NovelToon NovelToon
Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.

Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..

"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"

Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.

Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Adrian duduk di seberangnya, membaca laporan dari wilayah utara. Tapi Kayna tahu pria itu tidak benar-benar membaca. Matanya yang sesekali melirik ke arah Kayna membuktikan bahwa Duke Adrian masih dalam mode pengawasan, meski kini dengan intensitas yang berbeda.

"Kau tidak makan," ucap Adrian tanpa mengangkat kepalanya dari laporan.

"Aku sedang makan," balas Kayna, menggigit rotinya. "Aku hanya... berpikir."

"Tentang apa?"

"Tentang bagaimana aku sudah tiga hari tidak mencoba bunuh diri," jawab Kayna datar. "Ini sangat memalukan. Aku seperti pahlawan yang gagal dalam misi utamanya."

Adrian akhirnya mendongak, menatap Kayna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tidak harus terus mencoba, Kayna."

"Aku tahu," Kayna menatap cangkir tehnya. "Tapi kalau aku berhenti mencoba, lalu apa? Aku hanya akan duduk di sini, makan sarapan, dan... hidup? Itu sangat membosankan."

Adrian meletakkan laporannya, menatap Kayna dengan penuh perhatian. "Hidup tidak selalu membosankan, Kayna. Kadang-kadang, hidup juga bisa... menarik."

Kayna mengangkat alisnya. "Menarik? Seperti apa?"

"Seperti... menemukan hal-hal baru. Mencoba hal-hal baru. Bertemu orang-orang baru." Adrian tersenyum tipis. "Atau seperti belajar cara memasak tanpa membakar dapur."

Kayna tertawa kecil. "Aku tidak pernah memasak sebelumnya. Kayla von Ardent tidak pernah masuk ke dapur."

"Maka ini saat yang tepat untuk belajar," ucap Adrian, berdiri dari kursinya. "Setelah sarapan, aku akan membawamu ke dapur istana. Kita akan membuat kue."

Kayna menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya. "Kau... mau mengajariku membuat kue?"

"Ya," Adrian mengangguk. "Kecuali kau terlalu sibuk mencoba bunuh diri dengan tepung atau sesuatu."

Kayna tidak bisa menahan senyumnya. "Baiklah, Tuan Duke. Tapi kalau aku membakar dapur, itu salahmu."

***

Dapur istana adalah tempat yang besar, ramai, dan penuh dengan aroma yang membuat Kayna merasa... aneh. Ia tidak pernah berada di dapur sebelumnya. Di kehidupan pertamanya, ia tidak pernah diizinkan masuk ke dapur. Di kehidupan keduanya, Kayla von Ardent terlalu angkuh untuk turun ke dapur.

"Jadi," ucap Adrian, mengikat celemek di pinggangnya, celemek hitam yang terlihat sangat tidak cocok dengan seragam mewahnya. "Langkah pertama adalah mengukur tepung."

Kayna menatap tepung di hadapannya dengan tatapan curiga. "Ini... bubuk putih. Apakah ini bisa digunakan untuk bunuh diri?"

Adrian menghela napas. "Tidak, Kayna. Tepung tidak beracun. Kecuali kau menelannya dalam jumlah yang sangat banyak dan tersedak."

"Jadi aku bisa tersedak tepung?" Kayna mulai tertarik.

"TIDAK!" Adrian mencengkeram bahu Kayna dengan lembut tapi tegas. "Tidak ada bunuh diri di dapur. Kita di sini untuk membuat kue. Fokus."

Kayna cemberut, tapi ia mulai mengikuti instruksi Adrian. Ia mengukur tepung, menambahkan gula, memecahkan telur yang ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan.. ia memecahkan tiga telur sebelum berhasil mendapatkan satu yang utuh tanpa cangkang.

"Kau sangat buruk dalam hal ini," komentar Adrian, tapi nadanya tidak mengejek. Sebaliknya, ada nada geli di suaranya.

"Aku tidak pernah melakukannya sebelumnya," balas Kayna, membersihkan tepung dari wajahnya. "Di kehidupan pertamaku, aku tidak pernah diizinkan masuk ke dapur. Dan di kehidupan ini, Kayla terlalu sibuk menjadi jahat."

Adrian terdiam sejenak, lalu dengan lembut, ia mengambil tangan Kayna dan membantunya memecahkan telur keempat. "Kau tidak harus terus-menerus memikirkan kehidupan itu, Kayna. Kau di sini sekarang. Dan di sini, kau bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa kau lakukan sebelumnya."

Kayna menatap tangan Adrian yang memegang tangannya. Tangan yang hangat, yang kokoh, yang membantunya memecahkan telur tanpa menghakiminya.

"Terima kasih," bisik Kayna.

Adrian tersenyum. "Untuk apa?"

"Untuk... semuanya. Untuk tidak memaksaku menjadi Kayla. Untuk mengajariku membuat kue. Untuk... membuatku merasa bahwa hidup tidak selalu buruk."

Adrian menatap Kayna dengan tatapan yang dalam. Lalu, dengan gerakan yang lambat dan hati-hati, ia mengangkat tangannya dan menyeka tepung dari pipi Kayna.

"Kau tidak harus terus-menerus mencoba mati, Kayna," ucap Adrian pelan. "Kau bisa tinggal. Kau bisa belajar. Kau bisa... hidup."

Kayna menelan ludahnya. Kata-kata itu... kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang sangat ingin ia dengar, tapi juga sangat menakutkan.

"Dan kalau aku memutuskan untuk hidup," bisik Kayna, "apakah kau akan tetap di sini?"

Adrian tersenyum, senyum yang tulus dan hangat. "Aku akan selalu di sini, Kayna. Selama kau menginginkanku."

***

Sementara itu, di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis duduk di depan perapian, menatap api dengan tatapan penuh kebencian.

Marquis Ardent.

Di tangannya ada sebuah surat, surat dari mata-matanya yang mengawasi kediaman Duke Adrian. Surat itu berisi laporan tentang Kayna yang belajar membuat kue dengan Adrian, tentang bagaimana Kayna tertawa, tentang bagaimana Adrian menatap Kayna dengan tatapan yang lembut.

"Anak tidak berguna itu," geram Marquis Ardent, meremas surat itu hingga hancur. "Dia seharusnya mati. Dia seharusnya menghancurkan keluarga Ardent sampai ke akar-akarnya."

Di sudut ruangan, seorang pria berjubah hitam berdiri dengan tangan terlipat di dada. "Yang Mulia, apakah Anda ingin saya menangani masalah ini?"

Marquis Ardent menatap pria itu. "Kau yakin bisa membunuhnya tanpa ketahuan?"

"Sindikat kami sangat ahli dalam hal ini, Yang Mulia," balas pria itu dengan suara dingin. "Kami akan membuatnya terlihat seperti kecelakaan. Atau bunuh diri. Tidak ada yang akan mencurigai Anda."

Marquis Ardent tersenyum tipis. Senyum yang penuh dengan kebencian dan kekejaman. "Bagus. Lakukan. Dan pastikan dia menderita sebelum mati."

Pria berjubah hitam itu membungkuk. "Seperti yang Yang Mulia perintahkan."

***

Kembali ke dapur istana, Kayna dan Adrian sedang mencoba mengeluarkan kue dari oven. Kue itu... terlihat agak gosong di beberapa bagian, tapi setidaknya tidak terbakar sepenuhnya.

"Menurutmu bagaimana rasanya?" tanya Kayna, menatap kue itu dengan tatapan penuh harap.

Adrian memotong sepotong kecil, meniupnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya perlahan, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Bagaimana?" tanya Kayna, semakin cemas.

Adrian menelan, lalu tersenyum. "Rasanya... tidak terlalu buruk. Untuk percobaan pertama."

Kayna tersenyum lebar. "Benarkah? Coba aku rasakan!"

Ia memotong sepotong kue, meniupnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasanya... agak pahit karena gosong di beberapa bagian, dan teksturnya agak keras. Tapi bagi Kayna, itu adalah kue terbaik yang pernah ia rasakan.

"Enak!" seru Kayna, matanya berbinar. "Aku berhasil membuat kue!"

Adrian tertawa kecil. "Ya, kau berhasil. Tidak sempurna, tapi berhasil."

Mereka berdua berdiri di dapur, makan kue buatan mereka sendiri, dan untuk pertama kalinya, Kayna merasa bahwa hidup tidak selalu tentang mencari cara untuk mati.

Kadang-kadang, hidup juga tentang membuat kue yang agak gosong dengan seseorang yang membuatmu merasa bahwa hidup itu layak untuk dijalani.

***

Keesokan paginya, Kayna mengalami krisis eksistensial yang sangat serius.

Ia duduk di tepi dipan kecilnya, menatap tangannya sendiri. Tangannya tidak gemetar. Napasnya teratur. Dan yang paling mengerikan... ia merasa lapar.

Bukan, batin Kayna, mencengkeram rambutnya frustrasi.

Ini tidak boleh terjadi. Aku adalah Kayna, wanita yang dua minggu lalu mencoba mencekik dirinya sendiri dengan bantal bulu angsa. Aku tidak seharusnya bangun pagi dengan harapan ada roti panggang dan telur rebus!

Ini semua salah Adrian. Pria itu telah meracuni pikirannya dengan konsep "hidup yang layak dijalani" dan "kue yang agak gosong tapi dimakan bersama".

Pintu kamar terbuka. Adrian masuk, sudah mengenakan seragam militer lengkapnya. Wajahnya yang tampan terlihat sangat serius, tapi begitu matanya jatuh pada Kayna yang sedang mencengkeram rambutnya sendiri, ekspresi itu melunak.

"Kau baik-baik saja?" tanya Adrian, melangkah masuk. "Kepalamu sakit?"

"Aku sedang mengalami kemunduran karakter, Tuan Duke," keluh Kayna, melepaskan tangannya dari rambutnya. "Tadi pagi aku bangun dan menyadari bahwa aku tidak ingin mati. Ini sangat memalukan. Apa yang akan dikatakan dewa reinkarnasi? Mereka pasti mencabut status 'korban tragis'-ku dan menggantinya dengan 'penumpang gelap yang lupa turun'."

Adrian berusaha keras untuk tidak tersenyum, tapi ujung bibirnya tetap berkedut. "Aku pikir dewa reinkarnasi akan senang kau memutuskan untuk tinggal. Lagipula, kau belum selesai mengajarkan Rosa cara membuat kue."

"Itu bukan alasan yang valid untuk tetap hidup," balas Kayna, berdiri dan merapikan gaunnya. "Tapi aku akan mempertimbangkannya. Untuk sementara."

Adrian mendekat, lalu dengan hati-hati merapikan kerah gaun Kayna yang sedikit miring. Jemarinya yang hangat sengaja menyentuh kulit leher Kayna, tepat di atas perban yang kini sudah hampir sembuh.

"Aku harus menghadiri rapat dewan militer hari ini," ucap Adrian, suaranya kembali terdengar seperti seorang Duke yang sibuk. "Aku tidak bisa mengawasimu secara langsung. Tapi Kapten Roderick akan menempatkan empat pengawal di luar pintumu, dan Rosa tidak akan meninggalkan sisimu sedetik pun."

"Kau membuatku terdengar seperti tawanan perang," gumam Kayna.

"Kau adalah tawanan perangku," koreksi Adrian lembut, menatap mata Kayna dalam-dalam. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun termasuk dirimu sendiri menyakiti tawananku."

Kayna merasa wajahnya memanas. Sial. Dia terlalu tampan kalau bicara seperti itu. Ini tidak adil bagi kesehatan jantungku.

1
Luna
😣😣ikut tegang 😮😮😱😱😱😱
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Luna
nah gini kan enak sama sama kerja sama mau menghabisi pemberontak🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣 bahasa Jawa nya di bantu mamah alias di hancurin dalam. mulut trs di pindah🤣🤣🤣 muntah q
falea sezi
mending cari jalan buat kabur dr Duke. dripada mati bundir🤣
Wahyu Ningsih
mungkin dia terlalu lelah dgn dunia yg kejam
Wahyu Ningsih
sending banget ceweknya
Luna
coba kau cari kegiatan baru contoh belajar berperang berperang dan membasmi ayahmu sendiri,mungkin itu bisa membuat keputusasaan mu sedikit berkurang
Luna
kalo dibilang capek semua orang juga capek termasuk aku, apalagi capek hidup mau mati rasanya tapi ngebayangin dampaknya mikir dua kali gimana nasib orang yg kutinggalkan ,jika aku mati bunuh diri nambah dosa iya masuk surga juga enggak,yh dijalanin aja sih hidup sampai tuhan sendiri yg manggil aku.
Luna
diberi kesempatan hidup malah ingin mati terus 🤣🤣🤣🤣,
Luna
ngaku ajalah ,,,GK bakalan dieksekusi kok ,,,,mau bunuh diri tapi kalo dewa atau tuhan belum ngasih cap stempel lulus surga yg ada kau ditime travel ke dimensi 2 lain🤣🤣🤣, jangan ngeluh ah . coba kau pergi dari tempat itu berkeliling dunia dengan Rosa cari pengalaman hidup .
ita aja
shock pasti kayna..tdk sesuai ekspektasi
ita aja
cem mana kau kayna
..gagal terus🤣
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 balita katanya🤣🤣🤣🤣
Emalia
😄😄
Emalia
Lagi kk,up yang banyak 🤭🤭
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣mungkin karena berbeda jiwa,Duke Adrian mulai suka ,,,,,
ita aja
lagiii
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!