**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - KABUT HITAM DI ATAS BUKIT
Asap putih akibat ledakan granat kejut mengepul tebal, menyengat hidung dan memicu batuk tertahan di tengah kepanikan yang mendadak melumpuhkan kamar tidur tua itu. Pendar cahaya senter berputar liar menembus debu yang berjatuhan dari langit-langit. Di sudut ruangan, Pak Joko terbatuk keras sambil memegang bahunya yang terluka, sementara titik merah sinar laser dari jendela belakang terus menyala terang, mengancam nyawa pria tua itu tanpa ampun.
Adrian tidak membuang waktu sedetik pun. Sebelum peluru pembunuh bayaran itu sempat lepas dari larasnya di luar sana, Adrian menerjang maju, mencengkeram kerah mantel Pak Joko dan membanting tubuh pria paruh baya itu ke balik dinding penyangga tempat lemari besar menempel.
BAM!
Sebutir timah panas menembus kaca jendela belakang dan menancap tepat di kayu tebal tempat kepala Pak Joko berada sedetik sebelumnya.
"Sektor belakang terbuka! Mereka melingkar dari sisi bukit!" teriak Bastian lewat saluran komunikasi internal, suaranya teredam oleh letusan senjata otomatis dari arah luar bangunan. Dua operator taktis Valois membalas tembakan secara terukur, menutupi sudut-sudut mati kamar yang kini mulai dipenuhi kepulan asap kelabu.
Aku merunduk rendah, merangkak mendekati posisi Pak Joko yang terduduk lemas dengan napas tersengal-sengal. Kulit wajahnya yang keriput dipenuhi peluh dan abu bangunan. Tangannya yang gemetar meraih pergelangan tanganku, mencengkeramnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Nona... dengar... dengar baik-baik," suara Pak Joko terputus-putus oleh batuk. Darah segar mengalir tipis dari sudut bibirnya. "Edward... Edward tidak mengkhianatimu. Surat itu... surat itu ditulis bukan untuk menjebakmu, melainkan sebagai peringatan bahwa ada orang terdekat di lingkaran Valois yang menjual informasi kita kepada dewan bayangan."
Jantungku berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Mataku membelalak menatap Pak Joko. "Apa maksudmu? Lingkaran siapa?"
Sebelum Pak Joko sempat menyebutkan nama yang meruncing di ujung lidahnya, suara derap sepatu bot berat terdengar menaiki tangga utama vila dengan kecepatan tinggi. Pintu kamar yang tadi setengah hancur kini ditendang dari luar hingga terlepas dari engselnya.
Dua orang pria berbadan tegap berpakaian taktis hitam tanpa lencana merangsek masuk, mengarahkan laras senapan serbu ke arah kami. Tanpa ragu, Bastian melepaskan dua tembakan cepat yang merobohkan kedua penyerang itu seketika ke lantai kayu yang kotor.
Namun, suara letusan itu belum sepenuhnya hilang ketika deru helikopter berbadan besar tiba-tiba terdengar berputar rendah tepat di atas atap vila, menciptakan angin badai buatan yang memecahkan sisa kaca jendela dan membuat seluruh bangunan tua itu bergetar hebat.
"Evakuasi sekarang! Vila ini dijadikan target sasaran pemboman!" perintah Adrian dengan suara bariton yang tidak bisa dibantah. Tanpa menunggu persetujuan, ia menyambar tubuh Pak Joko dengan satu tangan, sementara tangan kanannya menarikku agar bangkit berdiri.
Kami bergerak cepat menuruni koridor belakang menuju jalur evakuasi darurat yang terhubung langsung ke garasi bawah tanah. Di luar, sorot lampu helikopter tak dikenal menyapu halaman berumput liar, mencari target di tengah kabut Puncak yang semakin pekat.
Begitu kami mencapai kendaraan van utilitas yang terparkir di balik rimbunnya pohon pinus, Bastian langsung membuka pintu samping dan mendorong Pak Joko ke kursi belakang, diikuti oleh kedua operator taktis yang mengamankan perimeter luar. Adrian mendorongku masuk ke kursi penumpang depan, lalu melompat ke balik kemudi dengan kecepatan kilat. Mesin van langsung menderu ganas, memecah kegelapan malam menuruni jalanan berliku pegunungan.
Di dalam kabin yang temaram, suasana terasa begitu pekat oleh keheningan yang menegang. Pak Joko terbaring lemah di pangkuan kursi belakang, napasnya memburu tidak teratur.
Aku menoleh ke belakang, menatap wajah pria tua itu dengan rasa penasaran yang membakar dada. "Pak Joko, sebutkan namanya. Siapa orang di dalam lingkaran Valois yang berkhianat?"
Pak Joko membuka matanya perlahan. Pandangannya sayu, menembus kegelapan kabin sebelum akhirnya jatuh tepat ke arah Adrian yang sedang fokus mengemudikan mobil menembus kabut tebal. Jari tua Pak Joko terangkat pelan, menunjuk lurus ke arah cermin spion tengah—menunjuk tepat pada pantulan mata Adrian yang mendadak menyipit tajam.
"Dia... dia ada di dalam mobil ini..." bisik Pak Joko terbata-bata sebelum kepalanya terkulai lemas ke samping, kehilangan kesadaran seketika.
DEG.
Napas tertahan di kerongkonganku. Aku menoleh kaku ke arah Adrian di sebelahku. Pria itu tidak berkata apa-apa, namun cengkeraman tangannya pada kemudi mobil mengeras hingga buku-buku jarinya memutih sempurna di tengah keheningan malam yang mendadak berubah menjadi duri tajam.