NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Kertas di Dalam Saku

Ratna berdiri di bawah atap seberang, tidak membawa payung dan tidak terlihat sedang menuju ke mana pun.

"Malam, Bu Ratna," sapaku.

Matanya turun dari kerah sampai ujung jaket yang hampir menutupi lututku. "Jaket siapa itu?"

Aku tidak berhenti berjalan. "Jaket tugas lama dari dapur. Jendela bocor."

"Modelnya seperti jaket lapangan laki-laki."

"Karena dapur kesatrian jarang menyimpan mantel pesta."

Senyumnya mengencang. "Sendirian di dapur malam-malam memang banyak manfaatnya."

"Iya. Bumbu selesai dan lantai tidak kebanjiran. Kalau Ibu mau membantu mengecek atap besok, saya catat sebagai manfaat ketiga."

Aku melewatinya sebelum ia sempat bertanya lagi. Di tikungan, langkahku hampir berubah menjadi lari. Bukan karena merasa bersalah, melainkan karena tubuhku masih menyimpan panas jari Bram di tengkuk sementara jaketnya membungkusku seperti bukti.

Sari membukakan pintu kamar. Nala dan Sena tidur berdampingan di atas kasur dengan pembatas gulungan kain di antara mereka.

"Kamu basah kuyup." Ia menatap jaket. "Dan itu jelas bukan milik dapur."

"Pelankan suara."

"Aku tidak bilang apa-apa. Tapi pipimu sudah cerita duluan."

Aku melepas jaket dan menggantungnya di belakang pintu. "Dia cuma menutup jendela."

"Jendela mana yang bikin muka orang merah sampai telinga?"

"Sari."

Ia mengangkat kedua tangan. "Baik. Ganti baju. Anak-anak aman, Nala minum sedikit tapi tidak muntah."

Malam itu aku tidur putus-putus. Setiap bangun untuk menyusui, jaket gelap di belakang pintu tampak seperti orang ketiga yang diam-diam mengawasi kamar.

Pada bangun kedua, Nala menangis sambil meraba sisi kasur yang kosong. Mungkin ia mencari Mbah, mungkin hanya terkejut oleh tempat baru. Aku memeluknya sambil mengayun pelan. Sena ikut terjaga dari boks, tetapi alih-alih menangis, ia memegang pagar dan mengeluarkan bunyi lembut.

"Kita bertiga sama-sama belajar rumah baru," bisikku.

Aku menaruh Nala kembali setelah tenang, lalu mengangkat Sena untuk menyusu. Matanya setengah tertutup. Jemarinya bermain pada kancing jaket Bram yang tergantung dekat bahuku. Aku memindahkan tangannya sebelum kancing itu terlepas.

Untuk sesaat aku membayangkan pagi tadi berulang setiap hari: Bram menyuapi satu anak, aku memegang yang lain, suara sendok dan tawa memenuhi kamar. Bayangan itu terasa hangat, lalu menakutkan. Kehangatan bisa menjadi kebutuhan. Kebutuhan bisa menjadi kehilangan baru.

Aku menempelkan pipi ke rambut Sena. "Jangan ajari Mama berharap terlalu cepat."

Keesokan paginya, Adi datang ke dapur sebelum sarapan selesai.

"Mbak lihat jaket lapangan Komandan? Ada buku catatan di sakunya. Beliau mau pakai buat rapat."

Tanganku yang sedang memotong daun bawang berhenti sepersekian detik.

"Kenapa tanya saya?"

"Semalam Komandan ke dapur. Kata pos jaga, pulangnya cuma pakai kaus."

Darman berdeham keras dari dekat tungku. Tuti membungkuk terlalu dalam di atas baskom agar senyumnya tidak terlihat.

"Saya tidak tahu," jawabku. Itu bukan kebohongan tentang letak jaket, tetapi tetap terasa seperti satu.

Adi menatap wajahku, lalu telinganya sendiri mulai merah. "Baik. Saya cari di gudang."

Setelah ia pergi, Darman meletakkan tutup panci. "Dapur tidak lihat apa-apa."

"Tidak ada apa-apa untuk dilihat."

"Lebih bagus. Berarti kami tidak perlu lupa."

Aku melanjutkan memotong. Daun bawang di bawah pisau menjadi terlalu halus.

Siang hari, saat kedua anak tidur, aku mencuci jaket itu dengan tangan. Lumpur menempel di bagian bawah. Aku merendamnya terpisah, menggosok kerah, lalu memeriksa semua saku sebelum membilas.

Di saku dalam, jariku menyentuh lipatan kertas.

Aku menariknya cepat. Sudutnya sudah lembap, tetapi tulisan tangan masih terbaca.

`Permohonan penempatan sementara dan rencana pengasuhan jangka panjang bagi Nala, anak kandung Larasati, putri almarhum Serda Wahyu.`

Di bawahnya ada tiga pilihan yang dicoret dan ditulis ulang: perluasan kamar dinas, perpindahan ke unit keluarga kecil, atau penetapan hunian pendamping bila pekerjaanku menjadi tetap. Ada catatan soal jarak klinik, ruang tidur terpisah yang aman, tunjangan anak prajurit gugur, dan layanan penitipan saat aku bekerja.

Ini bukan formulir resmi. Hanya rancangan dengan banyak panah dan koreksi, dibuat sebelum izin tiga bulan disetujui.

Bram telah memikirkan tempat Nala jauh sebelum Mbah meninggal.

Ia tidak hanya membuka pintu untuk satu malam. Ia mencari cara agar aku tidak dipaksa memilih lagi antara anak kandungku dan anak yang kususui.

Setiap opsi disertai risiko. Perluasan kamar butuh persetujuan fasilitas. Unit keluarga kecil biasanya hanya untuk personel berkeluarga. Hunian pendamping bisa hilang jika kontrak kerjaku berhenti. Bram menuliskan nama bagian yang harus menilai dan alasan mengapa keputusannya tidak boleh hanya memakai wewenang komandan.

Rancangan itu bukan janji kosong. Itu peta jalan yang sengaja dibuat agar bantuan kepadaku dapat bertahan bahkan bila suatu hari ia tidak lagi menjabat di sini.

Di balik halaman pertama ada daftar pertanyaan untukku: apakah aku ingin tetap bekerja, apakah Nala aman tinggal dekat Sena, siapa yang kupercaya untuk penitipan, dan apakah aku bersedia pindah kamar. Semua belum diberi jawaban.

Ia ternyata tidak berencana memilihkan masa depanku. Ia sedang menyiapkan pilihan agar aku dapat menentukan sendiri.

Air dari lengan bajuku menetes ke lantai. Aku duduk di bangku cuci, membaca setiap baris sampai hurufnya berbayang.

Di sudut bawah, ada kalimat yang dicoret dua kali tetapi masih terlihat: `Jika kebutuhan pengasuhan tidak dapat dipenuhi oleh mekanisme dinas, saya siap menanggung biaya pribadi.`

Aku menekan bibir. Lelaki itu baru berjanji tidak akan menyembunyikan bantuan lagi, tetapi rancangan ini dibuat sebelumnya. Ia pasti lupa menyimpannya di saku.

Kebaikannya kembali membuatku ingin marah dan menangis pada saat yang sama.

Aku menjemur jaket di bagian dalam kamar agar Ratna tidak melihat. Kertas itu kukeringkan di antara dua lembar kain, lalu kusimpan dalam map sendiri. Bukan untuk mempermalukan Bram. Aku ingin mengembalikannya sambil menanyakan setiap pilihan yang ia tulis atas namaku.

Sore menjelang, Tuti datang membawa dua kotak bahan lomba yang sudah disegel.

"Hendra selesai periksa," katanya. "Pisau, seragam, bumbu, semuanya cocok. Besok subuh berangkat."

"Anak-anak?"

"Sari sudah buat jadwal. Anindya juga tanda tangan sebagai kontak klinik."

Tuti menutup pintu, lalu merendahkan suara. "Ada satu lagi. Ratna tadi masuk kantor Sukandar. Lama. Setelah keluar, dia tanya ke petugas apakah jaket lapangan punya nomor inventaris atau nama pemilik."

"Dia benar-benar menyelidiki jaket?"

"Dia menyelidiki apa pun yang bisa ditempelkan ke namamu."

Aku melihat jaket Bram yang masih menetes pelan. Kalau kukembalikan malam ini, Ratna mungkin melihat. Kalau kusimpan, Adi terus mencari dan gosip punya waktu tumbuh.

Aku melipatnya setelah kering, memasukkannya ke tas kain tanpa tanda, lalu menaruh tas itu di bawah peti. Akan kukembalikan sesudah lomba, di tempat terang, tanpa kebohongan.

Besok bukan waktunya memburu bayangan di lorong. Besok aku punya sembilan puluh menit untuk membuat seluruh Korem mengingat rasa masakanku.

Aku memeriksa segel bumbu sekali lagi, mengasah pisau, dan menuliskan tiga urutan kerja di kepala.

Lusa, lomba. Aku harus menang.

1
Nur Syamsi
Laras kau hrs hati hati Krn Sukandar mencari cela untuk pak Bram ...
Nur Syamsi
Ternyata mbak Laras jago masak ya,
Heriyani Lawi
makin seru, lanjut thor 🙏
CV. RK TUNGGAL
ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!