"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Detak Jantung Buah Hati
Waktu seakan melangkah lebih lembut dan indah sejak malam yang penuh cobaan itu berlalu. Musim berganti, dedaunan yang sempat gugur kini mulai tumbuh kembali menghijau menyapa sinar matahari yang makin hangat menyinari bumi. Di kediaman yang berdiri tenang di atas bukit itu, kedamaian kembali menyelimuti setiap sudut ruangan, namun kedamaian kali ini terasa lebih berharga dan lebih dijaga sepenuh hati. Tidak ada lagi ketakutan yang tersembunyi di balik senyum, tidak ada lagi kegelisahan yang mengganggu tidur malam. Hanya ada cinta yang tumbuh makin dalam, kasih sayang yang makin erat mengikat, dan harapan yang makin bersinar terang menanti kelahiran buah hati yang dinanti-nantikan.
Su Yi kini memasuki usia kandungan yang semakin membesar. Wajahnya yang cantik bersinar terang dengan rona merah merona di pipinya, kulitnya tampak segar dan halus berkilauan terkena cahaya matahari pagi. Perutnya yang kian hari kian membuncit indah menyembunyikan kehidupan kecil yang tumbuh dengan sehat dan kuat di dalam sana. Setiap pagi saat terbangun dari tidurnya yang nyenyak, hal pertama yang ia lakukan adalah meletakkan tangannya lembut di atas perutnya, tersenyum bahagia merasakan kehangatan dan denyut halus yang menandakan bahwa kehidupan kecil itu tumbuh dengan baik di dalam rahimnya.
Dan Mo Han... Mo Han seakan menemukan makna hidup yang jauh lebih indah dan berharga dari apa pun yang pernah ia miliki sebelumnya. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, ia selalu meluangkan waktu berlutut di samping tempat tidur, menatap perut istrinya dengan pandangan yang begitu lembut dan penuh kasih sayang, lalu berbicara pelan kepada anak yang belum lahir itu seakan si kecil sudah dapat mendengar dan memahami setiap kata yang terucap dari bibir ayahnya. Setiap sore saat pulang ke rumah, hal pertama yang ia cari adalah sosok istrinya. Ia akan menyambutnya dengan pelukan hangat, mencium keningnya dengan penuh cinta, lalu meletakkan telinganya yang dekat di perut istrinya, tersenyum bahagia saat merasakan gerakan halus yang menandakan si kecil menyambut kedatangan ayahnya.
"Kau tahu..." Su Yi berucap pelan suatu sore saat mereka duduk berdampingan di beranda yang menghadap ke arah lembah hijau yang luas. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut menerpa wajah mereka berdua, menerbangkan helai rambut hitam Su Yi yang terurai indah di atas bahunya. Tangan kanannya terbaring lembut di atas perutnya yang membuncit indah, sementara tangan kiri Mo Han menindihnya dari atas dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Si kecil sepertinya sangat menyukai suaramu. Setiap kali kau berbicara... ia selalu bergerak menyambutmu. Seakan ia sudah mengenali suara ayahnya bahkan sebelum melihat wajahmu sendiri."
Mo Han tersenyum mendengar itu. Ia mendekatkan bibirnya lalu mengecup lembut ubun-ubun kepala istrinya yang berbau harum semerbak bunga yang sedang mekar di taman. Matanya menatap wajah istrinya yang tampak begitu cantik dan bahagia di bawah sinar matahari sore yang keemasan, hatinya terasa penuh hingga meluap-luap rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Karena ikatan darah dan kasih sayang sudah terjalin sejak awal kehidupan kita bertemu." Mo Han menjawab pelan dengan suara yang lembut namun penuh ketulusan yang mendalam. "Anak kita tumbuh dari cinta yang tulus dan murni. Maka wajar jika ia sudah merasakan kasih sayang ini bahkan sebelum melihat cahaya dunia. Dan aku berjanji... kelak saat ia lahir ke dunia ini... aku akan memeluknya erat dan menyayanginya sepenuh hati. Sama seperti aku menyayangi ibunya seumur hidupku."
Su Yi tersenyum bahagia mendengar janji itu. Ia mendongak menatap wajah suaminya lekat-lekat, lalu perlahan mengangkat tangannya menyentuh pipi yang tegap itu dengan penuh kasih sayang. Matanya yang jernih berbinar penuh cinta dan kelembutan.
"Terima kasih... terima kasih telah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai harganya kepadaku, Mo Han. Terima kasih telah menjagaku dan melindungiku dengan segenap jiwa ragamu. Dan terima kasih... telah menjadi ayah yang begitu baik bagi anak kita yang belum lahir. Aku yakin... anak kita kelak akan tumbuh menjadi anak yang bahagia, kuat, dan penuh kasih sayang... karena ia tumbuh di bawah naungan cinta sejati ayah dan ibunya."
Mo Han menangkup tangan istrinya yang menyentuh pipinya, lalu mengecup telapak tangan itu lembut dan penuh rasa hormat sekaligus kasih sayang yang tak terhingga. Ia menatap mata istrinya lekat-lekat, menatap dalam ke dalam manik mata jernih itu seakan ingin menampakkan seluruh isi hatinya yang penuh cinta dan syukur.
"Terima kasih kepadamu, istriku. Kaulah yang memberikan makna sejati pada hidupku. Sebelum bersamamu... aku hidup tanpa tujuan yang jelas. Namun sejak kau datang ke dalam hidupku... setiap detik terasa berharga, setiap langkah terasa penuh harapan. Dan kini... kehadiran anak kita melengkapi segala kebahagiaanku. Tidak ada lagi yang kurang. Tidak ada lagi yang kurang berarti. Karena aku sudah memiliki segalanya di dalam dirimu dan di dalam diri anak yang kau kandung."
Su Yi tersenyum haru mendengar pengakuan tulus itu. Ia menarik wajah suaminya mendekat lalu menyatukan bibir mereka dalam kecupan lembut yang penuh cinta dan rasa syukur yang mendalam. Di bawah sinar matahari sore yang keemasan itu, di tengah angin sejuk yang berhembus lembut menyapa dedaunan, dua jiwa yang bersatu dalam cinta sejati itu saling berpelukan hangat, merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang melimpah ruah di dalam dada mereka masing-masing.
Waktu terus berjalan dengan lembut dan penuh kebahagiaan. Kandungan Su Yi semakin membesar, semakin terasa adanya kehidupan kecil yang tumbuh dengan sehat dan kuat di dalam rahimnya. Setiap kali si kecil bergerak atau menendang, Su Yi akan tersenyum bahagia sambil memegang perutnya lembut, dan Mo Han akan segera mendekatkan telinganya atau meletakkan telapak tangannya di sana, tersenyum bangga dan bahagia setiap kali merasakan sentuhan kecil dari buah hatinya.
Suatu hari saat dokter pribadi keluarga itu datang untuk memeriksa kesehatan ibu dan calon bayi, suasana di dalam kamar tidur utama itu terasa penuh harapan dan kebahagiaan yang menanti. Mo Han berdiri tak jauh dari tempat tidur, menatap dengan penuh perhatian dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu setiap kali dokter itu menggerakkan alat pemeriksaannya di perut Su Yi. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, napasnya tertahan seakan ia sendiri yang sedang menanti kabar gembira yang akan datang.
Dokter tua itu tersenyum ramah sambil menatap layar alat pemeriksaan di hadapannya. Jari-jarinya yang berpengalaman menunjuk ke arah titik berdenyut yang tampak jelas di layar itu, lalu menatap wajah Su Yi dan Mo Han dengan senyum yang semakin mekar dan penuh sukacita.
"Lihatlah..." Dokter itu berucap pelan namun penuh kebahagiaan sambil menunjuk ke arah titik berdenyut yang tampak terang dan kuat di layar. "Itulah detak jantung anak kalian. Sangat kuat... sangat sehat... dan berdetak dengan sempurna. Kalian berdua harus bangga. Karena di dalam sana... tumbuh seorang jiwa yang kuat dan luar biasa sehat."
Su Yi menatap layar itu dengan mata yang berkaca-kaca penuh air mata bahagia. Ia mendengar suara detak jantung yang terdengar lembut namun berirama kuat dan teratur, suara yang begitu ajaib dan menakjubkan — suara kehidupan baru yang tumbuh dari cinta mereka berdua. Air mata bahagia mengalir deras di pipinya yang merah merona, tangannya menutup mulutnya tak percaya akan keajaiban yang terlihat dan terdengar begitu nyata di hadapannya.
Dan di sampingnya... Mo Han berdiri terpaku diam. Matanya menatap lekat-lekat layar itu, menatap titik berdenyut yang menjadi sumber suara ajaib itu. Tubuhnya yang tegap dan kokoh perlahan bergetar hebat menahan emosi yang meluap-luap tak tertahankan. Matanya yang biasanya tenang dan teguh kini berkaca-kaca penuh air mata bahagia yang perlahan menetes jatuh membasahi pipinya. Ia mendengar detak jantung anaknya... mendengar suara kehidupan yang tumbuh dari darah dan dagingnya serta darah dan daging wanita yang dicintainya. Hatinya terasa penuh hingga seakan meledak karena kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata apa pun.
"Itu..." Mo Han berucap dengan suara bergetar yang tercekat di tenggorokannya, ia menatap dokter itu seakan memastikan bahwa apa yang ia dengar itu nyata dan bukan mimpi. "Itu benar-benar detak jantung anak kami?"
"Sangat benar, Tuan Muda." Dokter itu menjawab dengan senyum tulus dan penuh kebahagiaan. "Detak jantung yang kuat dan sehat. Pertanda bahwa anak kalian tumbuh dengan sangat baik. Kalian berdua harus bersyukur. Karena ini adalah anugerah yang luar biasa indah."
Mo Han tidak mampu lagi menahan diri. Ia berlutut perlahan di tepi tempat tidur, mendekatkan wajahnya ke perut istrinya yang hangat dan lembut. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena kebahagiaan yang meluap-luap, ia memeluk lembut perut itu, menempelkan pipinya di sana sambil menangis bahagia tanpa mampu menahan lagi.
"Terima kasih... terima kasih..." Mo Han berbisik berulang kali dengan suara yang terisak penuh haru, menutup matanya rapat-rapat merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuh istrinya dan kehadiran buah hatinya yang begitu nyata di dekatnya. "Terima kasih telah datang ke dalam hidup kami... terima kasih telah memilih kami sebagai ayah dan ibumu. Tumbuhlah dengan sehat dan kuat, anakku... ayah akan menjagamu dan ibumu dengan nyawa ayah sendiri. Tidak ada yang boleh menyakiti kalian berdua... tidak ada yang boleh mengganggu kebahagiaan kalian..."
Su Yi menangis haru melihat pemandangan itu. Ia merangkul kepala suaminya dengan penuh kasih sayang, membiarkan air matanya jatuh membasahi rambut hitam suaminya yang ia cintai sepenuh jiwa raganya. Ia mengusap rambut itu lembut berulang kali, menatap langit-langit kamar dengan penuh rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala anugerah dan kebahagiaan yang dilimpahkan kepada keluarga kecil mereka.
"Dengarkan itu, anakku..." Su Yi berbisik pelan sambil menatap perutnya dengan penuh kasih sayang dan air mata bahagia yang tak henti-henti menetes. "Itulah suara kasih sayang ayahmu. Dengarkan baik-baik... karena kasih sayang itu akan selalu menyertaimu selamanya, sejak di dalam rahim hingga ke dunia dan selamanya..."
Di ruangan itu yang dipenuhi kebahagiaan dan air mata sukacita itu, suara detak jantung kecil yang berirama kuat dan teratur seakan menjawab segala ucapan kasih sayang itu. Sebuah janji tanpa kata yang menyatakan bahwa kehidupan kecil itu akan tumbuh menjadi kebahagiaan terbesar bagi kedua orang tuanya. Bahwa cinta mereka telah melahirkan kehidupan baru yang indah dan luar biasa. Dan bahwa masa depan mereka berdua dan anak yang akan lahir itu... akan bersinar terang penuh kebahagiaan dan kedamaian selamanya.
Setelah dokter itu berpamitan dan pergi, suasana di dalam kamar itu masih terasa hangat dan penuh kebahagiaan yang meluap-luap. Mo Han masih duduk di tepi tempat tidur, tangannya tak pernah lepas dari perut istrinya, matanya menatap dengan pandangan yang begitu lembut dan penuh harapan. Sesekali ia tersenyum sendiri seakan tak percaya akan keajaiban yang baru saja ia dengar dan lihat.
"Kau tahu..." Mo Han berucap pelan sambil menatap wajah istrinya yang tampak bersinar cantik dengan sisa air mata bahagia yang masih berkilauan di pipinya. "Sejak tadi aku terus membayangkan wajah anak kita. Membayangkan senyumnya... matanya... dan suaranya yang kelak akan memanggilku ayah. Hati ini terasa begitu penuh hingga tak sanggup menampungnya lagi. Terima kasih... terima kasih telah memberikan segalanya kepadaku, Su Yi. Kau dan anak kita... adalah seluruh hidupku."
Su Yi tersenyum lembut mendengar itu. Ia mendekat lalu memeluk leher suaminya erat, menempelkan pipinya ke pipi pria itu sambil menatap matanya lekat-lekat dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tak terhingga.
"Dan kau... adalah seluruh hidupku, Mo Han. Seluruh hatiku... dan seluruh duniaku. Tidak ada yang lebih berharga bagiku selain dirimu dan anak kita. Dan kelak... saat anak kita lahir ke dunia ini... kita akan memeluknya erat dan bercerita padanya... tentang cinta yang menyatukan kita... tentang cobaan yang kita lewati... dan tentang kebahagiaan yang akhirnya menjadi milik kita selamanya."
Mo Han menatap wajah istrinya lekat-lekat, lalu perlahan menyatukan bibir mereka dalam kecupan yang penuh cinta, syukur, dan janji abadi yang tak akan pernah putus. Di antara mereka berdua... di dalam rahim Su Yi... tumbuhlah kehidupan kecil yang menjadi buah cinta sejati mereka. Dan di hati mereka berdua... tertanamlah keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kebahagiaan sejati baru saja dimulai. Bahwa masa depan yang cerah sedang menanti mereka. Dan bahwa cinta mereka... akan terus tumbuh dan bersinar terang selamanya, seiring berdetaknya jantung buah hati yang menjadi bukti nyata kasih sayang Tuhan kepada keluarga kecil mereka yang penuh cinta sejati ini.
salam interaksi thor😉