenapa kamu tidak mengecek pelumas mesinnya sebelum dipakai?!" bentak Dion pada operator yang sedang kesakitan itu. "Lihat ini! Mesinnya macet dan target hari ini rusak semua!"

Beberapa pekerja lini C hanya bisa menunduk takut, tidak ada yang berani mendekat untuk menolong rekan mereka.

Melihat pemandangan itu, dadaku berdesir panas. Tanpa membuang waktu, aku langsung melangkah maju dan menepis dorongan panik.

"Dion, cukup!" tegurku tegas, suaraku tenang namun memiliki penekanan yang tak bisa dibantah.

Aku berlutut di samping operator yang cedera, merangkul bahunya pelan. "Doni, ambil kotak P3K di kantor sekarang! Eko, matikan sakelar utama listrik di lini C agar tidak ada arus pendek!"

Anak-anak timku dengan sigap menjalankan perintah tanpa ragu. Doni datang membawa peralatan medis sederhana, dan kami membantu merawat luka memar operator muda itu sebelum membawanya ke klinik pabrik.

Dion menatapku dengan napas memburu. "Reno! Kamu tidak usah ikut campur urusan lini saya!"

Aku berdiri tegak, menatap mata Dion lurus-lurus di hadapan Pak Bambang dan seluruh pekerja.

"Ini bukan cuma urusan linimu, Dion. Ini soal keselamatan manusia di pabrik ini," jawabku lugas. "Kamu memaksa mesin dan pekerjamu bekerja melampaui batas tanpa jeda pendinginan. Angka produksi tinggi yang kamu banggakan itu justru memicu kecelakaan dan merusak mesin pabrik."

Pak Bambang melangkah mendekat, memandangi mesin lini C yang macet dan lembaran komponen baja yang menumpuk tak beraturan di lantai. Supervisor senior itu menghela napas berat, lalu menatap Dion dengan pandangan kecewa.

"Reno benar, Dion," tegas Pak Bambang. "Tim Quality Control baru saja melaporkan bahwa tiga puluh persen dari delapan ratus unit suku cadang yang dikerjakan timmu hari ini ditolak karena ukurannya cacat akibat mesin yang terlalu panas. Cara kerjamu berbahaya."

Dion bungkam seribu bahasa. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini berubah pucat saat menyadari bahwa ambisi kakunya justru membuahkan kegagalan besar.

Sore harinya, setelah situasi di pabrik kembali terkendali dan jadwal shift berakhir, aku duduk di bangku taman dekat gerbang keluar. Suasana senja Jakarta terasa begitu menenangkan.

Aku mengeluarkan ponsel, lalu mengabarkan perkembangan hari ini kepada Kareen lewat pesan singkat.

Reno: Selamat sore, Kareen. Hari ini ada kejadian di pabrik. Mesin lini Dion macet dan pekerjanya hampir cedera serius karena dipaksa kerja berlebihan. Angka produksi mereka ditolak QC.

Reno: Aku sempat takut emosiku naik lagi saat lihat Dion bentak korbannya. Tapi aku berhasil menahan diri dan fokus menolong pekerjanya dulu.

Hanya dalam hitungan detik, balasan dari Bandung langsung tiba.

Kareen: Sore, Reno. Ya ampun, syukurlah pekerjanya tidak apa-apa ... Dan aku bangga banget sama responsmu!

Kareen: Dulu mungkin kamu bakal merespons dengan kemarahan yang sama kerasnya. Tapi hari ini kamu membuktikan kalau ketenangan dan rasa empati justru adalah kekuatan kepemimpinan yang sesungguhnya. Kamu sudah jadi penyelia yang luar biasa, Reno.

Membaca balasan dari Kareen, sekujur tubuhku terasa rileks. Beban persaingan yang tadinya menjepit dadaku kini sirna sepenuhnya. Aku tersenyum menatap layar ponsel, tahu bahwa keputusanku untuk berubah adalah langkah paling tepat yang pernah kuambil dalam hidup.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!