“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
•••
Jio masuk ke dalam kamar gadis Uchiyama tersebut, menuju kamar mandi.
Membasuh wajahnya di wastafel dengan air mengalir, Jio sadar akan desiran aneh pada tubuhnya saat menatap Giselle dari dekat tadi, Jio menggeleng berusaha mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya.
Menatap pantulan dirinya pada cermin di depan sana.
'Ingat Jio, kau di sini untuk mengalahkan permainannya, jangan terjebak dalam tipu muslihat gadis itu.'
Jio kembali ke ruang tamu dimana Giselle berada.
"Duduklah, ayo makan."
Mereka makan dalam diam, suasana menjadi canggung antara mereka.
Giselle selalu mengalihkan atensinya kemana saja asal tak melihat ke arah Jio berada, Jio sendiri pun sama. Dia memang menyukai ketenangan tapi bukan situasi canggung seperti ini.
Hingga Giselle membuka suara.
"Kita, berangkat setelah selesai makan. Biar aku yang mengemudi, kau pasti masih lelah kan?"
"Tidak aku baik-baik saja."
"Kau meragukan kemampuan mengemudiku?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tenang saja aku tidak akan ugal-ugalan, lagipula aku punya kartu izin mengemudi, dan aku bisa membaca peta."
"Tapi itu perlu diwaspadai."
Giselle berdecak kemudian tertawa untuk menghilangkan rasa canggungnya, dia tidak boleh terlihat gugup di depan Jio.
•••
Mobil yang Jio kendarai setengah jam lalu berhenti di depan sebuah gedung nan tinggi menjulang, tampak mencolok ditambah papan nama besar bertuliskan MS Entertainment di badan gedung.
Jio memarkirkan mobilnya, ia turun dan langsung merasakan sebuah tangan mendekap lengan kirinya.
Meski Jio sudah berusaha melepas tangan Giselle, namun gadis itu tetap bersikeras kembali melilit lengannya di sepanjang jalan seraya menyapa semua orang yang ia lihat.
Hingga sampai di ruang studio tempat Giselle akan melakukan pemotretan.
"Hai guys..." Sapanya pada empat gadis yang sudah tiba terlebih dahulu.
"Ehh... Ryn, Wilona, ayo kenalkan ini kekasihku namanya–“
"Jio?"
"Ryn?"
"Kalian saling kenal?"
Ryn mengangguk, "Iya Giselle... kami pernah ada dalam satu kelompok belajar tahun lalu, bukan begitu Jio?"
"Iya benar." Jio tersenyum menyetujui ucapan Ryn.
Giselle mengerutkan kening melihat senyuman itu, merasa terganggu. Bagaimana bisa pria ini tersenyum begitu ramah pada gadis lain, tapi ketika bicara padanya ia selalu ketus.
Karina juga Yesha saling menyenggol lengan satu sama lain, mengerti jika api kecemburuan Giselle mulai terbakar. Sedang Wilona yang tak tahu apa-apa hanya tersenyum memandang mereka bergantian.
"Aku tak menyangka kau berpacaran dengan Giselle, setahuku kau anti dengan yang namanya pacaran."
"Tapi faktanya dia kekasihku sekarang." Sahut Giselle sewot.
Ryn mengangguk, terkekeh geli.
"Kau tidak bergabung di komunitas belajar lagi?" Tanya Ryn pada Jio lagi.
"Aku agak sibuk, jadi tidak bisa bergabung."
"Bukan sibuk, lebih tepatnya kau sudah sangat pintar jadi tidak perlu ikut dalam kelompok belajar lagi."
Jio terkekeh hal itu tak luput dari perhatian Giselle membuat gadis itu semakin kesal.
"Oh iya,, Yoshi juga tak pernah datang. Kemana dia?"
Kali ini Karina yang dibuat terkejut, 'Wait?, jadi Ryn juga mengenal Yoshi?'
"Dia juga sibuk belajar mengelola bisnis di perusahaan cabang milik Ayahnya, jadi ya begitulah."
"Kalian memang calon orang penting, jadi semoga sukses."
Jio lagi-lagi tersenyum seraya menggumam terima kasih pada Ryn, sudah cukup itu membuat Giselle tak tahan lagi.
"Sayang, ayo aku masih harus dirias dan mengganti pakaianku."
Giselle menarik lengan Jio masuk ke dalam ruang rias.
Ryn terkekeh, dia mengerti amat sangat mengerti.
•••
Selesai merias Giselle sang makeup artist itu keluar meninggalkannya bersama seorang pria yang tadi Giselle kenalkan sebagai kekasihnya tersebut setelah menyerahkan pakaian yang harus Giselle kenakan.
Jio duduk dengan bersandar santai pada sofa sebelum tersentak kaget ketika Giselle yang berada beberapa langkah di depannya menarik lepas baju yang sebelumnya gadis itu kenakan.
Menampakkan bra yang menutupi tubuh atasnya, mencetak jelas lekuk tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Kau tidak lihat aku sedang ganti baju?"
"Tidak bisakah mengganti baju di tempat lain? Harus sekali di hadapanku?"
Giselle kembali mendekat, "Kau tak bisa menahannya? Hm…?" Ucapnya berbisik menggoda.
Jio menatap mata gadis itu.
"Kau benar-benar kehilangan akal sehatmu."
Giselle menyeringai, "Lihat... kau hanya bersikap sinis padaku, tapi kau bisa seramah itu pada gadis lain. Apa aku terlihat serendah itu?"
Jio tak menjawab, dia melihat kekesalan di mata Giselle tapi tak seperti biasa ada getaran lain di sana. Bisakah Jio menyebutnya cemburu.
Giselle berbalik mengambil pakaian yang harus ia kenakan, kemudian berjalan keluar melewati Jio.
Jio memejamkan mata, menghela nafas.
"Ada apa lagi dengannya?"
•••
Pemotretan tersebut berjalan lancar seperti biasa, kelima gadis itu kini tengah melihat-lihat hasil jepretan sang fotografer.
"Astaga lihatlah... bukankah aku terlihat seksi menggunakan baju ini. Aku menyukainya, setelah resmi dirilis aku harus membelinya."
"Kau bisa membawa pulang baju ini jika suka Karina, ini juga berlaku untuk kalian." Ujar Wilona.
Wilona adalah putri dari pemilik brand baju yang tengah mereka kenakan, gadis itu seringkali mengundang Giselle, Karina, Ryn juga Yesha untuk menghadiri acara fashion yang diadakan oleh perusahaan Ibunya.
"She's my girl... tidak rugi aku berteman denganmu. Lain kali jika Ibumu meluncurkan design terbarunya jangan lupa hubungi kami."
"Apa aku pernah melupakan kalian Ryn?"
Ryn tertawa, "Tidak sih."
"Kita belum berswafoto, ayo lakukan. Untuk kenangan."
Giselle mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.
“Yesha benar, ayo berpose. Katakan Giselle cantik!"
Karina nyaris saja membeo kata yang diucapkan Giselle lalu memukul lengan gadis itu ketika tersadar.
"Memang kau saja yang cantik?!"
Kelima gadis itu tertawa.
"Iya, iya aku tahu."
Sebuah foto yang memperlihatkan kelima gadis cantik bak putri kerajaan telah diambil. Giselle menunjukkan hasilnya pada mereka.
"Wah.. Ini keluar dengan baik, Giselle kirimkan ini padaku." Ujar Wilona antusias.
"Kiriman pada kami juga," Sahut Ryn yang mendapat anggukan kepala dari Giselle.
"Sudah aku kirimkan, kalau begitu aku akan ganti baju lalu pulang. Kasihan Jio sudah menunggu dari tadi."
Giselle meninggalkan keempat gadis itu menuju ruang tempatnya dirias tadi, belum sempat tangannya mencapai gagang pintu seseorang telah lebih dulu menahan lengannya.
"Ryn, ada apa?"
"Kita perlu bicara."
"Katakan..."
"Jangan salah paham terhadapku."
"Apa maksudmu?"
"Jio. Aku sudah mengenalnya diawal semester, kami pernah belajar bersama. Aku menganggapnya sebagai teman tidak lebih begitu pula Jio, jadi jangan sampai kau salah paham terhadap kami."
"Ayolah Ryn... aku tidak berpikir seperti itu."
"Tapi kau terlihat sangat kesal saat Jio bicara padaku."
"Aku tidak–“
"Kau terlihat cemburu."
"Benarkah?"
Ryn terkekeh, "Aku belum pernah melihatmu begitu. Jaga Jio dengan hatimu, dia pria yang baik aku berani jamin."
"Tapi kau bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana? Kalau kau berpikir aku pernah menyukainya maka kau salah besar, kau tahu?"
Ryn tampak melirik sekitar.
"Aku menyukai Arsen." Bisik Ryn pelan.
Giselle terkejut, "Kakaknya Wilona? Astaga kau gila, dia sudah memiliki kekasih."
Raut wajah Ryn yang tadinya sumringah menjadi redup tergantikan raut sedihnya."
"Aku tahu. Karena itu rahasiakan ini dari siapapun termasuk Wilona ."
"Baiklah aku mengerti."
"Aku selalu percaya padamu. Ya sudah kalau begitu, temui kekasihmu aku mau pulang bye Giselle..."
Bertepatan dengan Ryn yang meninggalkan Giselle, pintu ruangan yang semula hendak Giselle masuki terbuka.
"Sudah selesai?"
Giselle mengangkat bahu, "Seperti yang kau lihat."
Berjalan masuk melewati Jio yang mengerutkan kening, ingat gadis itu masih marah padanya.
Giselle sama sekali tidak menyalahkan Ryn ataupun kesal terhadapnya, dia hanya tak terima atas sikap berbeda yang Jio tunjukkan. Kontras sekali.
"Dia membalasku?" Gumam Jio.
•••Vienbluu (annavienbluu)