NovelToon NovelToon
Aku Pamit

Aku Pamit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."

​Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."

​Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBELAAN YANG SALAH ALAMAT

​Sinar matahari sore yang temaram menyiram halaman depan rumah dengan warna keemasan yang redup. Isma berdiri anggun di balik tiang teras, menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya yang tenang menatap tajam ke arah sebuah sedan putih yang baru saja berhenti tepat di depan pagar rumah mertuanya.

​Pintu mobil sebelah kiri terbuka, dan Yoga melangkah keluar dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya. Sebelum menutup pintu, Yoga sempat melambai pelan serta mengumbar ucapan terima kasih kepada pengemudinya. Dari balik kaca mobil yang bening, Isma bisa melihat jelas sosok wanita muda berpenampilan modis yang mengulas senyum manis ke arah suaminya sebelum akhirnya melajukan mobil itu pergi.

​Yoga berbalik arah dan melangkah mantap memasuki halaman. Namun, senyum di wajahnya seketika memudar saat pandangannya tertumbuk pada Isma yang berdiri menunggunya di teras dengan tatapan dingin dan menusuk. Suasana mendadak berubah canggung dan hening.

​Saat langkah kaki Yoga mulai mendekati anak tangga teras, Isma langsung memecah keheningan dengan suara datar tanpa intonasi nada yang berlebihan.

​"Siapa dia, Mas? Dan di mana mobilmu?" tanya Isma lurus, menatap matanya tanpa sedikit pun kedipan.

​Yoga terhenyak sejenak, menghentikan langkahnya di tangga pertama. Rasa canggung dan sedikit kepanikan kecil menyelinap di benaknya, membuat ia sempat membasahi bibirnya yang mendadak kering.

​"Itu... Gladis, Isma. Teman satu kantor," jawab Yoga dengan suara agak gugup, berusaha menyusun alasan sealami mungkin. "Mobilku mogok tadi pagi waktu berangkat kerja. Mesinnya mati total di jalan, jadi terpaksa diderek ke bengkel. Gladis kebetulan lewat dan memberi tumpangan berangkat, terus sore ini dia berniat baik mengantarkanku pulang."

​Isma menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang lebih dipenuhi nada ketidakpercayaan daripada keramahan. Ia teringat kembali pada pesan singkatnya jam satu siang tadi yang bahkan tak tersentuh balasan sama sekali hingga detik ini.

​"Oh, begitu..." sahut Isma pelan sembari mengangguk-angguk kecil. "Pantas saja pesan WhatsApp dari aku jam satu siang tadi tidak dibalas sama sekali. Ternyata kamu sedang sibuk menikmati kebaikan teman kantormu ya, Mas?"

​Yoga terpaku. Kata-kata Isma tidak diucapkan dengan nada tinggi atau amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang jauh lebih mengerikan dan menghujam ulu hati.

​"Ayolah! Suamimu baru saja pulang kantor, dia capek, jangan ribut segalalah!"

​Suara nyaring Ibu Lestari memotong udara sore yang tegang. Mertuanya itu berjalan tergesa-gesa dari dalam rumah, melintasi ambang pintu teras dengan wajah bersungut-sungut. Tanpa mencari tahu duduk perkara sebenarnya, matanya langsung mendelik tajam mengarahkan tuduhan penuh kekesalan ke arah Isma.

​"Kamu ini jadi istri bukannya menyambut suami dengan senyuman dan air hangat, malah berdiri di teras seperti algojo menyudutkan Yoga!" cerocos Ibu Lestari makin menjadi-jadi, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh. "Yoga itu banting tulang seharian di luar mencari nafkah. Kalau ada teman kerjanya yang baik mau menolong kasih tumpangan karena mobilnya mogok, ya bersyukur! Bukannya malah dicurigai dan diinterogasi seperti penjahat. Dasar tidak tahu berterima kasih!"

​Yoga menarik napas lega. Pembelaan dari ibunya seolah menjadi tameng instan yang menyelamatkannya dari tatapan intimidatif Isma. Ia berdiri di samping ibunya, mencoba memasang raut wajah lelah untuk memperkuat alasan.

​"Iya, Isma. Aku memang benar-benar capek," tambah Yoga dengan nada memohon pengertian, memanfaatkan momentum dari ibunya. "Pekerjaan di kantor menumpuk, mobil bermasalah, dan aku cuma mau istirahat. Tolong jangan diperpanjang lagi hal sepele seperti ini."

​Aini yang mendengar keributan itu turut melongokkan kepalanya dari balik pintu. Dengan senyum sinis yang terhias tipis di bibirnya, ia menikmati pemandangan Isma yang kembali disudutkan oleh mertua mereka.

​Namun, Isma tidak menampakkan raut wajah gentar sedikit pun. Ia tidak menangis, tidak pula membalas bentakan Ibu Lestari dengan teriakan emosional. Isma hanya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh ketenangan yang justru membuat suasana di teras itu mendadak makin ganjil.

​Isma menatap ibu mertuanya dan Yoga bergantian dengan tatapan tenang yang menghujam.

​"Aku tidak sedang mengajak ribut, Bu," sahut Isma santai, intonasi suaranya teratur dan sangat jernih. "Aku cuma bertanya hal yang wajar ditanyakan seorang istri ketika melihat suaminya pulang diantar wanita lain, sementara pesan perhatian dariku sejak siang bahkan tidak disentuh sama sekali. Tapi kalau Mas Yoga dan Ibu menganggap pertanyaan wajar ini sebagai ajakan keributan... ya sudah."

​Tanpa menunggu balasan dari mereka, Isma berbalik arah dengan anggun dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan lurus menuju kamarnya, mengabaikan tatapan puas Aini maupun kekesalan Ibu Lestari yang masih bersungut-sungut di teras.

​Di dalam kamar, Isma langsung mengunci pintu. Ia duduk di kursi kerjanya, menarik napas panjang, lalu membuka laptopnya kembali. Di layar monitor, deretan angka royalti dan ribuan ulasan pembaca novelnya menyambut. Isma menyadari satu hal penting sore ini: ketika rasa hormat dan kepedulian dari seorang suami mulai memudar dibungkus alasan "capek" dan pembelaan buta sang ibu, maka Isma tak punya alasan lagi untuk terus menaruh harap pada pernikahan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!