Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Akhirnya Simulasi Ujian Nasional dan Evaluasi Kelayakan Beasiswa Tingkat Akhir telah tiba. Waktu menuju kelulusan tak terasa begitu cepat, memaksa setiap murid kelas XII mengesampingkan urusan personal demi mempertahankan nilai akademis.
Namun bagi Kirana, tekanan akademis itu berlipat ganda. Di ruang kelas XII IPA 2, tumpukan modul latihan soal Kimia dan Fisika di mejanya. Maya yang duduk di sebelahnya tampak lemas, menopang dagu dengan kedua tangan.
"Sumpah ya, Kir," keluh Maya seraya membalik lembar latihane soal yang penuh dengan coretan tinta merah. "Soal simulasi buatan tim mentor luar negeri ini beneran gak ada akhlak. Mas Gabriel ngasih standar tinggi banget, berasa kita semua mau tes masuk NASA aja"
Kirana senyum tipis, menyetujui ucapan sahabatnya. "Kan tujuannya emang buat menyaring calon penerima beasiswa, May. Kalau soalnya gampang, ya bukan simulasi namanya."
"Iya sih, tapi kasihan anak-anak yang gak niat ambil beasiswa ke luar negeri kayak kita," cetus Maya pelan, lalu menoleh memandangi Kirana dari samping. "Eh tapi ngomong-ngomong... hubungan lo sama Kenan gimana? Belakangan ini gue liat Kenan makin protektif banget. Pas rapat divisi Mading kemarin aja, dia bela-belain nungguin di luar ruang pers cuma buat mastiin jadwal piket lo gak bentrok sama sesi bimbingan Mas Gabriel."
Kirana tersentak kecil, membenarkan posisi duduknya agar raut wajahnya tak terlihat oleh sahabat-sahabatnya itu. "Ya... kan Kenan emang Ketua OSIS yang membawahi divisi media, May. Dia cuma memastikan semua program Mading berjalan lancar tanpa mengganggu persiapan simulasi."
"Alasan klasik," goda Maya seraya menyenggol lengan Kirana. "Tapi jujur ya, tatapan Kenan ke lo pas kemarin di perpustakaan itu beda banget njiir. Keliatan banget dia suka sama lo. Gue curiga sebenernya lo berdua..."
Kalimat Maya terhenti mendadak ketika pintu kelas terbuka. Pak Suryo melangkah masuk bersama Gabriel yang membawa setumpuk lembar jawaban komputer dan draf revisi riset kelompok. Suasana kelas yang tadinya riuh seketika mendadak hening.
"Selamat pagi anak-anak," tegur Pak Suryo tegas. "Hari ini kita akan membagikan hasil evaluasi draf riset kelompok dari Mas Gabriel. Untuk Kelompok 1, karena ada penyesuaian variabel data, Nak Gabriel minta perwakilan penyusun bagian kuesioner untuk menemui beliau di ruang transit saat jam istirahat."
Mata Gabriel beredar di dalam kelas, lalu mengunci pandangannya tepat pada Kirana. "Kirana, tolong bawa berkas analisis kuesioner yang kemarin ya. Ada beberapa poin data dari siswa biasa yang perlu diperbaiki."
Kirana merasakan tenggorokannya mendadak kering. Dia yakin cowok itu pasti sengaja menyuruhnya. Dari barisan meja sebelah kanan, ia bisa merasakan beberapa mata murid lain mulai melirik ke arahnya dengan penasaran.
Saat bel istirahat pertama bergema, Kirana tidak langsung menuju ruang transit mentor. Dengan langkah cepat, ia berbelok menuju ruang sekretariat OSIS di lantai dasar tempat di mana Kenan biasanya menyelesaikan berkas koordinasi mingguan.
Pintu ruang OSIS sedikit terbuka. Kirana mendorongnya pelan dan melangkah masuk. Kenan sedang berdiri di depan lemari arsip, mengancingkan kembali kancing lengan kemeja seragamnya yang digulung.
"Kenan," panggil Kirana dengan nada berbisik seraya menutup pintu rapat-rapat.
Kenan menoleh seketika. Raut wajahnya yang tadinya tegang melunak begitu melihat kehadiran istrinya. "Kirana? Kenapa? Ada masalah di kelas?"
"Kak Gabriel minta gue datang ke ruang transit sendirian buat revisi kuesioner Kelompok 1," ujar Kirana panik pelan. "Pak Suryo yang bilang langsung di kelas tadi."
Mata Kenan memicing tajam. Ia menutup pintu lemari arsip dengan suara dentuman pelan. "Gue yang bakal nemenin lo ke sana."
"Jangan, Ken!" tahan Kirana cepat, memegang lengan kemeja Kenan. "Kalau lo ikut tanpa alasan yang jelas, anak-anak kelas lain bakal makin curiga. Lagian Pak Suryo tadi cuma nyebut nama gue sebagai penyusun kuesioner murid biasa."
Kenan diam seribu bahasa, menatap wajah Kirana dengan kening berkerut. Ia tidak suka membayangkan istrinya berada di satu ruangan tertutup bersama pria yang secara terbuka menyimpan rasa pada Kirana.
"Gue gak bisa biarin lo berdua aja sama dia di ruang transit, Kir," kata Kenan dengan nada bariton yang rendah dan dalam.
"Gue tahu," sahut Kirana lembut, mengelus pelan lengan suaminya. "Makanya kita buat alibi resmi. Gue bakal minta Maya nemenin sampai depan pintu, dan lo masuk lima menit kemudian dengan alasan menyerahkan data rekapitulasi OSIS yang diminta Pak Suryo. Gimana?"
Kenan menatap manik mata Kirana yang penuh keyakinan. Setelah menghela napas panjang untuk meredakan ketegangan di dadanya, Kenan akhirnya mengangguk pelan.
"Lima menit," tegas Kenan lurus. "Kalau dalam lima menit gue liat dia mulai membahas hal di luar materi riset, gue gak akan ragu buat mengambil alih situasi."
Kirana tersenyum lega. "Iya, gue Janji."
Lima menit kemudian, Kirana berdiri di depan pintu ruang transit mentor bersama Maya.
"May, lo tunggu di bangku koridor depan ya. Gue cuma mau nyerahin lembar revisi kuesioner ini sebentar," ujar Kirana pada sahabatnya.
"Okay, Gue tunggu di sini sambil baca komik," balas Maya santai seraya menduduki bangku kayu di luar ruangan.
Kirana mengetuk pintu lalu melangkah masuk. Gabriel sedang duduk di meja kerjanya, membelakangi jendela besar yang memantulkan cahaya siang. Di atas mejanya, berkas riset Kelompok 1 terhampar terbuka.
"Masuk, Kirana. Duduk di sini," panggil Gabriel ramah seraya menunjuk kursi di depan mejanya.
Kirana melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak dengan tidak menarik kursinya terlalu dekat ke meja Gabriel. Ia meletakkan lembar data kuesioner di atas meja. "Ini lembar analisis data siswa biasa yang diminta, Kak."
Gabriel mengambil berkas tersebut, namun matanya tidak tertuju pada angka-angka di kertas. Tapi Ia malah menatap Kirana.
"Kirana, gue udah baca ulang penolakan lo soal beasiswa ke Jerman kemarin," buka Gabriel dengan suara tenang namun tegas. "Gue tahu lo menolak karena merasa terikat sama status pernikahan lo dan Kenan saat ini."
Kirana mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Kak Gabriel, tolong... kita di lingkungan sekolah. Jangan bahas urusan pribadi gue di sini." Kirana merasa kesal.
"Gue membahas ini karena gue peduli sama masa depan lo, Ran!" potong Gabriel, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga. "Lo punya potensi besar di bidang komunikasi. Sekolah di luar negeri adalah jalan terbaik buat lo berkembang tanpa bayang-bayang keluarga atau tekanan menikah muda. Apa lo gak merasa tertekan harus pura-pura gak kenal suami sendiri di koridor sekolah tiap hari?"
Pertanyaan Gabriel menghantam bagian paling sensitif dalam hati Kirana. Pura-pura tidak memiliki hubungan di depan umum memang terkadang melelahkan, tetapi perasaan itu lenyap setiap kali ia mengingat betapa tulusnya Kenan meyakinkan dirinya di rumah.
"Gue gak pernah merasa tertekan, Kak," jawab Kirana tegas, menatap Gabriel lurus-lurus tanpa ada keraguan. "Keputusan gue buat bertahan di sini dan berkuliah di dalam negeri adalah pilihan gue sendiri. Lagian gue juga bahagia sama hidup gue sekarang, jadi mohon Kak Gabriel hargai batas itu."
Gabriel tertegun. Senyuman tipis yang biasanya menghiasi wajahnya menghilang, berganti dengan sorot mata kecewa yang amat dalam.
Tepat pada detik itu, pintu ruang transit terdorong terbuka.
Kenan melangkah masuk dengan tenang. Di tangannya, ia memegang map batik tebal berisikan dokumen verifikasi OSIS. Kehadiran Kenan yang tepat waktu membuat atmosfer di dalam ruangan seketika berubah membeku.
"Permisi, Mas Gabriel," sela Kenan dengan suara dingin yang amat formal. "Saya membawa data verifikasi sampel organisasi dari divisi OSIS untuk melengkapi bagian kuesioner yang disusun Kirana."
Gabriel memiringkan kepalanya, menatap Kenan dengan senyum dingin. "Tepat waktu sekali, Ketua OSIS. Kamu selalu muncul di saat yang sangat tepat"
"Tugas Ketua OSIS adalah memastikan semua kegiatan berjalan sesuai waktu dan prosedur," balas Kenan tanpa kedipan, melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping kursi Kirana. Ia meletakkan map tebal itu di atas meja Gabriel dengan ketukan pelan namun tegas.
Kenan menunduk menatap Kirana, memberikan rasa aman melalui tatapan matanya yang tajam. "Kirana, tugas analisis kuesioner Lo sudah selesai. Perwakilan Mading diminta Pak Bambang untuk segera merapikan draf berita simulasi di ruang pers."
Kirana dengan cepat berdiri, merapikan rok seragamnya. "Hmm.. oke. Kalau gitu gue permisi dulu, Kak Gabriel."
Gabriel tidak menahan Kirana lagi. Ia hanya memperhatikan Kirana berjalan melewati Kenan menuju pintu keluar. Namun sebelum Kenan sempat berbalik ikut meninggalkan ruangan, Gabriel bersuara dengan nada rendah yang amat tajam.
"Kenan," panggil Gabriel.
Kenan menghentikan langkahnya di dekat pintu, membalikkan badan separuh. "Ada hal lain yang perlu diverifikasi, Mas Gabriel?"
Gabriel menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menopang dagu dengan jari-jemarinya. "Lo mungkin bisa menghalangi Kirana dengan alibi dan jabatan OSIS lo di sekolah ini. Tapi ingat... simulasi akhir bulan ini akan menentukan peringkat nasional. Kalau nilai akademis Kirana anjlok karena tekanan rahasia kalian, yayasan dan orang tua kalian tidak akan tinggal diam."
Kenan menatap Gabriel dengan aura dingin yang mematikan. Ia menegakkan bahunya, memberikan balasan yang tenang namun meruntuhkan.
"Kirana tidak akan anjlok," pangkas Kenan pasti. "Karena selama dia ada di samping gue, gue yang bakal pastikan dia berhasil di bidang akademis maupun di dalam hidupnya. Lo gak perlu cemas."
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Kenan melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat, meninggalkan Gabriel yang mengepalkan tangannya di atas meja dengan rasa kesal yang tertahan.
....
Sore harinya, hujan gerimis membungkus kawasan perkotaan. Di dalam rumah minimalis dua lantai mereka, keheningan yang hangat kembali menyelimuti ruang tengah.
Kirana duduk di karpet bulu depan televisi, selonjoran sambil membaca buku modul Fisika. Di sebelahnya, Kenan yang mengenakan celana kain hitam dan kaus lengan pendek putih duduk bersandar di pinggir sofa, sibuk meneliti lembar kisi-kisi soal simulasi dengan spidol penanda.
Suara gemericik air hujan di luar membuat suasana terasa sangat intim dan menenangkan.
"Kenan..." panggil Kirana pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
Kenan menurunkan kertasnya, menoleh ke bawah menatap istrinya. "Kenapa? Ada rumus yang gak paham?"
Kirana menggeleng pelan. Ia menutup bukunya, lalu berbalik dan menyandarkan dadanya di lutut Kenan, mendongak menatap wajah tampan suaminya dari bawah.
"Makasih ya buat yang tadi di ruang transit," bisik Kirana tulus. "Lo beneran datang tepat waktu banget. Kalau lo gak masuk, gue bingung harus ngomong apa lagi ke Kak Gabriel."
Kenan menatap mata Kirana dengan pandangan yang lembut. Jemari tangannya yang panjang terulur, mengusap perlahan helai rambut Kirana yang jatuh menutupi dahinya.
"Gue kan udah janji bakal selalu ada buat menjaga lo," kata Kenan pelan, suara baritonnya terasa hangat di telinga Kirana. "Gue gak akan biarin siapa pun bikin lo merasa ragu atau bersalah atas pilihan hidup lo."
Kirana tersenyum manis. Ia meraih tangan Kenan yang berada di kepalanya, menempelkan telapak tangan hangat suaminya itu di pipinya sendiri.
"Gue gak pernah ragu kok, Ken," ujar Kirana mantap. "Tadi gue udah bilang tegas ke Kak Gabriel kalau gue bahagia sama lo dan pilihan gue buat kuliah di dalam negeri bareng lo itu murni kemauan gue sendiri."
Gerakan tangan Kenan terhenti sejenak. Ada kilat keharuan dan kebahagiaan mendalam yang terpancar dari manik matanya yang biasa dingin. Kenan membungkukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
"Ulangi lagi," bisik Kenan mesra di depan bibir Kirana.
"Ulangi apa?" tanya Kirana berpura-pura polos, pipinya mulai memerah.
"Ulangi kata-kata lo tadi... kalau lo bahagia sama gue," tuntut Kenan pelan namun penuh kepemilikan.
Kirana terkekeh geli, merasakan napas hangat Kenan menyapu kulit wajahnya. "Gue bahagia banget jadi istri lo, Kenan Alister. Bahkan kalau dikasih kesempatan kedua, gue tetap bakal milih buat menikah sama lo."
Tanpa menunggu kalimat itu selesai sempurna, Kenan mendaratkan ciumannya di bibir Kirana. Sebuah ciuman yang lembut, dalam, dan sarat akan rasa syukur yang tak terhingga. Kirana memejamkan mata, membalas ciuman suaminya seraya melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Kenan.
Di tengah kehangatan ruang tengah mereka, kekhawatiran akan ancaman Gabriel dan tekanan ujian sekolah seolah melebur tak berbekas. Mereka tahu, sejauh mana pun ujian datang menguji, rumah sejati mereka adalah pelukan satu sama lain.
…
Sementara itu, di laboratorium komputer sekolah yang sudah gelap, Gabriel masih duduk sendirian di depan layar monitornya. Cahaya biru layar memantulkan bayangan wajahnya yang keras.
Di layar tersebut, terbuka file dokumen penilaian simulasi tingkat tinggi yang siap diunggah ke sistem sekolah besok pagi. Gabriel menggerakkan kursornya, meneliti jajaran nama murid kelas XII hingga berhenti tepat di nama Kirana Amanda dan Kenan Alister.
"Kita lihat seberapa tangguh hubungan kalian saat ujian minggu depan dimulai," gumam Gabriel pelan, lalu menekan tombol save dengan tatapan penuh intrik.
Bersambung…