Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Dua Pengkhianat
Arion masih berdiri di depan pintu utama. Dia memikirkan ucapan sang Mommy tentang Isabella yang akan hadir di acara makan malam nanti.
Dia menarik napas pelan. Sebelumnya akhirnya memutuskan kembali berjalan tanpa menoleh lagi.
"Tuan, ada undangan lelang di malam akhir pekan, apa anda akan datang?" tanya sang Asisten, dia duduk di kursi penumpang dengan supir di sebelahnya.
"Atur jadwalnya, di malam makan bersama keluarga saya mau batalkan semua janji!" ucap Arion.
Hades, dia mengangguk dan melihat kembali jadwal untuk di kosongkan sesuai dengan permintaan sang Tuan Muda.
Sedangkan di sisi lain.
"Ra, kamu mau kemana?" tanya Melody, saat melihat Lyra berjalan di area ruang tamu.
"Ma, aku harus pergi sebentar, boleh?" tanyanya, dia selalu menjadi putri yang polos dan manja.
"Hati-hati! Ingat harus kembali sebelum makan malam di luar nanti." kata Melody, memberikan peringatan.
"Baik. Ma," angguk Lyra.
Dia berjalan keluar dari rumah. Melirik lewat ekor matanya memastikan tak ada yang mengikuti dirinya sekarang.
Sedangkan di lantai atas. Isabella melihat kepergian Lyra, bangun tidur dia memutuskan akan bersantai di balkon kamar tapi malah melihat Lyra keluar rumah.
"Mau kemana dia?" gumam Isabella, dia merasa Lyra begitu mencurigakan.
Isabella memutuskan keluar kamar, dia akan mengikuti Lyra sebab ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang wanita itu lakukan di luar rumah setiap malam akhir pekan.
"Loh? Kamu mau kemana?" Melody bertanya saat melihat Isabella berlarian di dalam rumah.
"Ma, aku pergi sebentar ada janji!" ucapnya, berlalu dari sana tanpa menjelaskan secara rinci apa yang membuat dia pergi di sore hari seperti ini.
Masuk kedalam mobil dan dia tak melihat mobil Lyra sekarang. Namun, dia tahu arah mobil itu pergi kemana.
Mengemudikan mobilnya secepat itu. Isabella harus menemukan bukti atas kejahatan Lyra untuk menghancurkan wanita itu.
"Aku harus mendapatkan banyak bukti!" gumamnya.
Dia harus memastikan semua yang mereka perbuat di kehidupan dulu di bayar lunas sekarang.
Isabella memarkirkan mobilnya di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kota, dia melihat mobil Lyra ada di sana terparkir sempurna di halaman rumah.
"Jadi siapa yang dia temui?" gumam Isabella, rasa penasaran yang ia bawa membuat Isabella nekad demi menjatuhkan orang-orang yang dulu menyakiti dirinya dan keluarganya.
Alis Isabella berkerut dalam. Saat melihat mobil yang ia tahu dan begitu kenal. Mobil yang ia beli dengan uang menjual desainnya sendiri.
"Benar dugaanku mereka sudah berkhianat dan berselingkuh jauh lebih lama dari apa yang aku kira," monolognya.
Kehidupan dulu dia benar-benar bodoh karena selalu mempercayai Darel dan Lyra. Hingga akhir dari hidup semua orang yang ia sayang menghantam kepercayaan itu hingga hancur tanpa sisa.
Isabella berjalan pelan, untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Dia sudah siap dengan alat perekam yang sempurna.
Sedangkan di dalam rumah.
"Dia benar-benar berubah Darel, entah apa yang terjadi padanya?" suara mendayu Lyra membuat Isabella menghentikan langkahnya.
Membuka sedikit pintu dan mengintip dari balik celah yang terbuka. Isabella melihat Lyra dan Darel tengah bersama.
"Apa kamu tahu alasan dia berubah? Aku harus temukan cara mendapatkan suntikan dana dari Isabella demi kesuksesan proyek ku." kata Darel, sejak kejadian malam itu Isabella benar-benar sulit di hubungi.
"Aku tidak tahu. Sejak jatuh dari kamar mandi hari itu Isabella berubah dan bersikap asing saat melihat aku!" jelasnya.
Darel mendengus kesal, jika bukan karena dia putri Davis yang memiliki banyak kekayaan maka dia tak akan sudi mengenal wanita Arogan seperti Isabella.
***
"Lalu apa rencana Kakak?" tanya Lyra, dia memeluk Darel dengan mesra.
"Aku harus menekan dia demi investasi itu!" ucapnya. Ia yakin Isabella akan luluh karena dirinya begitu meyakini kalau wanita itu mencintai dirinya dengan besar.
"Lalu perjodohan itu? Kak Isabella akan di jodohkan dengan putra keluarga De Luca!" kata Lyra.
"Isabella pasti akan menolak. Karena aku tahu dia begitu mencintai aku!" ucapnya sombong.
Isabella yang mendengar itu merasa ingin muntah, dia mual dan muak mendengar perkataan sombong dari Darel tentang cintanya.
"Darel. Lyra! Akan aku pastikan kalian semua hancur termasuk orang-orang yang berada di belakang kalian!" desisnya, dia mengeplkan tangannya dengan benci.
Isabella berlalu dari sana, dia mendapatkan rekaman percakapan keduanya dan ini menjadi bukti pertama sebelum Bukti-bukti lain mengikuti dari belakang.
Malam harinya.
TOK!
TOK!
TOK!
Ketukan pintu membuat Isabella yang tengah berdandan melihat kearah pintu lewat pantulan di cermin kamarnya.
"Masuk!" seru Isabella, dia meletakkan sisir di tempat nya.
Pintu di buka perlahan dan sosok Lyra, wanita yang ia benci seumur hidup ada di sana memandang dirinya dengan wajah polos yang memuakkan.
"Ada apa?" tanya Isabella, nada suaranya tak pernah benar-benar ramah.
Lyra berjalan mendekat, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil sisir di atas meja.
Tangannya mulai menyisir rambut indah Isabella yang tergerai dengan rapi dan menawan dengan dress yang membalut tubuhnya dengan indah.
"Kak, Mama dan Papa sudah menunggu! Biar aku bantu kamu bersiap!" kata Lyra, merapikan tatanan rambut Isabella dengan pelan.
"Ada yang mau kamu bicarakan?" satu pertanyaan lolos dan itu membuat wajah Lyra dengan gerakan tangan itu terhenti.
Lyra tersenyum tipis, dia menatap sang Kakak angkat dengan wajah polosnya juga lugunya.
"Kak, apakah acara makan malam ini untuk menentukan pertunangan?" tanya Lyra, memulai percakapan yang ingin dia tanyakan.
"Iya, Arion itu teman kecilku dan keluarga sudah menentukan perjodohan ini sejak kami kecil. Tapi dia terima atau tidak aku sedang memikirkan semuanya," kata Isabella, dia menatap Lyra dari Cerminnya.
"Kak, bukankah Kakak mencintai Kak Darel? Lalu kenapa mau menerima perjodohan ini?"
"Itu urusan ku Lyra, kamu tidak usah ikut campur!" tegasnya, dia memberikan peringatan seolah tak mau Lyra ikut campur.
"Kak, aku hanya kasihan, Lagipula Kak Darel benar-benar mencintai Kakak dan Kakak juga. Apakah tidak sayang kisah cinta itu harus berakhir begitu saja?" Lyra terus memberikan provokasi.
"Tidak perlu mengasihani aku. Kamu urus saja pekerjaan kamu itu sebelum benar-benar keputusan Papa hari itu terlaksana!" kata Isabella memberikan peringatan pada Lyra.
"Kak, ak—"
"Cukup!" bentak Isabella. "Kamu sebaiknya keluar dan urus saja kepentingan mu sendiri!" tegasnya.
Lyra mengepalkan tangannya. Namun, di permukaan dia hanya terdiam seolah menerima setiap bentakan Isabella padanya.
Lyra meletakkan sisir itu diatas meja dan berlalu dari sana setelah menyentuh pundak Isabella dengan lembut.
Isabella hanya mendengus dingin, dia benar-benar muak dan merasa tak sabar untuk menendang wanita itu keluar dari rumahnya sekarang juga. Namun, dia harus tahan karena bagaimana pun rencana besar itu harus terlaksana dan membuat mereka benar-benar hancur tanpa sisa.
Sedangkan di balik pintu. Lyra mengepalkan tangannya, dia benci pada Isabella yang sok berkuasa itu. Dan dirinya bersumpah akan mendorong Isabella kedasar jurang saat seluruh kekayaan Davis jatuh ke tangannya.