NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030: Air Mata Palsu Ketua Grup

Pagi berikutnya, Ratna Sari datang ke ruang rapat hotel dengan kacamata hitam.

Di belakangnya berjalan Mawar Anggraini.

Ratna memakai sweter putih, rambut diikat rendah, tangan menggenggam tisu. Begitu duduk, ia langsung menunduk.

"Saya masih belum percaya Kirana pergi," katanya sebelum ditanya. Suaranya pecah. "Kami seperti saudara."

Mawar duduk di sampingnya. Wajahnya lebih tenang. Terlalu tenang untuk orang yang baru kehilangan artis utama.

Adira menyalakan perekam. "Pemeriksaan awal. Ratna Sari, pekerjaan?"

"Penyanyi dan aktris pendukung. Saya satu manajemen dengan Kirana."

"Hubungan Anda dengan korban?"

Ratna menghapus air mata. "Dekat. Dia adik saya di grup. Saya yang sering bantu dia kalau capek."

Sistem muncul di wajah Ratna.

[Tingkat Penyamaran Tinggi]

[Emosi Tampil: Duka]

[Emosi Dasar: Tegang / Takut Terbaca]

[Kontrol Ekspresi: Terlatih]

Arka menatapnya tanpa mengubah wajah.

Orang yang menangis palsu sering terlalu rajin mengatur jeda.

Ratna tidak menangis berantakan.

Ia menangis seperti orang yang tahu kamera mungkin masih mencari sudut.

Adira membuka map. "Kami akan fokus pada waktu sebelum kejadian. Pada hari kecelakaan, pukul dua belas sampai satu siang, Anda di mana?"

"Di ruang make-up. Saya istirahat."

"Sendiri?"

"Ada Mbak Lilis, make-up artist. Dia bisa membuktikan."

"Sepanjang waktu?"

Ratna mengangguk cepat. "Sepanjang waktu. Saya bahkan tidur sebentar. Saya baru keluar setelah ada teriakan."

Arka menulis satu kata.

Cepat.

Adira bertanya, "Anda tidak mendekati panggung wiraga sebelum adegan?"

"Tidak. Saya takut ketinggian. Saya tidak pernah suka dekat alat itu."

"Anda tahu Rusa Kecil memakai pengait kanan yang patah?"

"Mana saya tahu? Saya bukan teknisi."

Jawaban itu benar secara isi.

Tetapi bahunya bergerak sepersekian detik sebelum kalimat selesai.

Arka melihat jari Ratna meremas tisu.

Kuku ibu jarinya menekan bagian tengah tisu. Orang yang benar-benar menangis biasanya sibuk menyeka. Ratna sibuk memastikan tangannya terlihat gemetar.

Mawar menyela halus, "Bu Adira, Ratna masih syok. Pertanyaan teknis seperti itu mungkin berat."

Adira menatapnya. "Kalau berat, dia boleh minta jeda. Jangan jawab untuk saksi."

Mawar tersenyum tipis. "Tentu."

Label kecil di wajah Mawar menyala.

[Kontrol Narasi]

[Menilai Risiko]

Pemeriksaan Ratna berlangsung empat puluh menit. Ia mengulang hal yang sama.

Dari pukul dua belas sampai satu lebih sepuluh, ia berada di ruang make-up.

Lilis ada bersamanya.

Ia tidur.

Ia mendengar teriakan.

Ia keluar.

Ia menangis.

Semua rapi.

Terlalu rapi.

Setelah Ratna dan Mawar keluar, Bambang menutup pintu.

"Kalau saya nilai dari air mata, dia bisa dapat penghargaan," katanya.

Adira menatap Arka. "Menurut Anda?"

"Dia bohong."

"Dasar?"

"Ritme jawaban terlalu siap. Saat ditanya soal pengait kanan, dia berkata tidak menguasai teknis, namun tubuhnya bereaksi sebelum kalimat selesai. Dia tahu pertanyaan itu penting."

Bambang menggaruk dagu. "Itu cukup untuk curiga. BAP tetap butuh bukti."

"Betul. Karena itu kita periksa Lilis."

Lilis Handayani, make-up artist, dipanggil pukul sepuluh lewat lima.

Ia berbeda dari Ratna. Wajahnya pucat sejak masuk. Tangannya memegang tas selempang erat-erat. Ia duduk di kursi paling ujung, seolah ingin memberi jarak dari meja.

Adira membaca identitas, lalu langsung masuk.

"Pada hari kejadian, Ratna Sari berada di mana antara pukul dua belas sampai satu siang?"

"Di ruang make-up, Bu."

"Sepanjang waktu?"

"Iya. Sepanjang waktu."

"Apa yang dia lakukan?"

"Istirahat. Tidur sebentar. Lalu kami dengar teriakan."

Bambang menatap Arka.

Arka menulis kalimat di buku catatan.

Sama persis.

Adira bertanya lagi dengan susunan berbeda.

"Jam berapa Ratna keluar dari ruang make-up?"

"Setelah ada teriakan, Bu."

"Sebelum itu tidak keluar sama sekali? Ke toilet, mengambil minum, menerima telepon?"

Lilis menelan ludah. "Tidak."

Sistem memberi label tipis.

[Ketakutan]

[Kalimat Hafalan]

[Menahan Koreksi]

Adira menutup map perlahan.

"Mbak Lilis, saya akan jelaskan satu hal. Anda saat ini saksi. Kalau Anda lupa, bilang lupa. Kalau Anda tidak melihat, bilang tidak melihat. Tapi kalau Anda sengaja memberi keterangan palsu untuk menutup perkara pidana, posisi Anda bisa berubah."

Lilis menunduk.

Mawar yang menunggu di luar mengetuk pintu.

Bambang membuka sedikit. "Nanti."

Pintu ditutup lagi.

Adira menggeser satu lembar ke depan Lilis.

"Ini pemberitahuan hak dan kewajiban saksi. Termasuk konsekuensi memberi keterangan palsu dalam proses hukum. Saya tidak sedang menakut-nakuti. Saya memastikan Anda paham sebelum melanjutkan."

Lilis membaca.

Tangannya mulai gemetar.

"Bu, saya... saya cuma make-up artist. Saya tidak tahu apa-apa."

"Kalau tidak tahu, jangan menjadikan diri Anda tameng orang yang tahu."

Kalimat itu memukul tepat.

Air mata Lilis pecah tanpa pola yang rapi.

Tidak rapi.

Tidak punya waktu memilih sudut.

"Saya takut kehilangan kerja," katanya pelan.

Adira tidak menyela.

Lilis menutup wajah. "Ratna memang keluar. Saya bilang dia tidur karena diminta."

Bambang langsung menegakkan badan.

Adira bertanya, "Keluar pukul berapa?"

"Sekitar dua belas dua puluh. Saya lihat jam karena jadwal touch up jam satu kurang sepuluh."

"Kembali pukul berapa?"

"Sekitar dua belas empat puluh lima. Mungkin lebih sedikit. Saya panik."

"Jadi dia pergi sekitar dua puluh lima menit?"

Lilis mengangguk sambil menangis.

"Ke mana?"

"Saya tidak tahu. Dia cuma bilang mau cari udara. Tapi dia bawa ponsel dan jaket hitam. Waktu kembali, dia kelihatan buru-buru. Tangannya bau seperti... seperti minyak mesin atau logam. Saya pikir mungkin dari pintu belakang."

Arka menatap Adira.

Dua puluh lima menit cukup untuk pergi ke meja kontrol.

Cukup untuk menyerahkan alat.

Cukup untuk memastikan sesuatu sudah siap.

Adira bertanya, "Siapa yang meminta Anda berbohong?"

Lilis diam.

Bambang berkata pelan, "Mbak, bagian itu yang menentukan Anda saksi atau ikut terseret."

Lilis membuka tas. Dari dalam ia mengeluarkan ponsel, membuka mutasi e-wallet, lalu menyerahkannya dengan tangan gemetar.

"Saya dapat uang. Tiga juta. Setelah kejadian. Katanya untuk bantuan karena syuting berhenti. Tapi sebelum itu Mbak Mawar bilang, kalau ditanya polisi, bilang Ratna tidak keluar."

Adira mengambil foto layar dengan prosedur dokumentasi.

"Pengirim?"

"Akun admin manajemen. Tapi yang telepon saya Mbak Mawar."

Arka melihat layar.

Rp 3.000.000.

Nominal kecil untuk membeli kebohongan besar.

Sistem pada Lilis berubah.

[Beban Psikologis Turun]

[Keterangan Mulai Konsisten]

Adira meminta Lilis mengulang kronologi dari awal. Kali ini detailnya berubah menjadi manusiawi.

Ada jeda.

Ada lupa kecil.

Ada rasa takut.

Itu justru lebih dapat dipercaya.

Pukul sebelas lewat dua puluh, BAP tambahan sementara selesai. Lilis menandatangani dengan mata merah.

Sebelum keluar, ia berbisik, "Bu, saya tidak mau masuk berita."

Adira menjawab, "Kami lindungi identitas saksi selama prosedur memungkinkan. Tapi Anda harus tetap jujur."

Lilis mengangguk dan keluar lewat pintu samping.

Lima menit kemudian, Mawar masuk tanpa diminta.

Wajahnya masih rapi, tetapi matanya lebih keras.

"Bu Adira, saya keberatan saksi kami ditekan."

Adira menatapnya. "Saksi Anda?"

Mawar sadar salah bicara, tetapi terlambat.

Arka menunduk menulis.

Bambang tersenyum tipis. "Menarik. Saya kira dia saksi negara. Manajemen tidak punya saksi pribadi."

Mawar menahan rahang. "Maksud saya, orang yang bekerja di produksi kami."

"Kalau begitu, tolong jangan hubungi dia dulu," kata Adira. "Mulai sekarang semua komunikasi terkait saksi lewat penyidik."

"Anda tidak bisa melarang saya mengurus tim saya."

"Bisa, kalau ada indikasi pengarahan keterangan."

Mawar diam.

Label di wajahnya menyala lebih tebal.

[Ancaman hukum terdeteksi]

[Mencari strategi baru]

[Menahan panik]

Adira tidak mengejarnya lebih jauh. Belum waktunya.

Setelah Mawar pergi, Bambang menutup pintu dan bersiul pelan.

"Tiga juta rupiah. Harga alibi seorang artis."

"Bukan harga alibi," kata Arka. "Harga make-up artist supaya takut."

Adira menempelkan catatan baru di papan.

Ratna Sari: alibi runtuh.

Mawar Anggraini: indikasi pengarahan saksi dan pembayaran Rp 3.000.000.

Lilis Handayani: saksi berubah keterangan.

Arka menambahkan garis waktu.

12.20 Ratna keluar ruang make-up.

12.45 Ratna kembali.

13.05 adegan wiraga dimulai.

13.12 korban jatuh.

Dua puluh lima menit kosong itu berdiri di tengah papan seperti lubang hitam.

Adira menatapnya. "Pertanyaan berikutnya sederhana."

"Dia pergi ke mana," kata Arka.

"Dan siapa yang dia temui."

Sistem muncul di depan Arka.

[Progres Misi: 24%]

[Alibi Subjek Ratna Sari: Rusak]

[Indikasi Kolusi Saksi: Terdeteksi]

[Objek Berikutnya: Jalur Pergerakan dan Komunikasi]

Arka menatap nama Ratna di papan.

Air mata palsu sudah kering.

Sekarang yang tersisa hanya waktu dua puluh lima menit.

Dan dalam kasus pembunuhan yang disamarkan sebagai kecelakaan, dua puluh lima menit bisa lebih tajam daripada pisau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!