Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara - gara Ariel Tatum
“Tempat apa ini?”
Fio bergidik ngeri. Dia melihat semua jenis alat yang tidak semua dia ketahui. Sebagai seorang dokter, Fio tidak tabu dengan beberapa jenis alat yang terpampang di depan matanya. Hanya saja, dia baru melihat dengan mata kepalanya sendiri. Biasanya, salah satu benda ini hanya menjadi candaan bagi para dokter yang tidak memiliki pasangan. Fio hanya tahu nama dan gambarnya saja. Tapi, hari ini …
“Dasar mafia gil4!” umpatnya kesal.
Hingga, tak lama kemudian Fio mendengar langkah kaki banyak dan mendekat.
“Saya tidak menyembunyikan keponakan anda. Fio tidak bersama saya.”
Suara itu terdengar lantang. Suara bariton yang selalu terdengar sexy di telinga Fiona. Akan tetapi selalu ia tepis dengan segala macam cara. Fio lahir dari keluarga penegak hukum. Tidak ada dalam kamusnya akan memiliki hubungan, apalagi menikah dengan seorang mafia. Ayahnya polisi, pamannya tentara. Dan, ibunya dahulu merupakan dokter forensik yang memecahkan banyak kasus pembvnvhan. Kemudian, mereka tewas di tangan para penjahat.
“Percayalah! Fiona tdak bersama saya.”
Fio mendengar itu. Dan, dia segera bersembunyi diantara alat – alat menjijikkan ini.
Brak
Pintu terbuka.
“Pak, tinggal ruangan ini yang belum kita periksa,” ucap seseorang pada Arif.
Ya, Arif sampai di vila ini. Usai, melihat banyak panggilan semalam dari Gala dan pria itu mencarinya, Arif langsung bergerak cepat. Baginya, tidak ada akses yang tidak bisa dibuka. Arif bekerja sebagai badan intelijen sudah cukup lama. Dia tahu semua kode dan sandi semua data.
Di tambah, Gio memang sengaja memberi akses mudah itu. Dia tidak mengerahkan banyak orang ahli untuk menutupi vila miliknya yang satu ini. meski, ada beberapa vila yang dia miliki di sini dan ada satu yang bukan atas namanya.
Arif dan pasukannya memasuki ruangan itu. Dahi mereka mengernyit. Malah salah satu bawahan Arif menganga meihat serangkaian peralatan yang Gio punya.
“Tempat apa ini, pak?” tanya salah satu pasukan itu pada Jaka, supir sekaligus asistennya.
“Diam! Jangan banyak tanya. Cari saja sampai ketemu.”
“Baik.”
Arif menatap Gio yang tampak tenang. Dia melihat aura wajah Gio yang sulit dibaca.
“Kau benar – benar tidak bertemu dengan Fio?”
Gio menggeleng. Tentu saja dia berbohong. Hanya saja, Gio terlatih untuk tidak bisa terbaca kebohongannya meski menggunakan alat pendeteksi kebohongan.
“Tidak.”
“Hari ini, saya baru tiba dari Surabaya.”
Gio mengatakan kediaman rumah Ayahnya, Wiliam.
“Kalau tidak percaya, lihat saja di catatan penerbangan. Semalam, saya menghabiskan malam dengan Papa dan keluarganya.”
Kemudian, Jaka mendekat dan memberikan informasi terkait jawaban yang baru saja Gio berikan. Jaka menelusuri semua penerbangan dan ya, tercatat nama Giorgio Abraham di sebuah maskapai penerbangan domestik dengan arah Jakarta – Surabaya dan Surabaya – Jakarta. Lagi – lagi, itu bukan satu hal yang sulit untuk Gio meski dia berada di sini semalaman bersama Fio.
“See! Anda lihat sendiri?” ucap Gio pada Arif.
Arif terdiam. Dia juga menemukan mobil Gio dipekarangan rumah Wiliam dan Lastri, ibu sambung Gio yang kini memberikan ayahnya seorang putri dan baru berusia tiga tahun.
Arif menatap tablet yang ditunjukkan Jaka, lalu berpindah pada wajah Gio. Dua kali, dia melakukannya hingga Arif memutuskan.
“Oke. Maaf, kami mengganggu kenyamananmu.”
“Sangat,” jawab Gio cepat. “Anda benar – benar menggangu saya yang baru saja sampai dan sedang beristirahat.”
“Ditambah, cara anda yang tidak sopan tadi. Anda menggedor – gedor rumah saya seperti saya maling saja. Padahal, saya investor terbesar di tambang yang akan anda garap juga nantinya. Bukan begitu?”
Arif tak enak. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan kembali meminta maaf.
“Sekali lagi, saya minta maaf.”
“It’s oke. Untung, saya bukan orang pendendam.” Gio tersenyum kecil, lalu mengajak mereka untuk kembali menggeledah rumahnya dan ruangan ini.
“Apa penggeledahan anda sudah selesai? Anda ingin menggeledah ruangan yang lain?”
Sontak, Jaka menggeleng memberi tanda pada Arif untuk segera pergi dari tempat ini terutama ruangan laknat ini.
“Baik lah, kami akan pergi.” Arif mengulurkan tangannya, mengajak Gio bersalaman.
Gio pun menerima. Dia membalas uluran tangan itu.
“Sekali lagi, saya minta maaf Mr. Gio. Saya terbawa perasaan karena antara kau dan keponakan saya pernah ada hubungan.”
Gio tertawa. “Tidak. Fiona menolak saya. Keponakan anda, selalu menolak saya. Jadi, buat apa mengemis? Toh, artis seperti Ariel tatum saja bisa saya dapatkan. Bukan begitu?”
Arif mengangguk. Untuk orang sekelas Giorgio memang tidak sulit mendapatkan wanita cantik. Anak pejabat hingga artis tidak akan menolaknya. Karena, tidak ada satu pun alasan untuk menolak Gio. Pria ini tampan, uang banyak, perusahaan di mana – mana. Asetnya tersebar, ditambah tubuhnya yang …
Arif menatap Gio dari kepala hingga ujung kaki.
“Kenapa?” tanya Gio bingung.
“Tidak apa. Kau benar. Kau bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari keponakanku.”
“Aril tatum,” celetuk salah satu pasukan Arif. “Dia artis terseksi di sini mister. Hot banget.”
Gio tersenyum. “That’s right.”
Arif pun menyerah. Dia memerintahkan Jaka dan pasukannya untuk pergi dari vila ini.
“Oh ya, lusa. Fio dan Gala menikah. Anda sudah dapat undangannya kan?” tanya Arif yang menoleh sebelum melanjutkan langkah kakinya untuk keluar.
“Ya, sudah saya terima. Tentu saja, saya akan datang. Terima kasih, sudah diingatkan.”
Arif mengangguk dan kembali pergi. Sembari menggunakan kaca mata hitamnya, Arif memasuki mobil diiringi oleh Jaka dan pasukan yang dia bawa menggunakan dua mobil hitam di belakangnya.
“Hati – hati di jalan!” Gio melambaikan tangan.
Bergaya seperti orang yang tak memiliki dosa, lalu merubah wajahnya ketika ketiga mobil itu tak lagi terlihat di area vila miliknya
“Arif, mudah sekali membodohimu,” gumamnya yang kini tersenyum.
Gio kembali masuk ke dalam vila dan melangkah cepat menuju ruang rahasia yang kini sudah tak lagi rahasia.
“Fio.”
“Fiona.”
“Ayo keluar! Mereka sudah pulang.”
Gio mencari Fiona ke beberapa sudut penjuru ruangan itu. Namun, tidak ketemu.
“Fio.”
“Fiona. Come on! Keadaan sudah aman. Jangan buat aku panik, sekarang.”
Lagi – lagi, Fio tak menjawab. Sosoknya pun tidak terlihat hingga sebuah pintu yang berada di luar ruangan itu terdengar …
Brak
Gio langsung berlari keluar dan menghampir suara pintu yang dihentakkan tadi.
“Hei, mau ke mana?” tanyanya saat melihat Fio sudah berada di kamar tempatnya menginap semalam.
Di sana, Fio sudah lengkap menggunakan pakaian yang ia pakai saat bertemu Gio di jalan, lengkap dengan jaket hoodie yang menutupi kepalanya.
“Aku mau pulang.”
“Pulang ke mana?” tanya Gio. “Ini rumahmu. Kamu calon istriku. Sore nanti, kita menikah.”
Fio melirik ke arah Gio. Tatapan tajam itu membuat Gio bingung.
“Kenapa? berubah pikiran?” tanya Gio kesal. “Kamu tahu, diluar tidak aman untukmu.”
“Kenapa melindungiku?” Fio malah balik bertanya. Dengan kesal dan perasaan yang campur aduk, dia mendekati Gio dan berkata, “bukannya kamu bisa mendapatkan yang lebiih dari aku?”
“Anak pejabat atau artis cantik sexy itu. Siapa? Ariel Tatum?”
Gio tertawa. “Apa kamu sedang cemburu?”