NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:121.3k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pintu kamar apartemen terbanting keras. Di dalam kamar yang remang-remang, erangan dan desah napas liar memenuhi udara.

Jordan menumpahkan seluruh amarah, kebingungan, dan gairahnya pada Yessika tanpa ampun.

Wanita itu menerima setiap jamahan dengan senyum samar yang tersembunyi di balik bantal. Baginya, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan kepastian bahwa Jordan masih berada dalam genggamannya.

Beberapa jam kemudian, keheningan melingkupi ruangan. Jordan sudah tertidur lelap di sampingnya, mendengkur halus dengan dada bidang yang naik turun tanpa selembar benang pun.

Yessika perlahan bangkit dari tempat tidur. Tanpa menimbulkan suara, jemarinya meraih ponsel milik Jordan dari meja nakas, lalu beralih mengambil ponselnya sendiri.

Dengan senyum penuh kelicikan, Yessika mendekatkan tubuhnya ke Jordan, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, lalu mengambil foto selfie topless yang memperlihatkan mereka berdua berada di balik selimut yang sama.

Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan di aplikasi percakapan.

[Foto dikirim]

“Lihat ini, Vanessa. Kau boleh memiliki status sebagai calon istri resmi Jordan. Tapi pada akhirnya, pria ini akan selalu berlutut dan memohon di atas ranjangku. Baginya, kau hanyalah batu loncatan. Aku pemenang sesungguhnya di sini.”

Pesan itu terkirim tepat ke nomor pribadi Vanessa. Yessika terkekeh pelan, meletakkan ponselnya kembali, lalu menyusup nyaman ke dalam pelukan Jordan.

Di kediaman utama keluarga Carlton, Vanessa sedang berdiri di balkon kamar pribadinya, menyesap teh hangat sambil menikmati angin malam.

Dering notifikasi ponsel membuatnya melirik layar.

Vanessa membuka pesan dari nomor tak dikenal. Begitu foto tidak senonoh Yessika dan Jordan terpampang jelas di layar, tidak ada raut terkejut atau derai air mata di wajahnya.

Sudut bibir merahnya hanya terangkat, membentuk garis senyum yang amat sinis.

Tiba-tiba, sebuah tangan tegap terulur dari belakang dan merebut ponsel dari genggaman Vanessa.

"Hei!" tegur Vanessa terperanjat, berbalik cepat.

Alessio berdiri di sana, hanya memakai kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka. Pria itu menatap layar ponsel Vanessa, memperhatikan foto panas Jordan dan Yessika dengan mata yang tajam.

"Apa kau tidak sakit hati melihatnya?" tanya Alessio, suaranya berat dan mengintimidasi. Ia menatap lurus ke iris mata Vanessa.

Vanessa terkekeh sinis, merebut kembali ponselnya dari tangan Alessio.

"Sakit hati? Cih! Yang ada aku hanya merasa sial karena mataku harus melihat proses kawin dua ekor simpanse."

Tawa renyah Alessio seketika pecah memecah keheningan malam. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, tak menyangka kata-kata sepedas itu keluar dari bibir wanita anggun di hadapannya.

"Simpanse?" Alessio terkekeh lagi. "Kau baru saja mengatai tunanganmu dan saudarimu sendiri sebagai simpanse, Vanessa?"

"Memang itu kenyataannya," sahut Vanessa datar, mengusap layar ponselnya untuk menyimpan foto itu. Foto itu, kelak akan berguna.

Alessio melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia mengulurkan kedua tangannya, berniat merengkuh pinggang Vanessa dari depan.

"Jangan berani-berani," Vanessa menahan dada tegap Alessio dengan satu tangannya, tatapannya berkilat tajam. "Jaga jarakmu, Alessio. Rumah ini penuh pengawal. Bagaimana kalau ada yang melihat?"

Alessio justru semakin memajukan tubuhnya, menunduk hingga napas hangatnya menyapu pipi Vanessa.

"Aku justru suka hal yang menantang. Kalau ada yang melihat... bukankah itu bagus?"

"Alessio!" bisik Vanessa menekan. "Hubungan kita belum saatnya untuk dibongkar! Jangan merusak rencana hanya karena impuls bodohmu. Kalau kau tidak mau mendengar perintahku, aku siap mencari partner lain."

Mendengar ancaman dingin itu, raut jahil di wajah Alessio berangsur surut. Pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah.

"Baiklah, Princess. Kau pemegangnya," Alessio mengangguk patuh. "Aku ikuti permainanmu."

Vanessa mengomel. "Kalau cemburu pada Yessika, jangan jadikan aku pelarian."

"Hei, kau bilang apa?" protes Alessio. "Siapa yang cemburu?"

"Tidak tahu. Mungkin, simpanse jantan lainnya," balas Vanessa seraya meraih cangkirnya lalu pergi begitu saja.

"Apa dia sedang menyindirku?" gumam Alessio tak percaya. "Apa dia masih belum sadar juga? Dasar perempuan bodoh!" Alessio tertawa kecil.

*****

Keesokan harinya, suasana meja makan keluarga Carlton terasa formal dan kaku. Denting sendok dan pisau beradu dengan piring porselen.

Arthur duduk di kepala meja, sementara Jordan dan Vanessa duduk bersebelahan. Tak lama, Alessio ikut bergabung. Dia duduk tepat disamping Vanessa yang membuat Jordan jadi sedikit kesal.

"Kau bisa duduk di kursi seberang, Alessio," tegur Jordan.

"Aku suka di sini," balas Alessio.

"Tapi, Vanessa jadi tak nyaman," ujar Jordan beralasan.

Alessio menatap Vanessa sebentar lalu kembali menatap Jordan.

"Sepertinya, Vanessa tidak keberatan. Jadi, kenapa malah kau yang kepanasan?"

"Kau..."

Arthur meletakkan pisau makannya, mengusap bibir dengan serbet kain, lalu berdehem keras untuk menyudahi perdebatan kedua putranya.

Ekhem!

"Karena situasi belakangan ini sudah kembali tenang, ada hal penting yang ingin Ayah umumkan," ujar Arthur.

Semua orang menatap Arthur.

"Pernikahan Vanessa dan Jordan akan dipercepat," lanjut Arthur tegas. "Satu bulan dari sekarang, kalian berdua akan resmi menikah."

Jordan tersenyum lebar. Ia melirik Vanessa, lalu mengulurkan tangannya di atas meja untuk menggenggam jemari Vanessa.

"Terima kasih, Ayah," kata Jordan penuh nada percaya diri.

Ia menatap Vanessa dengan raut wajah manis yang dibuat-buat.

"Aku janji akan membahagiakanmu, Vanessa. Kau akan menjadi nyonya muda paling berharga di rumah ini."

Vanessa merasakan gelombang mual merayapi perutnya saat kulit Jordan menyentuh tangannya.

Rasa jijik membakar dadanya, namun di depan Arthur, ia menahan diri dan mengukir senyum tipis yang amat kaku.

"Tentu, Jordan. Terima kasih," balas Vanessa singkat, berusaha menarik tangannya pelan, namun Jordan menggenggamnya makin erat untuk pamer di depan Alessio.

Di bawah meja makan yang tertutup taplak panjang, Alessio menatap tajam genggaman tangan Jordan pada Vanessa. Kilat cemburu dan amarah terpancar jelas di matanya.

Tanpa bersuara, Alessio perlahan melepas sepatu pantofel kirinya. Ia menyelonjorkan kakinya di bawah meja, lalu dengan sengaja menempelkan ujung kakinya yang terbalut kaus kaki hitam ke betis mulus Vanessa.

Deg!

Vanessa terperanjat di kursinya. Matanya membelalak lebar, langsung mengarah pada Alessio yang berada di sampingnya.

Pria itu tampak tenang, masih mengunyah sarapan di piringnya seolah tak terjadi apa-apa.

'Pria gila ini...!' batin Vanessa murka.

Vanessa berusaha menarik kakinya menjauh, namun Alessio justru makin gencar menggoda. Kakinya bergerak naik perlahan, mengusap betis Vanessa dengan tekanan yang makin berani dan menantang.

Permainan rahasia di bawah meja itu berlangsung sangat menegangkan. Napas Vanessa mulai tidak teratur. Jantungnya berdetak cepat. Sedikit gerakan salah, maka semuanya akan terbongkar.

Sementara Jordan masih terus mengoceh soal rencana pernikahan di depan ayahnya, Vanessa fokus berusaha menghindari sentuhan nakal Alessio.

Kesal karena Alessio tak kunjung berhenti, Vanessa mengangkat kakinya dan menendang tulang kering Alessio dengan lumayan keras di bawah meja.

Bugh!

Alessio tidak meringis sedikit pun. Malah, dengan gerakan refleks yang amat cepat, jemari tangannya yang meluncur turun di bawah meja berhasil menangkap pergelangan kaki Vanessa.

Alessio menarik kaki Vanessa sedikit mendekat ke arah kursinya, lalu tanpa ampun, jemari tangannya yang menyusup ke bawah taplak meja mencubit betis lembut Vanessa dengan cukup keras.

"Aww!"

Pekikan nyaring keluar dari bibir Vanessa. Posisinya yang terkejut membuat sendok di tangannya terlepas dan jatuh berdenting keras di atas piring.

Seluruh kegiatan di meja makan seketika terhenti. Arthur dan Jordan serempak menoleh menatap Vanessa dengan dahi berkerut bingung.

"Vanessa? Ada apa?" tanya Jordan panik. Ia reflek melepaskan genggaman tangannya.

"Kenapa kau memekik begitu?"

1
Sari Nilam
🤣🤣
ryuka
hancur kamu jordan.. jadi gelandangan
Umi Zein
kamu gapapa kejam sma si Jordan, tapi kamu jangn terlalu kejam sma ayahmu ya🤭🤭🥺
ryuka
allesio kamu kejammmm tpi aku sukaaaa😍😍😍😍😍😍
Muft Smoker
si Jordan emnk dasar otak udang rebon mah susah ,,
cuma dengar uang 2.5 ember ,, lngsung otak2 menggap2 kayak ikan kurang air ,,
ketipeng anda woooy Jordan ,, /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
Aduuh aq gx liat ap2 yx ,, sumpah ,, 🫣🫣🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
Umi Zein
diiih playing victim 😏😏
mery harwati
Jordan Jordan 😜
mery harwati
Otak udang vs otak kancil 😜
Muft Smoker
masa aktif mu tinggal 3 harii Jordan ,, 🤫🤫🤫🤫😂😂😂😂
Muft Smoker
masuk laa si macan ompong ke perangkap alessio/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Fathan Fahri efendi
65545
rurry Irianty
sandiwara d mulai😄
ryuka
jordan jordan.. mampus kamu bener2 mampus 3 hari lgi
Umi Zein
sebenernya benci Gedeg banget sma Arthur bapak sekaligus suami durjana, menelantarkan anak dan istrinya demi gundik dan anak haramnya yg gak tau diri. tpi drah daging tetep lah darah daging yg gak bisa dirubah oleh apapun. sebesar apapun kesalahan yg udh di perbuat ayahmu di masa lalu biar Tuhan yg bales, kita sbgai manusia gak berhak membalas dendam itu. jangnlah terlalu kejam Ale sma ayahmu, dia sdh merasakan penderitaan itu kamu sbgai anak hrs ttp menolong nya, klo gak bs sebagai anak seenggaknya sebagai kemanusiaan. walaupun dlm kenegaraan kamu sudah putus hubungan tpi ikatan darah gak bisa putus gtu aja🥺🥺
rurry Irianty
ohh selamat toh,ku kira meninggoy kena serangan jantung🤭
ryuka
allesio kamu kuat.. kamu hebat
Umi Zein
dahlah menyesal pun tiada guna, sekarang nikmat apa yg sudah kamu perbuat di masa lalu ke ibu Alesio, skrng dpet karma nya
Umi Zein
kasiaan kamu chatur hanya di manfaatkan oleh gundik dan anak kandung palsumu. yg kandung kamu sia2in, justru yg anak gundik mu kamu jaga sayangi sepenuh hati😏😏😬
ryuka
abis kamu jordan di hempaskan ke jurang berkali kali sma allesia 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!