Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: ALESHA HAMIL? TEST PACK 2 GARIS
Pukul enam pagi. Penthouse lantai 99.
Alesha kebangun bukan karena alarm, bukan juga karena matahari yang nembus dinding kaca raksasa.
Tapi karena rasa mual aneh yang naik dari perut sampai ke tenggorokan. Kepalanya pening, badannya lemas seketika.
Ia buru-buru bangkit, lari ke kamar mandi pribadi yang luasnya bahkan lebih besar dari kontrakan Rian di Tanjung Priok, lalu muntah.
Huek...
Vion yang lagi push-up di sudut ruang gym tanpa pakai baju, refleks lari kencang ke kamar utama denger suara muntah itu.
"Ratuku? Kenapa?"
Pria itu dapati Alesha bersimpuh di depan kloset putih, wajah pucat pasi, rambut berantakan sambil pegang perutnya yang masih rata.
"Aku... mual, Vion... kepala pusing banget... ini sudah hari ketiga..."
Tanpa pikir panjang, Vion angkat tubuh Alesha dan rebahkan di ranjang king size dengan mata penuh panik. Ekspresi takut yang tidak pernah kelihatan di wajah CEO kejam itu, bahkan saat sahamnya anjlok.
"Jangan gerak. Saya panggil dokter pribadi sekarang juga."
"Tidak perlu..." Alesha tahan pergelangan tangan Vion dengan lemas, napas tersengal. "Aku... aku telat..."
Kata telat itu bikin sekujur tubuh Vion mematung kaku.
Telat.
Sebagai pimpinan yang bawahi tiga rumah sakit eksklusif dan biasa baca ratusan laporan medis tiap bulan, Vion sangat paham arti kata itu.
"Sudah berapa lama?" desak Vion, suaranya mendadak serak.
"Dua minggu..." bisik Alesha nyaris tak terdengar. Air mata mulai menggenang di matanya. "Seharusnya tamu bulanan ku datang minggu lalu... tapi tidak datang..."
Hening pekat menyelimuti penthouse.
Di luar jendela, matahari perlahan naik, sinar keemasan menyinari ibu kota.
Di dalam, dua orang saling pandang dengan jantung berdebar kencang.
Vion menatap perut Alesha yang masih ketutup selimut putih, lalu balik menatap wajah wanita itu yang pucat karena takut.
Ketakutan terbesar...
Anak siapa janin di dalam kandungan ini?
Semua orang tahu Alesha baru resmi nikah kontrak sama Vion sepuluh hari lalu, dan ikatan di atas kertas itu belum pernah disempurnakan. Malam pertama mereka kemarin nyaris jadi ciuman sebelum kepotong telepon, malam-malam berikutnya Vion selalu pilih tidur di sofa demi jaga nyaman Alesha.
Tapi sebelum kontrak itu, Alesha sempat pacaran tujuh tahun sama Rian. Tepat sebulan sebelum pernikahan tragis yang berujung pengkhianatan di altar, Rian bahkan masih sering nginap di apartemen wanita itu.
Kalau benar Alesha hamil, ada dua kemungkinan.
Janin dari benih Vion, kalau momen itu diam-diam terjadi...
Atau benih dari Rian.
Vion mengepalkan jemari begitu kuat di atas seprai hitam sampai buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Aura dingin CEO kembali keluar.
Tapi emosi itu cuma bertahan tiga detik.
Setelahnya, Vion tarik napas dalam, lalu dengan lembut yang luar biasa, ia kecup kening Alesha yang basah keringat dingin.
"Kita buktikan sekarang, Ratuku. Jangan biarin pikiranmu kacau."
Ia tekan tombol interkom di nakas.
"Hendra. Beli test pack. Sepuluh merek berbeda. Sekarang. Pastikan sudah di penthouse dalam sepuluh menit."
Tepat sepuluh menit berselang, sekretarisnya tiba dengan napas ngos-ngosan, jinjing kantong plastik hitam berisi sepuluh test pack dari merek termahal.
Vion kunci pintu kamar utama dari dalam, lalu kasih kantong itu ke Alesha.
Wanita itu melangkah masuk ke kamar mandi dengan tangan gemetar, bawa semua alat tes itu.
Di luar, Vion mondar-mandir di tepi ranjang dengan degup jantung tidak karuan. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Vion Mahendra, pria yang selalu pegang kendali atas segalanya, kehilangan kendali atas detak nadinya sendiri.
Lima menit terasa seperti lima jam.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka.
Alesha melangkah keluar dengan muka pucat pasi, kedua telapak tangannya gemetar pegang sepuluh test pack itu.
Vion berdiri.
Alesha angkat benda itu tinggi-tinggi.
Semua test pack...
Menampilkan dua garis merah.
Dua garis merah pekat menyala terang. Positif. Hamil.
Alesha positif hamil.
Bruk!
Satu test pack lepas dari genggamannya, jatuh ke lantai marmer karena tubuhnya mendadak lemas. Air mata Alesha tumpah deras.
"Vion... aku... aku hamil..."
Vion memandangi deretan test pack yang berserakan di lantai, semua pamer dua garis merah seperti tetesan darah.
Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Dingin. Membeku.
Tangis Alesha makin pecah, ia jatuh bersimpuh di lantai di antara test pack itu.
"Maafkan aku, Vion... aku tidak tahu... aku tidak tahu ini benih siapa... sebulan lalu Rian masih... aku... aku wanita kotor... aku tidak layak jadi Nyonya Vion... perjanjian kita..."
Sebelum kalimat itu selesai, tubuh Alesha mendadak melayang di udara.
Vion membungkuk dan mengangkatnya bridal style, sama seperti malam pertama mereka di sini.
Tapi dekapan kali ini jauh lebih erat, jauh lebih penuh kepemilikan, dan penuh perlindungan mutlak.
"Jangan pernah ngomong bodoh itu lagi, Ratuku," bisik Vion dengan suara bergetar hebat di telinga Alesha. Untuk pertama kalinya, suara CEO berdarah dingin itu bergetar. "Kamu tidak kotor. Tidak akan pernah."
Vion bawa Alesha kembali duduk di ranjang, dudukkan wanita itu di pangkuannya. Satu lengan dekap pinggang Alesha, jari tangan lain usap lembut perut rata wanita itu.
"Dengerin baik-baik, Alesha Vion," tegas Vion sambil menatap mata wanita itu yang basah air mata dengan keseriusan mutlak. "Siapa pun ayah biologis janin ini, bahkan kalau itu benih dari Rian sekalipun, ia tetap anakku. Anak Vion Mahendra. Mulai detik ini, tidak ada lagi nama Rian dalam hidup kita. Hanya ada aku. Akulah ayahnya. Akulah yang akan rawat dan besarkan dia. Akulah yang akan kasih nama marga ku ke dia. Mengerti?"
Alesha membelalak, isaknya mendadak berhenti karena kaget luar biasa.
"Vion... kamu... kamu mau rawat anak ini? Meskipun kemungkinan besar darah daging Rian?"
Vion senyum tulus, bukan senyum sinis penuh licik khas pengusaha hitam.
"Ratuku, aku Vion Mahendra. Aku punya sepuluh rumah sakit di negeri ini. Aku sanggup sewa seratus dokter terbaik untuk jaga kamu dan bayi ini. Aku punya dana triliunan yang ku rebut dari Gunawan. Aku mampu beli semua pabrik susu formula di negara ini buat dia. Untuk apa aku pusingin soal darah siapa yang mengalir di tubuhnya? Yang penting darah itu kini tumbuh di dalam tubuhmu. Dan kamu istri sah ku, satu-satunya Nyonya Vion. Maka otomatis, anak ini darah daging ku."
Deg.
Jantung Alesha seperti berhenti sesaat.
Itu kalimat paling indah yang pernah ia dengar seumur hidup, jauh melampaui ribuan janji manis palsu yang diobral Rian selama tujuh tahun pacaran.
Alesha hambur peluk leher Vion erat-erat, nangis histeris di dada bidang pria itu yang begitu hangat.
"Vion... terima kasih banyak... terima kasih..."
Vion dekap dia lembut, tangannya terus belai perut rata Alesha tempat janin kecil bergaris dua itu tumbuh.
Sementara itu, di balik dinding kaca luar penthouse, sebuah drone milik pemburu berita yang sejak semalam ngawasi mereka berhasil bidik pemandangan sepuluh test pack garis dua yang berserakan di marmer, lalu kirim foto eksklusif itu ke akun gosip @LambeDuit.
Lima menit berselang, judul berita utama dipublikasikan:
[BREAKING] NYONYA VION HAMIL? 10 TEST PACK POSITIF DUA GARIS BERSERAKAN DI PENTHOUSE! ANAK SIAPA? BENIH CEO ATAU ANAK MANTAN SUAMI YANG JADI OJOL?
Berita itu langsung bikin heboh nasional.
Di kontrakan sempit Tanjung Priok, Rian yang baru pulang ngojek dengan uang pas-pasan, tidak sengaja baca kabar sensasional itu dari ponsel temannya.
Test pack positif dua garis. Di penthouse mewah Vion. Di rahim Alesha.
Rian menjatuhkan nasi bungkus murah sepuluh ribu yang baru ia beli.
"Anak... itu anakku?" bisik Rian dengan muka pucat pasi.
Di Bar Mawar Blok M, Nyonya Listia yang masih pakai seragam merah menyala, lihat tayangan TV di sudut ruangan dan pingsan untuk kedua kalinya.
"Cucu... cucu ku dari Rian!"
Di IGD RS Polri, Clarissa yang lagi jaga ayahnya yang strok dapat kabar sama lewat ponsel, lalu banting sikat kloset kuningnya dengan penuh amarah ke dinding rumah sakit.
"AKU TIDAK TERIMA! SEHARUSNYA ANAK ITU ANAK KU SAMA VION!"
Dan di penthouse lantai sembilan puluh sembilan, Vion masih dekap erat Alesha di atas ranjang, bisikkan janji perlindungan yang tenangkan jiwa wanita itu.