Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Keluarga Wei
Mansion keluarga Yang.
Delvin telah kembali ke mansion keluarga Yang. Di ruang tamu, ayahnya, Nico Yang, dan Mark Yang sedang duduk bersama.
“Paman, apakah pertunangan kedua keluarga sudah dibatalkan?” tanya Mark sambil langsung berdiri.
“Sudah. Mulai hari ini kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu lagi,” jawab Delvin.
“Baguslah kalau begitu. Jadi, apa yang dikatakan keluarga Wei?” tanya Nico.
“Mike Wei ingin melanjutkan kerja sama dengan Yang Group, tetapi aku menolaknya. Lebih baik tidak ada lagi hubungan bisnis dengan keluarga mereka,” jawab Delvin sambil duduk bersama mereka.
“Walaupun begitu, hidupku belum sepenuhnya tenang. Vivi Wei pasti akan menggangguku lagi,” ujar Mark.
“Vivi Wei sudah dikeluarkan dari Hua Qing dan juga dilarang bekerja di perusahaan dalam negeri,” kata Delvin.
“Benarkah?” Mark langsung bertanya dengan penuh semangat.
“Ya. Jadi kau tidak perlu khawatir akan bertemu dengannya lagi,” jawab Delvin.
“Keluarga Wei memang tidak tahu diri. Mereka sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya,” ujar Nico dengan nada kecewa.
“Kakek, Vivian berbeda dari mereka. Dia gadis yang baik, tetapi justru dijadikan korban oleh keluarganya sendiri,” kata Mark.
Delvin mengangguk.
“Setelah lulus, Vivian akan bergabung dengan Yang Group. Karena itu, aku akan memastikan dia tinggal jauh dari keluarganya agar kehidupannya tidak kembali terpengaruh oleh mereka.”
“Tinggal jauh? Paman, selama ini Vivian hanya tinggal di keluarga Wei,” kata Mark.
“Aku sudah mengatur agar dia pindah ke Dong Shu. Keluarga Wei juga tidak akan bisa masuk ke sana tanpa persetujuan pemilik rumah,” jawab Delvin tenang.
"Dong Shu? Bukankah itu vila yang dibeli Paman tahun lalu? Vila kesayangannya. Kenapa Paman bisa membiarkan gadis itu tinggal di sana?" batin Mark.
“Baiklah. Kalau begitu, Delvin, atur saja sesuai keinginanmu,” ujar Nico. “Gadis itu sangat cerdas. Kalau tidak dibimbing dengan baik, akan sangat disayangkan. Ke depannya, perusahaan kita juga sangat membutuhkan orang seperti dia.”
Nico kemudian menatap Delvin.
“Dan satu lagi. Besok kau harus pergi bertemu dengan Nona Xie, wanita yang sudah dijodohkan denganmu.”
Delvin terdiam sesaat.
“Nona Xie? Dia baru pulang dari luar negeri. Paman dan dia juga sudah saling mengenal sejak lama. Lagi pula, masalah pertunangan ini sudah dibicarakan sejak dulu,” kata Mark sambil tersenyum. “Paman, akhirnya kau akan punya pasangan.”
“Aku akan pergi, tetapi aku tidak berjanji akan menikahinya. Aku hanya mengikuti kesepakatan kedua keluarga,” jawab Delvin tenang. “Sejak awal, kami tidak pernah berjanji akan menikah. Jadi, hubungan yang bahkan belum terjalin itu tidak menjamin kami akan menjadi pasangan.”
“Sudahlah. Kau atur saja semuanya. Usiamu juga tidak muda lagi. Jangan terlalu banyak memilih. Kalau dia wanita yang baik, kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu. Tidak harus langsung menikah,” ujar Nico.
“Kalau kami cocok, aku akan langsung menikahinya. Kalau tidak, aku juga akan langsung berterus terang. Aku tidak punya waktu untuk menjalin hubungan yang tidak jelas dengan seorang wanita,” jawab Delvin.
Nico menghela napas.
“Papa tahu tidak bisa memaksamu. Hanya saja, keluarga kita juga membutuhkan penerus.”
“Di mana lokasi pertemuan kami?” tanya Delvin.
“Restoran Qing Ren,” jawab Nico.
“Bukankah itu restoran khusus untuk pasangan?” tanya Mark sambil tertawa.
Delvin langsung menatap keponakannya.
“Lucu? Kalau begitu, kau saja yang pergi.”
Mark langsung terdiam dan menahan tawanya.
“Tidak, Paman. Aku hanya bercanda.”
Mansion Keluarga Wei.
Vivian sedang sibuk memasukkan pakaian dan buku-bukunya ke dalam koper. Ia ingin segera meninggalkan mansion itu dan memulai hidupnya sendiri.
Tiba-tiba, pintu kamarnya dibanting dengan keras.
Brak!
Tom dan Vivi melangkah masuk dengan wajah penuh kemarahan.
"Vivian Wei, kau benar-benar keterlaluan! Kau tega mempermalukan Vivi di depan banyak orang. Kalau bukan karena dirimu, Vivi tidak mungkin dikeluarkan dari universitas!" bentak Tom.
Vivian menghentikan tangannya dan menoleh dengan tatapan sinis. Di saat yang sama jarinya menekan nomor asisten Jo. Panggilan tersebut langsung dijawab dari seberang sana.
"Tom Wei, apakah kau bodoh atau buta? Adikmu sendiri yang sengaja mengungkapkan bahwa aku pernah dipenjara. Bukankah dia juga sedang mempermalukan nama keluarga? Kenapa aku lagi yang kau salahkan? Apakah semakin tua seseorang akan semakin pikun?" sindir Vivian.
"Kau..." Tom mengepalkan tangannya. "Kurang ajar! Jangan karena Delvin Yang melindungimu, lalu kau pikir aku akan takut padamu!"
Tom mengangkat tangannya, hendak menampar Vivian.
Namun, Vivian lebih cepat.
Ia menangkap pergelangan tangan Tom, lalu menampar wajahnya dengan keras.
Plak!
Tom terhuyung beberapa langkah sambil memegangi pipinya.
"Kau berani menamparku?" bentaknya tidak percaya.
Vivi segera ikut bersuara.
"Vivian, kenapa kau tega sekali menyakiti kami? Karena dirimu, Papa kehilangan kesempatan bekerja sama dengan Yang Group. Kau juga mempermalukan aku dan Kak Tom di depan mereka!" ujar Vivi dengan wajah pura-pura sedih.
"Aku menamparnya karena dia sangat bodoh. Siapa tahu tamparan ini bisa membuat otaknya sedikit bekerja," jawab Vivian santai.
"Vivian Wei, jangan berharap hidupmu akan tenang dan sukses hanya karena sekarang kau dilindungi Delvin Yang!" Tom menatapnya penuh kebencian. "Apa yang sebenarnya kau lakukan terhadapnya? Kau menyerahkan dirimu kepadanya sehingga dia membelamu?"
Vivian terdiam sejenak.
Tom kembali mencibir.
"Jangan-jangan kau memang tidur dengannya?"
"Vivian, aku tidak menyangka kau melakukan hal murahan seperti ini," tambah Vivi dengan sengaja.
Wajah Vivian langsung berubah dingin.
Sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara dari luar kamar.
"Apa yang terjadi? Dari lantai bawah saja kami sudah mendengar suara kalian!"
Mike masuk bersama June dengan wajah serius.
"Papa, Mama, Vivian menampar Kak Tom hanya karena ditegur beberapa kata!" adu Vivi.
June langsung menatap Vivian.
"Vivian, sejak kapan kau bersikap tidak sopan seperti ini?"
"Putra kesayangan kalian tadi ingin menamparku. Aku hanya membela diri," jawab Vivian dingin. "Dan apakah kalian tahu? Saat aku berada di penjara, beberapa narapidana sampai harus masuk rumah sakit karena mencari masalah denganku."
"Jangan samakan mereka dengan kakakmu!" bentak Mike.
Vivian tertawa sinis.
"Apa bedanya? Mereka memang orang-orang yang suka mencari masalah. Putra kalian juga sama."
"Cukup, Vivian!" June memperingatkan. "Walaupun kau dilindungi Direktur Yang, bukan berarti kau boleh berbicara sembarangan dan bertindak sesuka hati."
Vivi kemudian memasang ekspresi seolah-olah sangat sedih.
"Papa, Mama... Vivian dibela Delvin Yang karena dia telah tidur dengannya. Makanya Delvin memilihnya menjadi karyawan tetap dan bahkan memberinya tempat tinggal. Vivian ingin selalu berada di dekatnya agar bisa melayani Direktur Yang."
Tanpa mereka sadari percakapan nya telah didengar oleh Jo yang berada di ruangan kantor Delvin Yang.
"Ulangi apa yang baru saja kau katakan?" tanya Vivian.
Vivi menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Aku mengatakan bahwa kau telah menyerahkan tubuhmu kepada Delvin Yang. Kalau bukan karena kau melayaninya di atas ranjang, mana mungkin kau bisa mendapatkan peringkat pertama, beasiswa, bahkan dipilih menjadi karyawan Yang Group?" kata Vivi sinis.
"Jangan lupa, Delvin Yang adalah Direktur Hua Qing. Tentu saja dia bisa menentukan nilaimu sesuka hati."
"Kau anak yang tidak tahu malu!" bentak June. "Kenapa saat aku melahirkanmu, kau tidak mati saja?"
Vivian mengepalkan tangannya, tetapi berusaha tetap tenang.
"Jadi kalian percaya begitu saja pada ucapan Vivi tanpa bukti?"
"Vivi tidak membutuhkan bukti untuk mengatakan kebenaran!" ketus Tom. "Kau memang murahan dan tidak tahu diri. Seharusnya namamu sudah dihapus dari keluarga ini."
Vivian menarik napas panjang.
"Pria sekelas Delvin Yang tidak mungkin tertarik kepadaku."
Tom tertawa mengejek.
"Pria macam apa yang tidak mau kalau mendapatkan sesuatu secara gratis? Sehebat apa pun Delvin Yang, dia tetap seorang pria yang membutuhkan kesenangan."
Tatapan Tom semakin merendahkan.
"Dan soal kau meminta tempat tinggal, sekarang semuanya jelas. Kau hanya ingin pindah agar bisa mendekati Delvin Yang dan melayaninya."