NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Bab 2: Batas Terakhir Bayangan dan Kilau Sang Suci

​Udara di dalam gua batu itu mendadak menjadi begitu berat hingga membuat batuan tebing bergetar pelan. Bau belerang dan aroma busuk mana iblis memadat, melapisi setiap sudut ruangan dengan tekanan yang nyaris membekukan aliran darah. Di pusat kegelapan itu, sang Bangsawan Iblis berdiri dengan postur tubuh yang luar biasa santai. Langkah kakinya yang lambat bergema di atas genangan darah, menyebarkan gelombang kejut kecil yang mengikis lantai batu di bawahnya.

​Wiliam tidak menjawab ejekan itu. Dari balik topeng bertanduknya, mata merah menyalanya memicing tajam. Setiap insting dalam tubuhnya—insting yang selama ini selalu memberinya keunggulan dalam setiap eksekusi malam—kini menjeritkan peringatan bahaya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria di depannya ini berada di tingkatan yang sama sekali berbeda. Kepadatan mana dan dominasi aura yang dipancarkannya menembus angka Level 15, sebuah jurang pemisah yang terlalu curam untuk dijembatani hanya dengan pengalaman tempur biasa.

​"Manusia," panggil sang Bangsawan Iblis, merapikan lengan jas hitamnya yang bersulam emas dengan ketenangan yang menghina. "Keheninganmu adalah bentuk ketidaksopanan. Siapa namamu sebelum kupatahkan tulang-tulangmu sebagai tumbal penutup?"

​Wiliam mengencangkan genggamannya pada gagang pedang hitamnya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan mana kegelapan mengalir deras menembus saluran darah di seluruh tubuhnya. Efek Pernapasan Pedang Kegelapan langsung terpicu, memompa detak jantungnya hingga batas maksimal.

​Bentuk Pertama: Tebasan Bayangan Hampa!

​Dalam pecahan detik, Wiliam meluncur bagaikan bayangan peluru. Tebasan melintang yang dilapisi kegelapan pekat mengarah tepat ke leher sang Iblis. Tebasan ini dirancang untuk mengikis pelindung sihir dan memotong aliran mana lawan secara instan.

​Klang!

​Bunyi logam menghantam batu obsidian bergema keras. Ayunan pedang Wiliam terhenti total beberapa inci sebelum menyentuh kulit leher sang Bangsawan Iblis. Pria iblis itu bahkan tidak mengangkat tangannya—sebuah perisai mana transparan berwarna merah darah melayang secara otomatis di udara, menahan tebasan Wiliam tanpa keretakan sedikit pun.

​"Sihir kegelapan?" Sang Bangsawan Iblis memiringkan kepalanya, matanya yang berwarna emas beriris vertikal menatap bilah pedang Wiliam dengan rasa tertarik yang dangkal. "Sangat jarang melihat manusia memanipulasi esensi ini. Tapi ketajamanmu... terlalu tumpul."

​Sebelum Wiliam sempat menarik kembali pedangnya, sang Iblis mengibaskan jari telunjuknya.

​Bomm!

​Sebuah ledakan mana jarak dekat menghantam dada Wiliam. Perisai bayangan yang ia lapiskan di tubuhnya hancur seketika, menghempaskan tubuhnya puluhan meter ke belakang hingga menghantam pilar batu gua dengan dampak yang mengerikan. Batu raksasa itu retak seribu, dan Wiliam memuntahkan seteguk darah segar di dalam topengnya.

​"Ugh..." Wiliam berlutut di tanah, menahan dada kirinya yang berdenyut hebat. Tulang rusuknya retak. Namun, rasa sakit itu tertutupi oleh analisis dingin yang terus berjalan di otaknya. Kecakapannya memanggil perisai pasif terlalu cepat. Serangan fisik biasa tidak akan pernah menembus batas mana miliknya.

​Tanpa memberi Wiliam waktu untuk bernapas, sang Bangsawan Iblis sudah muncul tepat di atasnya, berpindah tempat tanpa memicu gema udara sedikit pun.

​"Terlalu lambat, Cacing," bisik suara halus itu.

​Kaki sang Iblis terangkat dan menghentak turun ke arah kepala Wiliam.

​Bentuk Ketiga: Tari Bayangan Semesta!

​Wiliam melebur menjadi cairan bayangan tepat sebelum tumit sang Iblis menghantam lantai. Hentakan kaki itu menghancurkan pilar batu dan merekah dasar gua hingga membentuk kawah selebar lima meter. Wiliam muncul kembali di belakang tubuh sang Iblis, menyatukan seluruh fokus jiwanya untuk mengesekusi rangkaian tarian pedangnya.

​Bentuk Kedua: Tusukan Kegelapan Abadi!

Bentuk Keempat: Tarian Gelombang Malam!

Bentuk Keenam: Eksekusi Bintang Jatuh Gelap!

​Rangkaian tebasan, tusukan beruntun, dan tebasan gravitasi berat diluncurkan dalam kurun waktu kurang dari dua detik. Gelombang kegelapan membumbung tinggi, mengikis udara dan menghantam tubuh sang Iblis dari berbagai sudut buta. Udara gua dipenuhi oleh raungan angin gelap dan dentuman dahsyat saat setiap bentuk pernapasan pedang dikuakkan hingga ke batas kemampuan Level 12 milik Wiliam.

​Namun, di tengah badai tebasan kegelapan itu, sang Bangsawan Iblis hanya berdiri santai. Ia melangkah maju perlahan, menepis setiap tebasan tebal Wiliam hanya dengan kibasan sarung tangan kainnya. Setiap kali bilah pedang Wiliam bersentuhan dengan mana merah sang Iblis, percikan api hitam berkobar hebat.

​Kraak!

​Suara nyaring yang memilukan bergema di tengah pertarungan.

​Mata merah Wiliam membelalak. Bilah pedang hitam kesayangannya—senjata yang telah menyertainya menebas ratusan kejahatan di lorong-lorong malam—kini retak hebat sebelum akhirnya pecah menjadi belasan kepingan besi yang melayang tak berdaya di udara.

​"Pedang yang bagus, tapi wadahnya terlalu lemah untuk menampung cita-citamu," kata sang Iblis dingin. Tangan kanannya terayun lurus, menembus pertahanan Wiliam dan mendaratkan pukulan telak ke perut pemuda itu.

​Craasjh!

​Wiliam terseret di atas lantai batu, meninggalkan jejak garis hitam dan bercak darah segar. Tubuhnya terasa remuk. Napasnya memburu, dan untuk pertama kalinya sejak ia membangkitkan kekuatannya di balik bayangan, rasa terdesak yang mutlak mencengkeram dadanya. Semut-semut rasa takut mencoba merayap, namun diredam oleh ketenangan ekstrem yang selalu menjadi hakikat dirinya.

​Aku tidak bisa mengalahkannya dengan sihir atau pedang konvensional, batin Wiliam, menyapu darah yang mengalir dari sela topengnya. Perbedaan Level ini bukan sekadar angka... ini adalah kepadatan esensi.

​Ia berdiri perlahan, membuang gagang pedangnya yang patah. Wiliam merentangkan kedua tangannya pelan, menarik napas dalam-dalam hingga paru-parunya terasa terbakar oleh mana kegelapan. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

​"Jika realitas ini memihak padamu..." suara Wiliam bergema berganda, memantul di seluruh dinding gua. "...maka akan kubawa kau ke dalam duniamu sendiri."

​Domain Expansion: Endless Abyssal Sanctuary!

​Swoosh!

​Matriks formasi sihir raksasa berwarna hitam pekat merekah dari bawah kaki Wiliam, meluas secara melingkar dan menelan seluruh ruang gua dalam sekejap mata. Dinding-dinding batu, mayat para pengikut sekte, dan pilar cahaya darah lenyap. Lingkungan sekitar bertransformasi menjadi dimensi tak bertepi dengan lantai berupa cairan raksa gelap yang merefleksikan langit tanpa bintang. Keheningan mutlak dan isolasi total langsung mencengkeram area tersebut.

​Sang Bangsawan Iblis tertegun sejenak. Ia melihat ke sekelilingnya, merasakan bagaimana koneksi mana alam di sekitarnya terputus sepenuhnya.

​"Ini..." Mata emas sang Iblis melebar sedikit, dipenuhi keterkejutan yang nyata. "Domain Expansion? Kau... seorang manusia di Level 12, mampu memproyeksikan dunia batinmu secara sempurna?"

​Wiliam tidak membuang waktu untuk berdialog. Di dalam domainnya sendiri, aturan pertempuran berada di bawah kendalinya. Efek surat-hits (serangan mutlak) aktif. Tanpa perlu mengayunkan pedang yang sudah patah, Wiliam menunjuk sang Iblis dengan dua jarinya.

​Ratusan tebasan kegelapan tak terlihat terwujud secara instan tepat di atas kulit sang Iblis, menembus jarak dan waktu.

​Slashes! Slashes! Slashes!

​Darah hitam iblis akhirnya terpercik di udara. Baju jas mewahnya robek di beberapa tempat, meninggalkan garis-garis luka dangkal di lengan dan dadanya. Untuk pertama kalinya, sang Iblis mundur satu langkah.

​Wiliam memompa seluruh sisa mana di tubuhnya, memusatkan domain untuk menekan indra sang Iblis hingga buta dan tuli total. Namun, saat Wiliam hendak memanggil tebasan pemungkas untuk mengincar jantungnya, sang Iblis mendongak. Wajah tampannya yang tadinya tenang kini terdistorsi oleh amarah dan kehormatan yang terluka.

​"Luar biasa... sangat luar biasa untuk ukuran serangga!" geram sang Iblis, suaranya menggelegar hingga membuat lantai raksa domain bergetar. "Sungguh jenius yang langka. Tapi kau lupa satu hal, Manusia... Domain dibangun atas fondasi pemahaman diri dan kepadatan jiwa!"

​Sang Iblis tidak menggunakan mantra. Ia hanya mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, lalu menghentakkannya ke bawah dengan seluruh beban mana Level 15 miliknya.

​BOOOOOOMM!

​Gelombang kejut berwarna merah darah meledak secara konsetris dari titik hentakan kakinya. Tekanan mana mutlak itu terlalu pekat untuk ditampung oleh ruang domain milik penyihir Level 12. Retakan-retakan berwarna putih muncul di udara hampa domain Wiliam, merambat cepat bagaikan kaca yang hancur.

​Craaack... PRANG!

​Endless Abyssal Sanctuary hancur berkeping-keping. Dimensi raksa gelap melenyap, mengembalikan mereka berdua ke dalam gua batu yang berdebu.

​Wiliam mengalami backlash hebat dari hancurnya domain secara paksa. Ia memuntahkan darah dalam jumlah banyak dan tubuhnya limbung ke depan. Sebelum ia sempat memulihkan kesadarannya, sebuah gerakan secepat kilat menembus pandangannya.

​Satu tinju mentah berkekuatan penuh dari sang Iblis mendarat tepat di wajah Wiliam.

​BANG!

​Dampak pukulan itu begitu dahsyat hingga topeng bertanduk hitam yang menyembunyikan identitasnya hancur berkeping-keping, terlempar dalam bentuk serpihan-serpihan kecil. Tubuh Wiliam terlempar dan membentur tanah secara kasar.

​Topengnya telah hilang. Rambut hitam acak-acakannya terurai basah oleh keringat dan darah. Mata merah menyalanya—yang tak lagi terhalang oleh ilusi atau topeng—menatap lurus ke atas dengan pandangan samar.

​Cengkeraman dingin dan kuat mendadak mencengkeram leher Wiliam. Sang Bangsawan Iblis mengangkat tubuh pemuda 17 tahun itu ke udara hanya dengan satu tangan, membiarkan kaki Wiliam tergantung tak berdaya.

​Sang Iblis memindai wajah Wiliam yang kini terekspos sepenuhnya. Darah mengalir dari pelipis dan sudut bibir pemuda itu, namun tidak ada raut ketakutan atau permohonan ampun di wajah tampan dan dingin milik putra bungsu Pendragon tersebut.

​"Ternyata kau masih bocah..." gumam sang Bangsawan Iblis, matanya menyempit menatap garis wajah Wiliam dan mata merahnya yang langka. Tawa kecil yang dingin keluar dari tenggorokannya. "Dan ternyata kau cukup tampan juga untuk seukuran manusia. Sangat disayangkan... bakat seperti ini harus mati sebelum mencapai kepenuhan usianya."

​Cengkeraman di leher Wiliam makin mengetat, memotong jalan napas dan aliran oksigen ke otaknya. Penglihatan Wiliam mulai menggelap di tepi-tepinya. Kesadarannya berada di ambang batas. Apakah ini akhirnya? batin Wiliam datar. Ibu... maafkan aku.

​Namun, tepat saat sang Iblis hendak mematahkan leher Wiliam, sebuah fenomena aneh terjadi.

​Udara di dalam gua yang tadinya panas dan berbau belerang mendadak menjadi sangat sejuk, diiringi oleh aroma harum bunga-bunga kuno dan keberadaan energi kehidupan yang begitu murni hingga mengikis mana iblis di udara secara instan.

​Sebuah tekanan aura yang tak terbayangkan—jauh melampaui sang Bangsawan Iblis, sebuah kekuatan yang berada di puncak mutlak Level 20—turun menghantam gua tersebut dari atas.

​Thump!

​Lantai gua amblas beberapa inci. Sang Bangsawan Iblis terperanjat, matanya membelalak penuh horor saat tubuhnya mendadak terasa ditindih oleh beban seberat gunung. Cengkeramannya pada leher Wiliam terlepas secara tak sengaja, membuat Wiliam jatuh tergeletak ke tanah, terbatuk-batuk menimbun udara.

​"Siapa... SIAPA DI SANA?!" jerit sang Bangsawan Iblis, membalikkan badannya dengan panik, memanggil seluruh mana merahnya untuk membentuk perisai.

​Di ambang pintu gua, sebuah celah ruang-waktu terlipat rapi bagaikan kain sutra. Dari dalam lipatan cahaya berwarna ungu perak dan bintang-bintang kosmik, melangkah keluar seorang wanita dengan keagungan yang tak masuk akal.

​Rambut putih-peraknya terurai indah, dihiasi pita besar berwarna biru keemasan. Telinga runcing eloknya menegaskan rasnya sebagai Elf, sementara gaun megah berwarna royal purple dan armor perak ringannya memancarkan cahaya astral yang memukau. Di tangannya melayang beberapa orb energi bercahaya terang.

​Gadis Elf yang tampak begitu muda, anggun, dan menggemaskan—namun memikul aura Wanita Suci Bangsa Elf (The Immortal Saintess) dari pilar Level 20.

​"Aduh, aduh... bau belerangnya menyengat sekali!" suara wanita suci itu terdengar begitu renyah dan sedikit kekanak-kanakan, seraya mengibaskan tangannya di depan hidung mungilnya. "Aku hanya sedang jalan-jalan malam untuk melacak formasi sihir unik yang sering muncul di sekitar sini, tapi malah menemukan makluk bertanduk jelek yang mengotorinya."

​"G-Gadis Elf... Level 20?!" Bangsawan Iblis itu gemetaran hebat. Keangkuhannya runtuh total. Ia menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan di depannya adalah salah satu penguasa benua yang sudah hidup ribuan tahun. "Bagaimana bisa entitas sepertimu ada di tempat ini?!"

​"Tentu saja karena rasa ingin tahuku!" jawab sang Wanita Suci dengan binar mata biru jernihnya yang gembira, sebelum pandangannya mengeras menjadi kejam saat menatap sang Iblis. "Dan aku tidak suka ada makhluk dimensi lain yang mencoba merusak 'mainan' potensial di duniaku."

​Sang Wanita Suci mengangkat satu jarinya. Sebuah matriks formasi sihir tingkat mitologi—terdiri dari belasan lapisan lingkaran geometri bintang raksasa—terwujud secara instan di atas kepala sang Iblis tanpa membutuhkan waktu pemanggilan sama sekali.

​BOOOOOOOOOOM!

​Sinar cahaya kosmik murni menyambar turun, melelehkan pertahanan sang Iblis dalam sekejap dan memicu pertempuran dahsyat yang menghancurkan sebagian besar tebing gua.

​Wiliam, yang berada di lantai dan memanfaatkan kekacauan mutlak tersebut, tidak membuang satu detik pun. Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadarannya, ia memanggil Bentuk Ketiga: Tari Bayangan Semesta, menyatukan tubuhnya dengan bayangan batu yang retak, dan meluncur melintasi tanah keluar dari gua tanpa tertangkap oleh pandangan sang Iblis yang sedang menjerit tertindih sihir kosmik.

​Saat ia berhasil keluar ke dalam kegelapan Hutan Larangan, Wiliam sempat menoleh ke belakang sejenak dari balik semak-semak. Ia melihat pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan: sang Wanita Suci Elf melayang di udara di antara orb-orb bercahaya, bertarung dengan senyum santai dan gerakan yang menggemaskan namun mematikan.

​Level 20... batin Wiliam dengan pandangan kabur. Jadi itu... puncak dunia.

​Tanpa memikirkan hal lain, Wiliam memaksakan tubuhnya yang remuk untuk terus bergerak di dalam bayangan, menyusuri jalanan malam menuju kediaman Pendragon.

​Satu jam kemudian, Wiliam berhasil merayap masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka. Ia merosot di lantai karpet, napasnya berat dan tidak teratur. Darah membasahi pakaian akademinya yang kini robek-robek.

​Dengan tangan gemetar, Wiliam melepas pakaian tempurnya, menggantinya dengan pakaian tidur yang sederhana. Ia duduk bersila di atas tempat tidur, memejamkan mata, dan mengalirkan mana kegelapan murni ke dalam seluruh jaringan tubuhnya.

​Sihir kegelapan bukan hanya elemen penghancur; di tangan penguasa murni, ia memiliki sifat meresap dan memulihkan sel-sel yang rusak melalui penyerapan energi jaringan (Abyssal Regeneration). Aliran mana hitam melingkari dadanya yang memar, menyambungkan kembali tulang rusuknya yang retak, dan menutup luka-luka terbuka di wajah dan lengannya secara bertahap. Sensasi panas dan gatal yang menyengat merayap di kulitnya sepanjang proses pemulihan.

​Di tengah proses meditasi penyembuhan yang menyakitkan itu, bayangan wajah sang Wanita Suci Elf terus terbayang di pikiran Wiliam. Gerakan sihirnya yang tanpa cela, formasi sihir kosmiknya yang indah, serta ekspresi kekanak-kanakannya saat menghancurkan Bangsawan Iblis.

​Dia mencari formasi sihir unik... batin Wiliam, memikirkan ucapan wanita itu di dalam gua. Apakah selama ini dia melacak jejak Pernapasan Pedang atau Domain milikku?

​Wiliam menghela napas panjang saat rasa sakit di dadanya perlahan menyusut. Tubuhnya yang kelelahan akhirnya mencapai batas stamina. Ia merebahkan dirinya di atas kasur empuk, membiarkan kegelapan malam memeluknya, dan tertidur lelap tanpa kesadaran.

​Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang hangat membangunkan Wiliam. Ia membuka matanya perlahan, mengusap wajahnya, dan memeriksa keadaan tubuhnya. Berkat efek regenerasi sihir kegelapan sepanjang malam, luka-luka dalam dan memar di tubuhnya telah sembuh total, meninggalkan kulitnya yang mulus tanpa bekas luka sedikit pun. Namun, kelelahan mentalnya masih sedikit tersisa.

​Setelah mengenakan seragam akademinya yang bersih, memasang ilusi mata hitamnya kembali, dan meminum segelas air, Wiliam melangkah keluar rumah menuju akademi.

​Di gerbang utama Akademi Sihir Kerajaan, suasana tampak jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Bendera-bendera kerajaan dan lambang ras Elf berkibar di sepanjang koridor. Para penjaga berzirah emas berdiri rapi di setiap sudut, dan para siswa berkumpul dalam kelompok-kelompok besar dengan pakaian yang disetrika sangat rapi.

​"Oi! Wiliam! Di sini!"

​Suara teriakkan yang sangat dikenal membuat Wiliam menoleh. Leo dan Reno sedang melambai-lambaikan tangan mereka dari dekat patung pendiri akademi. Leo tampak sangat rapi dengan rambut yang diberi minyak, sementara Reno berusaha keras tidak mengotori kemeja putihnya dengan remahan roti.

​Wiliam berjalan menghampiri kedua temannya dengan langkah santai. "Ada apa ini? Kenapa semua orang tampak seperti mau menghadiri pernikahan raja?"

​"Kau ini benar-benar hidup di bawah tempurung ya, Wil?" seru Leo gemas seraya merangkul bahu Wiliam. "Hari ini adalah hari besar! Hari kunjungan diplomasi dari Wanita Suci Bangsa Elf!"

​"Wanita Suci Elf?" Wiliam berpura-pura alisnya terangkat sedikit.

​"Iya!" Reno menimpalinya dengan mata berbinar. "Salah satu dari empat puncak kekuatan Level 20 di dunia! Katanya dia datang ke ibu kota kemarin malam dan memutuskan untuk mampir ke akademi kita hari ini untuk memberikan pidato kehormatan! Semua murid wajib berkumpul di aula utama!"

​"Bukan cuma itu," bisik Leo dengan nada rahasia, mendekatkan wajahnya ke telinga Wiliam. "Rumornya, kemarin malam terjadi pertempuran dahsyat di Hutan Larangan. Ada yang bilang Wanita Suci Elf bertarung melawan iblis tingkat tinggi! Tapi yang paling gila... para penjaga menemukan serpihan topeng bertanduk hitam di lokasi!"

​Jantung Wiliam berdetak sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap mempertahankan ekspresi datar dan kosong yang sempurna. "Topeng bertanduk? Hantu Topeng?"

​"Tepat sekali!" seru Leo antusias. "Orang-orang berteori kalau Hantu Topeng bekerja sama dengan Wanita Suci Elf, atau justru Hantu Topeng dikalahkan olehnya! Ah, aku tidak sabar ingin melihat secara langsung seperti apa rupa entitas Level 20 itu!"

​"Ayo cepat ke aula sebelum kita kehabisan tempat duduk di depan!" ajak Reno menarik lengan Leo dan Wiliam.

​Wiliam membiarkan dirinya diseret oleh kedua temannya menembus kerumunan siswa yang berdesakan menuju Aula Agung Akademi. Sebenarnya, Wiliam sama sekali tidak tertarik dengan pidato diplomasi atau kehebohan politik ini. Ia hanya ingin duduk di barisan belakang, pura-pura mendengarkan, dan melanjutkan tidurnya yang tertunda.

​Aula Agung akademi yang begitu luas kini dipenuhi oleh ribuan siswa, pengajar, serta pejabat kerajaan dan bangsawan tinggi—termasuk kedua kakak Wiliam yang duduk di barisan depan dengan postur tegap penuh kebanggaan. Wiliam, Leo, dan Reno memilih duduk di barisan paling atas dekat pintu keluar.

​"Perhatian semuanya! Harap tenang!" suara Kepala Akademi bergema menggunakan sihir pengeras suara, membungkam riuh rendah aula. "Hari ini adalah kehormatan tertinggi bagi akademi kita untuk menyambut salah satu pilar pelindung dunia..."

​Tirai panggung utama perlahan terbuka.

​Seorang wanita melangkah keluar dari balik panggung dengan anggun. Ia mengenakan gaun putih-biru diplomasi yang sangat indah, pita besar biru di atas kepalanya, dan wajahnya yang abadi memancarkan pesona yang membuat seluruh isi aula menahan napas dalam keheningan mutlak.

​Wiliam, yang tadinya menyandarkan kepalanya ke dinding dan bersiap memejamkan mata, mendadak terdiam kaku. Matanya membelalak pelan menatap figur di atas panggung.

​Rambut perak-putih itu. Telinga runcing elok itu. Aura keagungan yang menyembunyikan sifat kekanak-kanakannya.

​Dia... batin Wiliam, tenggorokannya terasa kering seketika. Wanita yang semalam menghancurkan Bangsawan Iblis... benar-benar Wanita Suci Elf.

​Di atas panggung, sang Wanita Suci Elf tersenyum manis ke arah ribuan murid yang menatapnya dengan penuh pemujaan. Ia memegang mikrofon sihir, bersiap memberikan pidatonya. Namun, sebelum ia mengucapkan sepatah kata pun, mata biru jernihnya yang memancarkan kecerdasan ribuan tahun menyapu seluruh isi aula besar tersebut.

​Pandangannya melewati para pejabat, melewati para murid teladan di barisan depan, melintasi ribuan kepala... hingga akhirnya, pandangan mata sang Wanita Suci Elf berhenti tepat pada seorang pemuda berambut hitam acak-acakan yang duduk di barisan paling belakang di dekat jendela.

​Ulas senyum di wajah sang Wanita Suci mendadak berubah—menjadi sebuah senyuman kecil yang sangat penuh arti dan menggemaskan.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!