"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 | Firasat Buruk
Nada sambung di ponsel Arsen terus berbunyi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tak ada jawaban.
Rahang Arsen mengeras. Jemarinya yang menggenggam ponsel mulai memutih karena terlalu kuat menahan emosi. Sejak menerima ancaman beberapa hari terakhir, ia sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan. Namun saat panggilan kepada Ayla tak kunjung tersambung, semua dugaan buruk yang berusaha ia tepis kembali memenuhi pikirannya.
"Pak Arsen?"
Raka yang baru masuk ke ruangan langsung menghentikan langkahnya. Ia belum pernah melihat atasannya setegang itu.
"Cek lokasi ponsel Ayla."
"Sekarang."
Raka segera mengeluarkan tablet yang selalu dibawanya.
Beberapa detik kemudian, layar menampilkan titik lokasi terakhir.
"Masih di gedung, Pak."
Arsen langsung berdiri.
"Ikut aku."
__________________________________________
Sementara itu...
Di lantai arsip lama.
Ayla masih terduduk lemas di lantai.
Lembar salinan rekam medis itu tergeletak di sampingnya.
Trauma berat dan kehilangan sebagian ingatan.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
"Tidak..."
"Aku pasti ingat kalau memang pernah dirawat..."
Namun semakin ia memaksa mengingat, kepalanya justru semakin berdenyut.
Potongan-potongan bayangan kembali bermunculan.
Hujan deras.
Lampu mobil yang menyilaukan.
Seseorang menggenggam tangannya erat.
Lalu suara laki-laki yang terdengar panik.
"Jangan lihat ke belakang!"
Bruk!
Ayla refleks memegang kepalanya.
"Agh..."
Air matanya menetes tanpa ia sadari.
Kenangan itu terasa begitu nyata.
Namun wajah orang yang berbicara kepadanya tetap kabur.
__________________________________________
"Pak, sinyalnya berhenti di lantai arsip."
Langkah Arsen semakin cepat.
Pintu ruang arsip yang sebelumnya sudah dikunci kini sedikit terbuka.
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
"Ayla!"
Tak ada jawaban.
Ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Ruangan tampak berantakan.
Beberapa map berserakan di lantai.
Di sudut ruangan...
Ayla terduduk sambil memegang kepalanya.
Wajahnya pucat.
"Ayla!"
Arsen berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi?"
Namun Ayla seolah tak mendengar.
Tatapannya kosong.
Napasnya memburu.
Tiba-tiba...
Tangannya mencengkeram lengan Arsen begitu kuat.
"Ja... jangan..."
Suara Ayla bergetar.
"Jangan tinggalkan aku..."
Arsen membeku.
Kalimat itu...
Bukan ditujukan kepadanya.
Tatapan Ayla menembus dirinya, seolah sedang melihat seseorang dari masa lalu.
"Ayla."
Arsen menggenggam kedua bahunya.
"Lihat aku."
Perlahan fokus Ayla kembali.
Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyadari siapa yang ada di depannya.
"P-Pak Arsen..."
Tubuhnya langsung kehilangan tenaga.
Tanpa berpikir panjang, Arsen memeluknya agar tidak jatuh.
Untuk pertama kalinya...
Ia tidak lagi memedulikan siapa yang melihat.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Ayla selamat.
_________________________________________
Di balik dinding kaca ruang kontrol yang tersembunyi.
Pria bertopeng memperhatikan semua itu melalui layar monitor.
Senyumnya perlahan memudar.
"Dia lebih cepat menemukannya."
Bawahannya berdiri di samping.
"Tuan, apakah kita harus mengubah rencana?"
Pria itu menggeleng.
"Tidak."
"Justru ini yang membuat permainan semakin menarik."
Ia mengambil sebuah map hitam dari meja.
Di sampulnya tertulis satu nama.
Ayla Prameswari.
Map itu terlihat usang.
Seolah telah disimpan bertahun-tahun.
"Besok..."
gumamnya pelan.
"Dia akan menerima hadiah berikutnya."
________________________________________
Malam mulai larut.
Setelah dokter perusahaan memastikan kondisi Ayla stabil, Arsen mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka berbicara.
Keheningan memenuhi kabin mobil.
Sesekali Arsen melirik Ayla yang memandang keluar jendela.
Tatapan gadis itu kosong.
"Ayla."
Suara Arsen memecah kesunyian.
"Hm?"
"Kalau ada sesuatu yang mengganggumu..."
"...katakan padaku."
Ayla tersenyum tipis.
Senyum yang justru membuat dada Arsen terasa sesak.
"Aku sendiri belum tahu harus mulai dari mana."
Mobil kembali melaju.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah.
Saat Ayla turun lebih dulu, sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan perlahan menyalakan mesinnya.
Seseorang di dalamnya mengangkat kamera berlensa panjang.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa foto Arsen dan Ayla berhasil diambil.
Lalu foto-foto itu langsung dikirim ke sebuah nomor rahasia.
Tak sampai semenit...
Balasan datang.
"Saatnya membuka rahasia yang selama ini mereka lindungi."
Pria bertopeng membaca pesan itu sambil menatap foto lama yang berada di tangannya.
Kali ini, ia tidak lagi menutupi wajah seseorang yang selama ini sengaja disobek dari foto tersebut.
Namun sebelum wajah itu terlihat jelas...
Ia memasukkan kembali foto itu ke dalam map.
Senyumnya perlahan terukir.
"Besok..."
...kalian akan mulai saling meragukan."
Bersambung... 🔥