"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Hilangnya jiwa
Tanpa menunggu balasan Adam, Fitri berbalik dan berjalan cepat menuju kamar Bu Rahma. Ia menutup pintu pelan, lalu terduduk lemas di samping ranjang mertuanya yang sedang tertidur pulas. Di dalam kegelapan kamar itu, Fitri akhirnya membiarkan air matanya menetes diam-diam, menyadari bahwa sisa waktu satu tahun ini akan menjadi ujian terberat dalam hidupnya.
" Cocok sekali, wanita udik dengan pria tak tau malu." gumam Fitri.
"Apa kamu bilang hah!" Sahut Rosa.
"Mas.. kamu diam aja, dia bilang begitu?" Ucap rosa dengan jengkel.
"Sudah lah ros.."
"Massss.." Rosa masih jengkel manja.
"Sudahlah, ayo aku antar saja kamu.."
Aku mendengar suara mobil Adam yang pergi di tengah derasnya hujan.
Aku menghiraukan mereka lalu berjalan ke arah kamar mertua. Keheningan malam di dalam kamar Bu Rahma terasa begitu mencekam, hanya diselingi oleh deru halus mesin konsentur oksigen. Fitri duduk di kursi kayu samping tempat tidur, matanya sembap dan merah. Jemari lentiknya yang gemetar memegang pergelangan tangan mertuanya, mengukur denyut nadi yang kian hari kian melemah dan tidak teratur.
Bu Rahma perlahan membuka matanya yang sayu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggeser telapak tangannya untuk menggenggam jemari Fitri.
"Fitri... Nak..." suara Bu Rahma terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan angin.
Fitri langsung mendekatkan telinganya, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. "Iya, Bu? Fitri di sini. Ibu butuh sesuatu? Dada Ibu masih sesak?"
Bu Rahma menggelengkan kepala pelan. Tatapannya dipenuhi rasa kasih sayang yang begitu dalam, namun bercampur dengan rasa bersalah yang amat besar. "Maafkan Ibu ya, Nak... Ibu sudah bikin kamu menderita selama menikah sama Adam. Ibu tahu... Ibu tahu semuanya tentang perjanjian kalian."
Tubuh Fitri seketika mematung. Ditatapnya wajah renta itu dengan rasa terkejut yang luar biasa. "Ibu... tahu?"
"Ibu pernah tak sengaja lihat surat itu di meja kerja Adam," gumam Bu Rahma, air mata menetes tipis melintasi pipinya yang makin tirus. "Ibu bertahan hidup sampai detik ini cuma karena Ibu ingin lihat Adam sadar... Ibu ingin dia melipat surat itu dan mencintaimu dengan sungguh-sungguh."
Fitri tak sanggup lagi menahan air matanya. Tangisnya pecah seketika. Ia menunduk, mencium tangan Bu Rahma yang terasa makin dingin. "Ibu tidak boleh bicara begitu. Fitri ikhlas merawat Ibu, Fitri sayang sama Ibu melebihi apa pun..."
"Kamu anak yang sangat baik, Fitri. Allah pasti menyiapkan kebahagiaan yang jauh lebih besar buat kamu," bisik Bu Rahma, napasnya mulai terdengar patah-patah. "Tapi Ibu merasa... waktu Ibu sudah tidak banyak lagi..."
"Jangan bilang begitu, Bu! Fitri panggilkan ambulans sekarang ya, kita ke rumah sakit!" cecaran Fitri panik sembari hendak berdiri.
Namun, genggaman lemah Bu Rahma menahannya. "Jangan, Nak... Panggilkan Adam. Ibu mau bicara sama anak tunggal Ibu untuk yang terakhir kali."
Dengan tangan gemetar, Fitri merogoh ponselnya di saku dan langsung menghubungi nomor Adam. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua di reject. Baru pada panggilan ketiga, suara Adam terdengar malas dan bising oleh dentuman musik kafe di latar belakang.
"Ada apa sih, Fitri? Aku lagi ada urusan penting sama Rosa, jangan ganggu!" bentak Adam tanpa merasa berdosa.
"Mas Adam, pulang sekarang!" jerit Fitri dengan suara bergetar dipenuhi tangisan. "Kondisi Ibu kritis! Ibu panggil nama kamu, Mas!"
"Kamu jangan beralasan ya! Tadi Ibu masih baik-baik saja"
"Aku dokter di rumah sakit, Mas! Aku tahu persis tanda-tandanya!" potong Fitri tegas, meluapkan seluruh emosinya. "Kalau kamu masih punya hati nurani dan mau melihat Ibumu untuk terakhir kali, pulang sekarang juga!"
Fitri langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Adam. Ia kembali berlutut di samping ranjang, memeluk tangan Bu Rahma yang makin mendingin.
Di tempat lain, Adam mendadak mematung di sudut kafe mewah. Wajahnya pucat pasi, sementara kata-kata Fitri terus bergema di kepalanya. Rosa yang duduk di depannya memegang lengannya dengan manja. "Kenapa, Mas? Dari si wanita lusuh itu lagi ya? Mending cuekin saja"
"Aku harus pulang, Rosa! Ibu kritis!" potong Adam kasar, menghempaskan tangan Rosa dan berlari meninggalkan tempat itu tanpa memedulikan panggilannya.
"Mas.. itu cuma alasan aja.. dia pasti cuma cari perhatian ke kamu... Kamu di sini aja lah" sahut rosa. "Mas!!" Panggil rosa dengan keras.
Namun di dalam kamar, suasana kian hening. Bu Rahma tersenyum tipis menatap Fitri yang terus membacakan doa di telinganya. Benteng pelindung Fitri di rumah itu kini berada di ambang batasnya, bersiap meninggalkan luka yang tak akan pernah bisa disembuhkan.
"Fitri.. ibu yakin kamu bisa mengatasi itu semua. Sekali lagi maafkan ibu ya.. terimakasih, kalau ada kehidupan selanjut nya ibu harap anak ibu itu kamu."
"Ibuuu..Jangan bilang begitu bu, aku sungguh sudah menganggap ibu adalah ibuku sendiri. Bentar bu., mas Adam pasti akan kemari." Jawabku yang agak panik mendengar itu.
Tiba-tiba saja ibu rahma kejang lalu dia pun menghembuskan nafas terakhir.
"Tidakk ibuuu..." Teriakku lalu dengan di bantu oleh perawat pribadi ibu aku melakukan cpr darurat. Namun itu tidak bisa mengubah apapun. Ibu Rahma memilih pergi untuk selamanya.
Aku lemas dan jatuh terduduk di samping jenazah ibu Rahma. Tak lama dari itu, Suara deru mobil yang berhenti mendadak di pekarangan rumah memecah keheningan malam yang cengkeram. Adam melompat keluar tanpa sempat mematikan mesin dengan benar. Langkah kakinya lebar dan terburu-buru, menabrak pintu depan hingga terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang, dihantam rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kata-kata Fitri di telepon terus terngiang, membakar rasa bersalah yang berusaha ia sangkal sepanjang jalan.
"Ibu! Fitri!" panggil Adam setengah berteriak, suaranya gemetar saat melintasi ruang tengah yang gelap.
Ketika ia mendobrak pintu kamar utama, langkahnya mendadak terhenti. Kakinya serasa dingin ke lantai marmer yang dingin.
Di atas ranjang, Bu Rahma terbaring kaku dengan mata terpejam rapat. Wajahnya begitu tenang, seolah seluruh rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun telah diangkat tanpa sisa. Di samping tempat tidur, Fitri duduk berlutut sembari menggenggam erat tangan mertuanya yang mulai memucat. Fitri tidak menangis histeris. Ia hanya menunduk dalam-dalam, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara halus yang bergetar.
"Fitri... Ibu kenapa?" suara Adam hampir tak terdengar, melangkah pelan mendekati pembaringan.
Fitri menyapu air mata yang tersisa di pipinya, lalu perlahan berdiri. Ia menatap Adam dengan raut wajah yang sangat datar, kosong tanpa emosi. "Ibu sudah tidak ada, Mas. Tepat lima menit yang lalu, sebelum kamu sampai."
Kata-kata itu menghantam dada Adam bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanannya. Lututnya lemas seketika. Pria itu roboh berlutut di samping ranjang, meraih tubuh kaku ibunya dan memeluknya erat-erat.
"Ibu! Bangun, Bu! Adam pulang!" jerit Adam, tangisnya pecah memenuhi ruangan. "Maafkan Adam, Bu... Adam minta maaf! Jangan tinggalkan Adam seperti ini!"
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.