Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue Cantik?
"Kayaknya gue bisa bantu lu buat liat Ranaya," ucap Arka membuat Ranaya dan Agatha menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Caranya?" tanya keduanya serentak.
Arka tampak sedikit ragu. Ia menatap Ranaya dan Agatha secara bergantian. "Gue enggak tau ini masih bisa gue lakuin atau enggak. Tapi kalau kalian mau coba, gue enggak apa-apa."
"Gue mau," jawab Agatha tanpa ragu, tanpa bertanya dulu cara apa yang Arka maksud.
Arka kini menatap Ranaya. Menunggu jawaban.
"Lu enggak mau macem-macem, kan?" Kedua mata Ranaya menyipit, menatap Arka penuh curiga.
"Enggaklah, gue kan enggak mesum kayak lu!" jawab Arka sedikit kesal. Hal itu membuat Agatha menatap Arka dengan wajah penuh tanda tanya.
"Maksudnya?" tanya Agatha.
Ranaya melotot, jangan sampai Arka membocorkan hal memalukan itu pada Agatha. Bisa-bisanya Agatha malah akan ikut mengejeknya dan melabelinya sebagai gadis mesum!
"Enggak apa-apa." Arka menarik napas dalam-dalam. "Jadi caranya, gue akan pegang tangan Ranaya dan lu secara bersamaan, Ranaya juga akan pegang tangan lu nanti. Gue akan jadi jembatan agar energi Ranaya sampai ke lu juga. Gimana?"
"Gitu doang?" tanya Ranaya sedikit meragukan.
"Iya," jawab Arka singkat padat dan jelas.
Lalu detik berikutnya, Ranaya mengulurkan tangan putih pucatnya ke arah Arka. "Jangan kenceng-kenceng pegangnya!"
Arka tak membalas. Ia meraih tangan Ranaya pelan. Dingin, itulah yang Arka rasakan saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Ranaya.
Ranaya meraih tangan Agatha, meskipun sentuhan tidak terasa dan hanya memberikan sensasi dingin pada tangan gadis itu.
"Permisi, ya," ucap Arka terdengar begitu sopan sebelum memegang tangan Agatha, membuat Ranaya memutar bola mata malas.
"Iya enggak apa-apa," jawab Agatha. Sekarang dia yang merasa canggung.
"Giliran ke Agatha lu sopan gitu, ya!" Ranaya protes tak terima.
Arka lagi-lagi tak menggubris. Ia menyentuh tangan Agatha pelan, sembari menutup mata. Membuat Agatha dan Ranaya ikut menutup mata juga. Mengira itu adalah bagian dari ritual ala-ala yang akan mereka lakukan.
"Silakan, gue bersedia jadi perantara lu untuk sementara waktu," gumam Arka, lalu ia membuka matanya secara perlahan.
"Kenapa kalian berdua tutup mata?" tanya Arka kebingungan.
Ranaya dan Agatha membuka mata secara bersamaan dan detik itu juga Agatha hampir loncat dan menarik tangannya dari genggaman Arka dan Ranaya saking kagetnya melihat Ranaya benar-benar duduk di sampingnya dengan gaun merah marun, persis seperti terakhir kali mereka bersama.
"Nay?" Agatha menatap Ranaya tak percaya. "Nay, gue liat lu! Gue bisa liat lu!!"
Ranaya hendak melepaskan tangannya dari Arka, bermaksud untuk memeluk Agatha, tapi Arka menahan tangan Ranaya.
"Jangan." Arka menggeleng.
Ranaya dan Agatha hanya saling menatap sembari mengeratkan pegangan tangan mereka sebagai ganti dari pelukan.
"Gue masih cantik kan, Tha?" tanya Ranaya di tengah-tengah situasi haru itu.
Agatha mengangguk. "Lu tetap cantik, Nay, selalu cantik."
Ranaya cemberut. "Lu pasti bohong kan? Masa lu enggak liat sih muka gue pucet gini?" protes Ranaya.
Agatha tersenyum dan tertawa kecil. "Pucat dikit kok, tapi tetap cantik."
"Kalau rambut gue? Masih bagus enggak?" tanya Ranaya, seolah-olah itulah hal penting yang harus ia tanyakan terlebih dulu.
"Jujur agak lepek dikit sih, Nay. Tapi masih oke, kok."
Arka yang mendengar percakapan tidak bermutu itu hanya bisa menghela napas pelan. Mau komen pun tidak ada tenaga untuk beradu debat dengan Ranaya. Jadi lebih baik diam.
"Baju gue? Keren kan, enggak kayak setan murahan?"
Agatha mengangguk setuju. "Lu pasti yang tercantik dan terkeren kan?"
"Jelas, siapa dulu?"
"This is Ranaya cantik jelita mempesona!" ucap keduanya bersamaan lalu tertawa bangga atas kekompakan mereka yang masih sama.
"Permisi, maaf mengganggu," ucap seorang pegawai sembari membuka pintu ruangan dan membawa sebuah nampan yang berisi makanan yang sudah Agatha pesan. Pengawai itu diikuti oleh dua pengawai lain di belakangnya.
Spontan, Arka, Ranaya dan Agatha melepaskan genggaman tangan mereka dan detik berikutnya darah merah segar mengalir dari kedua lubang hidung Arka.
"Lu enggak apa-apa?"
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️