NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: tamat
Genre:Chicklit / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sudah seminggu berlalu sejak peristiwa mencekam itu.

Kondisi kesehatan Dayang berangsur pulih dengan sangat pesat.

Pendarahan dalamnya telah sembuh total, dan rasa nyeri pada kakinya yang digips kini jauh berkurang. Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba—dokter resmi memperbolehkan Dayang untuk pulang.

Rimba dengan telaten mendorong kursi roda Dayang menyusuri koridor rumah sakit menuju area parkir VVIP.

Di belakang mereka, Bintang dan Bang Jaka berjalan mengekor dengan senyum lega mengembang di wajah masing-masing.

Setibanya di samping mobil mewah miliknya, Rimba mengunci roda kursi roda.

Dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan, ia membopong tubuh mungil Dayang dalam dekapannya, menyangga kakinya yang berbalut gips agar tak terguncang, lalu memasukkan dan mendudukkan wanita itu di kursi depan penumpang.

Rimba memasangkan sabuk pengaman untuk Dayang, lalu menatap mata tunangannya itu dengan senyum hangat.

"Mulai sekarang, kita pulang ke apartemenku ya," ucap Rimba lembut seraya mengusap pelan pipi Dayang.

Dayang sempat tertegun, lalu menatap Rimba dengan raut bingung.

"Tapi, barang-barangku dan Bintang di rumah kontrakan lama bagaimana, Rim?"

Rimba terkekeh pelan, menutup pintu mobil perlahan sebelum berputar menuju kursi pengemudi.

Setelah duduk di balik kemudi, ia menoleh kembali ke arah Dayang yang masih menanti jawaban.

"Sudah dibawa Dio," sahut Rimba menenangkan.

"Semua pakaian, dokumen penting, dan barang-barang kenangan kamu sama Bintang sudah dipindahkan Dio ke apartemen sejak dua hari lalu. Rumah lama kamu kurang aman, Dayang. Aku ndak mau ada celah sekecil apa pun yang bisa membahayakan kamu lagi."

Bang Jaka yang duduk di kursi belakang bersama Bintang ikut menepuk bahu Rimba pelan.

"Iya, Nduk. Nurut sama Rimba ya. Bang Jaka juga setuju kalau kamu sama Bintang tinggal di tempat yang lebih aman."

Dayang menghela napas lega, rasa hangat berdesir di dadanya melihat betapa pria yang sangat dicintainya itu selalu memikirkan keselamatan dan kenyamanan dirinya serta adiknya hingga ke detail terkecil.

"Terima kasih ya, Mas Rimba." bisik Dayang tulus.

Rimba mengangguk mantap, menggenggam jemari Dayang sejenak sebelum menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah sakit menuju kediamannya.

Setibanya di apartemen mewah Rimba, mata Dayang dan Bintang membelalak takjub.

Kamar baru yang disiapkan khusus untuk proses pemulihan Dayang ternyata sudah dihias begitu cantik dan hangat—penuh dengan bunga-bunga segar favorit Dayang serta sudut khusus yang nyaman untuk memudahkannya bergerak saat menggunakan kruk.

Rimba membopong Dayang dari kursi roda lalu merebahkannya perlahan di atas tempat tidur yang empuk.

Belum sempat mereka menikmati suasana tenang apartemen itu, bel pintu mendadak berbunyi.

Bintang berlari membukakan pintu. Suasana seketika mencair saat sosok Jamal—pemuda setia yang selama ini dipercaya menjaga dan mengurus lapak ikan Dayang di pasar—masuk dengan raut wajah sumringah namun tetap sopan.

"Assalamu'alaikum, Mbak Dayang! Mas Rimba, Bang Jaka." sapa Jamal seraya melangkah mendekati ranjang.

"Wa'alaikumussalam. Eh, Jamal, masuk, Mal," sahut Dayang dengan senyum mengembang.

Jamal merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Dayang.

"Mbak, ini hasil penjualan dan keuntungan lapak selama Mbak sakit seminggu ini," ujar Jamal tulus.

"Semua pembukuan dan setoran pelelangan sudah bersih, Mbak."

Dayang menerima amplop itu dengan rasa haru. Ia membuka amplop tersebut, mengambil beberapa lembar uang kertas pecahan besar untuk kebutuhannya, lalu tanpa ragu menyodorkan sisa lembaran uang yang masih sangat tebal itu kembali kepada Jamal.

Jamal terperanjat, matanya membelalak mendapati tumpukan uang di tangannya.

"Mbak, ini kebanyakan! Tidak segini jatah potonganku, Mbak!" tolak Jamal panik.

Dayang menggelengkan kepala pelan seraya tersenyum hangat.

"Nggak, Mal. Itu memang buat kamu. Ini juga rezeki buat pekerja kamu yang sudah setia membantuku dan menjaga lapak selama aku di rumah sakit. Kamu sudah banyak berkorban waktu dan tenaga."

Jamal menatap uang di tangannya dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka ketulusan hati juragannya tetap tak berubah meski kini sudah bertunangan dengan seorang CEO kaya raya.

Bang Jaka dan Rimba yang menyaksikan momen itu saling bertatap mata.

Rimba menepuk bahu Jamal pelan dengan raut bangga, sementara Bang Jaka tersenyum lebar melihat kebaikan hati Dayang yang selalu mengutamakan orang-orang kecil di sekitarnya.

Jamal menyapu air mata di sudut matanya dengan ujung lengan baju, lalu menggenggam erat uang tersebut dengan kedua tangannya yang bergetar.

"Maturnuwun sanget ya, Mbak Dayang. Semoga kebaikan Mbak dibalas melimpah oleh Allah," bisik Jamal penuh rasa syukur yang mendalam.

Ia lalu teringat sesuatu dan menatap Dayang serta Rimba bergantian.

"Oh iya Mbak, Mas Rimba. Saya juga menyampaikan salam dari teman-teman pedagang di pasar dan pelelangan ikan. Waktu dengar Mbak Dayang sudah boleh pulang, semuanya pada nangis terharu. Mereka semua mendoakan Mbak Dayang cepat sembuh total dan mendoakan hubungan Mbak sama Mas Rimba lancar sampai pelaminan."

Mendengar salam dan doa tulus dari para pedagang yang selama ini berjuang bersamanya, dada Dayang terasa hangat membuncah.

Air mata kebahagiaan menggenang manis di pelupuk matanya.

"Titip salam balik buat teman-teman di pasar ya, Mal," sahut Dayang dengan senyum tulus.

"Bilang sama mereka, sebentar lagi kalau kakiku sudah sembuh, aku bakal main ke pasar lagi."

"Pasti, Mbak! Nanti saya sampaikan," jawab Jamal bersemangat.

Rimba yang berdiri di sisi ranjang mengusap lembut bahu Dayang, lalu menatap Jamal mantap.

"Terima kasih ya, Jamal. Sudah menjaga lapak Dayang dengan sangat jujur dan amanah. Nanti untuk urusan pengembangan pasar dan pelelangan ikan, kamu dan Bang Jaka yang akan jadi perwakilan utama dari pihak pedagang untuk diskusi langsung sama tim saya."

Jamal terperanjat kegirangan, tak menyangka sang CEO memberi kepercayaan sebesar itu padanya.

Bang Jaka pun tertawa bangga sambil menepuk-nepuk punggung Jamal hingga pemuda itu tersenyum lebar.

Kehangatan dan kedamaian kini benar-benar melingkupi hidup mereka.

Setelah Jamal berpamitan dengan raut wajah penuh sukacita, Bang Jaka pun mengeliat sembari mengusap belakang lehernya.

Pria itu tersenyum melihat Dayang yang tampak jauh lebih tenang dan segar di atas ranjang empuknya.

"Yo wis, Nduk, Rim. Karena Dayang sudah aman dan Jamal juga sudah lapor, Bang Jaka pamit dulu ya. Mau balik ke pelelangan ikan sebentar buat beres-beres, sekalian nengok lapak pasar," ujar Bang Jaka ramah.

"Lho, Bang Jaka ndak nginep di sini saja?" tanya Dayang menatap sang kakak angkatnya itu.

Bang Jaka tertawa pelan seraya mengibas-ngibaskan tangannya.

"Aduh, Nduk, rumah segini bagusnya nanti malah kotor kalau Bang Jaka yang nempatin. Lagi pula di kontrakan masih ada barang-barang Bang Jaka.

Bintang aja yang nemenin kamu di sini."

"Bang Jaka jangan sungkan," timpal Rimba tegas namun santai.

"Kapan pun Bang Jaka mau main atau menginap, pintu apartemen ini selalu terbuka."

"Siap, Pak CEO! Matur nuwun," seloroh Bang Jaka sambil terkekeh, lalu menepuk bahu Bintang.

"Tang, jaga Mbakmu baik-baik ya."

Setelah Bang Jaka keluar, suasana apartemen menjadi jauh lebih tenang.

Bintang yang penasaran mulai berkeliling menjelajahi kamar barunya yang persis berada di sebelah kamar Dayang, meninggalkan Rimba dan Dayang berdua di dalam kamar utama.

Rimba melangkah mendekati tempat tidur, mendudukkan dirinya di tepi matras persis di samping Dayang.

Ia meraih jemari wanita itu, menggenggamnya hangat seraya menatap wajah mungil Dayang yang kini dihiasi rona merah.

"Bagaimana rasanya? Lebih nyaman di sini kan dibanding rumah sakit?" bisik Rimba lembut, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan Dayang.

Dayang mengangguk pelan, mengulas senyum manis.

"Jauh lebih nyaman, Mas. Kasurnya empuk banget, sampai aku takut bikin kotor."

"Hush, ngomong apa toh," potong Rimba terkekeh pelan.

Ia lalu mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Dayang dengan sorot mata yang penuh kehangatan.

"Mulai hari ini, kamu tidak perlu cemas lagi soal apa pun. Nanti sore tim dokter fisioterapi pribadi akan datang ke sini buat jadwal latihan ringan kakimu."

Mendengar kata 'fisioterapi', Dayang sempat agak tegang. Namun genggaman erat Rimba menyalurkan keberanian yang luar biasa ke dalam dadanya.

"Nanti Mas Rimba nemenin, kan?" tanya Dayang polos dengan mata berbinar penuh harap.

Rimba tersenyum tipis, lalu mendaratkan kecupan lembut di kening Dayang cukup lama.

"Pasti. Mas ndak akan kemana-mana. Mas akan selalu ada di samping kamu, Dayang."

Rimba memiringkan posisinya, menangkup lembut kedua pipi Dayang dengan telapak tangannya yang hangat.

Sorot matanya dipenuhi kasih sayang yang amat dalam, mengikis habis sisa-sisa trauma dan duka yang pernah menghampiri perjalanan cinta mereka.

Perlahan, Rimba mendekatkan bibirnya ke bibir Dayang.

Ia menciumnya dengan penuh kelembutan, sebuah ciuman yang sarat akan janji, rasa syukur, dan kesetiaan yang tak lagi terhalang oleh kebohongan maupun penyamaran.

Dayang memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pelan kemeja di dada Rimba.

Desir hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, menyalurkan rasa aman yang luar biasa.

Tidak ada lagi rasa takut akan kehilangan, tak ada lagi keraguan—hanya ada ketulusan dua insan yang akhirnya menyatu dalam ikatan cinta yang utuh.

Ketika Rimba secara perlahan menyudahi ciuman lembut itu, dahi mereka saling menempel.

Napas mereka terengah pelan dalam jarak yang begitu dekat.

Rimba mengulas senyum paling manis yang pernah Dayang lihat, lalu mengusap sisa air mata kebahagiaan di sudut mata tunangannya itu.

"Terima kasih sudah mau menerima aku kembali, Dayang." bisik Rimba dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan hangat.

"Aku janji, seumur hidupku, cuma ada kamu di hatiku."

Dayang tersenyum malu-malu dengan pipi yang kian memerah merona, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Rimba, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang hanya untuknya.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
😄
Muft Smoker
kebahagiaan dayang udh lengkap yx,,
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,

bahagia selalu dayang dan kluarga ,,


kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak pho ,, ☺️☺️☺️
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!