NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Dan mulai hari ini, Arka Surya Wijaya masuk ke hitungan itu.

Tetapi kekayaan sebesar itu tidak membuat dunia menjadi lebih tenang.

Justru sebaliknya.

Pukul tujuh malam, gerbang Villa WD8 Bukit Menteng memantulkan cahaya lampu taman. Di balik tembok putih dan pagar hitam yang tinggi, rumah itu terlihat sunyi. Kolam renang di sisi dalam berkilau pelan, garasi tertutup rapat, dan beberapa peti sampel Emas Batangan sudah dipindahkan ke ruang aman sementara sesuai arahan Hendry Wibisana.

Arka berdiri di ruang kerja, membaca ringkasan dari Steven Wibisana.

Perusahaan investasi khusus.

Konsultan pajak.

Pengacara korporat.

Keamanan pribadi.

Empat kata itu membuat garis baru di hidupnya. Dulu ia menghitung uang makan harian. Sekarang orang lain menyusun struktur agar uang ratusan triliun tidak membuat seluruh pasar menoleh sekaligus.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Nala masuk lebih dulu.

Besok ke kampus? Atau mahasiswa biasa lagi sibuk jadi legenda urban?

Arka membaca pesan itu, sudut bibirnya naik sedikit.

Sebelum ia sempat membalas, interkom di meja menyala. Suara satpam kompleks terdengar ragu.

"Selamat malam, Pak Arka. Maaf mengganggu. Ada seorang perempuan di gerbang depan. Katanya kenal Bapak. Namanya Viona."

Senyum kecil itu hilang.

Arka menatap layar interkom. Kamera gerbang menampilkan Viona Megawati berdiri di bawah lampu jalan, mengenakan dress sederhana yang terlalu rapi untuk seseorang yang mengaku hanya mampir. Rambutnya ditata. Riasannya halus. Di tangannya ada tas kecil dan ponsel yang terus ia genggam.

Ia tahu alamat ini.

Itu masalah pertama.

Masalah kedua: ia datang sendirian, setelah dua kali ditolak.

Arka menekan tombol bicara. "Saya turun. Jangan buka gerbang sebelum saya sampai."

"Baik, Pak."

Ia mengambil jaket tipis dan keluar dari rumah. Setiap langkah melewati halaman membuat pikirannya lebih jernih. Villa ini berbeda dari kost lamanya. Tidak ada orang yang boleh datang, mengetuk pintu, lalu memaksa masuk ke hidupnya karena pernah punya hubungan masa lalu.

Ketika Arka tiba di sisi dalam gerbang, Viona langsung mengangkat wajah.

Matanya tampak merah. Ia datang dengan air mata yang sudah disiapkan sebagai bagian dari keberanian.

"Arka," katanya pelan.

Arka berdiri di balik gerbang yang masih tertutup. "Dari mana kamu tahu alamat ini?"

Viona terpukul oleh pertanyaan pertama itu. Ia mungkin berharap Arka bertanya kenapa datang, apakah ia baik-baik saja, atau setidaknya membuka gerbang.

Ia tidak mendapat satu pun.

"Aku... tanya teman. Ada yang kenal orang properti. Foto mobilmu juga sempat muncul di grup. Aku cuma ingin bicara."

"Kamu sudah bicara di kampus. Aku sudah menjawab."

"Aku tidak bisa tidur setelah itu." Viona melangkah setengah maju, lalu berhenti ketika satpam kompleks menatapnya dari pos kecil. "Arka, aku mau mulai dari awal. Aku tahu aku salah. Aku benar-benar tahu."

Angin malam bergerak di antara pagar.

Dulu, suara seperti itu bisa membuat Arka goyah. Viona tahu di mana harus menekan. Ia tahu kapan harus melembutkan nada, kapan harus terlihat rapuh, kapan harus menyebut masa lalu.

Tetapi masa lalu tidak lagi berada di tempat yang sama.

"Mulai dari awal?" tanya Arka.

Viona cepat mengangguk. "Iya. Kita bisa pelan-pelan. Aku tidak akan menuntut apa-apa. Aku cuma ingin kesempatan. Kamu sekarang berbeda, aku juga bisa berbeda."

"Kamu datang setelah melihat uangku," kata Arka. "Cinta tidak bekerja seperti itu."

Wajah Viona memucat.

"Bukan! Aku benar-benar..."

"Kalau aku masih tinggal di kost lama, berat badanku masih hampir seratus kilo, dan saldo rekeningku masih cukup untuk makan di warteg seminggu, kamu akan datang malam-malam begini?"

Viona membuka mulut.

Tidak ada suara.

Pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dibohongi dengan indah.

Arka menatapnya tanpa marah. Kemarahan membutuhkan ikatan. Ia sudah tidak punya ikatan itu lagi.

"Tiga tahun aku menunggu kamu membalas pesan. Tiga tahun aku berdiri di luar kos, kafe, ruang kelas, bahkan tempat parkir, hanya karena kamu bilang tunggu sebentar. Kamu tahu bagian paling lucu?"

Viona menggenggam tasnya lebih erat.

"Dulu aku pikir menunggu itu bukti cinta. Sekarang aku tahu itu cuma bukti aku belum punya harga diri."

"Arka..."

"Cukup. Pergilah."

Ia berbalik.

Viona panik. "Aku putus dengan Revano. Aku sudah tidak bersama dia. Dia juga bohong padaku. Dia punya perempuan lain. Aku salah memilih, Arka. Aku tahu sekarang."

Arka berhenti, tetapi tidak menoleh penuh.

"Itu urusanmu dengan dia. Bukan jalan kembali kepadaku."

"Kamu sekejam ini sekarang?"

Arka menoleh sedikit. "Tidak. Justru aku sedang sangat baik. Aku tidak membalas tiga tahun itu. Aku hanya menolak mengulanginya."

Kalimat itu membuat Viona seperti kehabisan napas.

Di pos kecil, satpam menunduk, pura-pura tidak mendengar. Tetapi batas sosialnya jelas: ini kawasan privat, pemilik rumah sudah menolak tamu, dan tamu harus pergi.

Arka memberi isyarat kepada satpam. "Kalau Mbak Viona belum pergi dalam lima menit, bantu panggil security kompleks. Dengan sopan."

"Baik, Pak Arka."

Pak Arka.

Viona mendengar panggilan itu dan matanya bergerak ke rumah besar di belakangnya. Lampu ruang tamu, taman yang rapi, suara mesin pendingin dari garasi, semua menjadi bukti yang tidak bisa disangkal. Arka sudah berubah. Ia berada di sisi pagar yang tidak bisa Viona lewati dengan air mata.

Arka masuk kembali ke rumah.

Pintu utama tertutup.

Sebelum kembali ke meja kerja, ia mengirim pesan singkat kepada Steven Wibisana.

Mulai besok, bantu carikan perusahaan keamanan pribadi. Aku butuh sistem tamu, kamera tambahan, dan orang yang bisa menjaga tanpa banyak bertanya.

Balasan Steven datang hampir langsung.

Akhirnya, Bos. Saya sudah tunggu Anda sadar bahwa rumah Rp 50 Miliar tidak cukup dijaga dengan pagar cantik.

Arka membaca pesan itu tanpa tersenyum. Viona tidak terlalu berbahaya, tetapi alamat yang bocor adalah lubang kecil. Dalam hidupnya sekarang, lubang kecil bisa berubah menjadi pintu bagi orang yang jauh lebih berbahaya daripada mantan pacar yang menyesal.

Ia lalu menghubungi pos keamanan kompleks.

"Mulai malam ini, tidak ada tamu pribadi yang masuk tanpa konfirmasi tertulis dari saya. Termasuk orang yang mengaku teman lama."

"Siap, Pak Arka. Kami catat."

Baru setelah itu Arka kembali ke ruang kerja.

Di ruang kerja, ponselnya masih menyala di meja. Pesan Nala belum dibalas. Arka duduk, menatap layar beberapa detik, lalu mengetik.

Besok ke kampus. Legenda urban tetap butuh absensi.

Balasan Nala masuk cepat.

Bagus. Kalau legenda bolos, aku kehilangan bahan observasi.

Arka tersenyum.

Senyum itu kecil, tapi nyata. Berbeda dengan wajah datar yang ia berikan kepada Viona. Nala belum ia percayai sepenuhnya, dan luka lama belum hilang. Namun gadis itu tidak datang menagih masa lalu yang sudah ia kubur.

Nala datang membawa pertanyaan baru.

Dan pertanyaan baru terasa lebih ringan daripada penyesalan lama.

Di luar pagar, Viona masih berdiri.

Gerbang Villa WD8 tetap tertutup. Besi hitam itu memisahkan dua dunia kecil: dunia yang dulu membuat Arka menunggu di luar, dan dunia sekarang yang membuat Viona berdiri di tempat yang sama.

Tiga tahun lalu, Arka yang berada di luar pintu.

Malam ini, giliran Viona.

Dan pintu itu tidak terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!