Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Bukti yang Tidak Bisa Dihapus
Kini Gunawan telah tiba di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Gunawan turun bersama enam pengawalnya dan tiga orang dari tim hukum. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan keseriusan.
Beberapa karyawan rumah sakit yang melihat kedatangan mereka langsung berbisik-bisik.
"Siapa mereka?"
"Itu Gunawan Prasetyo, bukan?"
"Iya, dia pemegang saham rumah sakit ini."
"Kenapa datang membawa pengacara?"
Gunawan tidak memperdulikan tatapan mereka. Ia langsung berjalan menuju ruang direktur.
Seorang sekretaris buru-buru berdiri. "Selamat pagi, Pak Gunawan."
"Di mana Direktur rumah sakit?"
Sekretaris itu tampak gugup. "Beliau... sedang tidak berada di ruangan."
"Sejak kapan?" tanyanya datar.
"Saya kurang tahu, Pak."
Gunawan menyipitkan mata. "Baik. Saya ingin menggunakan hak saya sebagai pemegang saham untuk melakukan audit terhadap administrasi dan rekam medis rumah sakit."
Sekretaris itu semakin gugup. "Audit... hari ini, Pak?"
"Ya," jawabnya singkat. Gunawan langsung menyerahkan sebuah dokumen. "Ini surat pemberitahuan resmi. Tim hukum saya akan memeriksa laporan keuangan, rekam medis, data pasien, serta seluruh transaksi yang berkaitan dengan pasien bernama Adrian Mahendra."
Sekretaris menerima dokumen tersebut dengan tangan gemetar. Namun sebelum sempat menjawab... suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Tap... tap... tap
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun berjalan dengan penuh percaya diri. Pakaian mewahnya terlihat elegan. Rambutnya tertata rapi, sementara beberapa orang berjalan di belakangnya.
Gunawan langsung mengenali wanita itu. "Miranda Mahendra."
Miranda berhenti beberapa meter di hadapannya.
Senyum tipis muncul di bibirnya. "Apa kabar Pak Gunawan."
Gunawan menatapnya dingin. "Akhirnya kamu datang juga."
Miranda tertawa kecil. "Tentu. Ini rumah sakit tempat anak saya dirawat."
"Anakmu?" Gunawan mengangkat alis. "Atau pewaris yang sedang berusaha kamu singkirkan?"
Senyum Miranda menghilang sesaat. Namun ia segera kembali memasang wajah tenang. "Saya tidak mengerti maksud Anda."
Dari belakang Miranda, seseorang kemudian muncul. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan jas putih dengan wajah tegas. Pria itu adalah Direktur Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat... Markus Antonio.
Gunawan menatapnya tajam. "Jadi selama ini Anda yang menjadi direktur rumah sakit ini?"
Markus mengangguk santai. "Benar."
"Kenapa kemarin Anda tidak berada di tempat ketika saya datang?"
"Saya memiliki urusan lain."
"Urusan yang berkaitan dengan Miranda?"
Suasana mendadak hening.
Markus tersenyum tipis. "Saya rasa pertanyaan itu tidak relevan."
Gunawan menyerahkan dokumen audit kepada Markus. "Mulai hari ini, saya akan melakukan audit menyeluruh terhadap rumah sakit ini."
Markus bahkan tidak melihat dokumen tersebut. "Maaf, Pak Gunawan. Saya tidak bisa mengizinkannya."
Gunawan mengernyit. "Anda menolak?"
"Ya."
Tim hukum Gunawan langsung saling berpandangan.
Salah satu pengacara maju. "Pak Markus, berdasarkan kepemilikan saham yang dimiliki klien kami, beliau memiliki hak untuk meminta pemeriksaan terhadap pengelolaan rumah sakit."
Markus tersenyum tenang. "Silahkan periksa dokumen hukum Anda kembali." Ia kemudian menunjuk berkas yang dibawa Gunawan. "Audit tidak dapat dilakukan secara sepihak tanpa prosedur yang sesuai."
Gunawan menatapnya tajam. "Kalau begitu, apa yang Anda sembunyikan?"
Markus tidak menjawab.
Miranda justru melangkah maju. "Pak Gunawan, saya rasa Anda terlalu mencampuri urusan keluarga saya."
Gunawan tertawa kecil. "Keluarga?" Tatapannya berubah dingin. "Adrian hampir mati karena obat yang diberikan rumah sakit ini."
Miranda menggeleng. "Itu hanya tuduhan."
"Dia diserang di dalam bangsal. Itu juga tuduhan, dan tiga orang bersenjata masuk ke rumah sakit, Apa itu hanya tuduhan!" jawab Gunawan dengan sangat emosi.
Miranda tersenyum. "Adrian adalah pasien dengan gangguan jiwa berat, dan itu tidak menutup kemungkinan. Kalau dia akan membahayakan orang-orang di sekitarnya."
Gunawan mengepalkan tangannya. "Jangan mencoba membalikkan keadaan."
Markus kemudian ikut berbicara. "Kami tidak sedang melakukan kesalahan."
Gunawan menatapnya. "Benarkah?"
"Benar." Markus berdiri tegak. "Semua tindakan yang kami lakukan terhadap Adrian berdasarkan kondisi medis dan prosedur rumah sakit."
Miranda mengangguk.
"Kami hanya berusaha melindungi rumah sakit ini." Markus melanjutkan dengan suara mantap. "Adrian merupakan pasien yang berbahaya. Pemberian obat, pembatasan gerak, dan pengawasan ketat dilakukan untuk mencegah dia melukai dirinya sendiri maupun orang lain."
Gunawan menatap keduanya dengan penuh kemarahan. "Jadi kalian berdua akan mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah prosedur medis?"
"Benar," jawab Markus dan Miranda hampir bersamaan.
Salah satu pengacara Gunawan membuka sebuah map. "Kalau begitu, bagaimana dengan transfer uang dari rekening Nyonya Miranda Mahendra kepada pihak rumah sakit?"
Wajah Markus seketika berubah dan Miranda langsung terdiam.
Gunawan tersenyum tipis. "Kalian pikir kami datang tanpa membawa bukti?"
Pengacara itu mengeluarkan beberapa lembar dokumen. "Ini bukti transaksinya, Tuan."
Markus menatap kertas tersebut.
Namun Miranda tetap tenang. "Itu pembayaran resmi."
"Pembayaran untuk apa?" tanya Gunawan dengan tegas.
Miranda menjawab tanpa ragu. "Donasi."
Gunawan tertawa pendek. "Donasi?"
"Ya." Miranda menatapnya penuh percaya diri. "Saya memberikan sumbangan kepada rumah sakit untuk membantu perawatan pasien."
Gunawan menyipitkan mata. "Termasuk Adrian?"
"Tentu."
Markus segera mengangguk. "Benar. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah sakit."
Gunawan menatap mereka berdua beberapa detik. Kemudian ia berkata pelan, "baik."
Miranda tampak puas.
Namun Gunawan justru tersenyum. "Kalau kalian yakin tidak melakukan kesalahan..." Ia menatap seluruh ruangan. "Maka kalian seharusnya tidak keberatan jika semuanya diperiksa oleh pihak berwenang."
Senyum Miranda perlahan menghilang.
Gunawan mengeluarkan ponselnya. "Saya sudah menghubungi pihak yang berwenang untuk meminta penyelidikan resmi."
Wajah Markus langsung menegang. "Pak Gunawan..."
Gunawan mengangkat tangan. "Jangan khawatir." Ia tersenyum dingin. "Kalau kalian benar-benar tidak bersalah, kalian tidak perlu takut."
Miranda mengepalkan tangannya. Namun sebelum ia sempat menjawab, ponsel Markus tiba-tiba berdering.
Markus melihat layar, wajahnya langsung pucat. Sebuah pesan masuk. "Ada rekaman CCTV yang berhasil ditemukan." Markus menelan ludah.
Miranda memperhatikan perubahan wajahnya. "Apa yang terjadi?"
Markus tidak menjawab.
Gunawan memperhatikan keduanya. Ia mulai yakin... ada sesuatu yang sangat besar, yang sedang mereka sembunyikan.
Ruang lobi Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat mendadak terasa begitu tegang. Markus masih memegang ponselnya. Wajah yang sebelumnya penuh percaya diri kini terlihat pucat.
Miranda memperhatikan perubahan ekspresi pria itu. "Markus."
Markus menoleh.
"Apa isi pesan itu?" bisik Miranda.
Markus tidak langsung menjawab.
Gunawan justru tersenyum tipis. "Sepertinya ada sesuatu yang membuat Anda gugup."
Markus segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. "Tidak ada apa-apa."
Salah satu pengacara Gunawan tertawa kecil. "Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa wajah Anda berubah seperti melihat hantu?"
Markus menatapnya tajam. "Kami hanya mendapat informasi mengenai gangguan sistem CCTV."
Gunawan mengangkat alis. "Gangguan?"
"Ya."
Markus berusaha tetap tenang. "Seperti yang Anda tahu, sistem keamanan rumah sakit terkadang mengalami masalah."
Gunawan melangkah mendekat. "Oh ya." Ia berhenti tepat di hadapan Markus. "Karena gangguan itu terjadi tepat setelah saya meminta rekaman mengenai kejadian di Bangsal Mawar."
Markus hanya terdiam dan terlihat bingung.
Miranda segera menyela. "Pak Gunawan, Anda tidak bisa menuduh sembarangan."
"Saya belum menuduh siapa pun." Gunawan tersenyum dingin. "Saya hanya mengatakan bahwa waktunya sangat kebetulan."
Miranda mengepalkan tangan. Ia mulai menyadari bahwa kedatangan Gunawan bukan sekadar gertakan. Pria itu benar-benar sudah mempersiapkan semuanya.
Namun Miranda bukanlah wanita yang mudah menyerah, ia mengangkat dagu. "Kalaupun ada rekaman CCTV, itu tidak membuktikan Adrian tidak mengalami gangguan jiwa."
Gunawan menatapnya. "Kita lihat saja nanti."
Miranda tersenyum sinis. "Adrian tetap pasien rumah sakit ini. Dan selama dokter menyatakan dia berbahaya, rumah sakit memiliki kewenangan untuk mengawasinya."
Gunawan tidak menjawab.
Salah satu pengacara kemudian membuka map lain. "Kalau begitu, kami ingin melihat seluruh rekam medis Adrian."
Markus langsung menggeleng. "Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Itu merupakan data medis pasien dan bersifat rahasia."
Pengacara itu tersenyum. "Benar. Tapi klien kami merupakan pemegang saham rumah sakit dan kami sedang mengajukan audit resmi."
Markus tetap bersikeras. "Saya tidak bisa memberikan data pasien tanpa prosedur yang berlaku."
Gunawan menghela napas. "Baik." Ia kemudian menatap Markus. "Kalau begitu, kita lakukan melalui jalur hukum."
Markus langsung menatap Miranda.
Miranda menatap Gunawan dengan tajam. "Anda benar-benar ingin menghancurkan rumah sakit ini hanya demi Adrian?"
Gunawan langsung menoleh. "Jangan salah." Suaranya terdengar dingin. "Saya tidak sedang menghancurkan rumah sakit." Ia menunjuk ke arah Markus. "Saya sedang membersihkan orang-orang yang menggunakan rumah sakit untuk menghancurkan seseorang."
Miranda terdiam, kali ini ekspresi percaya dirinya sedikit retak.
Di saat yang sama...
Di sebuah ruang keamanan kecil di lantai bawah rumah sakit, seorang teknisi sedang duduk di depan beberapa monitor.
Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. "Pak..."
Seorang pengawal Gunawan berdiri di belakangnya. "Sudah ditemukan?"
Teknisi itu mengangguk. "Sebagian rekaman berhasil dipulihkan."
"Rekaman apa?"
Teknisi memutar sebuah video, layar menampilkan lorong Bangsal Mawar. Waktu yang tertera menunjukkan pukul 23.17. Tiga pria bertopeng terlihat memasuki bangsal melalui pintu belakang.
Pengawal itu langsung memperhatikan layar. "Perbesar."
Teknisi memperbesar gambar, salah satu pria terlihat memberikan sesuatu kepada petugas keamanan sebelum mereka masuk.
"Ini..." Pengawal itu menyipitkan mata. "Petugas keamanan rumah sakit menerima sesuatu dari mereka."