Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Antara Kasihan dan Kehilangan
“Yang paling melelahkan bukan memilih antara benar dan salah, melainkan memilih antara menyelamatkan seseorang atau mempertahankan seseorang.”
--
Malam setelah Keira sadar terasa jauh lebih panjang dibanding malam-malam sebelumnya. Lorong rumah sakit yang biasanya hanya dipenuhi kelelahan kini dipenuhi kebingungan. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap menghadapi kenyataan bahwa Keira membuka mata dan melihat Birendra sebagai Raka.
Alina duduk di kursi ruang tunggu dengan kedua tangan saling menggenggam erat di pangkuannya. Jemarinya dingin, di sebelahnya, Hendra memijat pelipis sambil menundukkan kepala. Birendra berdiri beberapa langkah dari mereka, menatap jendela lorong yang memantulkan bayangan dirinya sendiri.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit, hingga keheningan itu akhirnya pecah ketika dokter Arman datang membawa map rekam medis. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa percakapan yang akan terjadi bukan percakapan yang mudah.
“Mari kita bicara di ruang konsultasi,” ujarnya pelan.
Ruang konsultasi terasa terlalu sempit untuk menampung kecemasan mereka bertiga. Lampu putih menyala terang di atas meja dokter, memantulkan bayangan lelah di wajah masing-masing. Dokter Arman membuka map perlahan sebelum mulai menjelaskan.
“Secara fisik, kondisi Ibu Keira cukup baik. Cedera di kepala tidak menyebabkan kerusakan otak berat. Namun kami melihat adanya respons psikologis pasca trauma yang cukup kuat.”
“Maksud dokter?” Tanya Alina penasaran.
“Kecelakaan itu terjadi sangat mendadak. Dalam situasi ekstrem, otak seseorang kadang menolak kenyataan yang terlalu menyakitkan. Keira kemungkinan besar belum mampu menerima kehilangan suaminya.” Penjelasan itu membuat Hendra memejamkan kedua matanya untuk sejenak.
“Jadi dia benar-benar mengira Birendra adalah Raka?” suaranya terdengar serak dan dokter dihadapannya mengangguk pelan.
“Untuk saat ini, ya. Ini bukan pura-pura dan bukan kebingungan sesaat. Saat melihat Pak Birendra, otaknya memilih sosok yang paling mendekati figur suaminya agar ia merasa aman.” Kalimat itu tentu saja membuat dada Alina terasa begitu sesak.
“Kalau kami langsung bilang Raka sudah meninggal?” Birendra akhirnya buka suara, namun pertanyaan itu membuat dokter Arman menarik napasnya panjang.
“Resikonya cukup besar. Pasien baru sadar setelah trauma berat. Guncangan emosional mendadak bisa memperburuk kondisi psikisnya, bahkan memicu penolakan yang lebih dalam.” Alina menatap meja di depannya. Ia merasa bersalah karena beberapa menit lalu sempat berharap dokter akan mengatakan semua itu hanya efek obat.
“Lalu kami harus bagaimana?” tanyanya lirih. Dokter menatap mereka bergantian sebelum menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati.
“Untuk sementara, kami sarankan lingkungan di sekitar Keira dibuat senyaman mungkin. Jangan memaksanya menerima kenyataan malam ini. Yang paling penting sekarang adalah membuatnya merasa aman.” Tatapan Dokter Arman pun akhirnya berhenti pada Birendra.
“Dan saat ini, rasa aman itu muncul ketika ia melihat Anda.” Pungkas Dokter Arman lagi dan membuat udara di ruangan mendadak terasa lebih berat.
Usai konsultasi, mereka kembali ke lorong tanpa bicara sepatah kata pun. Hendra berjalan lebih dulu menuju mushola rumah sakit, mungkin untuk mencari ketenangan yang tak lagi ia temukan di dalam dirinya sendiri. Sedangkan Alina dan Birendra tertinggal berdua di depan jendela panjang.
Di luar, kota masih terjaga oleh lampu-lampu malam. “Aku nggak tahu harus merasa apa,” bisik Alina akhirnya dan membuat Birendra menoleh. Wajah pria itu terlihat tampak lebih pucat dibanding beberapa jam lalu.
“Aku juga.”
“Aku kasihan sama kak Keira.” Tutur Alina. “Tapi waktu dia pegang tangan kamu…” suara Alina pecah sebelum selesai. Birendra langsung mendekat dan menggenggam kedua tangan Alina.
“Alin, lihat aku.” Alina mendongakkan wajahnya perlahan. “Aku bukan Raka.” Air mata Alina langsung mengalir begitu saja.
“Aku tahu,” bisiknya. “Aku cuma takut suatu hari nanti aku sendiri yang dipaksa percaya kalau kamu memang bukan milikku lagi.” Kalimat itu menghantam Birendra lebih keras daripada apa pun malam itu. Ia menarik Alina ke pelukannya tanpa ragu.
“Jangan bilang begitu.” Alina menangis di dadanya cukup lama. Untuk beberapa menit, rumah sakit, dokter, dan segala ketakutan mereka seolah menghilang. Yang tersisa hanya dua orang yang sedang berusaha mempertahankan satu sama lain.
Menjelang dini hari, perawat yang tengah mengurus Keira di ruang intensif itu pun kembali datang menghampiri mereka yang tengah duduk menunggu di ruang tunggu.
“Pasien bangun lagi dan meminta bertemu Mas Raka.” Alina merasakan tubuh Birendra menegang. “Tadi beliau mulai gelisah dan menangis.” Ucapnya lagi. Birendra menutup mata sejenak sebelum mengangguk pelan, dan Alina langsung memegang lengannya.
“Aku ikut.” Tuturnya Alina.
“Kamu capek.”
“Aku tetap ikut.” Mereka berjalan bersama menuju ruang intensif. Setiap langkah terasa seperti menuju sesuatu yang belum siap mereka hadapi. Begitu pintu dibuka, Keira langsung menoleh. Wajah pucatnya mendadak lebih tenang saat melihat Birendra.
“Mas,” Nada lega itu kembali terdengar. Keira mengulurkan tangan dan hal itu membuat napas Alina tercekat.
Birendra menatap Alina sekilas, seolah meminta izin yang tidak seharusnya ia minta. Alina mengangguk sangat kecil meski dadanya terasa nyeri. Lalu Birendra mendekat dan membiarkan Keira menggenggam tangannya.
“Jangan pergi lagi,” bisik Keira seraya memejamkan kedua matanya. Alina berdiri di sisi lain ranjang, tersenyum setenang mungkin agar kakaknya tidak semakin gelisah. Namun di balik senyum itu, ia merasakan sesuatu yang perlahan retak di dalam dirinya.
Keira kembali tertidur beberapa menit kemudian. Saat mereka keluar dari ruangan, Birendra langsung melepaskan genggaman Keira dan berjalan cepat menghampiri Alina.
“Alin,” panggil Birendra, namun Alina langsung menggeleng pelan sebelum ia sempat menjelaskan apa pun.
“Aku tahu kamu melakukan ini demi Kak Keira.”
“Tapi aku takut menyakitimu.” Mendengar itu membuat Alina tersenyum tipis.
“Kalau kita sama-sama tahu alasanmu, mungkin sakitnya nggak akan terlalu besar.” Ujarnya, padahal jauh di dalam hati, ia tahu rasa sakit itu baru saja dimulai.
Cahaya pagi mulai menyusup melalui jendela lorong rumah sakit ketika Alina akhirnya bersandar di bahu Birendra. Pria itu merangkulnya lembut, dan untuk sesaat semuanya terasa kembali seperti semula. Namun beberapa meter dari mereka, di balik pintu ruang intensif, Keira tertidur dengan senyum tenang karena percaya suaminya sedang berada di dekatnya