NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Malam di wilayah utara kian mendingin, namun udara di dalam suite mewah mansion pribadi Gabriel terasa membakar. Di atas peraduan beludru, selir barunya putri sang pengkhianat terbaring pasrah dalam kelelahan setelah melayani seluruh luapan gairah sang Don. Tubuh gadis itu indah, kulitnya halus tanpa cela, dan kepatuhannya yang didorong oleh rasa takut membuat setiap perintah Gabriel terlaksana tanpa bantahan.

Secara teori, Gabriel memiliki segalanya di tanah asing ini: kekuasaan mutlak, darah musuh yang telah tuntas terbalaskan, dan mainan baru yang siap memuaskan fisiknya kapan saja.

Namun, saat Gabriel berdiri di dekat jendela kaca raksasa seraya memutar-mutar gelas kristal berisi wiski pekat, ada hampa yang menganga di dalam dadanya.

Tatapan matanya yang kelam menerobos kegelapan malam, melintasi batas negara menuju sebuah puri dingin di selatan. Gadis muda di atas ranjangnya malam ini memang bisa memuaskan hasrat biologisnya, tetapi wanita itu tidak memiliki 'jiwa'. Ada kekosongan yang membuat permainan gairah itu terasa dangkal dan monoton setelah beberapa minggu berlalu.

Rasa rindu yang liar dan membakar mendadak menyeruak, mencengkeram tenggorokan sang Don tanpa ampun.

Ia merindukan Aurora.

Rindu itu bukan sekadar dahaga fisik biasa, melainkan sebuah kebutuhan yang dalam dan gila akan sosok wanita yang telah memikat jiwanya. Gabriel mengepalkan tangannya di gelas kristal hingga buku-buku jarinya memutih. Ada kenikmatan tersendiri yang pernah diberikan Aurora kepadanya sebuah kombinasi langka antara kepasrahan yang pekat, kelembutan yang membuai, dan pendar aura dominasi liar saat wanita itu berada di atas tubuhnya di bawah sorotan sinar fajar.

Sensasi ketika Aurora menatap matanya secara langsung tatapan yang memancarkan campuran antara kerapuhan, kepasrahan, dan gairah yang menuntut adalah hal yang tak pernah bisa ditiru oleh wanita mana pun di dunia ini, termasuk oleh selir barunya. Kelembutan dan letupan gairah dari Aurora memiliki rasa yang begitu intens, memabukkan, dan sulit untuk ia deskripsikan dengan kata-kata. Itu adalah candu yang telah meresap ke dalam aliran darahnya.

Gabriel meminum wiskinya hingga kandas dalam satu tegukan kasar, lalu membanting gelas itu ke atas meja.

"Marco!" panggilnya dengan suara berbariton rendah yang menggelegar, memecah keheningan suite.

Pintu suite terbuka seketika. Marco melangkah masuk, menunduk hormat. "Ya, Tuan?"

"Siapkan jet pribadi," perintah Gabriel tanpa ragu sedikit pun. Matanya berkilat oleh kegelapan yang pekat. "Kita pulang ke selatan malam ini juga."

Marco sedikit tersentak, melirik ke arah selir baru Gabriel yang masih terbaring di ranjang, lalu kembali menatap tuannya. "Bagaimana dengan pengambilalihan sisa aset faksi utara, Tuan? Masih ada beberapa dokumen perbatasan yang perlu Anda tanda tangani besok pagi "

"Serahkan sisanya pada unit eksekutor kedua," pangkas Gabriel dingin dan tak terbantahkan. "Tinggalkan gadis ini di sini dengan pengawalan minimal. Aku tidak peduli lagi padanya. Kita berangkat ke bandara dalam tiga puluh menit."

Mainan barunya di negara tetangga mendadak kehilangan seluruh nilainya dalam hitungan detik. Rasa bosan telah mengambil alih, tergeser sepenuhnya oleh bayang-bayang Aurora yang kini menguasai seluruh pikiran sang raja mafia.

---

Perjalanan udara malam itu berlalu seperti kilatan cahaya yang tergesa-gesa. Gabriel tak bisa duduk tenang di dalam kabin jet pribadinya. Ia terus menyesap cerutu, menatap ke luar jendela pesawat yang gelap, menghitung setiap menit yang memisahkan dirinya dari wanita yang amat dirindukannya.

Pukul tiga dini hari, helikopter dan konvoi kendaraan elit Moretti menerobos keheningan Puri Moretti di selatan.

Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di halaman utama memecah sunyi malam. Para pengawal berbaris rapi, menundukkan kepala saat Gabriel melangkah keluar dari kendaraan dengan gerakan cepat. Jas mewahnya terkibas angin malam, langkah kakinya terburu-buru menyusuri lorong-lorong batu tua puri yang megah.

Pria yang biasanya tenang, penuh perhitungan, dan dingin itu kini tampak bagai pemangsa yang digerakkan oleh kecanduan hebat.

Ia menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, menelusuri lorong karpet merah, hingga akhirnya berdiri di depan pintu kayu mahoni raksasa kamar utama. Gabriel menghentikan langkahnya sejenak, memejamkan mata untuk meredakan napasnya yang agak memburu.

Ia membuka pintu secara perlahan tanpa bersuara.

Kamar utama itu diselimuti oleh remang-remang lampu dinding yang hangat. Udara ruangan terisi oleh aroma wangi khas tubuh Aurora yang amat ia kenali wangi bunga liar bercampur vanila lembut yang langsung menyapu bersih seluruh kelelahan dan ketegangan di dalam kepala Gabriel.

Di atas peraduan raksasa berlapis sprai sutra, Aurora sedang tertidur miring, membungkus tubuhnya dengan selimut tipis.

Gabriel melangkah mendekat tanpa alas suara. Ia melepaskan jas mewahnya, melemparkannya ke atas lantai tanpa peduli, lalu merosot duduk di tepi tempat tidur. Matanya yang merah oleh kelelahan memandangi wajah anggun Aurora yang sedang terlelap.

Sinar bulan yang menembus jendela menerangi garis rahang Aurora yang halus. Gabriel mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menempelkan jemarinya di pipi Aurora yang lembut. Sentuhan itu seketika mengirimkan getaran hangat yang melumpuhkan seluruh saraf di tubuh sang Don.

Ini dia, batin Gabriel dalam kegilaan yang sunyi. Ini kenikmatan yang tak bisa diberikan oleh siapa pun.

---

Sentuhan hangat dan sedikit kasar di pipinya membuat mata Aurora perlahan terbuka.

Kedipan pertamanya menyatukan kesadarannya yang masih remang-remang dengan sosok bertubuh tinggi yang sedang membungkuk di atasnya. Ketika manik matanya menangkap raut wajah tampan Gabriel yang dipenuhi oleh kebuasan gairah dan kerinduan yang intens, jantung Aurora berdegup kencang.

Ia terperanjat pelan, namun dengan cepat ingatan akan rencananya berputar di dalam kepalanya. Topeng kepura-puraan yang telah ia latih selama berminggu-minggu seketika terpasang dengan sangat rapi.

"Gabriel?" bisik Aurora dengan suara parau khas orang bangun tidur, matanya mengerjap lembut seolah tak percaya. "Kau... kau sudah pulang?"

Gabriel tidak menjawab dengan kata-kata. Kepulangannya yang mendadak ini adalah ledakan emosi yang tak lagi bisa ia tahan. Pria itu menyusupkan tangannya ke balik tengkuk Aurora, menarik tubuh kecil wanita itu mendekat, dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Aurora dalam sebuah ciuman yang teramat dalam, liar, dan penuh dahaga.

Ciuman itu sarat akan tuntutan kepemilikan. Gabriel menyesap, menggigit pelan, dan melumat bibir Aurora dengan ritme yang memburu, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita ini benar-benar ada di dalam dekapannya.

Aurora tidak menolak. Di dalam kepalanya yang dingin dan penuh kalkulasi, ia menyambut ciuman itu dengan kepasrahan yang dibuat-buat begitu manis. Tangannya terangkat, melingkari leher kokoh Gabriel, membalas gesekan bibir sang Don dengan kelembutan yang sengaja ia racik untuk makin membuai pria tersebut.

"Aku merindukanmu, Cara mia..." gumam Gabriel di antara sela-sela ciuman mereka, suaranya terdengar sangat parau, bergetar oleh hasrat yang hampir membuat jiwanya gila. "Aku hampir gila memikirkanmu di sana..."

Gabriel mendorong tubuh Aurora secara perlahan hingga telentang di atas sprai sutra, lalu menindihnya dengan kehangatan tubuhnya yang tegap. Jemari tangannya bergerak cepat dan terampil menanggalkan gaun tidur tipis yang dikenakan Aurora, membiarkan keindahan tubuh wanita itu terpapar sepenuhnya di bawah remang lampu kamar.

Malam itu, di atas peraduan puri utama, peraduan di antara mereka kembali meletus menjadi sebuah tarian gairah yang teramat pekat.

Gabriel menjelajahi setiap jengkal kulit Aurora dengan intensitas yang jauh lebih dahsyat daripada malam-malam sebelumnya. Setiap ciumannya, setiap usapan tangannya di pinggul dan punggung Aurora, dipenuhi oleh keputusasaan seorang pria yang terkunci dalam candu yang tak ada obatnya.

Bagi Gabriel, apa yang terjadi di peraduan ini bukan lagi sekadar pemuasan fisik biasa. Ada luapan kenikmatan misterius saat Aurora mendesah parau di dekat telinganya, saat jemari wanita itu meremas bahunya yang berotot, dan saat Aurora menyerahkan tubuhnya untuk dilumat sepenuhnya oleh kelembutan dan keliaran yang ia berikan. Itu adalah rasa memiliki yang paling murni dan memabukkan sebuah puncak kenikmatan duniawi yang tak akan pernah bisa digantikan oleh selir mana pun di muka bumi.

Di bawah buaian dan cumbu rayu sang raja mafia yang kembali bertekuk lutut di atas tubuhnya, Aurora memejamkan mata seraya membalas setiap sentuhan Gabriel dengan sangat sempurna.

Ia membiarkan Gabriel tenggelam dan mabuk dalam kenikmatan buatan yang ia sajikan. Di dalam kegelapan malam yang sarat akan desahan dan kehangatan gairah, Aurora tersenyum sangat tipis di balik bahu Gabriel.

Teruslah mabuk, Gabriel Moretti. Teruslah percaya bahwa kau memiliki tubuh dan jiwaku sepenuhnya. Karena makin dalam kau tenggelam dalam kenikmatan palsu ini, makin buta kau terhadap perangkap pelarian yang sudah hampir selesai kubangun di balik membelakangi punggungmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!