Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketua Sekte Menyaru?
Yueji makin mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di dada Chandra sambil tersenyum puas. Tapi tidak sampai semenit, tangannya mulai bergerak menjulur ke bawah lagi, meraba pinggang Chandra dengan genit.
"Sayang... Sekarang kan udah pagi, perut aku juga udah gak sakit sama sekali... "
Chandra langsung memegang kedua tangan Yueji dan menahannya cepat-cepat.
"Sayang! Baru juga dipuji, udah mulai nakal lagi yah? "
"Ih, kan aku cuma mau minta hadiah karena udah nurut makan bubur semalam! Masa gak boleh sih, Suamiku? " Yueji memasang raut wajah cemberut, matanya berkedip-kedip manja menatap Chandra.
"Hadiahnya nanti malam yah, Sayang? Aku mau lanjutin lukisan di studio dulu, sebentar aja. "
"Gak mau! Mau hadiahnya sekarang! " Yueji malah makin menjadi-jadi, dia mendesakkan tubuhnya sampai Chandra melangkah mundur dan punggungnya menempel di dinding kamar.
"Aduh, Sayang... Kakek Lubis sama Sisi ada di luar, nanti denger! " Chandra meringis, berusaha keras menahan godaan istrinya yang sangat agresif ini.
"Biarin! Biar Kakek Lubis tahu kalau kita ini pasangan yang harmonis! " Yueji tertawa kecil, lalu dengan sengaja berjinjit dan mengecup bibir Chandra pelan.
Seketika wajah Chandra memerah padam. Daya tahan tubuhnya rasanya runtuh begitu saja menghadapi tingkah siluman rubah yang satu ini.
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar terdorong sedikit dari luar. Kakek Lubis berdiri di ambang pintu sambil memegang gagang pintu dengan wajah polos, sementara Sisi berdiri di belakangnya membawa nampan berisi teh hangat.
"Chandra! Ini teh hangatnya sudah... Eh? "
Kakek Lubis mendadak terdiam kaku melihat posisi Chandra yang tersudut di dinding dengan Yueji yang sedang menempel erat di dadanya.
Sisi yang mengintip dari balik bahu Kakek Lubis seketika menutup matanya dengan kedua tangan, tapi jarinya sedikit terbuka.
"Ma-Maafkan saya, Tuan! Saya tidak tahu kalau Tuan dan Nyonya sedang... sedang berolahraga pagi! " ucap Sisi dengan gagap sambil membalikkan badannya cepat-cepat.
Kakek Lubis malah terkekeh-kekeh sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Ayoyoy! Maafkan Paman, Chandra! Paman tidak tahu kalau kalian sedang sibuk menyatukan energi kehidupan! Lanjutkan, Lanjutkan! Paman tidak akan mengganggu! "
Kakek Lubis dengan cepat menarik pintu dan menutupnya kembali rapat-rapat.
Brak!
Chandra menepuk wajahnya sendiri dengan kedua tangan.
"Astaga... Hancur sudah harga diriku di depan Paman sama Sisi! "
Yueji malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Chandra yang sangat panik.
"Hahaha! Kamu lucu banget sih kalau lagi panik, Sayang! Lagian kenapa harus malu? Kan aku emang istri kamu! "
"Terserah kamu deh, Sayang... Aku mau ke studio dulu sebelum Paman mikir yang makin aneh-aneh! " Chandra melepas pelukan Yueji secara perlahan, lalu bergegas kabur keluar kamar sebelum Yueji sempat menahannya lagi.
Yueji melihat suaminya lari dengan senyuman penuh kemenangan.
"Hehehe, awas aja nanti malam yah, Suamiku... "
Sementara itu, jauh di puncak Paviliun Surgawi.
Awan hitam dan petir emas yang semalam mengguncang kota barat kini telah sirna, digantikan oleh sinar matahari pagi yang cerah. Romo, leluhur Sekte Alam Surgawi, masih duduk bersila di atas altar batu ukir.
Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar memecah keheningan paviliun. Dandi dan Dila berjalan cepat masuk ke dalam altar, lalu berlutut dengan khidmat di hadapan Romo.
"Hormat kami kepada Romo! " ucap Dandi dan Dila serentak sambil menundukkan kepala mereka hingga menyentuh lantai.
Romo perlahan membuka matanya. Pandangannya yang tajam menatap kedua muridnya itu.
"Dandi, Dila... Bagaimana hasil pemeriksaan kalian di kota barat semalam? Siapa pakar yang telah memicu pusaran energi dewa tersebut? "
Dandi menengadahkan kepalanya sedikit, dahinya berkeringat dingin.
"Lapor Romo... Kami telah menemukan lokasi pasti dari sumber fenomena alam tersebut. Tempat itu adalah sebuah galeri di dunia fana bernama Galeri Seni Teratai Hitam. "
Romo mengangguk pelan.
"Galeri seni? Jadi apakah disana ada seorang pakar kultivasi kuno yang sedang bertapa? "
Dila yang sudah tidak tahan lagi langsung mengangkat suaranya.
"Bukan, Romo! Sosok yang memicu fenomena itu hanyalah seorang pemuda biasa! Tapi... Tapi energi dewa di tubuhnya terlepas secara tidak sengaja hanya karena dia sedang bingung menentukan ide lukisan di kanvasnya! "
Mendengar hal itu, mata Romo seketika terbuka lebar. Aura keberadaannya yang tenang mendadak bergetar hebat.
"Apa yang kamu katakan, Dila?! Hanya karena bingung melukis, dia bisa menggerakkan petir emas surgawi?! Ini sungguh tidak masuk akal! Bahkan seorang kultivator tingkat Ranah Dewa pun tidak akan sanggup mengubah cuaca hanya dengan isi pikirannya! "
"Benar, Romo! " sambung Dandi dengan suara bergetar. "Bukan hanya itu... Di samping pemuda tersebut, ada sosok Ratu Siluman Rubah Ekor Sembilan yang sangat legendaris. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Ratu Siluman itu bertingkah sangat manja dan memanggil pemuda itu dengan sebutan suami! "
Ruangan altar seketika hening. Romo berdiri dari posisi silanya secara perlahan. Raut wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi dengan keheranan dan ketakutan yang mendalam.
"Ratu Siluman Rubah... Tunduk pada seorang pemuda fana? " Romo mengelus jenggot putihnya yang panjang dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Dunia fana yang kita anggap minim energi ini... Ternyata menyimpan sosok dewa sejati yang sedang menyamar sebagai manusia biasa. Keberadaannya pasti untuk melatih kepekaan jiwanya di tengah masyarakat. "
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Romo? Apakah kita harus menyiapkan pasukan sekte untuk memberikan penghormatan? " tanya Dandi cemas.
Romo menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Jangan! Sekali-kali jangan pernah bertindak gegabah! Pakar setingkat beliau sengaja menyamar menjadi manusia biasa karena ingin hidup tenang. Jika kita membawa pasukan dan membuat kegaduhan di tempatnya, itu sama saja dengan memprovokasi kemarahannya! "
Romo berjalan mendekati Dandi dan Dila, lalu menyerahkan sebuah kotak kayu berukir emas.
"Dandi, Dila... Bawa hadiah berupa tanaman obat Kuno Ratusan Tahun ini. Kalian berdua pergilah ke Galeri Seni Teratai Hitam dengan menyamar sebagai pembeli lukisan biasa. Dekati beliau secara halus, jangan sampai menunjukkan identitas sekte kita jika beliau tidak bertanya! "
"Baik, Romo! Kami mengerti instruction Romo! " jawab Dandi dan Dila serentak sambil menerima kotak kayu tersebut.
Kembali ke Galeri Seni Teratai Hitam.
Hari semakin siang. Chandra sudah berada di dalam studionya, duduk tenang di depan kanvas besar yang masih kosong. Di tangannya, kuas lukis sudah teroles cat warna hitam dan merah.
"Oke, hari ini aku mau coba melukis nuansa pemandangan alam yang dipadukan sama sosok siluman yang cantik... " gumam Chandra pada dirinya sendiri.
Ketika ujung kuas Chandra menyentuh permukaan kanvas dan mulai membentuk goresan pertama, aura tak terlihat kembali berdesir halus di dalam ruangan studio tersebut.
Tiba-tiba, suara bel pintu depan galeri berbunyi.
Ting tong!
Kakek Lubis yang sedang mengelap meja di area pameran langsung berjalan menuju pintu depan dan membukanya.
Di luar pintu, tampak dua orang berpakaian rapi seperti kolektor seni kaya raya. Mereka tidak lain adalah Dandi dan Dila yang sedang menyamar.
"Selamat siang, Pak. Apakah ini benar Galeri Seni Teratai Hitam? " tanya Dandi dengan sopan sambil tersenyum ramah.
Kakek Lubis menatap kedua orang di hadapannya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum lebar.
"Ayoyoy! Benar sekali, Tuan dan Nyonya! Selamat datang di Galeri Seni Teratai Hitam! Mau cari lukisan seperti apa nih? Karyanya Chandra dijamin tidak ada tandingannya! "