**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Suka Kamu
Keira meraih gagang pintu dan melangkah keluar sebelum sempat memikirkan kenapa satu panggilan tentang Reynard bisa membuat seluruh rasa kantuknya lenyap.
Mobil daring tiba tiga menit kemudian. Sepanjang perjalanan menuju Golden Star KTV, Anton mengirim lokasi pintu samping dan foto Reynard yang terkulai di sofa. Di foto itu, satu tangan cowok tersebut masih menggenggam ponsel seolah menunggu seseorang.
Keira memperbesar gambar tanpa sadar.
Pesan baru masuk.
Anton: Dia terus manggil Ci Kei.
Keira mengetik pertanyaan, menghapusnya, lalu mematikan layar. Jantungnya berdebar karena cemas. Hanya karena cemas, begitu ia meyakinkan diri.
Di pintu samping KTV, Anton sudah menunggu sambil menopang Reynard. Udara malam bercampur bau hujan, asap kendaraan, dan alkohol yang menempel pada pakaian mereka.
"Maaf banget, Ci," kata Anton. "Kami nggak tahu dia separah ini."
"Dia minum berapa?"
"Empat atau lima gelas kecil. Buat kami biasa. Buat dia ternyata kiamat."
Reynard mengangkat kepala ketika mendengar suara Keira. Matanya setengah terbuka, pandangannya tidak fokus. Namun tangannya langsung terulur.
"Ci Kei."
Dua suku kata itu terdengar seperti napas lega.
Keira menangkap tangannya sebelum tubuhnya miring. "Iya, aku datang. Bisa berdiri?"
"Bisa."
Ia tidak bisa.
Begitu Anton melepaskan pegangan, hampir seluruh berat tubuh Reynard jatuh pada Keira. Bahunya terhuyung. Anton buru-buru membantu memasukkan Reynard ke mobil yang baru datang.
"Keluargaku sudah di depan," katanya setelah memastikan pintu mobil terbuka. "Kabari kalau kalian sudah sampai."
"Makasih sudah menunggu."
Anton mengangguk, lalu menatap Reynard yang menyandarkan kepala ke bahu Keira. "Jaga dia, Ci. Kayaknya cuma kamu yang dia dengar malam ini."
Kalimat itu ikut masuk ke mobil bersama mereka.
***
Reynard diam selama beberapa menit pertama. Keira menurunkan kaca sedikit agar udara segar masuk. Kepalanya berat di bahu Keira, rambutnya sesekali menyentuh leher.
"Kenapa minum kalau nggak kuat?" gumam Keira.
"Mereka berisik."
"Kamu bisa menolak."
"Aku menolak banyak hal."
Keira menoleh. Mata Reynard tetap terpejam.
"Apa yang kamu tolak?"
"Bilang."
"Bilang apa?"
Reynard tidak menjawab. Tangannya bergerak mencari pegangan, lalu berhenti di antara mereka. Jari kelingkingnya menyentuh punggung tangan Keira. Sentuhan kecil itu membuat sindrom haus kulitnya terbangun seperti bara yang ditiup.
Ia seharusnya menjauh.
Sebaliknya, Keira membiarkan tangan mereka tetap bersentuhan sampai mobil tiba di Meranti Park.
Di pertengahan jalan, mobil mengerem mendadak. Reynard terhuyung ke depan dan Keira menahan dahinya dengan telapak tangan.
"Pak, tolong menepi sebentar," pintanya kepada pengemudi.
Mereka berhenti di depan minimarket dua puluh empat jam. Keira membeli air mineral, tisu basah, dan obat lambung yang biasa dibawa Reynard. Ia kembali dan menemukan cowok itu duduk menyandar dengan wajah semakin pucat.
"Minum sedikit."
Reynard menurut. Air tumpah di sudut bibirnya, dan Keira mengusapnya dengan tisu tanpa berpikir. Begitu menyadari gerakan tersebut, tangannya berhenti. Reynard menatapnya dari jarak dekat, tidak sepenuhnya sadar tetapi cukup sadar untuk tersenyum.
"Cici baik banget."
"Aku cuma nggak mau kamu muntah di mobil orang."
"Tetap baik."
Keira membuka bungkus obat. "Ini diminum setelah sampai. Perutmu sakit?"
"Sedikit."
"Makanya jangan sok kuat."
"Kalau aku nggak sok kuat, Cici masih mau datang?"
Pertanyaan itu terdengar terlalu jernih. Keira menatapnya, tetapi kepala Reynard sudah jatuh lagi ke bahunya.
"Kamu telepon, aku datang," jawab Keira akhirnya. "Nggak perlu cari alasan buat menyusahkan diri sendiri."
Jari di dekat tangannya bergerak pelan, seolah ingin menggenggam tetapi urung. Gerakan kecil itu membuat dada Keira menghangat sekaligus sakit.
Petugas malam membantu membuka pintu. Keira menolak tawaran memanggil kursi roda karena Reynard masih bisa berjalan dengan bantuan. Ia melingkarkan satu lengan cowok itu di bahunya dan menyeretnya menuju lift.
"Kakimu dipakai," omelnya. "Aku bukan troli."
"Cici kecil."
"Aku seratus enam puluh lima senti."
"Tetap kecil."
"Kalau kamu muntah, aku tinggal di lift."
Reynard tersenyum dengan mata tertutup. "Cici nggak tega."
Keira membenci kenyataan bahwa ia benar.
Pintu lift terbuka di lantai delapan. Lorong sunyi, hanya lampu sensor yang menyala mengikuti langkah mereka. Keira memasukkan kode 001228 pada unit 8A dengan susah payah sambil menahan tubuh Reynard.
"Kenapa angka ini terasa familier?" gumamnya lagi.
Reynard tertawa lirih. "Cici lupa."
"Lupa apa?"
"Banyak."
Kunci berbunyi, tetapi sebelum Keira sempat mendorong pintu, Reynard berdiri lebih tegak. Gerakan mendadak itu membuat punggung Keira menempel pada dinding lorong.
"Rey?"
Kedua tangan Reynard terangkat. Bukan mengurung, melainkan menyentuh pipi Keira dengan hati-hati, seolah memegang sesuatu yang mudah pecah. Telapak tangannya panas. Bau alkohol tipis bercampur aroma sabun yang sudah Keira kenali.
Mata Reynard masih berkabut, tetapi tatapannya jatuh tepat pada wajah Keira.
"Aku suka kamu, Ci."
Seluruh suara di lorong seakan berhenti.
Keira merasakan telapak tangan itu di kulitnya, mendengar napas Reynard yang tidak teratur, dan melihat kesungguhan yang terasa mustahil datang dari orang setengah sadar.
"Kamu mabuk," bisiknya.
"Dari dulu udah suka."
Dari dulu.
Dua kata itu masuk lebih dalam daripada pengakuan pertama. Keira mencoba mundur, tetapi dinding sudah berada di belakangnya. Ia tidak tahu harus memegang tangan Reynard atau melepaskannya.
"Rey, besok saja kita bicara."
"Besok aku takut nggak berani."
"Kamu bahkan nggak akan ingat."
Reynard menunduk. Jarak wajah mereka menyusut sampai Keira bisa menghitung bulu matanya. Hembusan napas hangat menyentuh bibirnya.
"Boleh cium sekali saja?"
Pertanyaan itu tidak disertai gerakan memaksa. Reynard berhenti, menunggu, meski tubuhnya goyah. Keira tahu ia bisa mengatakan tidak dan cowok itu akan berhenti.
Justru kepastian itu yang membuat jantungnya semakin liar.
Ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dorongan untuk mendekat muncul begitu kuat, bercampur sindrom haus kulit yang membuat pipinya terasa menyala di bawah telapak Reynard. Untuk sesaat, Keira membayangkan bagaimana rasanya membiarkan jarak itu hilang.
Lalu akal sehat kembali.
Reynard adalah adik Vanessa. Tiga tahun lebih muda. Sedang mabuk.
Keira memalingkan wajah dan menempelkan telapak tangan ke dadanya. "Nggak. Kamu sedang nggak sadar."
Reynard berhenti seketika.
Tidak ada protes. Tidak ada usaha kedua. Tangannya turun dari wajah Keira, lalu bahunya ikut merosot.
"Iya," gumamnya. "Cici belum mau."
Kata belum membuat napas Keira tersangkut, tetapi sebelum ia sempat mengoreksi, lutut Reynard melemah. Keira menangkap pinggangnya dan hampir ikut jatuh.
"Rey!"
"Ngantuk."
"Kamu luar biasa menyusahkan."
"Maaf."
Keira berhasil membawanya masuk ke kamar. Dengan susah payah ia melepas sepatu Reynard, menarik selimut, lalu meletakkan baskom dan air di dekat ranjang untuk berjaga-jaga. Cowok itu sudah tertidur sebelum kepalanya menyentuh bantal.
Keira kembali ke dapur untuk membuat air hangat. Saat membuka lemari, ia menemukan obat lambung tersusun di kotak kecil bersama catatan jadwal makan. Semua begitu rapi, sangat bertolak belakang dengan lelaki yang sekarang terkapar tanpa daya.
Ia membangunkan Reynard sebentar, menopang kepalanya, lalu memastikan obat benar-benar tertelan. Reynard menurut tanpa membuka mata. Setiap instruksi Keira dijawab dengan gumaman `iya, Ci` yang lemah.
"Kalau tahu begini, tadi aku suruh Anton bawa kamu ke rumah sakit," kata Keira.
"Nggak mau."
"Kenapa?"
"Maunya pulang sama Cici."
Keira hampir menjatuhkan gelas. Ia meletakkannya cepat di nakas, lalu memeriksa suhu dahi Reynard dengan punggung tangan. Tidak demam, hanya hangat karena alkohol. Cowok itu memiringkan wajah, tanpa sadar mengejar sentuhan tangannya.
Keira menarik tangan perlahan. Jarak yang terbentuk membuat Reynard mengernyit dalam tidur.
Ia membasahi handuk kecil dan mengusap tengkuk serta telapak tangan Reynard. Setiap kali disentuh, napasnya menjadi lebih tenang. Keira tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang ditenangkan oleh sentuhan itu.
Di luar kamar, jam dinding melewati pukul satu. Unit 8A yang biasanya hanya menjadi tempat Reynard tidur terasa berbeda malam ini. Di rak meja ada buku-buku persiapan kampus, celemek kucing yang sudah dicuci dan dilipat, serta daftar belanja dengan tulisan tangannya. Semua benda itu mengarah ke unit seberang. Mengarah kepadanya.
Namun alisnya tetap berkerut.
Keira duduk di tepi ranjang dan menyentuh punggung tangannya. Telapak itu basah oleh keringat. Bahkan dalam kondisi mabuk, Reynard rupanya gugup saat mengucapkan pengakuan tadi.
"Kenapa harus bilang seperti itu?" bisik Keira.
Reynard tidak menjawab.
Ponselnya bergetar di nakas. Anton menanyakan apakah mereka sudah sampai. Keira membalas singkat, lalu mematikan notifikasi agar tidur Reynard tidak terganggu.
Sebelum berdiri, ia menarik selimut sampai ke dada cowok itu. Tatapannya jatuh pada bibir yang beberapa menit lalu hampir menyentuhnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Tetapi tubuh Keira mengingat betapa dekatnya mereka, dan itu jauh lebih buruk daripada sebuah ciuman yang bisa ia sesali.
Reynard bergerak dalam tidur. Jarinya menangkap ujung lengan baju Keira.
"Jangan pergi," gumamnya.
Keira membeku.
Ia perlahan melepaskan jari itu, lalu berdiri di ambang pintu. Satu bagian dalam dirinya ingin menunggu sampai pagi. Bagian lain tahu ia harus pergi sebelum melakukan sesuatu yang tak bisa dijelaskan kepada dirinya sendiri.
"Tidur," bisiknya. "Besok kita pura-pura nggak terjadi apa-apa."
Keira menutup pintu kamar setengah, meninggalkan cahaya lorong masuk ke dalam. Ia berdiri di sana lebih lama daripada seharusnya, mendengarkan napas Reynard yang mulai teratur.
Hanya dirinya yang mendengar pengakuan itu dengan sadar.
Hanya dirinya pula yang kini harus memutuskan apakah kalimat aku suka kamu adalah kejujuran, atau sekadar mimpi seorang lelaki mabuk yang besok pagi tak akan mengingat apa pun.