NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

“Aku minta maaf karena mengejutkanmu seperti ini. Aku tadi sedang lewat, dan aku ingat kamu sangat suka datang ke sini setiap Sabtu.” Harper tertawa kecil. “Rupanya kamu masih suka ke sini.”

Aku membalas senyumannya dengan senyuman yang agak waspada. “Kebiasaan lama memang sulit dihilangkan.”

Setelah aku berhasil menguasai rasa terkejutku dan Selena pamit dengan alasan mau tidur siang dan menulis, Harper dan aku meninggalkan pasar kaget untuk minum kopi di sebuah kafe luar ruangan yang kecil di ujung jalan.

Tidak ada pelanggan lain di sana, jadi hanya ada kami berdua yang mengobrol di depan cangkir cappuccino, seolah-olah waktu dua tahun tidak pernah berlalu sejak terakhir kali kami bertemu.

Terasa sangat tidak nyata.

“Apakah kamu ke sini untuk liburan?” tanyaku.

Harper secara acak mengirimi aku foto cokelat panas labu dari Bonnie Sue’s beberapa hari yang lalu, jadi aku tahu dia sedang ada di kota ini. Itu adalah pesan singkat pertama yang dia kirim sejak aku memberitahunya bahwa aku sudah bertunangan.

Dia belum membahas tentang pertunangan itu, dan aku pun tidak berencana untuk memulainya.

“Urusan pekerjaan. Aku ada rapat dengan para investor hari Senin nanti, jadi kupikir aku akan terbang lebih awal untuk menikmati kota ini. Sudah lama tidak ke sini.” Dia mengusap bagian belakang lehernya dengan satu tangan. “Aku tadinya ingin meneleponmu, tapi…”

“Kamu tidak perlu mejelaskannya.”

Hari ini adalah sebuah pengecualian. Kami biasanya tidak saling memberitahu jika sedang berada di kota yang sama atau berkumpul sambil minum-minum. Kami tidak lagi memiliki hubungan seperti itu.

“Benar.” Harper berdeham. “Kamu kelihatan cantik, Anna. Sangat cantik.”

Wajahku melunak. “Kamu juga kelihatan tampan.”

Harper yang dulu kukencani adalah contoh pria khas berpenampilan anak muda New England. Pria yang duduk di depanku sekarang terlihat seperti model untuk poster film peselancar California. Lebih cokelat terpatri matahari, lebih sehat, dan lebih berotot.

Aku sering bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika aku bertemu Harper lagi. Aku mengira akan merasakan kesedihan, penyesalan, dan mungkin rasa rindu. Kami dulu berteman dan berkencan selama bertahun-tahun, perasaan tidak hilang begitu saja hanya karena orang-orang berpisah.

Namun, perasaan itu memudar seiring berjalannya waktu, karena yang kurasakan saat ini hanyalah terpaan angin dingin di kulitku dan rasa tidak nyaman yang aneh di dalam perutku.

“Bagaimana persiapan IPOnya?” tanyaku karena tidak ada hal lain yang lebih baik untuk dikatakan.

Kami dulu biasa membicarakan segala hal di bawah langit. Sekarang, kami malah lebih ragu-ragu daripada dua orang asing yang terpaksa berbagi meja di restoran yang terlalu penuh.

“Sangat baik. Cukup membuat stres, tapi kemajuan kita sangat bagus.” Persiapan penawaran saham perdana perusahaan membutuhkan persiapan yang luar biasa, jadi Harper mungkin hanya tidur beberapa jam saja setiap malam sampai urusannya selesai. “Bagaimana dengan, uh, bisnis perencanaan acaramu?”

“Bagus. Aku menyewa seseorang untuk mengelola media sosial kami beberapa bulan yang lalu, jadi tim kami sekarang bertambah menjadi empat orang.”

“Baguslah.”

Kami harus berhenti menggunakan kata bagus.

Hening yang canggung itu kian melebar. Harper dan aku saling menatap dengan canggung selama satu menit lagi sebelum pandangannya jatuh ke cincin pertunanganku.

Badai emosi menyelimuti matanya, dan aku menahan dorongan untuk menarik tanganku dari meja dan menyembunyikannya di pangkuanku.

“Kamu ternyata tidak bercanda soal pertunangan itu.”

Sebuah rasa nyeri menghantam dadaku mendengar pengakuan langsung pertamanya tentang status baruku ini.

“Aku tidak akan bercanda soal hal seperti itu,” kataku pelan.

“Aku tahu. Aku hanya berpikir…” Dia mendongakkan kepalanya dan mengembuskan napas panjang. “Kapan pernikahan nya?”

“Tahun depan. Awal Agustus.” Aku mengusap cincinku dengan ibu jari yang gugup. Cincin itu terasa dingin dan keras saat disentuh.

“Di kediaman keluarga Romanov di Danau Como?” Dia pasti sudah mencari beritanya setelah aku memberitahunya.

“Ya.”

“Kamu dan Xavier Romanov. Orang tuamu pasti sangat senang.” Harper menatap mataku lagi dengan senyuman sinis. “Berapa kekayaannya? Sekitar satu miliar dolar?”

Dua miliar. “Sekitar itulah.”

“Bagaimana kalian berdua bisa bertemu?”

“Di sebuah acara,” jawabku samar. Aku tidak ingin berbohong pada Harper, tetapi aku juga tidak ingin memberitahunya bahwa ini adalah pernikahan yang dijodohkan. Persetujuan orang tuaku adalah topik yang sensitif bagi kami berdua.

Sayangnya, dia mengenalku cukup baik untuk menangkap kejanggalan dari jawaban samar tersebut.

Matanya menyipit. Rasa tidak nyaman di perutku berputar kian cepat saat kesadaran mulai timbul secara perlahan dan mengerikan di wajahnya.

“Tunggu. Kamu menikah dengannya karena kamu memang mau, atau karena orang tuamu yang menginginkannya?”

Aku bergeser di kursi tempat dudukku, mendadak berharap aku melewatkan pergi ke pasar kaget hari ini. Aku tidak menjawab, tetapi keheninganku memberitahunya semua hal yang perlu dia ketahui.

“Sialan, Anna.” Rasa frustrasi merembes ke dalam suaranya. “Aku tahu kamu tidak akan pernah dengan sukarela memilih seseorang seperti Xavier. Aku mencarinya di internet setelah kamu mengirim pesan. Semua rumor tentang dia dan seperti apa sifatnya… tidak ada jumlah uang di dunia ini yang sepadan dengan hal itu. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang tuamu? Selain fakta bahwa dia adalah seorang miliarder.” Sebuah nada pahit yang tak biasa meracuni kata-katanya.

“Dia tidak seburuk itu,” kataku, anehnya aku bersikap defensif membela Xavier meskipun dia telah menjadi pria berengsek dalam sembilan puluh persen interaksi kami.

Tapi… ciuman itu. Sarapan bersama. Cerita tentang Moondust Diner. Hal-hal itu memang kecil dalam skema besar hubungan kami, tetapi hal itu memberiku harapan. Xavier Romanov memiliki sisi kemanusiaan. Dia hanya tidak sering memperlihatkannya.

“Itu cuma hal yang ingin dia tunjukkan padamu. Bahkan jika dia tidak seburuk cerita rumor itu, apakah kamu mau menikah dengan seseorang yang sudah menikah dengan pekerjaannya?”

Pikiranku langsung terbayang pada perjalanan satu bulan Xavier ke Eropa.

Aku mengusap cincinku lagi, bagian dalam tubuhku terpuntir oleh rasa frustrasi. Aku merasa seperti burung yang terperangkap dalam sangkar, dimana kondisi ini di luar kendaliku, tidak bisa melakukan apa pun selain bernyanyi dan terlihat cantik.

Harper membungkuk ke depan, ekspresinya tampak intens. “Kamu tidak harus menikah dengannya, Anna.”

“Harper.....”

“Aku sungguh-sungguh.” Ketegasan dalam nadanya mengejutkanku. “Kamu selalu melakukan apa yang dikatakan orang tuamu, tapi ini bukan soal pekerjaan atau tempat kamu kuliah. Ini soal sisa hidupmu. Kamu bukan remaja lagi, dan kamu punya uangmu sendiri. Kamu bisa menolaknya.”

Kami pernah melakukan percakapan seperti ini sebelumnya, dan percakapan itu selalu berakhir dengan cara yang sama setiap kalinya.

“Ini bukan soal menolak,” kataku. “Merekalah keluargaku, Harper. Aku tidak bisa membelakangi mereka.”

Tawanya terdengar tanpa rasa humor. “Harusnya aku tahu kamu bakal mengatakan hal itu.” Dia bersandar kembali, tatapannya terasa berat menatapku. “Aku tidak pernah berkencan dengan siapa pun sejak kita putus, kamu tahu itu. Tidak secara serius. Hubungan terlamaku setelah kamu hanya bertahan satu bulan.”

Rasa nyeri lainnya menyusup ke dadaku mendengar pengakuan tulusnya yang pelan itu.

“Aku juga tidak,” kataku pelan. “Tapi aku sudah bertunangan sekarang, dan percakapan ini tidak pantas.”

Aku memang tidak menyukai Xavier, tetapi aku tidak akan pernah menyelingkuhinya atau tidak menghormati janji tersirat yang kubuat saat menerima cincinnya.

Harper melukiskan gambaran yang menggiurkan tentang dunia di mana aku bebas melakukan apa pun yang kusukai, tetapi itu semua hanyalah sebuah gambaran. Sebuah imajinasi, bukan kenyataan.

Di dunia nyata, aku memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Tak peduli seberapa kasar atau diktatornya Xavier, aku harus membuat pertunangan ini berhasil, dengan satu atau lain cara.

Tidak ada pilihan lain. “Kamu sebaiknya pergi,” kataku. “Aku yakin kamu punya banyak hal yang harus dilakukan sebelum rapat Senin nanti.”

Harper menatapku selama satu detik sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

“Benar.” Dia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Ekspresi pahitnya kembali terlihat, tetapi suaranya terdengar lembut saat dia pamit pergi. “Senang bisa melihatmu lagi, Anna. Kalau kamu mau mengubah pikiranmu, kamu tahu di mana harus mencariku.”

Aku memperhatikannya berjalan menjauh, hatiku terasa berat dan pikiranku melayang ke belasan arah yang berbeda. Begitu banyak hal yang terjadi dalam seminggu terakhir ini, rasanya seperti sebuah mimpi buruk.

Xavier yang kembali dari Eropa. Ciuman kami dan percakapan nyata pertama kami bersama. Harper yang muncul tanpa diduga dan memintaku untuk membatalkan pertunanganku.

Xavier dan aku tidak pernah membahas riwayat kencan kami, tetapi apa yang akan dikatakannya jika dia mengetahui apa yang terjadi dengan Harper hari ini?

Tak peduli bagaimana perasaannya terhadapku, dia tidak tampak seperti tipe pria yang akan merespons dengan baik jika ada orang lain yang mencampuri hubungannya.

'Tim keamanannya pernah membuat seseorang masuk rumah sakit karena mencoba membobol rumahnya. Pria itu berakhir koma selama berbulan-bulan dengan tulang rusuk patah dan tempurung lutut yang hancur.'

Suara Rachel bergema di kepalaku, diikuti oleh bayangan mata sehitam batu bara dan tangan-tangan yang kasar. Rasa merinding merayap di sepanjang tulang belakangku.

Aku mendadak merasa bersyukur Xavier tidak menaruh minat sedikit pun pada urusan keluar masukku.

Sebab jika dia peduli… aku punya firasat kuat bahwa Harper mungkin tidak akan pernah sempat melihat IPO perusahaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!