NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Tiket Pulang dan Bayangan Ambisi

Dua minggu berlalu cepat sejak hebohnya acara Panen Raya. Angin sore berembus dari luar, membawa aroma tanah basah sehabis hujan menyapu papan nama ruko cabang pemasaran PT Arunika Jaya di pedalaman Kalimantan Timur. Dulu, tempat ini sepi macam kuburan. Sekarang? Deru mesin dari dua truk ekspedisi yang sedang bongkar muat sukses menenggelamkan suara jangkrik yang biasanya jadi backsound sehari-hari.

Di dalam ruangannya yang sempit tapi sudah ditata rapi, Fajar menyandarkan punggungnya yang kaku ke sandaran kursi. Matanya menatap layar laptop tanpa berkedip. Bibirnya melengkung membentuk senyum puas yang rasanya mau robek sampai ke telinga.

Ia baru saja selesai merekap laporan penjualan bulanan. Di layar, angka pada kolom paling kanan menunjukkan grafik hijau yang meroket tajam—penjualan tembus 400% dari target awal yang ditetapkan pusat!

Tok. Tok.

Fajar menoleh. Pak Joni berdiri di ambang pintu, menyodorkan nampan berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Nggak ada lagi tatapan sinis atau senyum meremehkan dari pria paruh baya itu. Yang tersisa kini murni rasa segan dan hormat.

"Permisi, Pak Fajar. Ini kopinya. Tadi saya perhatikan Bapak belum istirahat sama sekali sejak bongkar muat kloter pertama," ucap Pak Joni pelan.

Fajar tersenyum hangat dan menerima cangkir itu. "Wah, makasih banyak, Pak Joni. Gimana kondisi stok di gudang? Aman terkendali?"

"Ludes tak bersisa, Pak!" sahut si rambut gondrong yang tahu-tahu nongol dari balik punggung Pak Joni. Ia mengusap peluh di dahi sambil nyengir lebar. "Jangankan yang mulus, tiga traktor mini yang display-nya cacat kegores cat aja dibeli lunas tunai sama kelompok tani dari Distrik Seberang! Pak Joni sampai pusing nelepon pusat minta restock."

Dada Fajar mekar oleh rasa bangga. Ia menatap ketiga bawahannya—Pak Joni, si gondrong, dan si topi terbalik—lekat-lekat. "Kerja keras kita semua kebayar lunas, Tim. Kalian berhasil buktiin kalau cabang ini bukan tempat pembuangan karyawan buangan. Cabang ini sekarang ujung tombak perusahaan."

Tepat saat Fajar baru menyesap kopinya satu tegukan, Ting!

Sebuah notifikasi pop-up muncul di sudut kanan layar laptop. Mata Fajar langsung terpaku pada sebuah e-mail berlabel prioritas tinggi warna merah.

Dari: HRD Pusat (Tembusan: Direksi Pemasaran)

Subjek: SK Penarikan Kembali & Evaluasi Kinerja Eksekutif

Deg.

Jantung Fajar berdetak satu ketukan lebih cepat. Tangannya yang memegang mouse sedikit berkeringat saat ia mengklik pesan itu. Matanya bergerak cepat memindai setiap baris kalimat. Sedetik kemudian, senyum di bibirnya mengendur, berganti dengan helaan napas kelegaan yang luar biasa panjang. Akhirnya... batin Fajar.

"Ada apa, Bos? Kok mukanya gitu? Kabar buruk dari pusat?" tebak si topi terbalik panik, menyadari perubahan raut wajah Fajar.

Fajar mendongak, menatap tim kecilnya dengan senyum tipis. "Bukan kabar buruk. Ini... surat tugas baru. Pusat narik gue kembali ke Jakarta mulai besok. Misi pemulihan cabang ini udah dianggap selesai dan sukses besar."

Ketiga bawahan Fajar seketika terdiam kicep. Ada raut kehilangan yang jelas terpancar dari wajah mereka. Bos muda dari kota yang awalnya mereka remehkan, yang kelakuannya kadang konyol tapi otaknya secerdik rubah ini, ternyata harus pergi secepat ia datang.

"Yah... padahal malam ini kita baru aja mau ngerayain rekor penjualan sambil bakar ikan lele di belakang ruko, Bos," gumam si gondrong lemas.

Fajar tertawa pelan. Ia berdiri, melangkah mendekat, lalu menepuk bahu bawahannya itu bergantian. "Tenang aja, bakar ikannya tetep gas malam ini sebelum gue packing! Tapi denger baik-baik, kepergian gue bukan berarti kalian bisa leha-leha. Sistemnya udah gue bangun, jalurnya udah gue buka. Sekarang giliran kalian yang jaga momentum ini. Pak Joni, saya titip anak-anak ini. Jangan sampai cabang ini mati lagi."

Pak Joni mengangguk mantap, menepuk dadanya sendiri. "Siap, Pak Fajar. Bapak tenang saja. Semoga Bapak sukses di pusat. Orang-orang di atas sana butuh orang yang mau turun lapangan dan ngerti penderitaan bawahannya kayak Bapak."

Fajar tersenyum penuh arti. Ya, orang-orang di pusat memang sedang sangat membutuhkan bantuan. Lebih tepatnya... ada satu wanita keras kepala di pusat yang sedang sangat menunggunya saat ini.

Sementara itu, ribuan kilometer dari pedalaman Kalimantan, langit Jakarta tertutup awan mendung kelabu, seolah mewakili ketegangan yang terjadi di lantai tertinggi gedung pencakar langit PT Arunika Jaya.

Suhu pendingin ruangan di ruang Direktur Utama itu rasanya menusuk sampai ke tulang, tapi aura di dalam ruangan itu jauh lebih membekukan.

Ruangan berlapis panel kayu mahoni gelap dan perabotan serba hitam itu terasa mencekik. Di balik meja marmer raksasa, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas bespoke abu-abu yang pas di badan. Rambutnya disisir klimis ke belakang. Sorot matanya menajam bagai elang pemangsa, namun lingkaran hitam pekat di bawah matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah, atau lebih parahnya... paranoia akut.

Pria itu adalah sosok yang selama ini dipuja dunia sebagai Aditya, sang pendiri genius PT Arunika Jaya. Padahal, dalam kenyataan busuk yang disembunyikan rapat-rapat—bahkan dari anak angkatnya sendiri—pria itu adalah Ardi. Sang pencuri identitas.

Kirana duduk tegak kaku di kursi kulit di hadapan ayahnya. Jemarinya mencengkeram map dokumen tebal di pangkuannya sampai buku-buku jarinya memutih, berusaha menyembunyikan getaran tangannya.

"Tiga minggu. Saya cuma beri waktu maksimal tiga minggu dari sekarang, Kirana. Chip generasi terbaru kita harus sudah siap untuk dipresentasikan ke publik!" Suara bariton Ardi memecah keheningan yang mencekik. Nadanya mutlak, menolak segala bentuk bantahan.

Kirana menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak di dadanya. Ia berusaha menjaga suaranya agar tetap profesional. "Bapak, kita tidak bisa memaksakan peluncuran dalam waktu sesingkat itu. Laporan terakhir dari tim R&D (Riset dan Pengembangan) menyatakan masih ada isu overheating pada modul utama kalau chip itu dipaksa bekerja di atas batas wajar. Kalau kita luncurkan sekarang dan terjadi malfunction massal di pasaran, reputasi Arunika Jaya yang dibangun belasan tahun bakal hancur seketika."

Brak!

Bahu Kirana terlonjak kaget saat telapak tangan Ardi menghantam meja marmer itu dengan keras.

"Reputasi?! Kamu berani menasihatiku soal reputasi?!" Rahang Ardi mengeras. Matanya memancarkan kilat amarah yang terasa... tidak wajar. Sinting. "Perusahaan saingan kita—tikus-tikus rendahan yang tidak tahu diri itu—sudah mulai mematenkan teknologi yang menyerupai purwarupa kita! Mereka menyusup, Kirana! Mereka mencuri informasi kita dari dalam! Kalau kita tidak mendahului mereka, kita yang akan mati tergilas!"

Jantung Kirana berdegup kencang. Ia menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Siapa sebenarnya pria di depanku ini? batin Kirana menjerit.

Dulu, ayahnya adalah sosok visioner yang tenang dan selalu penuh perhitungan. Namun beberapa bulan terakhir, ayahnya berubah wujud menjadi monster yang paranoid, tergesa-gesa, dan dikuasai ambisi gelap. Ayahnya seperti orang yang terus-menerus menengok ke belakang, dikejar oleh hantu dari masa lalunya sendiri.

"Aku mengerti tekanan besar dari kompetitor, Pak," jawab Kirana pelan, mencoba mendinginkan suasana. "Tapi sebagai Direktur Pemasaran, aku tidak bisa dan tidak akan menjual produk yang cacat ke publik. Aku mohon, beri tim R&D waktu setidaknya dua bulan lagi untuk perbaikan."

Ardi melangkah memutari meja marmernya. Ia berdiri menjulang tinggi di hadapan Kirana, menatap putrinya itu dengan sorot mata dingin tanpa belas kasih.

"Kamu adalah penerusku, Kirana. Sejak kecil aku mendidikmu mati-matian agar kamu tidak menjadi orang yang lemah. Agar kamu tidak gagal dan pecundang seperti..."

Ardi mendadak mengatupkan rahangnya, menelan sisa kata-kata yang hampir saja membongkar rahasia kelamnya sendiri. Napasnya memburu. Ia merapikan kerah jasnya dengan kasar. "Jangan pernah mengecewakanku. Aku tidak menerima alasan teknis apa pun. Siapkan strategi marketing-nya sekarang juga. Itu perintah, bukan permintaan."

Kirana menelan ludah yang rasanya sepahit empedu. Ia menundukkan pandangannya, menyerah pada keputusasaan. "Baik, Pak."

Saat Kirana menyeret kakinya keluar dari ruangan raksasa itu, tubuhnya terasa seberat timah. Udara di lorong luar memang sedikit lebih bebas, tapi dadanya masih sesak bukan main. Tekanan gila ini mulai menggerogoti kewarasannya. Ia merasa tak lebih dari sekadar bidak catur yang dipaksa terus maju untuk melindungi Sang Raja, tanpa pernah tahu kapan ia akan dikorbankan.

Di tengah langkahnya yang gontai menuju lift, Bzzzt.

Ponsel di saku blazer-nya bergetar pelan. Kirana merogoh sakunya tanpa minat. Namun, begitu melihat sebuah pesan masuk dari Fajar, langkahnya seketika terhenti.

Fajar: "SK penarikanku udah turun hari ini. Traktor dan pupuk di sini udah aman sentosa. Pesawatku take-off besok pagi ke Jakarta. Aku pulang, Na. Tunggu aku."

Mata elang Kirana mengerjap. Tanpa sadar, setetes air mata lolos begitu saja dari sudut matanya, mengalir turun melewati pipinya yang dingin. Namun kali ini, senyum tipis—sangat tipis tapi tulus—terukir di bibirnya. Perasaan asing dan kesepian yang sedari tadi mencekik lehernya perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya.

Aku nggak sendirian.

Keesokan paginya, Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan tampak sibuk oleh lalu-lalang penumpang. Di ruang tunggu keberangkatan, Fajar berdiri tegap menghadap dinding kaca raksasa, menatap lurus ke arah pesawat berbadan lebar yang sedang parkir di landasan pacu.

Ia mengenakan kemeja kasual yang dilapisi jaket bomber, menarik gagang koper kecil di tangan kanannya. Tangan kirinya menggenggam erat ponsel pintar.

Fajar sadar sepenuhnya. Ia tidak sedang pulang untuk sekadar kembali pada rutinitas kantor yang membosankan, atau sekadar main kucing-kucingan backstreet dengan Kirana di lorong pantry. Telepon dari Kirana tempo hari membangunkannya pada satu fakta mengerikan: ada konspirasi raksasa yang sedang bergerak di balik dinding kaca mewah PT Arunika Jaya. Sesuatu yang sangat busuk sedang terjadi di level direksi, dan Kirana berdiri tepat di titik pusat ledakannya.

"Waktu main-main di daerah udah habis," gumam Fajar pada pantulannya sendiri di kaca. Rahangnya mengeras. Ia mengencangkan genggamannya pada gagang koper.

Jika badai besar memang sedang menunggu mereka berdua di Jakarta, maka Fajar akan memastikan bahwa dirinya tidak datang hanya dengan membawa jas hujan. Ia datang untuk membelah badai itu sendiri.

"Perhatian, para penumpang tujuan Jakarta, dipersilakan untuk naik ke pesawat udara melalui Pintu Enam..."

Suara merdu penyiar bandara menggema, menjadi genderang perang bagi Fajar. Pria itu menyeringai tipis, membalikkan badannya, dan melangkah tegap menuju pintu keberangkatan.

Tiket pulang sudah di tangan, dan medan perang yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!