Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Acara pertunangan Aisyah dan Amar pun selesai dengan lancar. Hari pernikahan di tentukan 3 bulan dari sekarang. Aisyah merasa sangat bahagia karena pemuda selama ini ia cintai secara diam-diam akhirnya akan segera menjadi suaminya.
Karisa ikut bahagia melihat kebahagiaan Aisyah, walaupun sejujurnya hatinya terasa hampa. Ia merasa iri, kenapa orang lain bisa merasakan kebahagiaan sedangkan dia, sudah tidak bisa memberi keturunan kehilangan suami pula.
Mengapa hidup ini begitu tidak adil batinnya.
"Kak Karisa kenapa di sini sendiri?"
Aisyah menghampiri Karisa yang sedang termenung sendiri di taman samping.
"Kenapa kamu di sini? Apa rombongan Amar sudah pulang?" Karisa yang sedang melamun kaget karena tidak menyadari kedatangan Aisyah.
"Sudah baru saja. " Jawab Aisyah lalu duduk di samping Karisa.
"Kak Karisa lagi memikirkan kak Farhan ya? Sama aku juga. Saat ini aku juga sedang merindukan kak Farhan. Tapi kak Farhan sudah tenang di sana, sebaiknya kakak ikhlaskan agar hati kakak lebih tenang dan cobalah untuk membuka hati untuk orang lain. "
Karisa terkejut mendengar ucapan Aisyah.
"Aisyah apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? Tolong jangan pernah berbicara seperti itu lagi karena seumur hidup ini aku tidak akan pernah bisa menerima orang lain lagi. "
"Maaf, aku hanya tidak ingin melihat kakak terus tenggelam dalam kesedihan. Kak Karisa juga berhak bahagia. " Aisyah menyesal telah membuat Karisa marah.
Karisa hanya diam dan tak menanggapi lagi ucapan Aisyah.
Satu bulan telah berlalu.
Pak Pohan merasa sangat bahagia karena berkat kepintaran Albert dalam mengelola kadang mereka sekarang hasil panen mereka sangat melimpah dan mereka bisa panen berbagai macam buah dan sayur setiap bulannya dengan hasil yang sangat memuaskan.
"Albert semua ini berkat kamu kehidupan kita jadi semakin membaik dan berkat sistem irigasi yang kamu buat serta pestisida alami buatanmu hasil panen kita benar-benar luar biasa. Bahkan toko-toko di kota berebut mau membeli sayuran dan buah dari kita. Kamu benar-benar pembawa keberuntungan. " Pak Pohan tak henti-hentinya memuji Albert.
"Ayah bisa saja. Ini kan sudah jadi tanggung jawab saya sebagai menantu. "Albert yang terus saja di puji merasa malu.
"Iya iya benar. " Pak Pohan bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia benar-benar bersyukur karena dulu sudah menyelamatkan Albert.
"Jesica kamu kenapa? bangun nak bangun. " Tiba-tiba terdengar suara panik Maria dari arah dapur.
"Ayah ada apa itu ayo kita lihat. " Mendengar suara Maria yang panik Albert dan Pak Pohan langsung bergegas kedapur. Alangkah terkejutnya Albert melihat Jesica sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Jessica!" Albert langsung membopong tubuh istrinya itu Ke kamar dan merebahkannya di atas ranjang.
"Bu sebenarnya apa yang sudah terjadi, kenapa Jessica bisa pingsan begini?"
Albert mengambil minyak kayu putih lalu menciumkannya ke hidung Jesica berharap Jesica bisa segera sadar.
"Ibu juga tidak tau tadi Jesica masih baik-baik saja, lalu ibu pergi mengangkat jemuran saat ibu kembali Jesica sudah tergeletak di lantai. " Jelas bu Maria.
"Pak kenapa diam saja, ayo sana jemput Dokter desa untuk periksa Jesica!" Tegur bu Maria yang melihat suaminya hanya terdiam melihat kondisi Jesica.
"Oh iya aku pergi sekarang." Ucap Pak Pohan yang baru saja tersadar dari rasa panik karena melihat kondisi Jesica.
"Sayang ayo bangun!" Albert terus berusaha menyadarkan Jesica dengan cara menekan titik syaraf Jesica di bagian bawah hidungnya.
Selang beberapa saat Jesica pun akhirnya sadar, hal ini membuat Albert dan bu Maria yang tadinya panik bisa sedikit lega.
"Syukurlah kamu akhirnya sadar sayang. " Ucap Albert.
"Maaf sudah membuat kamu khawatir. " Jesica berusaha untuk duduk namun di cegah oleh Albert.
"Sudah berbaring saja. "
"Sudahlah aku sudah tidak apa-apa, tadi cuma tiba-tiba agak pusing saja. " Ucap Jesica yang tidak mau membuat suami dan ibunya khawatir. Padahal dia memang merasa tubuhnya memang tidak baik-baik saja. Belakangan ini dia selalu merasa lemas dan pusing tapi dia tidak mau memberi tahu keluarganya kare takut mereka khawatir.
"Jesica kalau ada yang tidak nyaman katakan saja jangan di pendam sendiri, bikin ibu panik. " Bu Maria ikut menimpali.
"Benar-benar sudah tidak apa-apa bu. " Melihat kepanikan di mata suami dan ibunya membuat Jesica semakin enggan berkata jujur tentang apa yang di rasakannya.
Beberapa saat kemudian Pak Pohan kembali bersama Dokter desa.
"Dokter tolong periksa putri saya tadi dia tiba-tiba pingsan. "Kata pak Pohan kepada Dokter desa itu.
Dokter itu pun mulai melakukan pemeriksaan terhadap Jesica.
Setelah mengecek tensi detak jantung dan dan bagian perut. Akhirnya dokter itu pun bertanya " Apa kamu sering pusing dan lemas belakangan ini? Juga sering merasa mual dan ngantuk?"
Jesica mengangguk dengan ragu-ragu. "Bagaimana dokter ini bisa tau? apa jangan jangan aku terkena penyakit serius?" Batin Jesica.
"Kapan terakhir menstruasi?" Tanya dokter itu lagi.
Jesica baru teringat kalau bulan ini sepertinya dia belum menstruasi.
"Tidak ingat dokter, karena tanggalnya selalu berbeda setiap bulannya. Tapi sepertinya bulan ini belum menstruasi. " Ucap Jesica.
"Sepertinya kamu sedang hamil. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan melakukan USG di rumah sakit. Dan untuk saat ini kurangi aktivitas yang berat-berat. "
Dokter itu lalu memberikan beberapa vitamin untuk Jesica dan obat penghilang rasa mual.
Setelah dokter itu pergi Albert langsung memeluk tubuh Jesica.
"Sayang kita akan segera punya anak." Ucapnya penuh rasa syukur.
"Puji Tuhan. " Ucap Maria yang juga tak kalah gembira mendengar putrinya sedang mengandung.
"Jangan senang dulu, sebaiknya kita pastikan ke rumah sakit dulu."Kata Jesica yang tidak ingin terlalu berharap sebelum semua di pastikan.
"Kalau begitu besok kita pergi kota, kita periksa di rumah sakit terbaik di kota. "
Keesokan harinya Albert pergi membawa Jesica ke rumah sakit di kota untuk memeriksakan kehamilan Jesica.
Karena takut Jesica akan merasa tidak nyaman karena guncangan saat dalam perjalanan Albert mengendarai mobilnya dengan sangat lambat yang justru membuat Jesica menjadi tidak nyaman.
"Albert apa yang kamu lakukan? Bahkan orang berjalan kaki pun bisa lebih cepat dari ini. " Protes Jesica.
"Sayang ingat kamu itu sedang hamil kalau aku nyetirnya ngebut nanti bisa membuat anak kita tidak nyaman!" Albert tetap melanjukan mobil nya dengan kecepatan yang sama tampa ada niatan untuk menambah kecepatan.Hal ini membuat Jesica memutar bola matanya.