Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Masak makanan kesukaan Bagas
Sementara itu di kamar tidur di sebuah apartemen, dua insan baru saja selesai melakukan aktivitas panas di atas ranjang. Iya, mereka tak lain adalah Bagas dan Casandra.
"Babby... Lepaskan tanganmu...Aku harus ke kantor sekarang..." ucap Bagas yang berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan polos.
Sedangkan Casandra yang sedang memainkan jarinya di dada Bagas sambil berbaring di sampingnya memanyunkan bibirnya mendengar Bagas akan pergi.
"Aaahhh...jangan pergi dulu... Masa cuma sebentar sih... Aku masih belum puas..." rengek Casandra.
"Tapi ini sudah siang babby... Aku harus ke kantor. Kalau aku berlama- lama di sini, nanti orang kantor mencariku..." sahut Bagas sambil menyingkirkan tangan Casandra lalu dia bangun dan memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
Casandra pun ikut bangun dan duduk sambil terus manyun. Melihat ekspresi Casandra, Bagas menghela nafas. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, Bagas duduk di samping Casandra.
"Jangan sedih dong babby... Nanti sore sepulang dari kantor, aku ke sini lagi..."ucap Bagas sambil mengangkup kedua pipi Casandra.
"Bener ya..." sahut Casandra.
"Iya..." jawab Bagas sambil mengusap kepala Casandra.
"Nanti aku masak makanan kesukaan kamu..." ucap Casandra sambil menampilkan senyuman manisnya.
"Oke..." jawab Bagas lalu dia segera pergi dari apartemen Casandra.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu Suzan yang sudah sampai di kantornya belum juga melihat Bagas. Padahal dia sudah mencarinya di ruang kerja, namun kata Fikri, Bagas belum datang.
Tentu saja Suzan heran, padahal jelas- jelas Bagas tadi duluan pergi ke kantor karena sedang ngambek padanya.
"Mas Bagas ke mana sih, kok nomornya nggak aktif..." Suzan yang sudah beberapa kali menghubungi Bagas jadi khawatir terjadi sesuatu pada sang suami.
Namun tiba- tiba Suzan melihat Bagas yang hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Mas Bagas..." gumam Suzan lalu dia segera menyusul bagas ke ruang kerja.
"Sayang..." ucap Suzan begitu membuka pintu ruang kerja Bagas.
Bagas yang sedang duduk di kursi meja kerja hanya sekilas melirik ke arah Suzan kemudian dia pura- pura sibuk dengan laptopnya.
"Sayang... Kamu dari mana saja sih...?'' Suzan menghampiri Bagas.
"Aku mencari kamu dari tadi lho..." sambung Suzan sambil berdiri di samping Bagas.
"Aku ada perlu tadi..." jawab Bagas sambil menggaruk dagunya.
"Oh..."
"Ya ampun mas kok dasi kamu berantakan gini sih...?'' Suzan membetulkan dasi Bagas yang miring dan kurang rapi.
"Oh iya..." sahut Bagas terlihat canggung.
"Kamu kok keringetan gini sih, sayang...? Kamu habis menemui siapa tadi...?'' tanya Suzan sambil mengusap keringat di kening Bagas.
"Leher kamu juga keringetan, kayak orang habis olah raga saja..." kali ini Suzan mengelap leher Bagas dengan menggunakan tisu.
"Kamu habis ketemu siapa sih...?'' Suzan nampak penasaran.
Bagas menghela nafas.
"Tadi di jalan aku nggak sengaja ketemu... teman... Iya teman kuliah. Jadi kami ngopi sebentar di cafe..." jawab Bagas sedikit salah tingkah.
"Cewek apa cowok...?''tanya Suzan.
"Ya cowok lah... Memang sejak kapan aku ketemu sama teman cewek tanpa sepengetahuan kamu..." sahut Bagas kembali memainkan laptopnya.
Suzan terkekeh.
"Iya deh percaya... Suamiku ini kan laki- laki paling setia di muka bumi ini..." sahut Suzan sambil mengusap pundak Bagas.
Bagas hanya tersenyum canggung.
"Kalau kamu gimana...?" tanya Bagas.
"Maksud kamu...?'' Suzan tanya balik.
"Ya kamu kan suka ketemu klien laki- laki..." jawab Bagas sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Ya ampun sayang... Aku kalau ketemu sama klien kan nggak sendirian... Ada Alma dan kadang aku bareng sama papa..." sahut Suzan sambil merangkul pundak Bagas.
Bagas hanya menghela nafas.
"Iya...iyaa..." sahut Bagas kembali fokus pada laptopnya.
"Sayang..." Suzan kembali merangkul pundak Bagas dari belakang.
"Maafin aku ya..." Suzan lalu menyenderkan dagunya di pundak Bagas.
"Maaf untuk apa...?'' tanya Bagas.
"Ya aku minta maaf soal kemarin. Aku sudah bikin kamu kecewa. Aku janji, hari ini aku akan pulang lebih cepat..." jawab Suzan.
Bagas hanya terdiam.
"Sayang... Jadi kamu masih marah sama aku..?" tanya Suzan.
"Oh...nggak kok..." jawab Bagas sambil tersenyum canggung.
"Makasih ya sayang... Sekali lagi aku minta maaf..." ucap Suzan.
"Aku minta maaf juga atas sikap papa waktu itu. Aku akan cari waktu yang tepat untuk bicara sama papa agar dia tidak bicara yang membuatmu sakit hati lagi..." benar- benar merasa bersalah pada sang suami.
Bagas kembali menghela nafas. Bagas lalu melepaskan pelukan Suzan kemudian dia bangun dari duduknya dan berdiri menghadapnya.
"Aku juga minta maaf sayang..." ucap Bagas sambil menatap Suzan.
"Nggak sayang, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak punya salah. Justru aku yang harus minta maaf sama kamu. Maafkan aku ya sayang kalau selama aku jadi istri kamu aku sering mengecewakan kamu..." sahut Suzan dengan raut wajah sedih.
Melihat raut wajah Suzan, kini giliran Bagas yang merasa bersalah pada sang istri. Iya, Bagas tahu betul seperti apa istrinya itu. Suzan istri yang begitu perhatian dan sangat mencintainya dengan sepenuh hati. Dia juga begitu sabar menghadapi sikap Bagas dan tidak pernah sekalipun Suzan marah- marah ataupun meninggikan suara di depan Bagas
Namun ada satu hal yang terkadang membuat Bagas tidak terima, yaitu sikap pilih kasih tuan Hartanto yang jelas sekali lebih mempercayai Suzan dalam urusan perusahaan dari pada percaya padanya.
Bagas juga sering kesal pada Suzan yang terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor sehingga dia sering telat pulang ke rumah.
"Aku juga minta maaf karena kemarin aku marah sama kamu, sayang..." Bagas mengusap rambut Suzan dengan lembut.
"Nggak papa kok sayang, aku paham..." sahut Suzan sambil tersenyum lembut.
"Hari ini aku janji akan pulang lebih awal. Dan sebagai permintaan maafku yang kemarin, aku akan masak makanan kesukaan kamu. Nanti kita makan malam bareng ya sayang..." ucap Suzan sambil memegang kedua tangan Bagas.
"Tapi aku nggak tahu aku bisa pulang cepat atau tidak, ada banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan sayang..." sahut Bagas sambil menyelipkan rambut Suzan ke belakang telinganya.
"Nggak papa, kamu selesaikan saja pekerjaanmu, aku akan menunggumu..." jawab Suzan lagi- lagi sambil menampilkan senyuman di bibirnya.
"I..iya...sayang..." jawab Bagas.
"Ya udah, selamat bekerja ya sayang... Aku balik ke ruang kerjaku dulu... Oya... Nanti kita makan siang bareng ya..." ucap Suzan.
"Iya sayang..." jawab Bagas tersenyum simpul.
Suzan lalu keluar dari ruang kerja Bagas. Dan Bagas menghela nafas kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar dan segera mengambil ponselnya di atas meja kerja untuk menghubungi seseorang.
"Babby..." ucap bagas begitu sambungan telponnya terhubung.
Iya, orang yang Bagas hubungi tak lain adalah Casandra.
"Kayaknya nanti sore aku nggak bisa ke apartemenmu dulu. Aku akan langsung pulang ke rumah..." sambung Bagas.
"Please babby, maafin aku ya, sebagai gantinya,besok pagi sebelum ke kantor aku mampir ke apartemenmu..oke..." ucap Bagas karena sepertinya di ujung telpon sana Casandra tidak bisa terima karena Bagas sudah membatalkan janjinya untuk datang ke apartemen Casandra sore ini.
"Tolonglah baby, mengerti lah posisiku sekarang..." Bagas membujuk Casandra yang sepertinya ngambek.
"Tuuuuttt... "
Casandra memutuskan sambungan telponnya karena dia ngambek.
"Babby..." ucap Bagas.
"Aduhh... Gimana ini..." Bagas terlihat bingung.
"Maaf tuan..." tiba- tiba Fikri masuk ke ruang kerjanya untuk membicarakan soal kerjaan.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu di sebuah butik mewah di tengah kota, Casandra nampak kesal setelah menerima telpon dari Bagas. Iya, Casandra begitu kesal karena Bagas membatalkan janjinya untuk mampir ke apartemennya nanti sore. Padahal Casandra sudah menyiapkan bahan- bahan yang akan dia masak untuk menyambut kedatangan Bagas.
"Iiihhh... Sebel...!" Casandra yang sedang menggambar desain baju pengantin menjadi tidak fokus saking kesalnya pada Bagas hingga dia melempar pensil dan meremas kertas gambar dan melemparnya ke tempat sampah.
Iya, Casandra adalah seorang desainer yang cukup terkenal di kotanya. Dia mempunyai butik dan sudah mempunyai banyak pelanggan. Casandra menerima pesanan, berbagai jenis pakaian. Di antaranya baju pesta, baju pengantin ataupun pakaian sehari- hari.
"Non... " asisten Casandra masuk ke ruang kerja Casandra.
"Non Sandra kenapa...?'' tanya Vina asisten Casandra yang heran karena bosanya terlihat begitu kesal, padahal tadi saat dia datang ke butik dia nampak bahagia.
Casandra menghela nafas lalu menoleh ke arah Vina.
"Ada apa...?'' tanya Casandra tanpa menjawab pertanyaan Vina lebih dulu.
"Ehm... Itu non, ada yang ingin ketemu dengan nona..." jawab Vina.
"Bukankah hari ini saya tidak ada janji dengan customer...?'' sahut Casandra.
"Bukan customer, tapi papahnya non Casandra yang datang. Beliau menunggu di depan...." jawab Vina.
Casandra kembali menghela nafas.
"Ngapain sih dia ke sini..." ucap Casandra terlihat tidak menyukai kedatangan sang papa.
"Ya udah, suruh papa masuk..." sambung Casandra.
"Baik non..."
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dan masuklah tuan Ferdinan papa kandung Casandra.
"Halo sayang..." ucap Tuan Ferdinan.
Casandra hanya melirik sekilas pada sang papa lalu kembali fokus pada selembar kertas yang sedang dia gambar.
"Ada apa papa datang ke sini...?'' tanya Casandra tanpa menoleh pada sang papa.
"Kamu ke mana saja...? Beberapa hari papa menghubungimu, bahkan papa ke apartemenmu dan butik, tapi kamu tidak ada. Semua karyawan kamu papa tanya juga tidak ada yang tahu kamu pergi ke mana . Memangnya kamu ke mana sih...? Papa khawatir..." tanya tuan Fernando lalu duduk di sofa yang disediakan untuk menerima customer.
Casandra tersenyum sinis mendengar sang papa mengatakan bahwa dia khawatir padanya.
"Sejak kapan papa mengkhawatirkan Sandra...?'' sahut Casandra lalu bangun dari duduknya dan bergabung dengan sang papa duduk di sofa.
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu...? Papa ini orang tua kamu. Yang namanya orang tua pasti akan khawatir kalau anaknya tidak ada kabar hingga berhari- hari..." ucap tuan Fernando.
"Halah... Biasanya juga papa nggak pernah perduli sama Sandra..." sahut Casandra sambil memainkan kukunya yang panjang dan lentik.
Tuan Fernando menghela nafas. Iya, sebagai orang tua tentu saja tuan Fernando merasa bersalah kepada Casandra karena pernah berbuat tidak adil padanya. Karena saat Casandra masih duduk di bangku SMA, tuan Fernando dengan sang istri yaitu nyonya Lauren, perempuan berkebangsaan belanda memutuskan untuk bercerai.
Tak lama setelah bercerai keduanya menikah kembali dengan pasangan masing- masing. Namun pasangan mereka tidak mau menerima kehadiran Casandra. Karena bagi mereka anak tiri hanya akan merepotkan saja.Akhirnya tuan Fernando menyekolahkan Casandra di sekolah asrama. Dan casandra tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua.
Hingga Casandra kuliah dan bisa mencari pekerjaan sendiri, kedua orang tuanya seolah tidak perduli. Mereka sibuk dengan rumah tangga masing- masing. Apa lagi baik tuan Fernando dan nyonya Lauren sudah mendapatkan anak dari pasangan masing- masing. Tentu saja Casandra merasa semakin tidak diperdulikan.
Dan setelah Casandra berhasil menjadi seorang desainer yang sukses, tuan Fernando mulai bangga pada sang putri. Dia jadi sering menanyakan kabar Casandra dan dia tak jarang datang ke apartemen ataupun ke butik Casandra sekedar untuk bertanya kabar.
Namun istri baru tuan Fernando yaitu nyonya Vera tidak suka pada Casandra. Nyonya Vera takut jika tuan Fernando nantinya akan memberikan warisan kepada Casandra.
Begitu juga dengan ibu kandung Casandra yaitu nyonya Lauren. Sejak dia tahu Casandra sukses, dia sering datang menemui Casandra. Apa lagi pernikahan keduanya tidak bahagia. Sang suami galak, sering menganggur. Dan nyonya Lauren yang harus bekerja banting tulang.
Begitu tahu Casandra sukses justru nyonya Lauren sering datang meminta bantuan keuangan pada Casandra. Tentu saja Casandra kesal, karena sang ibu datang padanya hanya untuk minta uang. Sedangkan dulu saat Casandra susah, baik mama dan papanya seolah menutup mata.
Bersambung...