NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Setelah pagi hari melangsungkan ijab kabul di kediaman Kara, malamnya mereka langsung menggelar resepsi mewah di sebuah hotel. Acara tersebut dihadiri oleh ratusan pasang mata, mulai dari kerabat dekat, sahabat, hingga jajaran kolega bisnis kelas atas Erlangga.

Kini, kemeriahan pesta pernikahan itu telah usai, menyisakan kesunyian di dalam mobil mewah yang membawa mereka pulang.

Erlangga melirik ke samping. Di sana, Kara tampak tertidur pulas dengan kepala yang menyandar lesu pada kaca jendela mobil. Di tubuhnya masih melekat gaun pengantin yang ia kenakan tadi, dan wajahnya terlihat sangat lelah.

Erlangga langsung menghela nafas pendek. Ia mengingat kembali bagaimana orang tuanya tadi membujuk mereka untuk menginap di hotel saja. Namun, Kara dengan keras kepalanya langsung menolak. Tak ingin berdebat di depan orang tua, Erlangga akhirnya mengiyakan permintaan Kara.

Pria itu melonggarkan ikatan dasinya yang terasa kian mencekik, lalu bersandar pada kursi mobil sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Tuan Muda," suara Pak Basuki, sopir pribadi Erlangga itu langsung memecah keheningan malam, pria paruh baya itu melirik ragu dari kaca spion tengah. "Apakah Nona Kara akan Anda antarkan ke rumahnya sendiri?" tanyanya, mengingat sebelum tertidur tadi, Kara sempat merengek dan bersikeras ingin pulang ke rumah orang tuanya.

Erlangga langsung membuang muka ke arah jendela, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Kita pulang ke rumahku."

"Tapi Tuan... Nona Kara tadi..." Pak Basuki langsung menggantungkan kalimatnya saat melihat rahang Erlangga yang tiba-tiba mengeras.

"Turuti saja," jawab Erlangga tanpa menoleh.

Pak Basuki langsung mengangguk cepat. "Baik, Tuan Muda."

Mobil pun terus melaju membelah jalanan malam, membawa sepasang pengantin yang baru saja sah itu untuk menuju kediaman pribadi milik Erlangga.

Tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar setengah jam perjalanan, mobil itu sudah memasuki halaman rumah mewah di kawasan sepi penduduk.

Begitu mobil itu berhenti sempurna, Erlangga dengan gerakan cepat langsung membuka pintu mobil. Ia dengan hati-hati menyelipkan lengannya di bawah tubuh Kara. Lalu menggendong wanita itu dalam dekapannya.

Begitu sampai di ruang depan, Erlangga langsung disambut oleh dua pelayannya.

"Selamat malam, Tuan Muda," sapa mereka sambil membungkuk hormat.

Erlangga menghentikan langkahnya sejenak. Lalu, kepalanya menoleh ke arah kepala pelayan. "Kamar utama sudah kamu bersihkan?" tanyanya dengan nada serendah mungkin, agar tidak membangunkan Kara.

"Seperti yang Anda minta semalam, Tuan. Kamar utama sudah siap digunakan," jawab kepala pelayan tak kalah pelannya, ia tersenyum sopan sambil menundukkan kepalanya.

Erlangga hanya mengangguk samar, lalu melangkah lebar menuju lift, untuk membawa Kara naik ke lantai paling atas, dimana tempat kamar utama itu berada.

Sesampainya di dalam kamar, Erlangga langsung melangkah mendekati ranjang. Ia membungkukkan tubuhnya, lalu menurunkan tubuh Kara di atas kasur dengan gerakan hati-hati. Namun, baru saja punggungnya menyentuh seprai, kelopak mata wanita itu langsung terbuka lebar. Sorot matanya yang semula redup seketika berubah menjadi tajam dan penuh kesadaran.

Erlangga langsung tersentak kaget, tubuhnya sempat menegang selama beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali menegakkan tubuhnya.

"Gue udah bilang, kan! Anterin gue pulang, Erlangga!" sentak Kara. Ia langsung mendudukkan tubuhnya dengan kasar.

Erlangga langsung mengusap wajahnya, mencoba meredam emosinya sendiri. "Besok pagi gue antar lo pulang."

"Gue maunya sekarang ya sekarang! Apa susahnya sih?!" teriak Kara sambil menatap Erlangga dengan kilatan amarah yang menyala-nyala.

"Sekarang sudah jam satu malam, Kara. Gue lelah!" sahut Erlangga dengan nada yang mulai meninggi, urat di lehernya tampak menegang menahan sabar.

Kara terkekeh sinis. Dengan gerakan kasar ia langsung menurunkan kakinya dari ranjang.

"Lo nggak mau antar gue pulang, kan? Oke, nggak masalah. Gue bisa pulang sendiri!" Ucapnya ketus sambil berdiri tegak, ia menatap Erlangga dengan pandangan menantang sebelum akhirnya melangkah lebar menuju pintu.

Namun, saat telapak tangannya mencengkeram gagang pintu dan mencoba untuk membukanya, pintu itu tak terbuka sama sekali. Kara yang menyadari bahwa Erlangga telah mengunci pintunya langsung berbalik, ia menatap Erlangga dengan nafas yang memburu.

"Lo kunci pintunya, ya?!"

Erlangga tak menjawab. Pria itu justru menunjukkan ketenangan yang memuakkan bagi Kara. Dengan gerakan santai, ia melepas jas hitamnya, dan menyisakan kemeja putih yang melekat di tubuhnya. Lalu ia melemparkan jas hitam itu ke arah sofa. Setelah itu, dengan gerakan perlahan ia juga melepaskan dasi serta jam tangannya.

Melihat respons Erlangga yang acuh, Kara kembali melangkah mendekati pria itu.

"Erlangga, jawab! Kenapa lo kunci pintunya?!"

Erlangga tetap tak bersuara. Ia justru melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tak ingin diabaikan begitu saja, Kara langsung berlari kecil mengikuti Erlangga. Wanita itu kini berdiri tegak di ambang pintu kamar mandi dengan tangan yang bersedekap di depan dada.

"Erlangga! Lo budek, ya?!"

Erlangga yang sedang membungkuk menyalakan keran air untuk mengisi bathtub itu langsung menolehkan kepalanya. "Gue mau mandi. Lo mau ikut?"

"Ya udah mandi aja! Gue tungguin lo di sini sampai lo buka pintunya itu!" tantang Kara.

Erlangga sama sekali tidak terusik oleh ancaman itu. Dengan gerakan perlahan, ia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Begitu kancing kemejanya sudah terlepas sempurna, ia langsung menanggalkan kemejanya begitu saja ke lantai.

Kara yang melihat Erlangga kini sudah bertelanjang dada di hadapannya langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya sempat terbelalak saat menatap dada bidang dan lekuk tubuh pria itu.

"Nggak mungkin kan dia senekat itu telanjang di depan gue?" batin Kara yang menjerit panik.

Dan benar saja, saat tangan Erlangga mulai bergerak turun ke pinggang untuk melepaskan sabuk celananya, nyali Kara langsung menciut. Dengan wajah yang mendadak merah padam, Kara langsung menarik pintu kamar mandi dan menutupnya rapat-rapat.

Braakk!"

"Dasar orang gila!" umpat Kara dari luar sambil menyandarkan punggungnya ke pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!