Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi hari datang membawa bias cahaya matahari yang menembus tirai beludru tebal di kamar utama vila mewah Grayson. Udara dingin sisa hujan semalam masih terasa di luar jendela, namun di dalam ruangan yang hangat, Aurelia terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa remuk redam.
Ia mengerjap perlahan, menyesuaikan retinanya dengan cahaya terang yang masuk. Sisi ranjang di sebelah kirinya sudah kosong. Namun, aroma parfum maskulin milik Grayson yang khas masih tertinggal kuat di atas bantal.
Belum sempat Aurelia bangkit dari tempat tidurnya, pintu kamar terbuka lebar. Grayson masuk dengan mengenakan seragam sekolah SMA Tunas Bangsa yang sudah melekat rapi di tubuh tingginya—dasi sekolah tersimpul sempurna, kemeja putih bersih, dan celana abu-abu berpotongan tegas. Pria itu tampak sangat tampan sekaligus mengintimidasi, jauh melampaui standar siswa SMA pada umumnya.
"Bangunlah, *Wife*," ucap Grayson dengan suara baritonnya yang tenang namun mutlak. "Sarapan sudah disiapkan di bawah. Kita berangkat dalam waktu sepuluh menit. Jangan membuatku menunggu."
Aurelia hanya bisa mengangguk pelan, menelan sisa-sisa rasa canggung dan takut yang masih menyelimuti hatinya setelah malam panjang penuh siksaan emosional tersebut. Tanpa banyak bicara, ia bergegas membersihkan diri dan mengenakan seragam sekolah cadangan yang sudah disiapkan di lemari.
Perjalanan menuju sekolah pagi itu terasa jauh lebih menegangkan dari biasanya. Mobil *sport* hitam milik Grayson melaju mulus membelah jalanan Kota Samarinda yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Namun, alih-alih menurunkan Aurelia di titik penjemputan rahasia seperti hari-hari sebelumnya, Grayson justru menghentikan mobil tepat di area parkir khusus dekat gerbang samping sekolah—sebuah tempat yang cukup terbuka dan sering dilalui oleh para siswa yang datang pagi.
Aurelia langsung menahan napasnya. "Grayson... Kenapa parkir di sini? Nanti ada yang lihat kita turun dari mobil yang sama!" protesnya panik, tangannya sudah bersiap meraba handle pintu mobil.
Grayson menoleh, manik mata *amber*-nya menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia dengan sorot yang tidak terbantahkan. Pria itu meraih dagu Aurelia secara perlahan, memaksa sang gadis untuk tetap menatapnya.
"Biar mereka lihat," bisik Grayson rendah, penuh penekanan posesif. "Biar seluruh sekolah tahu batasan mereka terhadapmu. Turunlah, atau aku akan menciummu di dalam mobil ini sampai jam pelajaran pertama dimulai."
Mendengar ancaman mutlak itu, Aurelia buru-buru menepis tangan Grayson dan membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. "A-aku turun sekarang!" serunya gugup.
Begitu Aurelia keluar dari mobil *sport* mewah itu, deru mesin menderu pelan saat Grayson melajukan kendaraannya meninggalkan area parkir. Namun, terlambat—pemandangan seorang siswi turun dari mobil mewah seorang berandalan elit paling ditakuti di sekolah tidak luput dari mata beberapa siswa yang datang pagi.
Suasana koridor sekolah pagi itu langsung mendadak riuh rendah dengan bisik-bisik rahasia begitu Aurelia melangkahkan kakinya melewati pintu gerbang utama.
*“Eh, lihat deh si Aurelia... Tadi dia turun dari mobilnya Grayson, kan?”*
*“Seriusan? Kok bisa bareng? Padahal mereka kan nggak pernah keliatan deket...”*
*“Jangan-jangan mereka... ih, nggak mungkin lah!”*
Aurelia merapatkan tas ranselnya ke dada, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghindari tatapan penuh rasa penasaran dan cemoohan dari beberapa siswa di sepanjang koridor. Jantungnya berdegup kencang, takut jika rumor aneh mulai menyebar luas di sekolah.
Sebelum ia sempat berbelok menuju mading kelas, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya dari samping dengan cepat.
"Aurelia!" panggil suara yang sangat ia kenal.
Aluna dan Aruna muncul dari balik tikungan koridor, langsung menarik Aurelia masuk ke dalam ruang penyimpanan inventaris OSIS yang sedang sepi dan kosong di jam pertama. Begitu pintu tertutup rapat, Aluna dan Aruna langsung mengepung Aurelia dengan tatapan menyelidik bagai detektif profesional.
"Oke, Li. Sekarang jelasin sama kita berdua," ucap Aluna dengan mata menyipit tajam, melipat kedua tangannya di dada. "Tadi pagi kamu turun dari mobil siapa? Jangan bilang kalau itu mobilnya Grayson Balindra!"
Aurelia menelan kelenjar ludahnya yang terasa kering. Ia mencoba memasang senyuman sepucat mungkin. "Kalian... kalian salah lihat kali. Itu bukan—"
"Eh, jangan ngeles ya, Li!" potong Aruna cepat, menunjuk-nunjuk ke arah leher bagian samping Aurelia yang sedikit terekspos karena kerah seragamnya yang agak longgar akibat insiden semalam. "Tuh, lihat! Leher kamu kenapa merah-merah gitu? Jangan bilang itu gigitan nyamuk, ya! Nyamuk zaman sekarang nggak mungkin ninggalin tanda keunguan bentuk cup_s_he begitu!"
Mendengar ucapan Aruna, sekujur wajah Aurelia berubah merah padam seketika. Ia secara refleks mengangkat tangannya untuk menutupi lehernya sendiri, tempat di mana Grayson dengan beringas mencetak tanda kepemilikan semalam. Tenggorokannya tercekat hebat; ia tidak menyangka tanda itu masih terlihat jelas meskipun ia sudah berusaha menutupinya dengan kerah baju.
Melihat reaksi Aurelia yang bungkam seribu bahasa dan wajahnya yang memerah ketakutan, Aluna dan Aruna saling bertukar pandang. Suasana di dalam ruangan kecil itu mendadak berubah menjadi sunyi senyap.
"Li..." suara Aluna mendadak melunak, kekhawatiran yang besar terpancar jelas di bola mata sahabatnya itu. "Demi Tuhan, ceritain sama kita. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Grayson? Kenapa kamu bisa bareng dia terus? Dan tanda di leher itu... apa dia berbuat kasar sama kamu?"
Aurelia menunduk dalam-dalam. Pertahanan terakhir di dalam hatinya runtuh. Air mata hangat tiba-tiba menetes membasahi pipinya. Ia menyadari bahwa ia tidak mungkin bisa terus-menerus menutup rahasia besar ini dari dua sahabat terdekatnya di sekolah. Jika ia terus berbohong, beban ini akan menghancurkannya dari dalam.
Dengan suara bergetar tertahan, Aurelia akhirnya mengangkat kepalanya, menatap manik mata Aluna dan Aruna bergantian.
"Aku... aku terpaksa, Lun, Aruna..." cicit Aurelia lirih, air matanya semakin deras mengalir. "Aku nggak punya pilihan lain..."
"Pilihan apa maksudnya, Li? Cerita pelan-pelan, jangan bikin kita panik!" desak Aruna cemas, memegang kedua pundak Aurelia.
"Waktu kecelakaan Papa beberapa hari lalu... pihak rumah sakit bilang biaya operasinya sangat besar dan harus dibayar tunai malam itu juga kalau mau nyawa Papa tertolong," tutur Aurelia terisak, menceritakan kepingan tergelap dalam hidupnya. "Keluarga kita nggak punya uang sebanyak itu. Dan di saat aku bingung putus asa... Grayson datang."
Aluna dan Aruna terperanjat kaget, menyimak setiap kalimat dengan napas tertahan.
"Dia... dia menawarkan diri untuk membayar seluruh biaya rumah sakit Papa, melunasi semua hutang pengobatan, dan menjamin kehidupan keluargaku..." lanjut Aurelia dengan suara parau. "Tapi... syaratnya satu. Aku harus menyerahkan diriku padanya. dan aku memberikan dia syarat dengan menikah dengannya secara diam-diam dan menjadi miliknya."
*Brak!*
"Apa?!" seru Aluna histeris, menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut setengah mati. Matanya membelalak lebar. "Menikah?! Kamu... kamu dinikahi sama Grayson?!"
"I-iya..." angguk Aurelia lemah, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, menangis sejadi-jadinya. "Pernikahan rahasia... Di atas kertas hukum, aku sudah jadi istrinya. Aku tinggal di vila terpencil miliknya setiap malam. Semua kemewahan yang Papa dapatkan di rumah sakit itu... dibayar dengan kebebasanku, Lun... Aruna..."
Aruna terdiam membisu, tubuhnya lemas bersandar pada rak lemari di belakangnya. Ia tidak pernah menyangka di balik sikap dingin dan misterius Aurelia selama beberapa hari terakhir, sahabat mereka sedang menanggung beban seberat neraka di pundak seorang gadis remaja.
"Ya ampun, Aurelia..." bisik Aluna dengan mata berkaca-kaca, langsung menerjang maju dan mendekap erat tubuh sahabatnya itu ke dalam pelukan hangat. "Kenapa kamu nggak cerita dari awal ke kita? Kenapa kamu tanggung semuanya sendirian?!"
"Karena aku takut..." tangis Aurelia pecah di pelukan Aluna. "Grayson... dia bukan orang sembarangan. Dia punya kekuasaan dan sisi gelap yang mengerikan. Kalau aku menolak, atau kalau kalian sampai ikut campur dan ketahuan, dia bisa menghancurkan hidup keluarga kita dalam sekejap mata. Kalian tahu sendiri gimana dia cemburu waktu Galang kemarin datang ke rumah sakit..."
Aruna ikut mendekat, merangkul pundak Aurelia dari sebelah kiri, menyalurkan dukungan penuh kepada sahabat malang mereka. "Tapi pernikahan di bawah tekanan kayak gitu nggak adil buat kamu, Li! Kamu masih SMA, masa depan kamu masih panjang!"
"Aku tahu..." ucap Aurelia getir, melepaskan pelukan perlahan dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan putus asa namun pasrah. "Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Aku sudah terikat dalam sangkar besi miliknya. Di mata hukum dan kenyataan hidup, aku adalah istri Grayson Balindra... selamanya."
Aluna dan Aruna terdiam dalam keheningan yang panjang. Ruangan penyimpanan OSIS yang sempit itu menjadi saksi bisu atas rahasia besar yang akhirnya terungkap—sebuah takdir kelam yang mengikat Aurelia pada sang suami iblis, tanpa ada jalan keluar yang tersisa bagi gadis itu selain belajar bertahan hidup di tengah labirin penuh teror dan obsesi gelap.