NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.

di rumah langkah Ruby terhenti saat engsel pintu kamar  berbunyi pasrah di tengah malam yang sepi. Belum sempat ia menanggalkan sepatu, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

‎PLAK!

‎Rasa panas menjalar seketika. Ruby memegang pipinya yang berdenyut, tetap berdiri membisu tanpa niat membalas tatapan pria di depannya.

‎"Cukup, Ruby! Papa sudah muak dengan tingkah kamu!" bentak pria itu, napasnya memburu. "Setiap hari pulang larut malam, sengaja keluyuran cuma buat menghindari rumah. Kamu itu perempuan, mau jadi apa keluyuran jam segini, hah?"

‎Ruby hanya diam. Baginya, rumah ini sudah mati sejak kepergian ibunya hanya tersisa bentakan dan dinding-dinding dingin yang menyiksanya. Itu sebabnya ia selalu memilih menghabiskan waktu di luar, meski sekadar duduk sendirian hingga larut.

‎"Besok ikut Papa bertemu seseorang," lanjut sang papa, berusaha meredam emosinya yang masih memuncak. "Pakai pakaian yang sopan. Kita berangkat pagi-pagi karena perjalanannya lumayan jauh. Adik kamu juga ikut."

‎Tidak ada tanggapan. Ruby hanya mengangguk tipis lalu berjalan melangkah menuju kamarnya. Ia memang tak pernah mau berdebat, dan selama permintaan itu masih masuk akal, ia memilih menurut daripada memperpanjang drama.

‎Pintu kamar tertutup rapat, tapi suara langkah kaki sang papa yang tegas justru mendekat. Sebelum Ruby sempat mengunci pintu, ruangan itu kembali terbuka lebar. Papanya berdiri di ambang pintu, menatap Ruby yang sedang berdiri di depan kaca memandangi pipinya yang memerah.

‎"Papa belum selesai bicara, Ruby! Sikap kamu yang diam dan acuh seperti ini benar-benar bikin Papa hilang kesabaran!" tegas papanya dengan suara tertahan.

‎Ruby memejamkan mata sejenak, menahan gemuruh di dadanya. Perlahan ia membalikkan badan, menatap pria yang dulu begitu ia hormati.

‎"Terus Papa mau Ruby gimana?" suara Ruby terdengar amat dingin, tanpa nada. "Harus nangis? Atau harus berpura-pura kalau rumah ini masih hangat kayak dulu?"

‎"Kamu ini kenapa? Sejak ibu kamu  meninggal, kamu berubah total! Jadi pembangkang, dingin, dan nggak pernah betah di rumah!" bentak sang papa.

‎Ruby terkekeh sinis. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia tahan setengah mati. "Papa masih tanya kenapa? Rumah ini udah mati sejak mama nggak ada, Pa! Dan orang yang bikin rumah ini makin dingin itu Papa sendiri!"

‎"Ruby!"

‎"Papa selalu salahin Ruby atas segalanya," potong Ruby, menyuarakan sesak yang dipendamnya bertahun-tahun. "Papa cuma sibuk sama perasaan Papa sendiri. Papa lupa kalau Ruby juga kehilangan Mama. Tapi apa yang Papa lakuin? Papa cuma peduli sama Teressa! Apa pun yang Teressa mau selalu Papa turuti, sedangkan Ruby? Pulang telat sedikit saja langsung dapet tamparan!"

‎Dari arah koridor, suara langkah kaki santai terdengar. Teressa muncul sambil bersedekap dada, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu dengan senyum tipis yang meremehkan.

‎"Berisik, malam-malam gini masih saja bikin drama, Kak?" pancing Teressa santai. "Nggak usah bawa-bawa nama aku deh. Papa sayang sama aku ya karena aku nggak kayak Kakak yang sukanya keluyuran nggak jelas dan bikin malu keluarga."

‎Ruby menatap adiknya itu tajam. Teressa memang tidak pernah berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya. Sejak kecil, Teressa selalu menganggap Ruby sebagai saingan untuk merebut perhatian sang papa.

‎"Kamu nggak usah ikut campur, Teressa," ucap sang papa, meski nadanya jauh lebih lembut dibanding saat berbicara pada Ruby.

‎"Aku cuma ngomong kenyataan, Pa," sahut Teressa manja sambil mendekati papanya dan merangkul lengan pria itu.

‎"Lagian Kak Ruby aja yang baperan. Kalau emang nggak suka di rumah ya udah, mending pergi sekalian, nggak usah pulang. Lagian nggak ada yang nungguin Kakak juga di sini."

‎Ruby menatap pemandangan di depannya—sang papa yang diam saja saat Teressa memojokkannya, persis seperti hari-hari lalu. Perlakuan pilih kasih itu terpampang makin jelas.

‎Ruby tersenyum miris, lalu melangkah mundur. "Lihat, kan? Papa bahkan nggak sedikit pun ngebela Ruby saat adik sendiri terang-terangan ngusir Ruby."

‎Sang papa menghela napas berat, tampak sejenak merasa bersalah, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui.

‎"Cukup... Besok pagi jam tujuh kita berangkat, Jangan bikin Papa nunggu."

‎Tanpa kata lagi, sang papa berbalik pergi merangkul Teressa keluar dari kamar.

‎Brak!

‎Ruby menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, membiarkan air mata yang ditahannya akhirnya jatuh menembus dinginnya malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!